FB_IMG_1779980102446

Perlunya Panduan Etika Riset dan Implementasi, Ini Kata Akademisi Ismail Suardi Wekke

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Dugaan pemalsuan riset yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia dalam forum ilmiah internasional di Denmark menuai sorotan tajam dari akademisi Institut Agama Islam (IAI) Rawa Opa, Ismail Suardi Wekke. Ia menilai kasus tersebut bukan sekadar pelanggaran etik, melainkan alarm krisis integritas akademik di Indonesia.

Kasus itu mencuat setelah muncul dugaan manipulasi data penelitian, pemalsuan identitas peserta konferensi, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk merekayasa artikel ilmiah demi memperoleh bantuan perjalanan (travel grant). Praktik tersebut dinilai mencoreng citra akademik Indonesia di tingkat internasional.

Ismail Suardi Wekke menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai ilmu pengetahuan.

“Ketika riset dijadikan tiket jalan-jalan gratis ke luar negeri, maka ilmu pengetahuan telah kehilangan kehormatannya,” kata Ismail, Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, fenomena tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari budaya akademik instan yang lebih berorientasi pada sertifikat internasional, angka publikasi, dan gengsi seminar luar negeri dibanding kualitas riset serta kejujuran ilmiah.

“Kampus jangan berubah menjadi pabrik CV akademik. Hari ini orang berlomba mengoleksi seminar dan publikasi, tetapi lupa bahwa fondasi utama ilmu adalah kejujuran,” ujarnya.

Ia menilai obsesi administratif terhadap publikasi internasional tanpa penguatan etika akademik telah membuka ruang bagi praktik manipulasi ilmiah.

“Kondisi yang sedang kita hadapi bukan sekadar pelaku nakal, tetapi krisis moral akademik yang perlahan dianggap normal,” katanya.

Terkait dugaan penggunaan AI untuk membuat artikel dan data penelitian palsu, Ismail menegaskan bahwa teknologi bukan sumber utama persoalan. Menurut dia, masalah terletak pada penyalahgunaan teknologi tanpa tanggung jawab moral.

“Artificial Intelligence tidak berbahaya. Posisi yang berbahaya adalah manusia malas berpikir tetapi ingin terlihat ilmiah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti maraknya budaya akademik yang lebih menekankan pencitraan intelektual dibanding membangun tradisi riset yang otentik.

“Ada orang ingin terlihat sebagai ilmuwan internasional, padahal yang dibangun hanya panggung pencitraan akademik,” ungkapnya.

Selain itu, Pimpinan IAI Rawa Opa menilai pengawasan terhadap konferensi predator, publikasi abal-abal, serta distribusi travel grant masih lemah dan rentan disalahgunakan.

“Selama ukuran keberhasilan dosen hanya dihitung dari stempel seminar luar negeri dan jumlah publikasi instan, maka industri akademik palsu akan terus hidup dan berkembang,” terangnya.

Melalui institusi perguruan tinggi seperti IAI Rawa Opa mendesak pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi ilmiah, dan lembaga akreditasi untuk melakukan audit integritas akademik secara menyeluruh. Evaluasi juga dinilai perlu dilakukan terhadap mekanisme hibah perjalanan akademik serta penggunaan AI dalam penulisan ilmiah.

“Saatnya kita menginternalisasi nilai integritas akademik. Sekaligus keperluan untuk tidak menjadikan rangking sebagai tolok ukur utama dan tunggal,” urai Ismail Suardi Wekke yang menerima posisi Distinguished Professor di North Bangkok University (Thailand) sejak 2025.

Menurut Ismail, kasus tersebut harus menjadi momentum pembenahan serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, bukan sekadar klarifikasi administratif untuk meredam sorotan publik.

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka adalah keberanian untuk jujur dalam dunia ilmu pengetahuan,” katanya.

Ia mengingatkan, jika praktik semacam itu terus dibiarkan, masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap perguruan tinggi dan dunia akademik nasional.

“Ketika kebohongan diberi panggung akademik, maka generasi muda akan belajar bahwa kepalsuan lebih cepat dihargai daripada proses ilmiah yang jujur,” ujarnya.

Dalam.kapasitas sebagai Wakil Rektor IAI Rawa Opa menegaskan, pemulihan martabat akademik Indonesia hanya dapat dilakukan melalui keberanian membersihkan budaya manipulasi di lingkungan pendidikan tinggi.

“Perlunya mengutamakan riset sederhana dan jujur, menghindari penelitian terlihat canggih tetapi dibangun di atas kebohongan,” tegas Ismail.

IMG-20260528-WA0039

Rayakan Dies Natalis X, IAI Rawa Aopa Siapkan Agenda Akademik, Momentum Idul Adha Sekaligus Penyerahan Hewan Kurban

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan tengah bersiap menyambut momentum bersejarah. Tahun ini, kampus tersebut resmi menginjak usia kesepuluh dalam perayaan Dies Natalis X. Sebagai langkah awal dari seluruh rangkaian perayaan, pihak kampus akan memprioritaskan pelaksanaan Wisuda 2026.

Jadwal pasti pengukuhan para sarjana baru tersebut segera ditetapkan melalui mekanisme rapat kepanitiaan yang telah resmi dibentuk. Langkah taktis ini diambil agar seluruh tahapan acara dapat berjalan dengan matang dan sistematis.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa penentuan tanggal momentum ini memerlukan koordinasi yang solid. Beliau menyampaikan bahwa penetapan jadwal wisuda tersebut akan diputuskan secara bersama-sama dalam rapat panitia khusus yang sudah diberikan mandat.

Melalui forum formal tersebut, seluruh kebutuhan teknis dan administratif akan diselaraskan demi kelancaran hari bahagia para wisudawan. Selain agenda akademik, momentum satu dekade ini juga diwarnai dengan aksi sosial nyata di tengah masyarakat. Kampus melibatkan peran aktif alumni dan mahasiswa untuk menyelenggarakan program pengabdian yang menyentuh langsung kebutuhan warga.

Salah satu agenda yang telah terlaksana adalah penyerahan hewan kurban kepada masyarakat di Kelurahan Potoro. Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk rasa syukur institusi atas pencapaian dan eksistensinya selama sepuluh tahun terakhir di Sulawesi Tenggara.

Ismail Suardi Wekke menyampaikan apresiasi yang mendalam saat menyapa langsung para alumni dan mahasiswa yang sedang sibuk mempersiapkan aksi sosial tersebut.

“Kami bersyukur melihat antusiasme alumni dan mahasiswa yang bergotong-royong menyiapkan penyerahan hewan kurban ini sebagai wujud nyata pengabdian kampus,” ujar Ismail dengan penuh semangat usai mendapatkan informasi selesainya kegiatan tersebut.

Dirinya menilai sinergi ini membuktikan bahwa nilai-nilai kepedulian sosial telah tertanam kuat dalam civitas akademika. Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa perayaan satu dekade ini harus menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antara lembaga pendidikan dan masyarakat lokal.

“Dies Natalis ke-10 ini bukan sekadar perayaan seremonial bagi internal kampus, melainkan momentum penting untuk mempererat silaturahmi dengan warga sekitar,” kata Ismail.

Oleh karena itu, kehadiran kampus melalui program kurban di Kelurahan Potoro diharapkan mampu memberikan dampak positif yang langsung dirasakan oleh masyarakat luas.

Pihak manajemen kampus juga berkomitmen penuh untuk memastikan seluruh program, baik yang bersifat seremonial akademik maupun aksi sosial, berjalan seimbang dan saling mendukung.

“Seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari prosesi wisuda hingga aksi sosial di lapangan, ditujukan untuk menegaskan komitmen kontribusi IAI Rawa Aopa bagi kemajuan daerah,” tutur Ismail mengakhiri pernyataannya. Melalui persiapan yang matang, kampus optimis perayaan Dies Natalis X ini akan meletakkan fondasi yang lebih kokoh untuk dekade berikutnya.

IMG-20260528-WA0018

Pimpinan IAI Rawa Aopa Mulai Sosialisasikan Panduan Wisuda 2026 Sekaligus Awal Rangkaian Dies Natalis X

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan bergerak cepat mematangkan persiapan wisuda sarjana tahun 2026. Momentum pengukuhan kelulusan tersebut dijadwalkan berlangsung setelah perayaan Idul Adha 1447 Hijriah.

Sebagai langkah awal, pihak rektorat kini mulai menggencarkan sosialisasi panduan akademik dan teknis. Panduan ini perlu dibaca dan dilaksanakan oleh seluruh calon wisudawan dan wisudawati.

Selain agenda pengukuhan, manajemen kampus juga tengah merancang sebuah simposium strategis untuk menyemarakkan rangkaian perhelatan akbar tersebut dengan rangkaian awal sebagai pelaksanaan Dies Natalis X 2026.

Demi memastikan kelancaran acara berskala besar ini, delegasi kampus telah mengadakam kunjungan resmi ke Kopertais. Begitu pula, mereka akan mendatangi Kementerian Sekretariat Negara untuk mendapatkan arahan serta panduan keprotokolan.

Konsultasi ini dinilai sangat penting karena simposium yang dirancang melibatkan aspek tata kelola tingkat nasional. Manajemen lembaga ingin memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai standar baku pemerintahan.

Langkah proaktif ini diambil untuk menjaga reputasi institusi di tingkat nasional. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa sosialisasi panduan ini sangat krusial.

Menurutnya, pemahaman yang baik dari para lulusan akan membuat seluruh prosesi berjalan dengan khidmat dan tertib. Momentum kelulusan tahun ini memang sengaja dirangkaikan dengan forum ilmiah berskala besar.

Hal tersebut bertujuan agar atmosfer akademik kampus tetap kuat dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pihak otoritas kampus berharap kegiatan ini menjadi tolok ukur baru bagi kemajuan institusi.

Dalam penjelasannya, Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa persiapan yang matang sejak dini akan meminimalkan kendala teknis pada hari pelaksanaan nanti. Beliau juga menjelaskan bahwa konsultasi ke Kementerian Sekretariat Negara menjadi langkah strategis untuk menyelaraskan tata laksana kegiatan.

Manajemen lembaga berkomitmen penuh untuk memfasilitasi kebutuhan para alumni baru dalam menyongsong fase transisi ke dunia kerja. Sinergi antara bagian keuangan, perencanaan, dan kepegawaian terus dipacu demi menyukseskan agenda besar ini. Seluruh panitia kini bekerja ekstra untuk merampungkan modul panduan tersebut.

“Kami ingin memastikan bahwa seluruh rangkaian acara, mulai dari prosesi sakral wisuda hingga diskusi dalam simposium nanti, berjalan dengan tata kelola yang profesional,” ujar Ismail Suardi Wekke usai menyapa alumni dan mahasiswa melalui ruang digital (Kamis, 28 Mei 2026).

Beliau menekankan pentingnya disiplin dan koordinasi yang kuat di antara seluruh panitia pelaksana. “Wisuda bukan sekadar momentum perayaan, tetapi juga etalase kesiapan institusi dalam melahirkan SDM yang siap berkontribusi bagi daerah,” tegasnya menambahkan.

Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan mutu pelayanan administrasi kepada para alumni. “Persiapan yang dilakukan secara terukur ini akan menjadi standar baru bagi pelaksanaan kegiatan protokoler di lingkungan kampus kami pada masa mendatang,” pungkasnya menutup penjelasan.

IMG-20260528-WA0012

Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara IAI Rawa Aopa, Mendaftarkan Kepengurusan di Kesbangpol Konawe Selatan

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara (HMJ-HTN) secara resmi mendaftarkan kepengurusan organisasi ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Konawe Selatan, Kamis (21/05/2026).

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk upaya memperkenalkan keberadaan Institut Agama Islam Rawa Aopa maupun organisasi HMJ-HTN kepada publik, masyarakat luas dan pemerintah daerah, meskipun secara aturan organisasi mahasiswa tidak diwajibkan untuk melakukan pendaftaran tersebut.

Organisasi kemahasiswaan pada dasarnya berada dalam naungan struktur dan statuta perguruan tinggi, dan secara administratif cukup memiliki Surat Keputusan (SK) dari pihak kampus,yaitu Rektor/Dekan yang membidangi kemahasiswaan.

Ketua Umum HMJ-HTN, Hendarwan Sepriyadi, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan inisiatif strategis untuk membangun sinergi dengan pemerintah daerah.

“Selaku Ketua Umum, saya menegaskan bahwa organisasi mahasiswa tidak wajib mendaftarkan keberadaannya, termasuk HMJ-HTN. Namun demikian, akan lebih baik jika keberadaan pengurus HMJ-HTN diketahui oleh pemerintah daerah Konawe Selatan, sehingga eksistensi Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara di bawah naungan Institut Agama Islam Rawa Aopa dapat diakui secara luas,” ujar Hendarwan.

Ia juga menambahkan bahwa pendaftaran ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi antara HMJ-HTN dengan pemerintah daerah, khususnya dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan edukasi hukum, penguatan demokrasi, dan partisipasi publik di Konawe Selatan.

Dengan terdaftarnya kepengurusan HMJ-HTN di Kesbangpol, organisasi ini menegaskan komitmennya untuk berkontribusi aktif dalam mendukung pembangunan daerah melalui peran mahasiswa sebagai agen perubahan.

Lebih lanjut Ketua Umum menyampaikan, dengan terdaftarnya organisasi mahasiswa jurusan hukum tata negara di Kesbangpol merupakan sejarah baru sejak berdirinya kabupaten Konawe Selatan.

Ditempat yang sama Sekretaris Umum HMJ-HTN. Yusdar menyampaikan bahwa, organisasi kemahasiswaan secara resmi sudah diketahui oleh pemerintah daerah kabupaten Konawe Selatan Melalui Kesbangpol tentang keberadaan organisasi kemahasiswaan. Sehingga peran mahasiswa dalam mendukung Program-program maupun kebijakan pemerintah daerah wajib diberi dukungan dan siap berkolaborasi, ujarnya

Untuk itu sebagai Sekretaris Umum, menegaskan kepada seluruh pengurus HMJ-HTN agar taat dengan Aturan Dasar dan Aturan Rumah Tangga (Ad/Art) organisasi, tutupnya.