ITB (ISW)

Hadir dalam Simposium Indonesia-Australia di ITB, Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Siap Menjadi Bagian Akselerasi Agrivoltaics di Indonesia Timur

Rawaaopakonsel.ac.id, Bandung — Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama jaringan universitas terkemuka asal Australia resmi memulai kolaborasi strategis untuk menjawab tantangan krisis energi di wilayah pelosok. Melalui simposium bertajuk “Agrivoltaics and energy challenge in Rural and Remote Islands In Eastern Indonesia”, kemitraan bilateral ini berfokus pada penerapan teknologi agrivoltaics—sistem yang memadukan panel surya (PLTS) dengan lahan pertanian—di pulau-pulau terpencil Indonesia Timur.

Acara yang digelar pada Kamis (25/6/2026) di Gedung Labtek XV, Kampus ITB Bandung ini menandai dimulainya (kick-off meeting) program Simposium Bilateral KONEKSI LPDP Indonesia-Australia. Riset multidisiplin ini dipimpin langsung oleh Dr. Acep Purqon, dosen Fisika FMIPA ITB dari Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks.

Proyek ambisius ini melibatkan konsorsium besar dari berbagai institusi akademik dan riset kedua negara. Dari Australia, delegasi dipimpin oleh para pakar dari Murdoch University (seperti Prof. GM Shafiullah dan Prof. Martin Anda) serta Griffith University (Prof. Andrea Haefner dan Anya Phelan).

Sementara dari Indonesia, ITB berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Cendrawasih (Uncen), Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong, Politeknik Negeri Fakfak (Polinef), IAIN Sorong, serta Purnomo Yusgiantoro Center.

“Transisi energi membuka ruang yang sangat luas bagi riset, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat. Ini adalah titik temu lintas ilmu—mulai dari pertanian, kehutanan, teknik mesin, hingga manajemen bisnis—untuk menyelesaikan krisis energi dengan konsep jembatan (bridging) transisi energi,” ujar Dr. Acep Purqon dalam pemaparannya.

Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA ITB, Dr. Dwi Irwanto, menjelaskan bahwa ITB terus mendorong berbagai pendekatan inovatif untuk menemukan formulasi pemanfaatan energi yang optimum di berbagai wilayah unik Indonesia yang bercorak kepulauan.

Teknologi agrivoltaics dinilai menjadi solusi jitu untuk wilayah yang sulit dijangkau oleh listrik jaringan (off-grid). Selain memproduksi energi bersih, sistem ini menjaga ketahanan pangan lokal karena tidak mengalihkan fungsi lahan hijau.

Menariknya, program ini tidak hanya fokus pada aspek teknis. Proyek ini dirancang inklusif dengan memadukan inovasi ilmiah bersama kearifan lokal (indigenous knowledge). Program ini juga membuka ruang setara bagi kelompok pemuda dan keterlibatan aktif perempuan, khususnya dalam adopsi teknologi alat dan mesin pertanian (alsintan) yang ergonomis dan ramah pengguna.

Turut hadir sebagai pembicara kunci, M. Irfan Saleh selaku Deputi Investasi dan Pendanaan BOPPJ (Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa), yang mengupas tuntas peluang skema pendanaan serta tantangan regulasi dalam mengimplementasikan agrivoltaics di pulau terpencil.

Langkah taktis yang digagas oleh tim peniliti dua negara ini mengakar pada agenda besar nasional. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, Indonesia menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW hingga 2034, di mana 61% (lebih dari 42 GW) diproyeksikan bersumber dari Energi Baru Terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi (energy storage).

Transformasi ini krusial demi mengejar komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 dan target besar Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Melalui model kerja sama pentahelix—yang menyatukan akademisi, pemerintah, komunitas, dan sektor bisnis—paradigma hubungan desa dan penyedia energi diubah secara total. 

Desa di pelosok Indonesia Timur tidak lagi sekadar menjadi konsumen pasif di ujung jaringan, melainkan mitra strategis penyuplai energi bersih mandiri yang mampu menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari Parana Ari Santi (Perwakilan Program KONEKSI LPDP Indonesia-Australia) yang menekankan pentingnya kontinuitas komunikasi antar-peneliti, dan resmi ditutup oleh Erlin Puspaputri selaku perwakilan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Turut hadir Ismail Suardi Wekke, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan dalam simposium tersebut. Selain menyajikan presentasi awal terkait dengan penelitian kolaboratif ini, Ismail juga mengemukakan bahwa topik agrivoltaics dapat menjadi penelitian bersama dengan civitas akademika IAI Rawa Aopa Konawe Selatan.

“Kita akan mulai memproses kolaborasi ini dan emnyelaraskan dengan tim yang sudah ada, sehingga bisa direpilkasi di Sulawesi Tenggara, dan juga Sulawesi secara umum,” pungkas Ismail Suardi Wekke.

IMG-20260626-WA0025

Bahas Peta Jalan Riset Indonesia Timur dalam Simposium Indonesia-Australia di ITB: Pimpinan IAI Rawa Aopa Bergabung Dalam Riset Kolaboratif

Rawaaopakonsel.ac.id, Bandung – Kolaborasi riset antara Indonesia dan Australia kembali diperkuat melalui penyelenggaraan Kick Off Meeting yang dirangkaikan dengan Indonesia-Australia Symposium di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (25/6/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri delegasi dari Murdoch University, Australia, bersama tim peneliti dari Indonesia yang akan menjalankan program penelitian kolaboratif. Riset ini memperoleh dukungan pendanaan dari program KONEKSI, hasil kerja sama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dengan LPDP untuk memperkuat kemitraan riset internasional.

Salah satu anggota tim peneliti, Ismail Suardi Wekke yang juga Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan memaparkan tiga fokus utama yang menjadi perhatian dalam simposium tersebut. Menurutnya, penelitian diarahkan untuk memperkuat pemahaman terhadap dinamika kawasan Indonesia Timur sekaligus menyusun arah pengembangan riset yang lebih kolaboratif.

“Ada tiga hal yang menjadi fokus pembahasan, yakni memahami Indonesia Timur, belajar dari keberhasilan program Keluarga Berencana dan SD Inpres, serta menyusun peta jalan riset dan pengembangan model bersama perguruan tinggi di Indonesia Timur,” ujar Ismail Suardi Wekke dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan, kajian mengenai Indonesia Timur menjadi fondasi penting untuk merumuskan kebijakan dan model pengembangan yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Selain itu, pengalaman keberhasilan program Keluarga Berencana dan pembangunan SD Inpres dinilai dapat menjadi referensi dalam menyusun strategi pembangunan berbasis riset.

Melalui kolaborasi ini, tim peneliti Indonesia dan Australia diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi ilmiah yang mendukung pengembangan pendidikan tinggi, penelitian, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Indonesia Timur.

“Tiga fokus tersebut menjadi pijakan untuk membangun peta jalan riset dan mengembangkan model kolaborasi bersama perguruan tinggi di Indonesia Timur,” tutup Ismail Suardi Wekke.

IMG-20260622-WA0025

Perkuat Studi Hukum Tata Negara, IAI Rawa Aopa Jajaki Kemitraan dengan Istiqlal Fatwa Centre

Rawaaopakonsel.ac.id, Ciputat – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan tengah menjajaki kerja sama strategis dengan Istiqlal Fatwa Centre (IFTA). Langkah ini diambil guna memperkuat implementasi keilmuan, khususnya pada Program Studi Hukum Tata Negara di bawah naungan Fakultas Syariah.

Keinginan kolaborasi tersebut mengemuka setelah momentum hangat di sela-sela Majelis Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (IAPIM) Jabodetabek yang berlangsung di Ciputat, Sabtu (19/6/2026). Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., yang juga merupakan alumni Pesantren IMMIM, berkesempatan menyapa langsung narasumber pengajian bulanan tersebut, Dr. H. Mahkama Mahdin, Lc., MA.

Dr. Mahkama Mahdin, seorang alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, saat ini mengemban amanah sebagai Direktur Istiqlal Fatwa Centre. Dalam perbincangan usai acara, Ismail Suardi Wekke menyatakan bahwa kehadiran IFTA di berbagai daerah merupakan kebutuhan mendesak untuk mencerahkan umat.

Ia menegaskan kesiapan institusinya untuk menjadi perpanjangan tangan program tersebut di wilayah Sulawesi Tenggara. Sekaligus, IAI Rawa Aopa dapat belajar bersama dengan perangkat institusi di Masjid Istiqlal.

“Kami melihat visi besar Imam Besar Masjid Istiqlal untuk mengembangkan IFTA ke pelbagai wilayah dan penjuru Indonesia sebagai peluang strategis yang harus disambut baik oleh perguruan tinggi daerah,” ujar Ismail.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa keunikan kurikulum dan fokus akademik yang dimiliki oleh IAI Rawa Aopa, terutama di ranah Hukum Tata Negara, akan menjadi modal utama yang sangat kokoh dalam menyokong dan mempercepat realisasi perluasan jaringan Istiqlal Fatwa Centre di tingkat lokal.

Menurutnya, sinergi antara otoritas fatwa nasional dan institusi akademik akan menghasilkan kajian yang berdampak luas. Keberadaan IAI Rawa Aopa dapat menjadi bagian dalam perluasan IFTA ke berbagai wilayah.

“Fakultas Syariah kami, khususnya Program Studi Hukum Tata Negara, memiliki kekhasan yang sangat kontekstual untuk menjadi mitra strategis dalam mendiseminasikan serta mengembangkan kajian-kajian dari Istiqlal Fatwa Centre,” tambahnya.

Ismail juga memaparkan pandangannya mengenai pentingnya kolaborasi ini sebagai jembatan ilmu. Ia menilai, kemitraan ini bukan sekadar kerja sama di atas kertas, melainkan sebuah ikhtiar nyata untuk menghadirkan rujukan hukum Islam yang otoritatif dan adaptif bagi dinamika tata negara di daerah.

“Melalui kolaborasi ini, kami berharap IAI Rawa Aopa dapat menjadi pusat pertumbuhan dan mitra utama IFTA di kawasan, guna menghadirkan kajian hukum Islam yang moderat dan integratif,” pungkas Ismail.

Pertemuan dalam bingkai silaturahmi alumni ini diharapkan dapat segera ditindaklanjuti menjadi kesepahaman formal, demi mendukung desentralisasi edukasi dan pelayanan fatwa sebagaimana amanat yang dicanangkan oleh Masjid Istiqlal Jakarta.

IWDN (ISW)

Penguatan Kapasitas Mahasiswa, IAI Rawa Aopa Proyeksikan Mahasiswa untuk Berinteraksi Dalam Kerangka IWDN

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta — Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan mempertahankan komitmennya dalam membawa civitas akademika menuju panggung internasional. Langkah strategis ini dipertegas melalui pertemuan penting antara pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dan Pendiri sekaligus Presiden Islamic World Development Network (IWDN), Fakih Fadilah Muttaqin, di Jakarta pada Senin (22/6).

Pertemuan ini menjadi tonggak krusial karena IAI Rawa Aopa Konawe Selatan secara resmi memulai komunikasi dalam jaringan global tersebut, Begitu pula IAI Rawa Aopa bergabung bersama 19 perguruan tinggi terkemuka lainnya di Indonesia dalam mempersiapkan kolaborasi dengan NUNI.

Dengan total aliansi 20 perguruan tinggi, kolaborasi ini dirancang sebagai katalisator utama dalam memperluas cakrawala pergaulan dan kompetensi mahasiswa di level internasional. Presiden IWDN, Fakih Fadilah Muttaqin, menyambut baik visi besar yang diusung oleh IAI Rawa Aopa. Ia menilai keterlibatan kampus dari Sulawesi Tenggara ini akan memberikan warna baru dalam diplomasi pemuda.

“Kami percaya bahwa potensi kepemimpinan muda tidak boleh dibatasi oleh sekat geografis. Kehadiran IAI Rawa Aopa sebagai bagian dari jejaring akan memperkaya perspektif inklusif dalam kerangka kerja IWDN, sekaligus membuka akses bagi mahasiswa daerah untuk terlibat langsung dalam forum-forum global,” ujar Ismail Suardi Wekke setelah pertemuan.

Ismail juga menambahkan bahwa kemitraan strategis ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem akademis yang dinamis, di mana mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktor aktif dalam merespons berbagai isu kontemporer dunia.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., yang hadir dalam pertemuan tersebut, menegaskan bahwa internasionalisasi kampus adalah agenda mutlak. Menurutnya, pergaulan internasional bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan instrumen fundamental dalam struktur pengembangan kapasitas mahasiswa era modern.

“Kami tidak ingin mahasiswa kami canggung saat berinteraksi dengan dunia luar. Kerangka kerja bersama IWDN ini adalah karpet merah bagi mereka untuk mengasah global mindset, memperluas jaringan, dan membangun kepercayaan diri di lingkungan internasional,” tegas Ismail.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa status co-host yang disandang bersama 19 perguruan tinggi lainnya merupakan bukti nyata kepercayaan publik terhadap tata kelola institusi. Beliau menekankan bahwa kolaborasi lintas kampus ini akan menjadi wadah pertukaran pengetahuan, riset bersama, serta program pengabdian masyarakat yang memiliki dampak dan gaung secara global.

Melalui sinergi erat bersama IWDN dan jejaring NUNI (Nationwide University Network Indonesia) bersama 20 perguruan tinggi ini, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan optimistis mampu mentransformasi pola pembinaan mahasiswa. Institusi kini memproyeksikan seluruh program penguatan kapasitas untuk berbasis pada standar internasional, guna melahirkan lulusan yang berkarakter lokal namun berkemampuan global.

IMG-20260621-WA0021

Partisipasi IAI Rawa Aopa Dalam Hadiri Workshop Hukum Perdagangan Internasional di Universitas Indonesia

Rawaaopakonsel.ac.id, Depok – Jajaran pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menghadiri program penguatan kapasitas (capacity building) di bidang hukum perdagangan internasional. Kegiatan bertajuk Capacity Building Programme on International Trade Law: PhD and Researcher Workshop tersebut diselenggarakan di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat (19/6/2026).

Workshop berskala internasional ini menghadirkan pakar hukum terkemuka, Prof. Peter Van de Bossche dari School of Law, Xi’an Jiaotong University (XJTU), China, yang mengupas tuntas dinamika serta tantangan terkini dalam sistem penyelesaian sengketa Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization / WTO Dispute Settlement).

Kehadiran IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dalam forum akademik bergengsi ini direalisasikan melalui keterlibatan aktif Program Studi Hukum Tata Negara (HTN). Partisipasi ini menjadi langkah strategis kampus dalam memperluas jejaring global serta memperkuat kompetensi riset para dosen dan peneliti di bidang hukum internasional.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan bahwa keterlibatan ini merupakan komitmen institusi untuk membawa pemikiran global ke tingkat lokal.

“Kami ingin memastikan bahwa dosen dan periset di Program Studi Hukum Tata Negara IAI Rawa Aopa memiliki pemahaman yang kuat dan kontekstual mengenai mekanisme WTO Dispute Settlement yang terus berkembang,” ujarnya usai acara.

Ismail juga memaparkan bahwa workshop bersama Prof. Peter Van de Bossche memberikan perspektif baru yang sangat berharga bagi pengembangan kurikulum. Menurutnya, pemikiran dari mantan Ketua Badan Banding WTO tersebut akan membantu institusi dalam merumuskan metode pembelajaran hukum perdagangan internasional yang lebih aplikatif dan relevan dengan tantangan zaman.

Lebih lanjut, Ismail menyampaikan harapannya agar kolaborasi akademik seperti ini dapat terus berlanjut demi mendongkrak reputasi kampus di kancah nasional maupun internasional. “Keikutsertaan dalam capacity building di UI ini adalah investasi jangka panjang untuk melahirkan riset-riset berkualitas yang mampu berkontribusi pada penyelesaian isu-isu hukum kontemporer,” pungkasnya.

Terkait dengan dampak jangka panjang, Ismail Suardi Wekke menyatakan bahwa hasil dari lokakarya ini akan segera diintegrasikan ke dalam ekosistem riset prodi HTN, sehingga para mahasiswa dapat ikut merasakan pembaruan keilmuan hukum perdagangan global. Ia menambahkan pula bahwa interaksi langsung dengan periset dari berbagai universitas dalam forum ini telah membuka peluang kolaborasi publikasi ilmiah yang lebih luas bagi civitas akademika IAI Rawa Aopa.

Di akhir penjelasannya, Ismail menggarisbawahi bahwa pemahaman komprehensif mengenai hukum internasional kini bukan lagi monopoli perguruan tinggi di kota besar, melainkan kebutuhan mutlak bagi kampus-kampus di daerah demi mencetak lulusan yang berdaya saing global.

Forum PhD and Researcher Workshop ini berlangsung interaktif dengan membedah berbagai studi kasus sengketa dagang antarnegara. Melalui program ini, prodi HTN IAI Rawa Aopa diproyeksikan mampu menjadi salah satu pusat kajian hukum tata negara dan internasional yang juga menyertakan akademisi dari kawasan Sulawesi Tenggara.

IMG-20260620-WA0006(1)

CIDES ICMI Silaturahmi Bersama Menteri Dikdasmen Dorong Transformasi Literasi Berbasis STEMPreneur, IAI Rawa Aopa Siap Berpartisipasi

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Center for Information and Development Studies Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (CIDES ICMI) melakukan audiensi sebagai kesempatan silaturahmi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah di Kantor Kementerian, Senayan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Pertemuan ini secara khusus membahas agenda transformasi kurikulum masa depan melalui penguatan literasi komprehensif menggunakan model pembelajaran berbasis STEMPreneur.

Dalam pertemuan formal tersebut, CIDES ICMI menawarkan sebuah formula alternatif inovatif yang memadukan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dengan penguatan karakter kewirausahaan (entrepreneurship). Formula terpadu ini dinilai krusial untuk mendongkrak capaian literasi sains, matematika, membaca, serta literasi finansial para siswa di jenjang pendidikan dasar dan menengah secara simultan.

Direktur CIDES ICMI, Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, menegaskan bahwa tantangan global hari ini menuntut lompatan besar dalam metode pengajaran di lembaga pendidikan. Indonesia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan model hafalan teks yang kaku di dalam kelas.

“Model STEMPreneur yang kami formulasikan ini dirancang agar siswa tidak sekadar menghafal rumus, melainkan mampu menerapkan ilmu sains dan matematika untuk memecahkan persoalan nyata yang bernilai ekonomi,” ujar Prof. Andi Faisal Bakti di Kantor Kementerian, Senayan, Kamis (4/6/2026).

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa integrasi literasi finansial sejak dini yang dikemas dalam konsep kewirausahaan akan menjadi pilar penguat utama bagi kemampuan literasi lainnya, seperti membaca dan numerasi. Menurutnya, ketika siswa dihadapkan pada proyek berbasis masalah, seluruh instrumen literasi dasar tersebut akan terasah secara bersamaan.

Prof. Andi juga menambahkan bahwa model pembelajaran ini diharapkan mampu melahirkan generasi baru yang memiliki daya nalar kritis tinggi sekaligus adaptif terhadap perkembangan ekosistem ekonomi digital.

“Kami ingin memastikan anak didik kita di jenjang dasar dan menengah memiliki ketahanan literasi yang kokoh demi menyongsong Indonesia Emas 2045,” tegasnya menutup pernyataan resmi di depan awak media.

Pertemuan silaturahmi ini juga menjadi momentum penguatan kerja sama riset dan penyediaan bahan ajar berstandar internasional. Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa turut ambil bagian sebagai bagian dari mitra CIDES ICMI. Keterlibatan kampus asal Sulawesi Tenggara ini membawa misi penguatan literasi melalui pendidikan akademik melalui fakultas tarbiyah untuk calon guru.

Pihak kementerian menyambut baik kehadiran lintas institusi tersebut, mengingat IAI Rawa Aopa telah memiliki rekam jejak dan pengalaman nyata yang solid dalam tata kelola pendidikan tinggi. Pengalaman internasional ini diharapkan dapat direplikasi dalam penyusunan modul, buku ajar, serta panduan kurikulum STEMPreneur yang berstandar global namun tetap berpijak pada kearifan budaya di Indonesia.

Selain fokus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, pertemuan ini mempercakapkan konsep di tingkat pendidikan tinggi. CIDES ICMI dan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan telah mengadakan kemitraan dalam pelaksanaan implementasi model STEMPreneur secara nyata di dalam kampus, khususnya bagi mahasiswa di Jurusan Tarbiyah.

Langkah ini diambil guna menyiapkan calon-calon pendidik masa depan yang tidak hanya menguasai teori pedagogi Islam, melainkan juga memiliki keterampilan STEM terapan dan berjiwa wirausaha. Melalui integrasi kurikulum ini, mahasiswa Tarbiyah IAI Rawa Aopa diproyeksikan menjadi agen perubahan (agent of change) yang siap menerapkan metode pengajaran literasi mutakhir saat terjun langsung mengajar di sekolah-sekolah masyarakat.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., memberikan apresiasi terhadap gagasan komprehensif ini. Rekomendasi konsep dari CIDES ICMI, dukungan literatur berstandar global, serta kesiapan implementasi model di Jurusan Tarbiyah IAI Rawa Aopa akan dikaji lebih lanjut sebagai materi pengayaan program penguatan literasi nasional yang sedang digalakkan pemerintah.

Kemitraan strategis antara CIDES ICMI dan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa merupakan bagian dari ikhtiar perguruan tinggi keagamaan dalam menyongsong transformasi pendidikan nasional. Melalui Fakultas Tarbiyah, institusi berkomitmen penuh untuk mereformasi kurikulum demi mencetak calon-calon guru masa depan yang adaptif.

Para pendidik ini dirancang agar tidak hanya kokoh dalam penguasaan pedagogi Islam, tetapi juga memiliki keahlian terapan dalam pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) serta berjiwa kewirausahaan. Implementasi model pembelajaran STEMPreneur di lingkungan kampus akan menjadi pilar utama dalam mendukung program akselerasi literasi nasional yang digalakkan pemerintah.

Dengan pengalaman tata kelola akademik yang solid, pihak kampus siap berkontribusi dalam merumuskan bahan ajar dan modul berstandar internasional yang tetap relevan dengan kearifan lokal. Calon guru lulusan Tarbiyah IAI Rawa Aopa diproyeksikan menjadi agen perubahan yang mampu membimbing siswa jenjang dasar dan menengah agar memiliki daya nalar kritis serta ketahanan literasi yang kokoh.

Sinergi 7 Kampus Lintas Pulau: Sukses Gelar Semiloka Nasional di Makassar untuk Petakan Kolaborasi Menuju Perguruan Tinggi Unggul

Rawaaopakonsel.ac.id, Makassar – Sebanyak tujuh perguruan tinggi lintas provinsi dan lintas pulau menyatukan sinergi dalam Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Nasional Kemitraan Perguruan Tinggi yang digelar di Makassar pada 16–17 Juni 2026.

Forum strategis ini berhasil diselenggarakan sebagai langkah konkret dalam memetakan potensi kegiatan kolaboratif untuk satu semester ke depan.

Kegiatan akbar ini diinisiasi dalam rangka penguatan kapasitas kelembagaan, di mana setiap institusi berkomitmen untuk saling memperkuat satu sama lain demi mencapai predikat perguruan tinggi unggul. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan momentum krusial bagi perguruan tinggi daerah untuk melompat lebih tinggi.

Menurutnya, era kompetisi yang kaku sudah harus digantikan dengan era kerja sama yang inklusif demi kemajuan bersama.

“Kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri di tengah tuntutan global yang semakin kompleks. Kolaborasi lintas pulau ini adalah kunci untuk saling melengkapi kekurangan dan melejitkan potensi yang kita miliki,” ujar Ismail di sela-sela kegiatan.

Selama dua hari pelaksanaan, delegasi dari tujuh kampus secara intensif menyusun cetak biru (blueprint) program kerja bersama. Ismail menjelaskan bahwa pertemuan di Makassar ini tidak hanya menghasilkan kesepakatan di atas kertas, melainkan langsung menghasilkan rencana aksi nyata yang akan dieksekusi sepanjang enam bulan ke depan.

Ia menambahkan bahwa fokus utama dalam satu semester mendatang adalah pertukaran dosen, kolaborasi riset nasional, hingga pengabdian masyarakat berbasis lintas budaya. Sinergi ini diharapkan mampu memberikan dampak langsung baik bagi mahasiswa maupun masyarakat luas.

“Kami berkumpul di sini dengan target yang jelas. Pertemuan ini berhasil memetakan agenda kerja konkret untuk satu semester ke depan, sehingga setelah dari Makassar, kita langsung tancap gas beraksi,” tegas Ismail.

Semiloka ini menjadi bukti nyata bahwa sekat geografis bukan lagi penghalang untuk maju bersama. Melalui pembagian sumber daya dan keahlian antar-perguruan tinggi, akselerasi mutu pendidikan tinggi di Indonesia diharapkan dapat berjalan lebih merata.

Ismail menegaskan bahwa muara dari seluruh rangkaian kerja sama lintas provinsi ini adalah peningkatan akreditasi dan kapasitas institusi menuju kampus yang unggul. Ia meyakini, dengan saling menopang, perguruan tinggi yang berada di daerah pun mampu bersaing di level nasional maupun internasional.

“Tujuan akhir kita sangat jelas, yaitu penguatan kapasitas bersama guna melahirkan perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing tinggi,” pungkasnya optimis.

IMG-20260619-WA0026

IAI Rawa Aopa Siap Gelar Workshop Turnitin Guna Mendukung Integritas Riset

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan tengah bersiap menggelar Workshop Optimalisasi Penggunaan Turnitin sebagai Instrumen Mencapai Integritas Riset. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan kampus dalam menegakkan nilai-nilai kejujuran akademik dan meningkatkan kualitas karya ilmiah secara masif.

Secara teknis, kegiatan ini akan dikomandoi langsung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAI Rawa Aopa. Guna memastikan program berjalan optimal, institusi telah menjalin kerja sama resmi dengan pihak Turnitin.

Kolaborasi ini dirancang tidak hanya untuk memperkuat kapasitas civitas akademika internal, tetapi juga memperluas manfaatnya bagi para mitra perguruan tinggi yang turut diundang dalam agenda tersebut.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa lokakarya ini merupakan momentum krusial bagi transformasi ekosistem riset di kampus. Menurutnya, pemanfaatan teknologi seperti Turnitin bukan sekadar alat pengecek, melainkan fondasi utama untuk membangun reputasi institusi.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap lembar karya ilmiah yang lahir dari rahim IAI Rawa Aopa memiliki standar moral dan kualitas yang tidak diragukan lagi,” ujar Ismail saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Kamis (18/6/2026) usai menghadiri pengukuhan Guru Besar di BINUS University.

Ismail juga menjelaskan bahwa kerja sama dengan Turnitin sengaja dirancang secara inklusif. Ia menyatakan bahwa penguatan kapasitas ini tidak boleh eksklusif hanya untuk lingkungan internal IAI Rawa Aopa, melainkan harus merangkul jaringan mitra perguruan tinggi agar tumbuh bersama dalam iklim akademik yang sehat.

“Turnitin adalah instrumen, tetapi komitmen pada orisinalitas adalah jiwa dari sebuah riset,” tambah Ismail menekankan pentingnya kesadaran kolektif.

Lebih lanjut, Ismail menyampaikan harapannya agar lokakarya teknis ini dapat mengubah cara pandang dosen dan mahasiswa terhadap proses penulisan ilmiah. Beliau memaparkan bahwa dengan memahami cara kerja Turnitin secara optimal, civitas akademika akan lebih terbantu dalam melakukan koreksi mandiri dan menghindari praktik plagiarisme yang tidak disengaja sejak dini.

“Workshop ini adalah langkah nyata kami untuk melahirkan peneliti-peneliti yang jujur, kompeten, dan siap bersaing di kancah global,” pungkasnya optimis.

Dengan persiapan yang matang dari LPPM, workshop ini diharapkan menjadi batu loncatan penting bagi IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dalam mengukuhkan posisinya sebagai pusat keunggulan akademik yang menjunjung tinggi integritas di Sulawesi Tenggara.

IMG-20260618-WA0066

Perkuat Riset Global, IAI Rawa Aopa Diundang BINUS University Gelar Pertemuan Strategis Bersama Pakar Ekonomi USIM Malaysia

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Upaya akselerasi mutu akademik dan penguatan ekosistem riset internasional terus dipacu oleh perguruan tinggi di Indonesia. Langkah konkret ini diwujudkan melalui pertemuan strategis bersama Faculty Member Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) yang berlangsung di BINUS University Kampus Anggrek, Jl. Raya Kebon Jeruk No. 27, Kemanggisan, Jakarta Barat, Kamis (17/6/2026).

Kegiatan akademis tersebut menghadirkan Prof. Dato’ Dr. Hasnah Hj. Haron, seorang Research Consultant dari Faculty of Economics and Muamalat USIM, Malaysia. Kehadiran pakar ekonomi syariah ini menjadi magnet bagi para akademisi untuk membedah strategi publikasi global serta memperluas jejaring riset di kawasan Asia Tenggara.

Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan turut mengambil peran penting dalam forum internasional ini. Sebagai institusi yang tengah berkembang, IAI Rawa Aopa membawa modal rekam jejak yang kuat, khususnya dalam pengalaman keberhasilan pengelolaan penerbitan buku yang sukses terindeks di database bereputasi global, Scopus.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., turut hadir secara online (daring) untuk mengawal jalannya pertemuan penting tersebut. Kehadiran beliau dalam forum ini sekaligus menegaskan kedekatan hubungan akademis yang telah terjalin lama, di mana Ismail selama ini bertindak sebagai learning partner bagi BINUS University. Rekam jejak kolaborasinya mencakup kepercayaan yang diberikan oleh BINUS kepada dirinya untuk duduk sebagai komite saintifik dalam berbagai konferensi ilmiah, hingga keterlibatannya dalam program learning development bagi pengembangan kapasitas staf di lingkungan BINUS University.

Dalam pemaparannya secara virtual, Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa kehadiran institusinya dalam forum ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk membawa iklim akademik lokal ke panggung dunia. Beliau menyatakan bahwa kolaborasi lintas institusi dan negara sudah bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk mengejar ketertinggalan publikasi ilmiah di tingkat global.

“Kami hadir dengan memenuhi undangan BINUS Kampus Anggrek membawa misi besar untuk menyerap praktik terbaik dari USIM sekaligus menawarkan kolaborasi taktis yang saling menguatkan,” ujar Ismail Suardi Wekke dalam paparannya melalui kehadiran daring.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa pengalaman kolaborasi BINUS University dengan IAI Rawa Aopa dalam mengawal pengelolaan buku hingga menembus indeksasi Scopus dapat menjadi pemantik diskusi yang produktif bersama Prof. Hasnah Haron dan tim peneliti USIM. Pihaknya meyakini bahwa manajemen pengetahuan yang kokoh dan kemitraan yang inklusif akan mempercepat pengakuan internasional terhadap karya-karya akademik dosen dalam negeri.

“Pengalaman kami dalam mengelola buku terindeks Scopus membuktikan bahwa perguruan tinggi mampu bersaing di level global jika dikelola dengan fokus, konsistensi, dan jejaring kemitraan yang kuat,” tambahnya.

Di akhir sesi, Ismail Suardi Wekke menggarisbawahi bahwa tindak lanjut dari pertemuan ini dapat melahirkan kerja sama riset yang konkret, khususnya di bidang ekonomi, muamalat, dan tata kelola kelembagaan. Ia berharap peran sinergisnya sebagai learning partner BINUS sekaligus pimpinan IAI Rawa Aopa dapat mempercepat implementasi draf riset bersama dan program joint publication yang berdampak langsung pada nilai akreditasi kedua lembaga.

“Pertemuan dengan Prof. Hasnah hari ini harus segera kita konversikan menjadi langkah nyata, baik dalam penguatan komite saintifik konferensi maupun program pengembangan staf yang berkelanjutan,” pungkas Ismail. Acara yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan sesi diskusi terbatas mengenai peluang kolaborasi pengelolaan konferensi, serta fasilitasi riset di masa mendatang.

IMG-20260618-WA0063

Pertahankan Kerjasama dengan Binus University, Pimpinan IAI Rawa Aopa Hadiri Pengukuhan Guru Besar

Rawaaopakonsel.ac.id, Tangerang – Pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menghadiri pengukuhan Guru Besar Tetap Binus University yang digelar di Kampus Alam Sutera, Tangerang, Kamis (18/6/2026). Prosesi sakral ini mengukuhkan Prof. Retno Dewanti, S.Si., M.M., Ph.D., sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Digital Marketing.

Acara ini menjadi momentum penting yang mempertemukan para akademisi dari berbagai belahan dunia. Selain dihadiri oleh jajaran civitas akademika Binus University, tampak hadir pula sejumlah guru besar tamu dari pelbagai perguruan tinggi lintas wilayah Indonesia, serta delegasi internasional termasuk dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi yang mendalam atas pencapaian ilmiah ini. Menurutnya, kepakaran Prof. Retno di bidang pemasaran digital sangat relevan dengan kebutuhan industri dan dunia pendidikan modern saat ini.

“Kehadiran kami di selain memenuhi undangan, juga dalam kaitan untuk mempertahankan sinergi strategis antarinstitusi dalam menghadapi era disrupsi digital yang kian masif,” ujar Ismail Suardi Wekke saat ditemui di sela-sela acara.

Lebih lanjut, Ismail menegaskan bahwa IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk terus menyerap praktik-praktik terbaik dari perguruan tinggi terkemuka seperti Binus University guna meningkatkan mutu tata kelola lembaga mereka di daerah. Ia menyampaikan bahwa kolaborasi lintas kampus, baik dalam skala nasional maupun internasional, kini menjadi sebuah keharusan demi mendongkrak kualitas lulusan yang berdaya saing global.
Ismail juga menambahkan bahwa keterlibatan guru besar tamu dari luar negeri, seperti Universiti Sains Islam Malaysia, membuktikan bahwa ekosistem akademik Indonesia semakin diakui dan terintegrasi di kancah internasional.

“Kami berharap gagasan-gagasan segar Prof. Retno Dewanti dalam orasi ilmiahnya hari ini dapat diadopsi, tidak hanya di kota besar, melainkan juga menyentuh pengembangan literasi digital di kawasan Indonesia Timur,” tutur Ismail menutup pernyataannya.