IMG-20260612-WA0028

Akselerasi Tri Dharma, IAI Rawa Aopa Gagas Program “Masjid Ramah Musafir” di Konawe Selatan

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus melakukan akselerasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui aksi nyata di tengah masyarakat. Kali ini, institusi akademik tersebut meluncurkan program inovatif bertajuk “Masjid Ramah Musafir” yang mengintegrasikan riset aplikatif dan pengabdian masyarakat melalui kolaborasi erat dengan pengurus rumah ibadah.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa gagasan ini lahir dari kesadaran mendalam mengenai posisi geografis Konawe Selatan yang strategis sebagai wilayah perlintasan antar-daerah. Menurutnya, perguruan tinggi Islam memikul tanggung jawab moral untuk mendesain ruang-ruang ibadah yang tidak hanya nyaman untuk ritual formal, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan logistik serta ketenteraman para musafir.

Oleh karena itu, program ini dirancang sebagai wadah pengabdian masyarakat yang berbasis pada data dan karakteristik wilayah. Sinergi ini sekaligus menjadi pembuktian nyata bahwa institusi akademik dan lembaga keagamaan mampu berjalan beriringan demi melahirkan kemaslahatan yang luas bagi masyarakat.

“Program Masjid Ramah Musafir ini selain pemenuhan fasilitas fisik, juga sebuah gerakan kultural sekaligus bentuk nyata pengabdian masyarakat untuk mengembalikan esensi masjid sebagai perlindungan aman bagi mereka yang sedang dalam perjalanan,” tutur Ismail dalam keterangannya terkait penguatan Tri Dharma kampus, Jumat (12/6/2026).

Lebih lanjut, Ismail memaparkan bahwa sinergi antara akademisi dan pengurus rumah ibadah nantinya akan diwujudkan dalam beberapa langkah strategis, mulai dari pendampingan manajemen, pelatihan tata kelola pelayanan berbasis syariah, hingga standardisasi fasilitas pendukung. Seluruh intervensi pengabdian ini didasarkan pada hasil kajian mendalam agar program kolaboratif tersebut mampu tumbuh menjadi cetak biru (blueprint) bagi tata kelola masjid yang inklusif, yang diawali dari rumah ibadah terdekat dengan kampus.

Pihak kampus berkomitmen penuh untuk menjadikan kolaborasi ini sebagai laboratorium sosial bagi dosen dan mahasiswa. Ismail menegaskan bahwa melalui integrasi penelitian dan pengabdian, ia ingin memastikan setiap musafir yang singgah di Konawe Selatan mendapatkan pelayanan terbaik, mulai dari tempat istirahat yang layak hingga pemenuhan kebutuhan dasar mereka.

“Akselerasi melalui jalur penelitian dan pengabdian ini menjadi momentum krusial bagi sivitas akademika untuk tidak sekadar berteori di dalam kelas. Saya berharap seluruh dosen dan mahasiswa dapat menjadi pelopor dalam menghidupkan ekosistem masjid yang ramah, terbuka, dan humanis, sekaligus menjadikannya objek kajian ilmiah yang kaya akan nilai-nilai transformasi sosial,” pungkas Ismail penuh optimisme.

Pada akhir penjelasannya, Ismail menyampaikan harapan besar agar akselerasi Tri Dharma ini dapat memperkuat nilai-nilai moderasi beragama dan solidaritas sosial. Baginya, luaran dari penelitian dan pengabdian harus memberikan dampak sosial yang konkret serta berkelanjutan.

IMG-20260612-WA0003

FGD Usai Wisuda, Diskusi Pembelajaran Berbasis Outcome-Based Education (OBE) untuk Memenuhi Standar Akreditasi IAI Rawa Aopa

Rawaaopakonsel.ac.id/, Kendari – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan sukses menggelar Wisuda VII Angkatan I pada Rabu (10/62026). Momentum sakral kelulusan ini tidak membuat jajaran civitas akademika larut dalam euforia, melainkan langsung tancap gas mempertahankan sistem penjaminan mutu eksternal.

Langkah konkret tersebut dibuktikan dengan langsung digelarnya Focus Group Discussion (FGD) prodi di lingkungan Fakultas Hukum pasca-prosesi wisuda guna mematangkan persiapan akreditasi program studi. Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa akselerasi mutu pasca-wisuda ini merupakan komitmen institusi dalam menjaga kepercayaan masyarakat.

“Wisuda bukanlah akhir, melainkan gerbang awal bagi kampus untuk membuktikan bahwa lulusan kami dicetak dari sistem akademik yang teruji. Oleh karena itu, penjaminan mutu eksternal dan persiapan akreditasi prodi di Fakultas Hukum menjadi prioritas utama yang langsung kami eksekusi hari ini,” ujar Ismail usai kegiatan tersebut.

“Kami menyadari betul bahwa tantangan dunia hukum di luar sana semakin kompleks, sehingga validasi mutu melalui akreditasi program studi menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi,” kata Ismail Suardi Wekke saat memberikan pengantar dalam forum FGD Fakultas Hukum.

“Melalui FGD yang digelar segera setelah prosesi wisuda ini, kami memetakan seluruh instrumen akreditasi secara detail agar Fakultas Hukum IAI Rawa Aopa mampu meraih predikat unggul yang mencerminkan kualitas riil proses belajar-mengajar di kampus kita,” lanjutnya di hadapan para dosen dan jajaran dekanat.

“Kerja keras ini bukan sekadar mengejar status di atas kertas, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab moral lembaga kepada para alumni yang baru saja dikukuhkan hari ini serta para mahasiswa aktif agar masa depan akademik mereka benar-benar terjamin,” pungkas Al Asri dengan optimistis.

Dalam kesempatan yang sama, Al Asri menjelaskan bahwa konsistensi dalam mempertahankan penjaminan mutu eksternal merupakan jangkar utama bagi fakultas untuk tetap relevan dengan kebutuhan dinamika hukum kontemporer. Ia menilai bahwa momentum kelulusan angkatan pertama ini harus dijadikan batu pijakan untuk meningkatkan standardisasi kurikulum dan pelayanan akademik secara menyeluruh.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi antara seluruh elemen dosen dan tenaga kependidikan dalam menyusun borang akreditasi prodi hukum yang komprehensif. Al Asri mengingatkan bahwa objektivitas penilaian dari lembaga akreditasi eksternal hanya bisa dipenuhi jika seluruh dokumen pendukung dan implementasi tri dharma perguruan tinggi terintegrasi dengan baik.

Di akhir penjelasannya, Al Asri menyampaikan optimisme tinggi bahwa Fakultas Hukum IAI Rawa Aopa mampu melewati proses akreditasi ini dengan hasil yang memuaskan. Menurutnya, kesiapan instrumen dan solidnya komitmen tim yang langsung bekerja pasca-wisuda menjadi indikator kuat bahwa fakultas siap naik kelas ke level penjaminan mutu yang lebih tinggi.

IMG-20260611-WA0065

Tingkatkan Kualifikasi Akademik, Alumni Diajak Manfaatkan Fasilitas Studi Lanjut Pascasarjana

Rawaaopakonsel.ac.id, Kendari – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa selesai menggelar Wisuda VII Angkatan I yang berlangsung khidmat di Ballroom Hotel Claro, Kendari, Rabu (10/6/2026).

Momentum sakral yang meluluskan sebanyak 438 wisudawan dan wisudawati ini menjadi kian istimewa dengan disampaikannya kerja sama strategis antara IAI Rawa Aopa dan Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Furqan Makassar dalam memfasilitasi alumni untuk studi lanjut di sela-sela acara tersebut.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa pihak kampus berkomitmen penuh untuk mengawal keberlanjutan akademik para lulusan. Beliau menjelaskan bahwa jalinan kemitraan dengan Pascasarjana STAI Al Furqan Makassar sengaja dirancang sebagai jembatan bagi para alumni yang memiliki komitmen kuat untuk memperdalam keilmuan mereka di tingkat magister.

“Kami di jajaran rektorat tidak ingin mengantar bapak, ibu, dan saudara-saudari sekalian hanya sampai pada gerbang kelulusan sarjana hari ini saja. Kerja sama dengan Pascasarjana STAI Al Furqan Makassar ini adalah bukti konkret bahwa IAI Rawa Aopa bertanggung jawab moral atas masa depan akademik para alumni kami,” ujar Ismail di hadapan wisudawan yang memadati ruangan usai kegiatan wisuda.

Lebih lanjut, Ismail mengungkapkan bahwa kerja sama ini mencakup berbagai fasilitas kemudahan, mulai dari sinkronisasi kurikulum, efisiensi proses pendaftaran, hingga penyediaan program beasiswa kemitraan. Menurutnya, langkah taktis ini diambil institusi untuk merespons dinamika dunia profesional modern yang semakin kompetitif, sehingga para alumni IAI Rawa Aopa memiliki daya saing tinggi.

“Melalui kolaborasi ini, para alumni akan mendapatkan jalur khusus, kemudahan administratif, serta skema beasiswa yang telah kita sepakati bersama demi menunjang kelancaran studi lanjut mereka. Tantangan di dunia kerja saat ini menuntut penguatan kapasitas keilmuan yang tidak boleh terhenti, dan Pascasarjana STAI Al Furqan adalah mitra yang sangat tepat untuk menjawab tantangan tersebut,” tambahnya dengan penuh optimisme.

Ia juga menitipkan pesan mendalam kepada seluruh wisudawan agar senantiasa merawat tradisi literasi dan akademik dengan tidak berhenti belajar.

Di akhir pertemuan dengan pekerja media, Ismail menegaskan, “Oleh karena itu, saya mengetuk semangat 438 wisudawan yang dikukuhkan hari ini untuk tidak cepat berpuas diri dengan gelar sarjana yang baru saja diraih. Manfaatkan peluang emas hasil sinergi antarinstitusi ini dengan sebaik-baiknya agar ke depan, lahir lebih banyak magister-magister baru yang siap memajukan umat dan mengabdi bagi bangsa,” pungkasnya.

IMG-20260611-WA0009

Wisuda IAI Rawa Aopa: Mengukuhkan Sarjana Penggerak Pemajuan Ilmu Pengetahuan dari Konawe Selatan untuk Dunia

Rawaaopakonsel.ac.id, Kendari – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan sukses mengukuhkan 438 sarjana baru dalam rapat senat terbuka Wisuda Sarjana ke-VII Tahun 2026. Prosesi yang berlangsung khidmat tersebut digelar di Ballroom Hotel Claro, Kendari, pada Rabu (10/6/2026).

Ratusan wisudawan tersebut berasal dari tiga program studi (Prodi), yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Ketua Kopertais Wilayah VIII (Sulawesi, Maluku, dan Papua) Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D.; Sekretaris Kopertais Wilayah VIII AGH. Dr. Nur Taufik, M.Ag.; serta Bupati Konawe Selatan yang diwakili oleh Asisten III Setda Konsel, Suwardi, S.Pt., M.Si. Turut hadir jajaran Forkopimda, pimpinan perguruan tinggi, tokoh agama, serta keluarga para wisudawan.

Ketua Dewan Pendiri Yayasan Pendidikan Al Asri sekaligus pendiri IAI Rawa Aopa, Al Asri, S.Pd.I., M.Si., menyampaikan rasa syukur atas capaian ini. Ia menekankan bahwa keberhasilan para wisudawan merupakan hasil kolaborasi dari kerja keras mahasiswa, dedikasi dosen, dan dukungan orang tua.

“Saya berpesan agar ilmu yang diperoleh tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi benar-benar diamalkan untuk kemaslahatan umat. Jadilah sarjana yang berintegritas, berakhlak mulia, dan mampu menghadirkan solusi,” ujar Al Asri.

Senada dengan hal tersebut, Rektor IAI Rawa Aopa, Dr. Basrin Melamba, M.A., mengingatkan para lulusan bahwa gelar akademik membawa tanggung jawab sosial yang besar. Ia meminta alumni untuk terus menjaga integritas dan nama baik almamater di tengah masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi IAI Rawa Aopa dalam mendongkrak kualitas sumber daya manusia (SDM) daerah. Mewakili Bupati, Asisten III Setda Konawe Selatan, Suwardi, S.Pt., M.Si., mengajak para lulusan baru untuk bersinergi membangun daerah.

“Kami berharap para lulusan mampu menjadi agen perubahan, pelopor pembangunan, dan mitra pemerintah dalam mewujudkan Konawe Selatan yang maju dan sejahtera,” kata Suwardi.
Sementara itu, Ketua Kopertais Wilayah VIII, Prof. Dr. H. Hamdan Juhanis, Ph.D., dalam orasi ilmiahnya menyoroti tantangan berat di era transformasi digital dan globalisasi. Ia menekankan pentingnya lima modal utama bagi lulusan perguruan tinggi Islam agar tidak berhenti belajar setelah lulus.

“Dunia saat ini berubah sangat cepat. Kompetensi akademik saja tidak cukup. Jangan pernah berhenti belajar setelah diwisuda. Jadilah agen perubahan yang membawa manfaat,” tegas Prof. Hamdan, yang juga memuji perkembangan pesat IAI Rawa Aopa dalam meraih kepercayaan masyarakat Sulawesi Tenggara.

Dalam kesempatan yang sama Prof. Hamdan menyampaikan bahwa Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan merupakan salah satu perguruan tinggi tersehat di wilayah VIII (Sulawesi, Maluku, dan Papua). “Dengan mahasiswa yang mencapai 2000-an dan juga lulusan yang diwisuda hari ini, membuktikan bahwa keberadaan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan merupakan bagian dari perguruan tinggi yang tersehat,” ungkap Prof. Hamdan.

Prosesi wisuda ke-VII ini ditutup dengan momen haru saat para wisudawan memberikan penghormatan kepada orang tua mereka. Momentum ini menandai langkah baru IAI Rawa Aopa dalam melahirkan generasi intelektual muslim yang siap mengabdi demi kemajuan bangsa dan agama.

IMG-20260605-WA0066

Gandeng Akademisi IAI Rawa Aopa, Pre-Conference ICTIM 2026 Dorong Kompetensi Menulis Bab Buku Ilmiah

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Dalam rangka menyambut perhelatan ilmiah berskala internasional, Binus Online menyelenggarakan Pre-Conference International Conference on Information Technology and Information Management (ICTIM) 2026. Agenda strategis tersebut dilaksanakan secara daring pada Jumat (5/6/2026).

Kegiatan ini dirancang khusus untuk memberikan pembekalan komprehensif bagi para akademisi dan peneliti sebelum menuju acara puncak konferensi. Acara resmi dibuka oleh Dr. Hartiwi Prabowo, S.E., M.M., selaku Deputy Director Binus Online. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya wadah ilmiah seperti ICTIM dalam memfasilitasi diseminasi hasil riset terkini di bidang teknologi informasi dan manajemen.

Beliau juga berharap pra-konferensi ini dapat memotivasi para peserta untuk menghasilkan luaran publikasi yang berkualitas tinggi serta bereputasi global. Rangkaian diskusi ilmiah ini terbagi ke dalam tiga sesi utama yang dipandu secara interaktif. Sesi pertama diawali dengan pengenalan mendalam mengenai ICTIM 2026 yang dijadwalkan berlangsung secara daring pada 4-5 Agustus 2026 mendatang.

Penjelasan tersebut disampaikan langsung oleh Conference Chair, Dr. Yulius Denny Prabowo, S.T., M.T.I., yang juga merupakan dosen senior dari program studi Computer Science. Beliau memaparkan tema besar, sub-tema, serta peluang jejaring akademik yang dapat dioptimalkan oleh seluruh delegasi.

Memasuki sesi kedua, fokus diskusi beralih pada strategi teknis penulisan karya ilmiah dengan tajuk “Bagaimana Menulis Bab dalam Buku”. Sesi ini menghadirkan nara sumber utama, Ismail Suardi Wekke, Ph.D. Beliau merupakan Komite Saintifik ICTIM 2026 yang juga aktif sebagai dosen senior di Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan.

Kehadiran beliau memberikan perspektif mendalam mengenai standarisasi dan metodologi penyusunan book chapter yang menjadi salah satu luaran utama dari konferensi ini. Dalam pemaparannya, Ismail Suardi Wekke yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, menggarisbawahi pentingnya adaptasi teknologi dalam ekosistem riset modern.

Beliau menyatakan bahwa forum pra-konferensi seperti ini menjadi kesempatan untuk menyelaraskan persepsi antara komite saintifik dan para penulis. Menurutnya, pemanfaatan platform digital yang tepat akan mempercepat proses penelaahan naskah ilmiah.

Selanjutnya, Ismail Suardi Wekke juga menjelaskan secara tidak langsung bahwa luaran konferensi yang berbentuk bab buku memiliki nilai strategis bagi rekognisi institusi. Beliau menegaskan kembali kepada seluruh peserta mengenai komitmen komite untuk menjaga standar kualitas penulisan agar dapat menembus indeksasi global.

Di samping itu, beliau mengapresiasi langkah Binus Online yang konsisten membangun kolaborasi akademik lintas pulau dan lintas institusi di Indonesia. Sebagai bentuk motivasi langsung kepada para peneliti muda, Ismail Suardi Wekke membagikan kutipan penting terkait konsistensi menulis.

“Menulis bab dalam buku ilmiah bukan sekadar menyusun kata, melainkan seni mendokumentasikan pemikiran strategis yang dapat diakses oleh peradaban global,” ujar Ismail di sela-sela presentasinya.

Beliau juga menambahkan sebuah penegasan akademis yang kuat untuk memacu semangat peserta. “Kita harus bergeser dari ego sektoral menuju kolaborasi riset, di mana ICTIM 2026 menjadi jembatan emas bagi hilirisasi inovasi tersebut,” tegasnya.

Pada akhir sesinya, beliau menyimpulkan tantangan riset masa kini dengan sebuah pesan penutup. “Kualitas luaran sebuah konferensi ditentukan oleh ketajaman metodologi dan relevansi solusi yang ditawarkan terhadap masalah nyata di masyarakat,” pungkasnya.

Sesi ketiga kemudian dilanjutkan oleh Stefanus Rumangkit, SE., M.Sc., yang memberikan panduan praktis mengenai tata cara registrasi kepesertaan. Beliau membedah langkah demi langkah penggunaan platform Conference Management Toolkit (CMT) yang menjadi sistem pengelolaan resmi ICTIM 2026.

Penjelasan ini bertujuan untuk meminimalisir kendala teknis yang sering dihadapi oleh para pendaftar saat mengunggah abstrak maupun manuskrip lengkap mereka. Setelah pemaparan dari ketiga sesi utama tersebut selesai disampaikan, agenda pra-konferensi langsung ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif.

Para peserta memanfaatkan momentum ini dengan mengajukan berbagai pertanyaan kritis seputar substansi penulisan dan teknis pelaksanaan konferensi. Kegiatan pra-konferensi ini diharapkan dapat menjadi fondasi kokoh demi kesuksesan penyelenggaraan ICTIM 2026 pada bulan Agustus mendatang.

IMG-20260604-WA0025

IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Bersiap Gabung Jejaring ACER-N untuk Penguatan Riset Regional

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menunjukkan komitmennya dalam memperluas jangkauan kerja sama di tingkat regional. Kali ini, institusi pendidikan tinggi tersebut secara resmi menyatakan minatnya untuk bergabung dalam jaringan ASEAN Council for Educational Research Network (ACER-N). Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu riset, publikasi ilmiah, serta pengabdian masyarakat yang berbasis pada kolaborasi antarnegara di kawasan Asia Tenggara.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan bahwa momentum ini menjadi titik balik yang sangat penting bagi akselerasi akademik kampus. Penguatan jaringan internasional dipandang bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak untuk menjawab tantangan global.

Pihak manajemen kampus pun telah mempersiapkan seluruh instrumen pendukung demi kelancaran proses integrasi ke dalam ekosistem ACER-N tersebut. Mengenai kesiapan institusi, Ismail Suardi Wekke memberikan pernyataan langsung terkait komitmen penuh kampus dalam penjajakan ini.

“Kami melihat ACER-N sebagai platform yang sangat strategis untuk mengintegrasikan potensi riset yang dimiliki oleh dosen dan peneliti IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dengan lanskap akademik di Asia Tenggara,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya. Beliau juga menambahkan mengenai orientasi pengembangan kelembagaan yang sedang berjalan saat ini.

“Bergabungnya kami dalam jejaring ini akan membuka pintu lebar bagi kolaborasi riset multilateral yang berdampak langsung pada akselerasi mutu lulusan serta reputasi kampus di kancah internasional,” kata Ismail, Kamis (4/6/2026).

Lebih lanjut, beliau menggarisbawahi kesiapan tata kelola internal untuk menyambut kemitraan besar tersebut.

“Seluruh jajaran di bidang perencanaan dan keuangan telah dialokasikan secara optimal untuk mendukung implementasi program-program kerja sama internasional yang produktif dan berkelanjutan,” tegasnya.

Di sisi lain, terdapat beberapa poin krusial yang disampaikan melalui pernyataan tidak langsung dari sang Wakil Rektor. Ismail Suardi Wekke menjelaskan bahwa keikutsertaan dalam jaringan kerja sama regional seperti ACER-N menjadi sebuah kesempatan untuk meningkatkan peluang mendapatkan jejaring penelitian kolaboratif global yang dihasilkan oleh sivitas akademika kampus secara signifikan.

Selain itu, beliau menyampaikan bahwa manajemen IAI Rawa Aopa Konawe Selatan tengah menyusun peta jalan integrasi kurikulum berbasis riset yang relevan dengan standar serta dinamika pendidikan di kawasan ASEAN. Dalam kesempatan yang sama, beliau memaparkan bahwa keterlibatan ini juga diharapkan mampu menarik minat para peneliti luar negeri untuk melakukan kolaborasi riset terapan di wilayah Konawe Selatan.

Langkah penjajakan ini langsung mendapat respons positif dari seluruh elemen di internal senat dan fakultas. Kehadiran IAI Rawa Aopa Konawe Selatan di dalam ACER-N diproyeksikan akan memperkuat posisi tawar institusi dalam berbagai forum ilmiah internasional formal. Dengan komitmen yang kuat serta dukungan tata kelola kepegawaian yang profesional, proses aplikasi keanggotaan ini diharapkan dapat segera rampung dalam waktu dekat.

IMG-20260603-WA0003

Internasionalisasi Kampus, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Sambut Baik Kemitraan RI-Prancis

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Kunjungan resmi (28/05/2026) Presiden ke Prancis pekan ini menandai babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara, khususnya dalam penguatan sektor pendidikan tinggi. Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Paris tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis yang berfokus pada peningkatan mutu akademik, kolaborasi riset, dan pertukaran talenta.

Langkah ini dipandang sebagai upaya progresif Indonesia dalam mempercepat internasionalisasi institusi pendidikan tinggi agar mampu bersaing di panggung global.
Pemerintah Indonesia dan Prancis berkomitmen untuk memperluas akses beasiswa, memfasilitasi riset bersama pada sektor sains murni dan terapan, serta mendorong implementasi teknologi dalam manajemen kampus.

Implementasi dari kesepakatan ini diharapkan dapat segera dirasakan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di wilayah luar Pulau Jawa. Sinergi ini juga membuka peluang besar bagi dosen dan mahasiswa tanah air untuk menyerap praktik terbaik dari sistem pendidikan modern di Eropa.

Agenda strategis ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan akademisi di dalam negeri, tak terkecuali dari kawasan timur Indonesia. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa momentum kerja sama internasional ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh komponen pendidikan tinggi.

Menurutnya, perluasan jaringan global merupakan kunci utama dalam meningkatkan standardisasi mutu kelembagaan nasional.
“Kerja sama antara Indonesia dan Prancis ini merupakan peluang monumental bagi perguruan tinggi, terutama di daerah, untuk melakukan lompatan kuantum dalam aspek tata kelola dan mutu akademik,” ujar Ismail Suardi Wekke saat memberikan respon dan perencanaan pasca kunjungan Presiden RI ke Prancis, Rabu (3/6/2026).

Lebih lanjut, Ismail Suardi Wekke menggarisbawahi pentingnya adaptasi teknologi dalam mendukung keberhasilan implementasi kemitraan internasional ini. Beliau menekankan bahwa penguatan tata kelola institusi berbasis digital mutlak diperlukan agar kolaborasi riset lintas negara dapat berjalan secara efisien. Kesiapan infrastruktur digital dalam negeri akan menjadi fondasi utama yang menentukan seberapa jauh program kemitraan ini dapat diakselerasi secara produktif.

“Kami di tingkat tata kelola universitas melihat bahwa ekosistem pengetahuan berbasis digital dan pengelolaan manajemen yang transparan adalah fondasi utama agar kolaborasi internasional seperti ini dapat diimplementasikan secara konkret,” tegas Ismail Suardi Wekke secara langsung.

Selain kesiapan teknologi, aspek pengembangan sumber daya manusia juga menjadi sorotan utama dalam menangkap peluang kerja sama bilateral ini. Ismail Suardi Wekke mengingatkan bahwa dosen dan peneliti lokal harus didorong untuk aktif mengambil peran dalam konsorsium riset internasional. Pelibatan aktif ini dinilai akan mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi yang menjadi inti dari kesepakatan kedua negara.

“Transformasi pendidikan tinggi tidak akan terwujud tanpa adanya peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan yang adaptif terhadap standar global,” jelas Ismail Suardi Wekke.

Di sisi lain, Ismail Suardi Wekke juga menyampaikan pandangan mendalamnya melalui terkait arah kebijakan pasca-kesepakatan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa integrasi sistem manajemen pengetahuan di tingkat kampus akan mempermudah penyelarasan kurikulum nasional dengan standar internasional yang diterapkan di Prancis.

Menurutnya, simplifikasi birokrasi akademik dan penguatan kapasitas riset harus berjalan beriringan demi menyukseskan program pertukaran gagasan ini. Dalam kesempatan yang sama, Ismail Suardi Wekke menyatakan pula bahwa institusi pendidikan di daerah seperti IAI Rawa Aopa Konawe Selatan berkomitmen penuh untuk mengadopsi model fasilitasi pembelajaran modern yang diadopsi dari kemitraan global tersebut.

Beliau meyakini bahwa keterbatasan geografis bukan lagi penghalang utama berkat adanya dukungan ekosistem digital yang kuat. Pola kemitraan ini diharapkan mampu memangkas kesenjangan kualitas pendidikan antara pusat dan daerah secara signifikan.

Terakhir, Ismail Suardi Wekke menambahkan bahwa tindak lanjut dari kunjungan kepresidenan ini memerlukan sinergi penta-helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan sektor industri. Beliau mengindikasikan bahwa luaran dari kerja sama riset Indonesia-Prancis ini harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan berkontribusi langsung pada pembangunan daerah. Kemitraan strategis ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen di atas kertas, melainkan menjelma menjadi aksi nyata yang berkelanjutan.

IMG-20260531-WA0027

Selain Pembelajaran Bahasa Prancis, Akademisi Respon dengan Indonesia-France Forum on Higher Education

Rawaaopakonsel.ac.id, Paris – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mendorong penguatan kemitraan strategis antara Indonesia dan Prancis di tengah eskalasi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global. Penegasan tersebut disampaikan dalam pernyataan pers bersama Presiden Prancis, Emmanuel Macron, usai pertemuan bilateral di Istana Élysée, Paris, Kamis (28/5/2026) waktu setempat.

Dalam pertemuan kenegaraan tersebut, kedua pemimpin negara membahas perluasan kerja sama komprehensif, mulai dari stabilitas ekonomi, resolusi konflik geopolitik, hingga penguatan sektor pendidikan.

Presiden Prabowo menggarisbawahi bahwa di tengah situasi dunia yang dipenuhi konflik, kolaborasi antara Jakarta dan Paris dapat memberikan dampak positif bagi perdamaian dunia.

“Melihat perkembangan dunia ke depan, kita yakin di keadaan global yang penuh ketidakpastian, penuh ketegangan, penuh konflik, kedua negara kita bisa memainkan suatu peranan yang positif,” ujar Presiden Prabowo. Ia juga menambahkan bahwa kemajuan sains dan teknologi seharusnya mempererat hubungan antarnegara, karena perang tidak akan membawa kebaikan bagi pihak mana pun.

Selain isu bilateral, kedua kepala negara secara khusus menyoroti stabilitas di Timur Tengah yang berdampak langsung pada rantai pasok global dan ketahanan energi. Presiden Prabowo menyampaikan apresiasinya terhadap sikap Prancis yang konsisten mendukung solusi dua negara (*two-state solution*) demi keadilan dan kemerdekaan Palestina.

Di sektor ekonomi, kunjungan ini memperkuat komitmen implementasi kemitraan strategis komprehensif atau *Comprehensive Strategic Partnership* (CEPA). Presiden Prabowo menyambut baik dukungan Presiden Macron dalam memfasilitasi peningkatan investasi Prancis di Indonesia, yang salah satunya diwujudkan melalui pembentukan *France Indonesia High Level Business Council*.

“Kita akan sangat gembira dengan partisipasi dan kehadiran perusahaan-perusahaan Prancis terus di ekonomi Indonesia. Prancis sebagai pemimpin Eropa akan terus memainkan peranan yang sangat penting di kawasan Asia Tenggara,” imbuh Kepala Negara.

Sinergi bilateral ini tidak hanya menyasar sektor ekonomi dan politik, tetapi juga menyentuh penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui sektor pendidikan tinggi. Saat ini, praktisi dan Akademisi kedua negara tengah mematangkan persiapan penyelenggaraan Indonesia-France Forum on Higher Education  yang dirancang untuk memperluas jejaring akademik, riset bersama, dan mobilitas mahasiswa antar kedua negara.

Pengamat dan akademisi kerja sama internasional, Ismail Suardi Wekke, menilai forum ini menjadi momentum krusial bagi digitalisasi dan internasionalisasi kampus-kampus di Indonesia.

“Persiapan *Indonesia-France Forum on Higher Education* ini merupakan langkah taktis untuk menjembatani standarisasi akademik nasional dengan inovasi global. Prancis memiliki keunggulan riset di bidang sains dan teknologi, sementara Indonesia menawarkan ruang kolaborasi riset yang kaya. Forum ini bukan sekadar seremonial, melainkan peta jalan (roadmap) baru untuk mencetak talenta global yang adaptif,” kata Ismail Suardi Wekke saat dihubungi terpisah.

Menutup rangkaian kunjungan di Istana Élysée, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memandang Prancis dan Eropa sebagai mitra strategis penting untuk menciptakan tatanan dunia multipolar yang seimbang, adil, dan stabil.

IMG-20260529-WA0019

Pasca-Kurban, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Bersiap Gelar Seminar Hukum Internasional di Vietnam

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Momentum Hari Raya Idul Adha tidak menyurutkan langkah Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan dalam memacu pengembangan institusi. Usai menuntaskan agenda sosial keagamaan melalui penyerahan dan penyaluran satu ekor hewan kurban berupa kambing kepada masyarakat, perguruan tinggi ini langsung mengalihkan fokus pada penguatan jejaring akademik internasional, Jumat (29/5/2026).

IAI Rawa Aopa kini tengah mematangkan persiapan matang untuk merealisasikan kolaborasi strategis dengan sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Vietnam.
Kerja sama lintas negara tersebut akan diawali dengan pelaksanaan sebuah agenda besar, yakni seminar hukum internasional yang menyoroti berbagai dinamika regulasi di kawasan Asia Tenggara.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen kampus dalam meningkatkan mutu akademik serta memperluas kontribusi ilmiah di tingkat regional. Pihak kampus menilai bahwa kolaborasi dengan institusi pendidikan di Vietnam akan membuka ruang diplomasi kebudayaan dan intelektual yang lebih luas bagi kedua belah pihak.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa kepedulian sosial yang tecermin dalam ibadah kurban harus berjalan beriringan dengan peningkatan mutu akademik universitas.

“Kami tidak ingin berhenti pada kegiatan sosial keagamaan saja, melainkan langsung bergerak cepat menyongsong program internasionalisasi kampus,” ujar Ismail usai memantau rampungnya kegiatan Bakti Sosial dalam rangka idul adha.

Beliau juga menambahkan bahwa kerja sama dengan pihak Vietnam ini akan berfokus pada kajian hukum kontemporer demi merespons dinamika yang berkembang cepat di kawasan Asia Tenggara. Ismail menegaskan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan rekomendasi kebijakan yang berdampak nyata bagi penguatan regulasi di tingkat regional.

Menurut Ismail, kemitraan lintas negara ini menjadi langkah nyata dalam mentransformasi institusi menuju panggung global yang lebih inklusif. Ia menjelaskan bahwa pemilihan Vietnam sebagai mitra strategis didasarkan pada kesamaan komitmen dalam mengembangkan riset hukum yang adaptif terhadap tantangan zaman.

Ke depan, proyeksi kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada seminar ilmiah, melainkan akan dikembangkan ke arah pertukaran dosen dan publikasi riset bersama. Melalui forum ilmiah ini, manajemen kampus berkomitmen untuk memfasilitasi para peneliti lokal agar mampu berbicara banyak di forum internasional.

“Melalui forum ilmiah ini, kami ingin memastikan bahwa dosen dan mahasiswa kita memiliki cakrawala berpikir yang luas serta berdaya sanding secara internasional,” pungkas Ismail.

Di akhir keterangannya, Ismail menyampaikan harapan besar agar seluruh sivitas akademika IAI Rawa Aopa dapat mengambil peran aktif dalam seminar internasional tersebut guna memperkaya khazanah keilmuan mereka. Dengan persiapan yang mulai berjalan intensif, seminar hukum Asia Tenggara ini diharapkan menjadi batu loncatan penting bagi IAI Rawa Aopa dalam membangun reputasi akademik yang disegani di kawasan Asia Tenggara

FB_IMG_1779980102446

Perlunya Panduan Etika Riset dan Implementasi, Ini Kata Akademisi Ismail Suardi Wekke

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Dugaan pemalsuan riset yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia dalam forum ilmiah internasional di Denmark menuai sorotan tajam dari akademisi Institut Agama Islam (IAI) Rawa Opa, Ismail Suardi Wekke. Ia menilai kasus tersebut bukan sekadar pelanggaran etik, melainkan alarm krisis integritas akademik di Indonesia.

Kasus itu mencuat setelah muncul dugaan manipulasi data penelitian, pemalsuan identitas peserta konferensi, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk merekayasa artikel ilmiah demi memperoleh bantuan perjalanan (travel grant). Praktik tersebut dinilai mencoreng citra akademik Indonesia di tingkat internasional.

Ismail Suardi Wekke menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai ilmu pengetahuan.

“Ketika riset dijadikan tiket jalan-jalan gratis ke luar negeri, maka ilmu pengetahuan telah kehilangan kehormatannya,” kata Ismail, Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, fenomena tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari budaya akademik instan yang lebih berorientasi pada sertifikat internasional, angka publikasi, dan gengsi seminar luar negeri dibanding kualitas riset serta kejujuran ilmiah.

“Kampus jangan berubah menjadi pabrik CV akademik. Hari ini orang berlomba mengoleksi seminar dan publikasi, tetapi lupa bahwa fondasi utama ilmu adalah kejujuran,” ujarnya.

Ia menilai obsesi administratif terhadap publikasi internasional tanpa penguatan etika akademik telah membuka ruang bagi praktik manipulasi ilmiah.

“Kondisi yang sedang kita hadapi bukan sekadar pelaku nakal, tetapi krisis moral akademik yang perlahan dianggap normal,” katanya.

Terkait dugaan penggunaan AI untuk membuat artikel dan data penelitian palsu, Ismail menegaskan bahwa teknologi bukan sumber utama persoalan. Menurut dia, masalah terletak pada penyalahgunaan teknologi tanpa tanggung jawab moral.

“Artificial Intelligence tidak berbahaya. Posisi yang berbahaya adalah manusia malas berpikir tetapi ingin terlihat ilmiah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti maraknya budaya akademik yang lebih menekankan pencitraan intelektual dibanding membangun tradisi riset yang otentik.

“Ada orang ingin terlihat sebagai ilmuwan internasional, padahal yang dibangun hanya panggung pencitraan akademik,” ungkapnya.

Selain itu, Pimpinan IAI Rawa Opa menilai pengawasan terhadap konferensi predator, publikasi abal-abal, serta distribusi travel grant masih lemah dan rentan disalahgunakan.

“Selama ukuran keberhasilan dosen hanya dihitung dari stempel seminar luar negeri dan jumlah publikasi instan, maka industri akademik palsu akan terus hidup dan berkembang,” terangnya.

Melalui institusi perguruan tinggi seperti IAI Rawa Opa mendesak pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi ilmiah, dan lembaga akreditasi untuk melakukan audit integritas akademik secara menyeluruh. Evaluasi juga dinilai perlu dilakukan terhadap mekanisme hibah perjalanan akademik serta penggunaan AI dalam penulisan ilmiah.

“Saatnya kita menginternalisasi nilai integritas akademik. Sekaligus keperluan untuk tidak menjadikan rangking sebagai tolok ukur utama dan tunggal,” urai Ismail Suardi Wekke yang menerima posisi Distinguished Professor di North Bangkok University (Thailand) sejak 2025.

Menurut Ismail, kasus tersebut harus menjadi momentum pembenahan serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, bukan sekadar klarifikasi administratif untuk meredam sorotan publik.

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka adalah keberanian untuk jujur dalam dunia ilmu pengetahuan,” katanya.

Ia mengingatkan, jika praktik semacam itu terus dibiarkan, masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap perguruan tinggi dan dunia akademik nasional.

“Ketika kebohongan diberi panggung akademik, maka generasi muda akan belajar bahwa kepalsuan lebih cepat dihargai daripada proses ilmiah yang jujur,” ujarnya.

Dalam.kapasitas sebagai Wakil Rektor IAI Rawa Opa menegaskan, pemulihan martabat akademik Indonesia hanya dapat dilakukan melalui keberanian membersihkan budaya manipulasi di lingkungan pendidikan tinggi.

“Perlunya mengutamakan riset sederhana dan jujur, menghindari penelitian terlihat canggih tetapi dibangun di atas kebohongan,” tegas Ismail.