IMG-20260627-WA0032

Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Ikuti Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 yang Dibuka Presiden Prabowo

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menunjukkan komitmen nyatanya dalam mendukung pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi keagamaan. Hal ini dibuktikan dengan partisipasi aktif pimpinan kampus dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Kegiatan tingkat nasional yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Jumat (26/6/2026) tersebut dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Kehadiran Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan bersama jajaran pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia dalam forum ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan arah pendidikan tinggi keagamaan Islam dengan prioritas pembangunan nasional yang tengah dijalankan pemerintah.

Keterlibatan perguruan tinggi Islam dinilai sangat krusial dalam merumuskan arah pembangunan bangsa, terutama dalam aspek penguatan SDM yang unggul, berkarakter, dan inovatif.

“Kami hadir dengan komitmen tinggi untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi keagamaan dengan agenda prioritas pemerintah. Melalui forum ini, kita memperoleh arahan langsung dari Presiden RI mengenai peran strategis ilmuwan dan akademisi dalam mendukung ketahanan pangan, energi, hingga hilirisasi industri,” ujar Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke.

Menurut beliau, berbagai isu strategis yang dibahas mulai dari sektor pertanian, ekonomi dan keuangan syariah, hingga ketahanan pangan akan menjadi referensi penting bagi IAI Rawa Aopa dalam memperkuat riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat yang relevan dengan kebutuhan riil di daerah Konawe Selatan dan Indonesia pada umumnya.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, dalam laporan pembukaannya menyampaikan bahwa Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 kali ini berhasil menghimpun lebih dari 2.600 peserta dari berbagai unsur akademisi dan praktisi. Di antaranya tercatat kehadiran 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi vokasi, serta 1.596 dosen dan peneliti dari seluruh penjuru Indonesia.

Mengusung tema besar “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia”, konvensi yang diisiasi langsung oleh Presiden Prabowo sejak tahun lalu ini dirancang untuk menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama kebijakan negara. Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta intensif membedah sektor-sektor krusial seperti pertanian, energi, ekonomi, ketahanan pangan, kelautan, perikanan, hingga hilirisasi industri. Seluruh gagasan dari para rektor dan ilmuwan ini nantinya akan dirumuskan secara konkret menjadi rekomendasi kebijakan pemerintah berbasis sains.

Dalam pengarahannya yang disambut antusias oleh para peserta, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kebangkitan sebuah negara sangat bergantung pada optimalisasi potensi riset dan pemikiran yang ada di lingkungan kampus.

“Kalau negara mau bangkit, negara mau maju, memang harus dimanfaatkan dan digerakkan potensi serta kemampuan dari kampus-kampus,” tegas Presiden Prabowo di hadapan para pimpinan perguruan tinggi.

Acara berskala nasional ini juga dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, jajaran Menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI, Kapolri, serta jajaran mitra industri se-Indonesia.

ACER-N (ISW)

Announcement: Launching from Bandung ACER-N International Conference, Jakarta 23-25 September 2026

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – We are pleased to announce the upcoming ACER-N International Conference, scheduled to take place from September 23rd to 25th, 2026, in the vibrant capital city of Jakarta, Indonesia. This premier three-day event will serve as a global stage for academics, researchers, industry professionals, and policymakers to converge and share groundbreaking insights. Under this year’s core theme, the conference aims to address the most pressing challenges and pioneering advancements shaping our world today.

Jakarta, a dynamic metropolis where rich cultural heritage meets rapid modern development, provides the perfect backdrop for this prestigious gathering. Attendees will have the unique opportunity to experience Indonesia’s world-class hospitality while engaging in high-level academic discourse. The venue has been carefully selected to offer state-of-the-art facilities, ensuring a seamless, comfortable, and inspiring environment for all participants traveling from various corners of the globe.

The ACER-N 2026 program features a meticulously curated agenda designed to foster innovation and cross-disciplinary collaboration. The event will kick off with keynote addresses from internationally renowned experts, followed by a series of parallel tracks, technical sessions, and interactive panel discussions. Participants can look forward to presenting their latest research findings, discovering emerging trends, and gaining valuable feedback from a distinguished panel of peer reviewers.

Beyond the formal presentations, the conference places a strong emphasis on networking and community building. Dedicated networking sessions, coffee breaks, and an exclusive gala dinner will allow delegates to connect with leading minds, forge strategic partnerships, and spark collaborations that extend far beyond the duration of the event. Whether you are an established scholar or an emerging researcher, the connections made here promise to be invaluable for your professional journey.

We warmly invite authors to submit their original research papers and abstracts for presentation. Registration is now officially open, with early-bird discounts available for those who secure their seats ahead of time. Don’t miss this chance to contribute to the global academic dialogue and experience the energy of Jakarta—mark your calendars for September 23–25, 2026, and join us for an unforgettable intellectual experience.

Turnitin (ISW)

Undangan Workshop: Optimalisasi Turnitin Sebagai Alat Bantu Integritas Riset

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Dalam era perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer, integritas akademik dan orisinalitas riset menjadi fondasi utama dalam menjaga kredibilitas institusi maupun peneliti. Plagiarisme, baik yang disengaja maupun tidak, tetap menjadi tantangan besar yang dapat meruntuhkan reputasi ilmiah ilmiah seseorang. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai etika penulisan dan pemanfaatan teknologi deteksi kesamaan (similarity check) menjadi sebuah urgensi yang tidak dapat ditawar lagi bagi seluruh civitas akademika.

Sebagai langkah antisipasi untuk menjawab tantangan tersebut, kami menghadirkan Workshop: Optimalisasi Turnitin Sebagai Alat Bantu Integritas Riset. Kegiatan ini dirancang khusus untuk menjembatani kebutuhan para dosen, peneliti, dan mahasiswa dalam mengenal fungsi Turnitin secara komprehensif. Bukan sekadar alat untuk “menangkap” plagiarisme, workshop ini akan mengupas tuntas bagaimana Turnitin dapat dioptimalkan sebagai mitra strategis dalam meningkatkan kualitas penulisan ilmiah sebelum dipublikasikan ke jurnal bereputasi.

Sepanjang sesi workshop, para peserta akan diajak untuk membedah berbagai fitur mutakhir yang dimiliki oleh Turnitin. Materi yang disampaikan mencakup teknik membaca dan menginterpretasikan Similarity Report secara akurat, membedakan antara kesamaan teks (similarity) dengan plagiarisme aktual, hingga strategi menurunkan persentase kemiripan tanpa mengurangi substansi ilmiah. Selain itu, kegiatan ini juga akan memberikan simulasi langsung (hands-on experience) agar peserta dapat mempraktikkan langsung etika pengutipan (sitasi) dan parafrase yang benar sesuai standar internasional.

Mengapa Anda Harus Hadir?

Melalui bimbingan langsung dari praktisi dan ahli yang kompeten (dari perusahaan Turnitin), peserta tidak hanya akan menguasai aspek teknis perangkat lunak, tetapi juga memperkuat pemahaman substantif mengenai konsep research integrity. Workshop ini menjadi ruang diskusi interaktif untuk membedah studi kasus nyata, kendala yang sering dihadapi saat proses pengunggahan dokumen, serta solusi praktis dalam menghadapi algoritma Turnitin yang dinamis.

Sebagai penutup, partisipasi aktif dalam workshop ini diharapkan dapat menumbuhkan budaya akademik yang bersih, jujur, dan berdaya saing tinggi. Dengan menguasai optimalisasi Turnitin, para peneliti akan lebih percaya diri dalam menghasilkan karya-karya orisinal yang diakui secara global. Mari bersama-sama menjaga marwah dunia pendidikan dan riset Indonesia dengan mendaftarkan diri Anda segera melalui tautan yang telah disediakan. Kami tunggu kehadiran Anda!

10 tahun (ISW)

Dies Natalis X (2026), IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Menyongsong Dua Dasawarsa

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Satu dekade bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah institusi pendidikan tinggi untuk menancapkan akarnya di tengah dinamika zaman. Memasuki usia yang kesepuluh pada tahun 2026 ini, Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan tidak sekadar merayakan sebuah seremoni angka, melainkan sebuah momentum refleksi sosiologis yang mendalam. Perayaan Dies Natalis X ini menjadi jembatan krusial yang menghubungkan fondasi awal pendirian dengan visi besar menuju dua dasawarsa ke depan, di mana tantangan global dan lokal menuntut resiliensi institusional yang lebih tinggi.

Sebagai episentrum intelektual baru di Sulawesi Tenggara, perguruan tinggi ini memikul tanggung jawab moral untuk menjembatani jurang antara idealisme akademik dan realitas sosial masyarakat. Menyongsong dua dasawarsa, IAI Rawa Aopa dihadapkan pada transformasi lanskap pendidikan yang bergerak cepat secara eksponensial akibat digitalisasi dan pergeseran kebutuhan pasar kerja. Oleh karena itu, satu dekade pertama ini harus diletakkan sebagai landasan pacu (launchpad) untuk melakukan lompatan strategis berikutnya demi mewujudkan tata kelola kampus yang adaptif dan berdampak luas.

Transformasi Tata Kelola dan Ekosistem Digital Kampus

Menghadapi sepuluh tahun kedua, tata kelola perguruan tinggi tidak lagi bisa dijalankan dengan metode konvensional yang kaku. IAI Rawa Aopa perlu mengadopsi prinsip knowledge management yang terintegrasi berbasis ekosistem digital untuk mempercepat proses akreditasi dan transparansi kelembagaan. Pendekatan manajemen modern yang memadukan sentralisasi operasi infrastruktur dengan desentralisasi otonomi akademik menjadi kunci untuk melahirkan inovasi dari setiap program studi. Melalui penguatan repositori digital dan pemanfaatan identitas peneliti global seperti ORCID ID, visibilitas kontribusi ilmiah dosen dan mahasiswa akan semakin diakui di panggung internasional.

Kurikulum masa depan harus mampu menjawab persoalan riil di tengah masyarakat, bukan sekadar menumpuk teori di ruang kelas. Penerapan metode Design Thinking dalam manajemen sekolah dan pengelolaan program studi dapat menjadi instrumen efektif untuk mengidentifikasi sekaligus memecahkan tantangan administratif maupun akademik secara kreatif. Mahasiswa tidak hanya dididik untuk menjadi menara gading, melainkan agen perubahan yang dibekali kemampuan memetakan masalah secara empatik. Ke depan, integrasi sains, agama, dan humaniora dalam kurikulum interdisipliner akan menjadi keunggulan kompetitif bagi lulusan IAI Rawa Aopa.

Komitmen pengabdian kepada masyarakat harus digeser dari sekadar formalitas runtutan pemenuhan Tri Dharma menjadi sebuah gerakan inovasi sosial yang nyata. Transformasi ini dapat diwujudkan dengan menjadikan ruang-ruang publik, seperti pasar rakyat atau pusat pendidikan komunitas, sebagai laboratorium pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Melalui skema kolaborasi penta-helix yang melibatkan akademisi, pemerintah daerah, industri, komunitas, dan media, program kerja sama internasional maupun regional dapat langsung menyentuh akar rumput. Forum-forum riset strategis yang melibatkan lintas sektor akan mempercepat diseminasi produk inovasi yang dihasilkan kampus.

Salah satu pilar penting dalam mewujudkan kemandirian masyarakat lokal adalah penguatan literasi keuangan yang inklusif melalui kemitraan strategis. IAI Rawa Aopa memiliki peluang besar untuk memimpin riset kolaboratif dan forum edukasi mengenai akses keuangan yang adil bagi pelaku usaha mikro di pedesaan. Melalui kerja sama dengan lembaga standarisasi dan institusi keuangan nasional, mahasiswa dapat dilibatkan aktif sebagai fasilitator literasi keuangan di lapangan. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kapasitas intelektual mahasiswa, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang terukur bagi ketahanan finansial masyarakat Konawe Selatan.

Menyongsong dua dasawarsa, IAI Rawa Aopa harus berani memperluas cakrawala dengan melompat melampaui batas-batas geografis regional. Rekam jejak kemitraan strategis melalui penandatanganan MoU dan MoA dengan berbagai universitas terkemuka di tingkat nasional maupun Asia Tenggara perlu diwujudkan dalam program-program konkret. Kolaborasi nyata seperti konferensi internasional bersama, simposium pemuda, dan pengabdian masyarakat lintas negara akan membentuk atmosfer akademik yang kosmopolitan. Keterlibatan aktif dalam jejaring ilmiah global ini secara langsung akan mengatrol reputasi kelembagaan menuju distingsi akademik yang disegani.

Penutup: Ikhtiar Kolektif Menuju Pusat Keunggulan

Perjalanan sepuluh tahun pertama IAI Rawa Aopa Konawe Selatan telah membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk mengukir prestasi dan kontribusi. Menyongsong dua dasawarsa di masa depan, komitmen untuk memadukan nilai-nilai luhur keagamaan dengan inovasi sains mutakhir harus tetap menjadi kompas utama. Dengan soliditas internal, keterbukaan terhadap ekosistem digital, serta perluasan jejaring kemitraan strategis global, institusi ini berada pada jalur yang tepat untuk bertransformasi menjadi pusat keunggulan (center of excellence) yang mandiri, berdaya saing tinggi, dan senantiasa relevan bagi kemaslahatan umat dan bangsa.

Pre Conference (ISW)

Pengumuman Acara: Pre Conference ICOSBE 2026, Tips for Publishing Book Chapter

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Dunia akademik modern tidak hanya menuntut riset yang mendalam, tetapi juga strategi diseminasi atau penyebaran ilmu yang efektif. Salah satu jalur kontribusi ilmiah yang kian mendapat perhatian tinggi adalah penulisan book chapter (bab dalam buku ilmiah). Berbeda dengan artikel jurnal yang sering kali memiliki batasan ruang yang ketat dan fokus riset yang sangat spesifik, book chapter memberikan ruang bagi para akademisi untuk mengulas sebuah fenomena secara lebih komprehensif, kaya akan konteks, dan integratif. Format ini menjadi jembatan penting untuk menyatukan berbagai perspektif riset ke dalam satu tema besar yang kohesif dan berdampak luas.

Namun, menembus penerbit bereputasi global layaknya memecahkan teka-teki yang rumit. Mulai dari merumuskan proposisi nilai yang unik agar dilirik oleh editor, hingga menavigasi proses peer-review (peninjauan sejawat) yang ketat, para peneliti sering kali dihadapkan pada standar metodologi dan penulisan yang sangat menuntut. Guna mengurai benang kusut tersebut, program studi terkait di BINUS University menginisiasi sebuah ruang diskusi strategis melalui gelaran Pre-Conference ICOSBE 2026 yang bertajuk “Tips for Publishing Book Chapter”. Acara ini dirancang khusus untuk membedah anatomi penulisan bab buku yang sukses dari sudut pandang sains populer dan praktis.

Agenda ilmiah yang dinantikan ini dijadwalkan berlangsung pada tanggal 14 Juli 2026. Melalui pendekatan interaktif, forum ini akan mempertemukan para akademisi lintas disiplin untuk membagikan taktik jitu dalam menyusun draf yang memikat. Peserta tidak hanya akan diajak memahami aspek teknis struktur tulisan, melainkan juga aspek psikologis dalam meyakinkan penerbit internasional mengenai urgensi dan kebaruan materi yang ditawarkan.

Guna memastikan aksesibilitas ilmu pengetahuan tanpa batas geografis, konferensi awal ini akan diselenggarakan secara hybrid. Pertemuan fisik atau tatap muka akan dipusatkan di Kampus BINUS @ Anggrek, sebuah episentrum akademik yang dilengkapi dengan fasilitas teknologi modern. Sementara itu, platform digital interaktif disiapkan bagi para peneliti dan praktisi dari berbagai penjuru dunia yang ingin bergabung secara virtual, menciptakan ruang sinergi yang dinamis antara ekosistem luring dan daring.

Pada akhirnya, Pre-Conference ICOSBE 2026 bukan sekadar pengumuman acara rutin, melainkan sebuah katalisator penting bagi peningkatan kualitas publikasi ilmiah tanah air di panggung global. Dengan menghadiri forum ini, para ilmuwan dan pengajar akan dibekali kompas strategis untuk mengubah hasil observasi laboratorium maupun kajian teoretis menjadi untaian literatur yang diakui secara internasional. Langkah awal menuju ekosistem riset yang berdampak nyata akan dimulai dari ruang-ruang diskusi seperti ini.

ITB (ISW)

Hadir dalam Simposium Indonesia-Australia di ITB, Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Siap Menjadi Bagian Akselerasi Agrivoltaics di Indonesia Timur

Rawaaopakonsel.ac.id, Bandung — Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama jaringan universitas terkemuka asal Australia resmi memulai kolaborasi strategis untuk menjawab tantangan krisis energi di wilayah pelosok. Melalui simposium bertajuk “Agrivoltaics and energy challenge in Rural and Remote Islands In Eastern Indonesia”, kemitraan bilateral ini berfokus pada penerapan teknologi agrivoltaics—sistem yang memadukan panel surya (PLTS) dengan lahan pertanian—di pulau-pulau terpencil Indonesia Timur.

Acara yang digelar pada Kamis (25/6/2026) di Gedung Labtek XV, Kampus ITB Bandung ini menandai dimulainya (kick-off meeting) program Simposium Bilateral KONEKSI LPDP Indonesia-Australia. Riset multidisiplin ini dipimpin langsung oleh Dr. Acep Purqon, dosen Fisika FMIPA ITB dari Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks.

Proyek ambisius ini melibatkan konsorsium besar dari berbagai institusi akademik dan riset kedua negara. Dari Australia, delegasi dipimpin oleh para pakar dari Murdoch University (seperti Prof. GM Shafiullah dan Prof. Martin Anda) serta Griffith University (Prof. Andrea Haefner dan Anya Phelan).

Sementara dari Indonesia, ITB berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Cendrawasih (Uncen), Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong, Politeknik Negeri Fakfak (Polinef), IAIN Sorong, serta Purnomo Yusgiantoro Center.

“Transisi energi membuka ruang yang sangat luas bagi riset, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat. Ini adalah titik temu lintas ilmu—mulai dari pertanian, kehutanan, teknik mesin, hingga manajemen bisnis—untuk menyelesaikan krisis energi dengan konsep jembatan (bridging) transisi energi,” ujar Dr. Acep Purqon dalam pemaparannya.

Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA ITB, Dr. Dwi Irwanto, menjelaskan bahwa ITB terus mendorong berbagai pendekatan inovatif untuk menemukan formulasi pemanfaatan energi yang optimum di berbagai wilayah unik Indonesia yang bercorak kepulauan.

Teknologi agrivoltaics dinilai menjadi solusi jitu untuk wilayah yang sulit dijangkau oleh listrik jaringan (off-grid). Selain memproduksi energi bersih, sistem ini menjaga ketahanan pangan lokal karena tidak mengalihkan fungsi lahan hijau.

Menariknya, program ini tidak hanya fokus pada aspek teknis. Proyek ini dirancang inklusif dengan memadukan inovasi ilmiah bersama kearifan lokal (indigenous knowledge). Program ini juga membuka ruang setara bagi kelompok pemuda dan keterlibatan aktif perempuan, khususnya dalam adopsi teknologi alat dan mesin pertanian (alsintan) yang ergonomis dan ramah pengguna.

Turut hadir sebagai pembicara kunci, M. Irfan Saleh selaku Deputi Investasi dan Pendanaan BOPPJ (Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa), yang mengupas tuntas peluang skema pendanaan serta tantangan regulasi dalam mengimplementasikan agrivoltaics di pulau terpencil.

Langkah taktis yang digagas oleh tim peniliti dua negara ini mengakar pada agenda besar nasional. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, Indonesia menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW hingga 2034, di mana 61% (lebih dari 42 GW) diproyeksikan bersumber dari Energi Baru Terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi (energy storage).

Transformasi ini krusial demi mengejar komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 dan target besar Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Melalui model kerja sama pentahelix—yang menyatukan akademisi, pemerintah, komunitas, dan sektor bisnis—paradigma hubungan desa dan penyedia energi diubah secara total. 

Desa di pelosok Indonesia Timur tidak lagi sekadar menjadi konsumen pasif di ujung jaringan, melainkan mitra strategis penyuplai energi bersih mandiri yang mampu menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari Parana Ari Santi (Perwakilan Program KONEKSI LPDP Indonesia-Australia) yang menekankan pentingnya kontinuitas komunikasi antar-peneliti, dan resmi ditutup oleh Erlin Puspaputri selaku perwakilan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Turut hadir Ismail Suardi Wekke, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan dalam simposium tersebut. Selain menyajikan presentasi awal terkait dengan penelitian kolaboratif ini, Ismail juga mengemukakan bahwa topik agrivoltaics dapat menjadi penelitian bersama dengan civitas akademika IAI Rawa Aopa Konawe Selatan.

“Kita akan mulai memproses kolaborasi ini dan emnyelaraskan dengan tim yang sudah ada, sehingga bisa direpilkasi di Sulawesi Tenggara, dan juga Sulawesi secara umum,” pungkas Ismail Suardi Wekke.