KKA(ISW)

Gambaran Program Kerja, Sebuah Kegiatan yang Berdampak Jangka Panjang

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Dalam dinamika pengabdian kepada masyarakat, keberhasilan sebuah program kerja sering kali diukur hanya dari kemeriahan seremoni pelaksanaannya. Padahal, secara teoritis dan praktis, indikator utama keberhasilan pengabdian bukanlah aspek output jangka pendek, melainkan outcome dan impact yang berkelanjutan (sustainable impact).

Pengabdian masyarakat yang ideal dirancang untuk tidak sekadar “datang, memberi, lalu pergi.” Sebaliknya, ia berfungsi sebagai katalisator perubahan sistemik—sebuah intervensi terukur yang mampu membangun kemandirian lokal, memperkuat tata kelola kelembagaan, mendorong keberlanjutan lingkungan, serta menumbuhkan budaya inovasi dan pendidikan inklusif.

Berikut adalah gambaran bagaimana serangkaian program intervensi berbasis pemberdayaan dapat meletakkan fondasi perubahan yang berdampak jangka panjang bagi masyarakat:

1. Penguatan Ekosistem Finansial, Ekonomi Lokal, dan Kemandirian Desa

  • Pembentukan UPZ BAZNAS: Merupakan bentuk sistematisasi penggalangan dana sosial (zakat, infak, dan sedekah) agar pengelolaannya legal, transparan, dan dapat disalurkan secara tepat sasaran untuk menanggulangi kemiskinan serta pemberdayaan ekonomi lokal.
  • Pengembangan UMKM untuk Ekosistem Halal: Pendampingan UMKM dalam mendapatkan sertifikasi halal dan integrasi ke dalam ekosistem industri halal nasional guna meningkatkan nilai tambah produk lokal dan memperluas akses pasar.
  • Perluasan Keuangan Inklusif (Inclusive Finance): Edukasi dan pemanfaatan produk finansial resmi bagi seluruh lapisan masyarakat—termasuk kelompok rentan—agar memiliki akses terhadap tabungan, pembiayaan mikro, serta sistem pembayaran digital yang aman untuk memutus ketergantungan pada jeratan tengkulak atau pinjaman ilegal.
  • Pengembangan Koperasi Desa Wisata: Mengonsolidasikan potensi pariwisata berbasis komunitas melalui kelembagaan koperasi. Keberadaan koperasi desa wisata memastikan pengelolaan destinasi dilakukan secara kolektif, profesional, dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.

2. Kepastian Hukum dan Tata Kelola Keagamaan

  • Pendataan Tanah Wakaf: Bentuk mitigasi risiko hukum dan perlindungan aset publik melalui inventarisasi serta sertifikasi aset wakaf, guna mencegah sengketa dan memfasilitasi optimalisasi aset untuk fungsi sosial maupun ekonomi produktif.
  • Mendorong Rekening atas Nama Masjid: Modernisasi manajemen tempat ibadah dari rekening pribadi pengurus menjadi rekening lembaga berbadan hukum demi menjamin akuntabilitas, transparansi pencatatan, dan membuka kemitraan strategis secara resmi.

3. Akses, Kualitas Pendidikan, dan Keberlanjutan SDM

  • Pendirian & Penguatan PAUD/TK serta Beasiswa Pendidikan Guru: Memperkuat fondasi pendidikan anak usia dini sekaligus membuka akses kesempatan kuliah bagi guru dan calon guru PAUD agar memiliki kualifikasi pedagogis yang mumpuni.
  • Sosialisasi Perguruan Tinggi bagi Lulusan SMA/SMK: Memberikan edukasi, pemetaan jalur masuk, dan informasi beasiswa perguruan tinggi bagi siswa kelas akhir guna memotivasi mereka melanjutkan studi dan meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi.
  • Fasilitasi Deep Learning di Sekolah: Mendorong transformasi cara mengajar guru dari sekadar transfer informasi menjadi fasilitator pembelajaran mendalam (surface to deep learning) yang melatih daya kritis dan pemecahan masalah (problem solving).
  • Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah: Menghadirkan pendekatan humanis dalam proses belajar-mengajar guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan ramah anak, sekaligus membina karakter serta empati peserta didik.

4. Digitalisasi Berkelanjutan dan Ruang Digital yang Aman

  • Digitalisasi Desa Berbasis Website: Pembangunan website resmi desa sebagai portal transparansi publik, pelayanan administrasi digital, dan media promosi potensi desa menuju smart village.
  • Digitalisasi Sekolah dan Madrasah: Mengawali transformasi digital melalui peluncuran website sekolah/madrasah sebagai sarana informasi, transparansi akademik, portofolio lembaga, dan media komunikasi warga sekolah.
  • Edukasi Ruang Digital yang Aman dan Nyaman: Mengimbangi digitalisasi dengan pemahaman literasi digital, keamanan data pribadi, pencegahan cyberbullying, serta etika berinternet. Langkah ini bertujuan menciptakan lingkungan digital yang produktif, sehat, dan bebas dari disinformasi maupun kejahatan siber.

5. Tata Kelola Data, Demokrasi, Inovasi, dan Transisi Energi

  • Pemetaan Sekolah, Kecukupan Guru, dan Integrasi Digital: Pengumpulan data terpadu untuk memetakan kondisi fisik sekolah, rasio kebutuhan guru, serta ketersediaan sarana digital sebagai basis pengambilan keputusan berbasis data (evidence-based policy).
  • Sosialisasi dan Edukasi Demokrasi Bersama KPU: Kolaborasi dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam rangka pendidikan pemilih (voter education), khususnya bagi pemilih pemula, untuk meningkatkan literasi politik dan kesadaran hak sipil.
  • Pengembangan Inovasi Daerah Berkelanjutan bersama BRIDA: Bermitra dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) untuk mengidentifikasi potensi lokal, mengkaji permasalahan daerah, dan merumuskan inovasi berbasis riset yang dapat diterapkan secara nyata.
  • Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT): Edukasi dan penerapannya di tingkat lokal (seperti penggunaan lampu jalan tenaga surya, pengolahan biomassa, atau mikrohidro). Langkah ini mendidik masyarakat untuk mulai mengadopsi energi bersih, ramah lingkungan, dan hemat biaya dalam jangka panjang.

Penutup

Program kerja pengabdian yang berdampak jangka panjang adalah program yang berani berinvestasi pada dua fondasi utama: kelembagaan yang akuntabel dan sumber daya manusia yang berdaya serta berwawasan lingkungan.

Melalui kombinasi legalitas aset, keuangan inklusif, penguatan koperasi desa wisata, digitalisasi yang aman, hingga adopsi Energi Baru dan Terbarukan (EBT), kita sedang meletakkan dasar bagi kemandirian komunitas yang tangguh dan berkelanjutan. Di sisi lain, melalui pembinaan pendidikan dari PAUD hingga perguruan tinggi, pelatihan pedagogi deep learning, literasi demokrasi bersama KPU, serta riset daerah bersama BRIDA, kita sedang mencetak generasi masa depan yang bernalar kritis, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Keberhasilan sejati dari sebuah pengabdian masyarakat tidak pernah diukur saat program tersebut selesai dilaksanakan, melainkan ketika sistem yang telah dibangun terus berjalan, berkembang, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat secara mandiri.

HIDI (ISW)

IAI Rawa Aopa Bersiap Melaksanakan KKA, Mendapatkan Dukungan dari HIDI Indonesia

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan bersiap menerjunkan ratusan mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Amaliah (KKA) mendatang. Sebagai kelanjutan dari pelaksanaan sebelumnya, program pengabdian masyarakat terpadu ini mendapatkan amunisi dan dukungan penuh dari Halal Industry Development of Indonesia (HIDI) Indonesia, khususnya dalam akselerasi literasi serta regulasi halal di tingkat masyarakat.

Kepastian sinergi strategis ini dicapai setelah Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menjalin komunikasi intensif dengan Direktur HIDI Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Muhammad Nusran. Langkah ini diambil sebagai bagian dari persiapan menghadapi pemberlakuan ketentuan wajib halal yang ditargetkan mulai berlaku penuh pada Oktober mendatang.

Melalui kerja sama ini, para mahasiswa peserta KKA tidak hanya akan menyerap aspirasi dan mendampingi warga, tetapi juga dibekali peran khusus sebagai agen penyebar informasi mengenai regulasi dan pentingnya kesadaran produk halal di kawasan pedesaan.

Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa KKA tahun ini didesain agar memberikan dampak konkrit, tidak hanya bagi kurikulum akademik mahasiswa, tetapi juga bagi kebutuhan praktis masyarakat dan para pelaku usaha kecil di daerah.

“KKA bukan sekadar rutinitas akademik tahunan, melainkan bentuk nyata integrasi ilmu dan pengabdian. Melalui kolaborasi dengan HIDI Indonesia, mahasiswa IAI Rawa Aopa akan menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat dan mendampingi pelaku usaha lokal agar siap menghadapi kewajiban sertifikasi halal Oktober mendatang,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Sementara itu, pihak HIDI Indonesia menyambut baik langkah proaktif yang diambil oleh manajemen IAI Rawa Aopa. Direktur HIDI Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Muhammad Nusran, menyatakan komitmennya untuk memberikan pendampingan materi hingga pembekalan teknis bagi mahasiswa sebelum diterjunkan ke lapangan.

Nusran menilai perguruan tinggi memiliki peran kunci sebagai jembatan informasi antara regulasi pemerintah — terkait ekosistem halal — dengan realitas para pelaku UMKM di akar rumput.

Dengan adanya sinergi antara IAI Rawa Aopa dan HIDI Indonesia ini, pelaksanaan KKA diharapkan dapat mempercepat terbentuknya ekosistem desa sadar halal, sekaligus memastikan para pelaku usaha lokal siap dan terfasilitasi sebelum regulasi wajib halal diberlakukan secara menyeluruh.

KKA (ISW)

KKN di Bulan Kemerdekaan, IAI Rawa Aopa Siap Tempatkan Mahasiswa di Desa atau Kelurahan

Rawaaopakonsel.ac.id, Kendari — Menyambut bulan kemerdekaan, Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menetapkan pelaksanaan program Kuliah Kerja Amaliah (KKA). Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) terpadu ini dijadwalkan berlangsung sepanjang bulan Agustus sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam pembangunan desa dan kelurahan.

Keputusan pelaksanaan serta penjadwalan kegiatan tersebut diambil berdasarkan keputusan jajaran pimpinan IAI Rawa Aopa. Melalui skema terstruktur ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga hadir memberikan dampak sosial di tengah masyarakat.

Sebagai langkah awal, pimpinan dan tim panitia pelaksana telah menerjunkan tim untuk melakukan survei lapangan ke sejumlah lokasi yang menjadi calon penempatan. Langkah ini diambil untuk memetakan potensi wilayah sekaligus mengidentifikasi kebutuhan riil masyarakat setempat sebelum mahasiswa diterjunkan secara resmi.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menyampaikan bahwa tahapan survei ini menjadi langkah awal agar program kerja mahasiswa nantinya relevan dan tepat sasaran.

“Survei lapangan ini merupakan bagian dari pemetaan awal. Kami ingin memastikan bahwa kehadiran mahasiswa KKA benar-benar menjawab kebutuhan desa, sekaligus menjadi sarana belajar yang kontekstual bagi mereka di tengah dinamika masyarakat,” ujar Ismail.

Usai survei lapangan, rangkaian persiapan dilanjutkan dengan pembekalan melalui pelatihan online. Pelatihan berbasis digital ini dirancang untuk membekali calon peserta KKA dengan pemahaman metodologi pengabdian masyarakat, etika berinteraksi di tengah warga, hingga teknik penyusunan program kerja yang efektif dan berkelanjutan.

Rangkaian alur persiapan tersebut kemudian difinalisasi dalam rapat koordinasi internal. Rapat ini membahas kesiapan teknis, pembagian dosen pembimbing lapangan (DPL), serta skema mitigasi dan pendampingan selama mahasiswa berada di lokasi penempatan.

Program KKA sendiri merupakan manifestasi dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang memadukan prinsip akademik dengan pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai Amaliah. Melalui momentum bulan kemerdekaan ini, IAI Rawa Aopa berkomitmen melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berjiwa sosial dan siap mengabdi untuk kemajuan daerah.

ISOFSEAS (ISW)

Usai FGD, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Bersiap Laksanakan ISOFSEAS Bersama UniSZA Malaysia

Rawaaopakonsel.ac.id, Kendari — Usai sukses menggelar Focus Group Discussion (FGD) antara Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan dengan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, kini bersiap melangkah ke panggung akademis internasional. Perguruan tinggi keagamaan Islam di Sulawesi Tenggara ini menggalang kolaborasi strategis bersama UniSZA untuk menyelenggararakan The International Student Symposium on Frontiers of Southeast Asia (ISOFSEAS).

Simposium mahasiswa internasional yang telah konsisten dilaksanakan sejak tahun 2016 ini kini resmi memasuki penyelenggaraan tahun ke-11. Kepastian dan pematangan agenda tersebut didiskusikan dalam pertemuan koordinasi secara daring yang berlangsung pada Rabu (29/7/2026).

Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan kunci dari kedua institusi. Dari pihak UniSZA Malaysia, hadir Timbalan Naib Canselor (Wakil Rektor), Dekan Fakulti Undang-Undang dan Hubungan Antarabangsa, serta jajaran International Centre. Sementara delegasi IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dipimpin oleh Wakil Rektor, didampingi Penanggung Jawab Kampus Kendari, serta perwakilan dosen.

Penyelenggaraan ISOFSEAS edisi ke-11 ini menandai sejarah penting keterlibatan IAI Rawa Aopa dalam konsorsium simposium mahasiswa bereputasi regional tersebut. Forum ini dirancang khusus untuk memfasilitasi mahasiswa dan peneliti muda dalam mendiseminasikan gagasan ilmiah terkait dinamika Asia Tenggara.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan menegaskan pentingnya kolaborasi ini bagi penguatan kapasitas mahasiswa:

“Menjelang edisi ke-11 ISOFSEAS, keterlibatan IAI Rawa Aopa merupakan langkah nyata untuk membawa mahasiswa kami ke panggung dunia. Kolaborasi dengan UniSZA ini membuktikan bahwa institusi kita siap memfasilitasi riset mahasiswa agar mampu bersaing di tingkat regional Asia Tenggara.”

Ia menguraikan bahwa hasil dari FGD yang telah dilaksanakan sebelumnya menjadi bahan penyusunan topik-topik strategis yang akan ditawarkan kepada para peserta simposium. Menurutnya, kesiapan internal kampusnya sangat matang untuk menyambut simposium bereputasi ini.

Sementara itu, Timbalan Naib Canselor UniSZA mengapresiasi rekam jejak panjang ISOFSEAS yang terus bertahan dan berkembang sejak 2016:

“ISOFSEAS telah membuktikan keberlanjutannya selama lebih dari satu dekade sebagai wadah bertukar pikiran bagi generasi muda. Sinergi bersama IAI Rawa Aopa akan memberikan warna baru dan memperluas jangkauan dampak akademis simposium ini di kawasan.”

Dekan Fakulti Undang-Undang dan Hubungan Antarabangsa UniSZA turut menyatakan kesediaan untuk menjadi mitra dalam kegiatan mendatang:

Selanjutnya Dekan FUHA UniSZA menyampaikan “Isu-isu perbatasan dan masa depan Asia Tenggara memerlukan gagasan segar dari para mahasiswa. Melalui ISOFSEAS, kami mendorong integrasi antara kajian hukum, hubungan internasional, serta nilai-nilai keislaman untuk menjawab tantangan kawasan.”

Selaras dengan hal tersebut, perwakilan International Centre UniSZA menyatakan kesiapan penuh dalam mengawal manajemen pendaftaran peserta dari berbagai negara serta dukungan teknis pelaksanaan simposium secara internasional.

Dari pihak IAI Rawa Aopa, Penanggung Jawab Kampus Kendari menjelaskan bahwa Kampus Kendari siap menjadi pusat kendali operasional dan penyediaan fasilitas pendukung bagi kelancaran seluruh rangkaian kegiatan ISOFSEAS.

Perwakilan dosen IAI Rawa Aopa yang hadir juga menambahkan bahwa para dosen saat ini aktif memberikan pendampingan intensif kepada mahasiswa yang akan mengirimkan abstract dan makalah. Diharapkan karya-karya ilmiah mahasiswa IAI Rawa Aopa dapat memberikan kontribusi pemikiran yang signifikan dalam simposium internasional edisi ke-11 tersebut.

Kendari (ISW)

Persiapan KKA, Dewan Pembina Sampaikan Arahan untuk Tranformasi Budaya Kerja

Rawaaopakonsel.ac.id, Kendari — Menyambut pelaksanaan Kuliah Kerja Amaliah (KKA), civitas akademika Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menggelar rapat koordinasi panitia bersama jajaran dosen dan tenaga kependidikan. Pertemuan strategis yang berlangsung di Kampus III (Kampus Penghubung) Kendari pada Kamis (30/7/2026) tersebut berfokus pada penguatan tata kelola lembaga serta percepatan transformasi budaya kerja di lingkungan kampus.

Ketua Dewan Pendiri sekaligus Dewan Pembina Yayasan Pendidikan dan Perguruan Tinggi Al Asri Konawe Selatan, Al Asri, M.Si., hadir secara langsung memberikan arahan komprehensif. Dalam pandangannya, kesiapan pelaksanaan KKA harus beriringan dengan pembenahan mindset, profesionalisme, serta peningkatan integritas seluruh pengelola perguruan tinggi.

Dalam forum koordinasi tersebut, Al Asri menegaskan bahwa program KKA memegang peranan kunci dalam mengukur kualitas pengabdian institusi kepada masyarakat. Ia mengimbau seluruh panitia dan tenaga pengajar untuk mengawal jalannya kegiatan dengan komitmen penuh.

“KKA bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan etalase utama kualitas tata kelola dan dedikasi akademis kampus kita di tengah masyarakat,” ujar Al Asri di hadapan peserta rapat.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam bekerja demi merespons dinamika pendidikan tinggi modern. Menurutnya, keberhasilan organisasi sangat ditentukan oleh kesiapan internal dalam beradaptasi dan berinovasi.

“Setiap dosen dan tenaga kependidikan harus berani keluar dari zona nyaman; transformasi budaya kerja yang disiplin, inovatif, dan berintegritas adalah harga mati,” tegasnya.

Al Asri juga berpesan agar seluruh civitas akademika menyadari peran strategis mahasiswa yang diturunkan ke masyarakat. Setiap program kerja di lapangan diharapkan mampu mencerminkan nilai keunggulan institusi secara konsisten.

“Kita tidak hanya melepas mahasiswa ke lapangan, tetapi kita sedang mengutus duta-duta perubahan yang membawa nama baik dan nilai-nilai keunggulan IAI Rawa Aopa,” tambahnya.

Selain memberikan imbauan secara langsung, Al Asri menekankan pentingnya penyelarasan antara perencanaan akademik dan eksekusi administratif. Ia menjelaskan bahwa pelayanan publik serta administrasi kampus yang efektif dan responsif akan menjadi fondasi utama dalam mendukung tercapainya sasaran KKA yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Guna menunjang kelancaran seluruh proses tri dharma perguruan tinggi, pihak yayasan berkomitmen penuh untuk terus memperkuat ketersediaan fasilitas, sarana penunjang, serta pengembangan sistem tata kelola secara berkelanjutan. Dukungan infrastruktur ini diharapkan dapat mempermudah koordinasi lintas unit kerja di lingkungan IAI Rawa Aopa.

Di akhir arahannya, Al Asri menginstruksikan seluruh jajaran kepanitiaan untuk menjalankan sistem evaluasi secara berkala pada setiap tahapan kegiatan KKA. Langkah ini dinilai sangat krusial untuk memastikan bahwa seluruh program pengabdian yang dirancang tetap relevan, terukur, dan mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat di wilayah sasaran. Pertemuan di Kampus III Kendari ini kemudian dilanjutkan dengan pembahasan teknis operasional hingga penutupan agenda koordinasi.

Dokumentasi (ISW)

Pertemuan IAI Rawa Aopa Bersama UniSZA, Menyiapkan Simposium Bersama Sebagai Implementasi MoU dan MoA

Rawaaopakonsel.ac.id, Kendari – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus mempertahankan langkahnya di kancah internasional. Sebagai bentuk implementasi nyata dari rintisan kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA), IAI Rawa Aopa menggelar pertemuan strategis bersama pimpinan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Malaysia dengan salah satu agenda untuk mematangkan persiapan penyelenggaran International Student Symposium on Frontiers of Southeast Asia (ISOFSEAS) 2026 (Rabu, 29 Juli 2026) dilaksanakan daring.

Pertemuan lintas negara tersebut dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan dan dosen IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, termasuk tim penanggung jawab kampus operasional Kendari. Sementara itu, pihak UniSZA dihadiri oleh Timbalan Naib Canselor (Wakil Rektor), Dekan Fakulti Undang-Undang dan Hubungan Antarabangsa, serta perwakilan dari Kantor Urusan Internasional (KUI) UniSZA.

Jalinan kerja sama dalam penyelenggaraan forum ilmiah ini bukanlah hal baru. Kolaborasi pelaksanaan ISOFSEAS telah terjalin kokoh sejak tahun 2016, dan penyelenggaraan tahun ini menandai perjalanan sejarah tahun ke-11 bagi simposium internasional berskala kawasan tersebut.

Kemitraan strategis ini juga diperkuat melalui kerangka program student mobility pada tahun 2023 dan 2024. Dalam kurun waktu tersebut, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan telah aktif mengirimkan jajaran dosen dan pimpinan kampus untuk mengikuti agenda student mobility, dengan UniSZA di Malaysia sebagai salah satu tujuan utama kegiatan.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi tidak boleh berhenti sebatas dokumen formal di atas kertas.

“Kerja sama internasional yang kami bangun bukan dokumen administratif di atas kertas, juga menjadi kerangka kekeluargaan dan persahabatan yang diwujudkan melalui aksi akademik yang berdampak nyata,” ujar Ismail Suardi Wekke di sela-sela kegiatan.

Ismail menyampaikan bahwa penyelenggaraan ISOFSEAS 2026 yang telah memasuki dekade kedua ini dirancang sebagai wadah pertukaran gagasan dan hasil riset unggulan antara mahasiswa serta akademisi di kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, kolaborasi yang telah bertahan sejak 2016 serta diperkuat oleh pengalaman pertukaran dan kunjungan pimpinan pada 2023–2024 ini membuka peluang emas bagi para mahasiswa dan peneliti lokal untuk meningkatkan reputasi akademik serta memperluas jangkauan publikasi ilmiah di tingkat global.

“Simposium internasional ISOFSEAS 2026 ini adalah panggung bersama untuk menguji gagasan, memperluas jejaring publikasi, dan mengangkat isu-isu strategis kawasan ke tingkat global,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ismail mengungkapkan bahwa keterlibatan aktif dosen dari kampus Kendari dan Konawe Selatan menunjukkan kesiapan sumber daya manusia internal IAI Rawa Aopa dalam mengawal agenda riset internasional mahasiswa. Ia menilai sinergi dengan keahlian UniSZA di bidang hukum dan hubungan internasional akan memberikan dimensi analisis yang lebih kaya dan komprehensif bagi gelaran ke-11 ISOFSEAS (Kuala Terengganu, 29 Oktober 2026).

“Kehadiran jajaran lengkap dari UniSZA, mulai dari kepemimpinan rektorat hingga Fakultas Hukum dan Hubungan Antarabangsa, membuktikan komitmen kuat kedua pihak untuk tumbuh bersama,” tambah Ismail.

Ismail juga menggarisbawahi pentingnya peran Kantor Urusan Internasional dari kedua perguruan tinggi sebagai motor penggerak teknis. Hal ini dilakukan agar seluruh rangkaian persiapan menuju peluncuran ISOFSEAS 2026 dapat berjalan sistematis serta terencana dengan baik.

Pertemuan ini ditutup dengan penyusunan kerangka kerja teknis dan penentuan garis waktu pelaksanaan International Student Symposium on Frontiers of Southeast Asia (ISOFSEAS) 2026, termasuk pelaksanaan Celebes International Summit on Education and Culture (Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, 9-11 Oktober 2026), yang diharapkan dapat memperkuat tradisi akademik yang telah terbangun selama 11 tahun serta memicu lahirnya berbagai kolaborasi riset lanjutan antara IAI Rawa Aopa dan UniSZA.

KKA (ISW)

IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Bersiap Laksanakan KKA, Integrasi antara KKN dengan Pengabdian Masyarakat

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan tengah mematangkan persiapan pelaksanaan Kuliah Kerja Akademik (KKA). Program ini dirancang khusus untuk mengintegrasikan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan pengabdian masyarakat berbasis riset dan aksi nyata secara terpadu.

Sebagai bagian dari tahapan awal, survei pemetaan wilayah telah diselesaikan di beberapa titik strategis, meliputi Kabupaten Bombana, Kecamatan Palangga, serta Kecamatan Palangga Selatan di Kabupaten Konawe Selatan. Pemetaan ini bertujuan untuk memastikan program pengabdian yang dijalankan mahasiswa relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa KKA selain sebagai agenda rutin kampus, juga menjadi instrumen penting dalam menghadirkan dampak nyata institusi bagi daerah.

“KKA ini kita rancang bukan hanya untuk memenuhi bobot SKS, melainkan sebagai wadah integrasi penuh antara pembelajaran di ruang kuliah dan penyelesaian masalah riil di tengah masyarakat,” ujar Ismail saat ditemui di kampus IAI Rawa Aopa, Selasa (28/7/2026).

Ismail menjelaskan bahwa peninjauan langsung ke Kabupaten Bombana hingga wilayah Kecamatan Palangga bertujuan untuk mengidentifikasi potensi lokal yang dapat dikembangkan bersama mahasiswa selama masa pengabdian. Ia menambahkan bahwa pendekatan interdisipliner akan menjadi pilar utama agar program kerja yang disusun dapat menyentuh aspek sosial, ekonomi, hingga pendidikan lokal secara berkelanjutan.

Guna menunjang efektivitas publikasi dan dokumentasi kegiatan di lapangan, IAI Rawa Aopa juga menggelar Pelatihan Jurnalistik pada Selasa (28/7/2026). Melalui pelatihan ini, seluruh mahasiswa peserta KKA dibekali keterampilan dasar peliputan dan penulisan berita agar mampu mengabarkan setiap dinamika kegiatan secara objektif dan informatif.

“Kami ingin setiap mahasiswa menjadi pewarta bagi desanya masing-masing. Lewat tulisan berita, dampak dan potensi desa tempat mereka bertugas dapat terpublikasi dengan baik ke masyarakat luas,” kata Ismail menegaskan pentingnya literasi media bagi peserta KKA.

Di sisi lain, kesiapan teknis dan logistik di lapangan juga terus disiapkan bersama oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAI Rawa Aopa. Ismail menyampaikan bawah saat ini, Kepala LPPM tengah merampungkan penyiapan 9 posko utama yang tersebar di wilayah Kabupaten Konawe sebagai pusat koordinasi dan kediaman mahasiswa selama mengabdi.

Ismail menyampaikan optimismemya bahwa seluruh rangkaian program yang telah dipersiapkan dari tingkat rektorat hingga LPPM akan berjalan lancar.

“Sinergi antara kesiapan infrastruktur di posko dan kecakapan mahasiswa di lapangan menjadi kunci utama keberhasilan KKA tahun ini,” tutupnya.

Melalui integrasi KKN dan pengabdian masyarakat ini, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta keterampilan komunikasi publik yang kuat.

Jurnalistik (ISW)

Jelang KKN, Mahasiswa Diberikan Kesempatan Mengikuti Pelatihan Jurnalistik

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Menjelang pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan membekali para mahasiswanya dengan keterampilan menulis berita melalui Pelatihan Jurnalistik yang digelar secara daring (Selasa, 28 Juli 2026). Kegiatan pelatihan ini sekaligus menjadi “bekal” mahasiswa peserta KKN.

Kegiatan ini juga ini dirancang untuk memastikan setiap program pengabdian masyarakat dapat terpublikasi secara luas dan efektif di media massa. Pelatihan yang dipandu oleh akademisi IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, tersebut tidak hanya diikuti oleh mahasiswa KKN internal.

Peserta KKN lintas kampus, seperti mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang bertugas di wilayah Kabupaten Sidrap, Barru, Bone, dan Bulukumba, serta sejumlah jurnalis dan pengelola media lokal turut bergabung dalam forum interaktif tersebut. Hadir sebagai narasumber utama, Pemimpin Redaksi Katasulsel.com, Edy Basri, S.H., membedah secara langsung rahasia penulisan berita yang layak siar.

Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan berbagai kekeliruan teknis yang paling sering dilakukan penulis pemula, hingga membuat naskah kiriman mereka berakhir di folder sampah redaksi. Edy menegaskan bahwa kunci utama dari berita yang langsung lolos seleksi redaksi terletak pada kejelasan struktur dan kepiawaian menyajikan fakta.

Menurutnya, banyak kegiatan pengabdian mahasiswa yang sebenarnya bernilai tinggi dan berdampak besar, tetapi gagal dipublikasikan akibat gaya penulisan yang berbelit-belit dan tidak menarik minat pembaca. Untuk mengatasi hal tersebut, para peserta dibekali dengan formula dasar penulisan jurnalistik, mulai dari penerapan prinsip 5W+1H hingga penyusunan naskah menggunakan pola piramida terbalik.

Edy menggarisbawahi pentingnya pembuatan paragraf pembuka (lead) yang lugas serta penulisan judul yang kuat sebagai pintu utama untuk menarik perhatian publik di era digital. Selain aspek tekstual, perhatian peserta juga diarahkan pada pentingnya estetika foto jurnalistik. Dokumentasi kegiatan KKN diimbau untuk meninggalkan gaya foto seremonial yang kaku, dan mulai beralih pada foto dinamis yang memiliki nilai cerita (visual storytelling) guna memperkuat isi naskah.

Menanggapi maraknya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Wartawan Utama Dewan Pers ini mengingatkan agar perkembangan teknologi tidak mengikis etika dan integritas. Meski AI dapat membantu merapikan struktur bahasa, proses pencarian fakta, wawancara, dan verifikasi di lapangan tetap menjadi ranah mutlak yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN diharapkan tidak hanya berperan sebagai pelaksana program pengabdian di desa-desa penempatan, melainkan juga mampu bertindak sebagai agen informasi. Dengan kemampuan mendokumentasikan setiap aksi nyata ke dalam karya jurnalistik yang berkualitas, rekam jejak manfaat kegiatan pengabdian mereka dipastikan dapat terarsip dan menginspirasi masyarakat luas dalam jangka panjang.

STABN Sriwijaya (ISW)

IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dan STABN Sriwijaya, Inisiasi The Indonesian Centre for Muslim-Buddhist Understanding

Rawaaopakonsel.ac.id, Tangerang — Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan bersama Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya merintis langkah transformatif dalam penguatan moderasi beragama dan kajian lintas iman di Indonesia. Kedua lembaga perguruan tinggi keagamaan tersebut menginisiasi pembentukan The Indonesian Centre for Muslim-Buddhist Understanding sebagai wadah kolaborasi akademis dan penelitian keberagamaan.

Buddha (ISW)
STABN Sriwijaya (ISW)

Gagasan strategis ini mengemuka saat Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, melakukan kunjungan resmi ke kampus STABN Sriwijaya pada Kamis, 16 Juli 2026. Kunjungan tersebut menjadi pemicu awal dalam merumuskan agenda bersama yang mengintegrasikan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan pendekatan riset interdisipliner.

Dalam kesempatan tersebut, Ismail Suardi Wekke menyampaikan bahwa keberadaan pusat studi ini sangat krusial untuk membangun pemahaman yang lebih komprehensif antara komunitas Muslim dan Buddha di Indonesia melalui pendekatan ilmiah yang terstruktur.

“Inisiasi The Indonesian Centre for Muslim-Buddhist Understanding ini bukan sekadar wadah akademis biasa, melainkan jembatan dialog ilmiah yang menempatkan riset interdisipliner sebagai fondasi utama dalam merawat kerukunan bangsa,” ujar Ismail.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa kerja sama ini dirancang untuk mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang lebih inklusif dan berdampak nyata bagi pengembangan perguruan tinggi keagamaan (PTK) di Indonesia. Menurutnya, sinergi antar-PTK berbasis keragaman keagamaan akan memperkaya khazanah keilmuan sekaligus memperkuat tata kelola akademik yang adaptif terhadap dinamika zaman.

“Perguruan tinggi keagamaan memiliki tanggung jawab moral dan akademis untuk memberikan kontribusi nyata bagi peradaban. Melalui kolaborasi antara IAI Rawa Aopa dan STABN Sriwijaya, kita ingin menunjukkan bahwa perbedaan fokus keagamaan justru menjadi kekuatan untuk saling melengkapi,” tegas Ismail.

Ismail juga menegaskan komitmen kedua belah pihak untuk segera menindaklanjuti inisiasi ini ke dalam program-program konkret, seperti penelitian bersama (joint research), publikasi ilmiah terpadu, hingga pengabdian masyarakat berbasis kebhinekaan. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem akademik yang mampu menjawab tantangan keberagaman global melalui tradisi intelektual yang kuat.

“Kami optimistis bahwa sinergi ini akan menjadi model pembelajaran dan pengembangan riset interdisipliner bagi perguruan tinggi keagamaan lainnya di Indonesia,” pungkasnya.

Pertemuan FGD (ISW)
Pertemuan FGD (ISW)

Inisiasi pembentukan pusat studi ini diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama (MoA) formal, guna mempercepat implementasi program-program strategis yang telah direncanakan kedua institusi.

Teluk Ketapang (ISW)

Implementasi Kerjasama Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Bagian dari Student Mobility 2026

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo — Kunjungan kerja Pengerusi Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Malaysia, di Kampus Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan selama tiga hari dua malam, sejak Ahad (19/7/2026) hingga Selasa (21/7/2026), membuahkan hasil nyata. Agenda intensif yang melingkupi tatap muka dengan pemerintah daerah, akademisi, hingga mahasiswa tersebut resmi dimaktubkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Implementation Agreement (IA).

Rangkaian kegiatan diawali dengan agenda lapangan di Kecamatan Buke, kunjungan silaturahmi ke Kepala Desa Pelandia, serta pertemuan strategis bersama Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Konawe Selatan. Tak hanya peninjauan lapangan, penguatan kapasitas akademik juga digelar melalui dua sesi Focus Group Discussion (FGD)—masing-masing melibatkan jajaran pimpinan IAI Rawa Aopa dan forum dialog interaktif bersama mahasiswa.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud transformasi kampus dalam memperluas jangkauan pengabdian dan jejaring internasional.

“Kunjungan selama tiga hari dua malam ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan awal dari kerja konkret yang langsung menyentuh program pemberdayaan masyarakat dan pengembangan akademik berbasis global,” ujar Ismail Suardi Wekke usai mengantar tamu ke bandara Kendari.

Menurut Ismail, keterlibatan berbagai pihak mulai dari pimpinan desa hingga dinas pendidikan menunjukkan bahwa implementasi kerjasama ini dirancang untuk memberikan dampak sistemik bagi daerah. Ismail menegaskan bahwa kemitraan ini diikhtiarkan agar membawa nilai tambah langsung bagi mahasiswa dan masyarakat Konawe Selatan.

Sebagai bentuk konkret dari penandatanganan dokumen kerjasama, kedua belah pihak sepakat untuk segera mengeksekusi dua agenda besar di Kuala Terengganu, Malaysia, yakni Fun Trip edukatif dan Forum Antarabangsa Belia. “Keduanya merupakan bagian dari Student Mobility 2026,” papar Ismail Suardi Wekke. 

“Kami merancang program Fun Trip dan Forum Antarabangsa Belia dalam Kerangka Student Mobility 2026 di Kuala Terengganu sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menimba pengalaman antarbangsa, mengasah kepemimpinan, serta memahami tata kelola pariwisata berbasis komunitas secara langsung,” tutur Ismail.

Selain program di Terengganu, Koperasi Homestay Teluk Ketapang juga dipastikan menjadi mitra strategis dalam penyelenggaraan Celebes International Summit on Education and Culture yang dijadwalkan berlangsung di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

“Sinergi pada Celebes International Summit on Education and Culture di Bandara Sultan Hasanuddin akan memperkuat posisi kita bersama dalam mengintegrasikan isu pendidikan, budaya, dan ekonomi kreatif di tingkat regional,” tambah Ismail.

Ismail Suardi Wekke juga menjelaskan bahwa integrasi antara agenda akademis dan praktik di lapangan, seperti yang dilakukan selama kunjungan di Kecamatan Buke dan Desa Pelandia, menjadi modal penting dalam penyusunan program Implementation Agreement yang berkelanjutan.

“Ke depan insya Allah kita akan laksanakan bersama kegiatan olimpiade sains, baik untuk tingkat sekolah menengah pertama di kawasan Asia Tenggara, dan sekolah menengah atas untuk wilayah Asia Pasifik,” jelas Ismail Suardi Wekke yang juga merupakan Komite Saintifik SEAAM.

Penutupan rangkaian kunjungan berakhir dengan ditandai dalam penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama operasional yang diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi hubungan bilateral antara institusi pendidikan di Sulawesi Tenggara dan penggerak ekonomi komunitas dari Malaysia.