Profile (ISW)

Profile of Ismail Suardi Wekke, Ph.D., Vice Rector Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan, Indonesia

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Ismail Suardi Wekke, Ph.D., serves as a dynamic force in modern academia, driving institutional excellence as the Vice Rector for Planning, Finance, and Personnel at Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan. Through his innovative integration of digital knowledge management and global partnerships, he continuously reshapes higher education to foster both academic autonomy and impactful community development.

Ismail Suardi Wekke, Ph.D.

Vice Rector for Planning, Finance, and Personnel | Director of Postgraduate Program

Ismail Suardi Wekke, Ph.D., is an academic leader, researcher, and consultant specializing in higher education management, regional development, and social innovation. Serving as the Vice Rector for Planning, Finance, and Personnel, as well as the Director of the Postgraduate Program at IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, he has been instrumental in driving institutional modernization and establishing strategic global networks.

Through an approach that bridges digital transformation with community engagement, his work redefines how modern higher education institutions operate and serve society.

Strategic Roles & Institutional Impact

1. Modernizing Higher Education Governance

At IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke champions an operational model that balances centralized operations with decentralized academic autonomy. This structural approach maximizes resource efficiency while giving individual academic departments the freedom to innovate. His governance strategies emphasize:

  • Digital Knowledge Management: Implementing cloud-based ecosystems and website-centric workflows to streamline institutional accreditation and internal operations.
  • Global Visibility: Promoting Open Science initiatives and advocating for the use of digital research identifiers (such as ORCID) to amplify the global footprint of local research.

2. Global Networks and Academic Alliances

Believing that modern universities must operate without borders, he actively fosters international partnerships across Southeast Asia and beyond. His leadership extends through multiple global designations:

  • President of BOLT (Balsamo Outreach for Learning and Teaching).
  • Research Fellow at INTI International University, Malaysia.
  • Distinguished Professor at North Bangkok University, Thailand.

These networks directly translate into tangible institutional collaborations, driving joint international conferences, student forums, and high-impact cross-border research initiatives.

3. Community-Centric Social Innovation

A core pillar of his philosophy is that higher education must serve as an active innovator within society. He frequently pioneers initiatives that transform community spaces into real-world learning laboratories, such as village-based developments and market-centered student learning hubs. By integrating Design Thinking into educational administration, he works to solve complex regional challenges while cultivating inclusive financial literacy through collaborative research partnerships.

Working Philosophy

“Higher education institutions should not exist as isolated ivory towers. True academic excellence is achieved when centralized, modern digital governance enables decentralized scholarly freedom, ultimately driving tangible innovation directly into the communities we serve.”

IMG-20260522-WA0035

Forum Diskusi Nasional, IAI Rawa Aopa Matangkan Simposium Asta Cita 2026 di Jakarta

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus bergerak taktis dalam membuka ruang kolaborasi antara dunia akademik dan pengambil kebijakan. Sebagai langkah nyata, jajaran pimpinan perguruan tinggi tersebut menggelar kunjungan dinas ke Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) serta Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Kunjungan ini dilakukan khusus untuk mematangkan persiapan agenda besar bertajuk Simposium Asta Cita 2026. Forum akbar ini dirancang sebagai jembatan kolaborasi jangka panjang antara sektor pendidikan tinggi dan pemerintah dalam mengawal program-program strategis nasional. Melalui simposium ini, hasil riset dari kampus diharapkan bisa langsung diadopsi menjadi solusi kebijakan publik yang nyata.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kampus tidak boleh lagi menjadi “menara gading” yang asing dari realitas pembangunan masyarakat. Menurutnya, Simposium Asta Cita 2026 akan mempertemukan keahlian para ilmuwan dengan kebutuhan praktis pemerintah dalam mengeksekusi visi pembangunan nasional.

Ismail menyebut koordinasi langsung dengan Kemensetneg dan Kemenag merupakan modal penting agar output simposium ini memiliki dampak kenegaraan yang konkret. Langkah ini sekaligus membuktikan keseriusan IAI Rawa Aopa dalam membangun ekosistem akademik yang responsif terhadap tantangan zaman melalui rekomendasi berbasis data ilmiah.

“Simposium ini adalah manifesto tanggung jawab moral perguruan tinggi untuk mengawal agenda besar nasional secara ilmiah sekaligus aplikatif,” ujar Ismail Suardi Wekke di sela-sela kunjungannya di Jakarta.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan lintas kementerian menjadi kunci sukses jalannya forum ini. Pihaknya sangat mengapresiasi sambutan hangat dari Kemensetneg dan Ditjen Pendis Kemenag. Sinergi ini memastikan setiap pemikiran dari dunia kampus bisa mendarat tepat pada kebutuhan regulasi pemerintah.

Menutup keterangannya, Ismail optimis forum ini akan melahirkan peta jalan kolaborasi yang kokoh bagi kemajuan bangsa. Lewat pertemuan koordinasi di Jakarta ini, struktur kepanitiaan dan materi substansi simposium akan semakin matang, sehingga siap melahirkan naskah akademik serta rekomendasi strategis yang berdampak luas bagi masyarakat.

Asta Cita (ISW)

Pengumuman Simposium Asta Cita 2026, Penta Helix Partisipasi Pembangunan Menuju Indonesia Maju

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Dengan senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan YME, Allah SWT, kami umumkan pelaksanaan Simposium Asta Cita 2026 sebagai forum nasional yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Pertemuan ilmiah berskala besar ini dirancang khusus untuk merumuskan langkah taktis menuju visi Indonesia Maju. Seluruh rangkaian acara akan berfokus pada hilirisasi riset dan penyelarasan kebijakan pembangunan jangka panjang.

Tema utama yang diangkat tahun ini menekankan pentingnya implementasi kolaborasi lintas sektor yang inklusif. Gagasan tersebut dinilai sangat relevan untuk menjawab tantangan dinamika ekonomi global yang kian kompleks. Melalui integrasi pemikiran, simposium ini diharapkan mampu menghasilkan cetak biru transformasi yang adaptif.

Konsep Penta Helix dipilih sebagai roda penggerak utama dalam setiap sesi diskusi panel yang digelar. Sinergi ini menyatukan kekuatan kolektif dari unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media. Kelima pilar tersebut akan saling melengkapi untuk meruntuhkan ego sektoral dalam pembangunan nasional.

Partisipasi aktif dari seluruh elemen tersebut dinilai sangat krusial demi menciptakan inovasi yang berdampak nyata. Melalui ruang dialog yang setara, ide-ide segar dari masyarakat dapat langsung direspons oleh pembuat kebijakan. Pendekatan berbasis data ini diyakini mampu mempercepat pemerataan kesejahteraan di berbagai daerah.

Sejumlah artikel ilmiah populer dan hasil riset terapan mutakhir akan dipresentasikan secara komprehensif. Para pakar lintas disiplin ilmu dijadwalkan membedah peta jalan transformasi digital dan keberlanjutan lingkungan. Selain itu, strategi penguatan sektor pangan dan energi juga menjadi topik bahasan yang intensif.

Panitia pelaksana mengundang para peneliti, birokrat, praktisi industri, serta aktivis komunitas untuk berbagi gagasan solutif. Pendaftaran peserta dan pengumpulan abstrak karya tulis kini telah dibuka secara resmi melalui kanal daring. Proses seleksi akan dilakukan secara ketat oleh dewan penasihat ilmiah yang kompeten di bidangnya.

Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari simposium ini nantinya akan diserahkan langsung kepada pemerintah pusat. Luaran konkret tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah dalam menyusun regulasi yang berpihak pada publik. Dengan demikian, sains tidak hanya berhenti di laboratorium tetapi menjelma menjadi solusi konkret.

Agenda ini dijadwalkan berlangsung mulai dari pertengahan tahun di Juni 2026 secara hibrida untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Forum ini menjadi momentum emas untuk membuktikan bahwa sinergi horizontal mampu mengakselerasi kemajuan bangsa. Kehadiran seluruh elemen bangsa sangat diharapkan demi menyongsong era baru Indonesia yang mandiri.

Asta Cita (ISW)

Akselerasikan Pembangunan Nasional, IAI Rawa Aopa Matangkan Simposium Asta Cita 2026

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus bergerak cepat dalam menginisiasi ruang strategis yang mempertemukan pemikiran akademis dengan kebijakan eksekutif. Sebagai langkah nyata, pimpinan perguruan tinggi tersebut mengadakan kunjungan dinas ke Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) serta Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama di Jakarta, Selasa (19/5/2026). 

Kunjungan ini berfokus pada koordinasi dan pematangan persiapan agenda akbar bertajuk Simposium Asta Cita 2026. Simposium ini dirancang khusus untuk menjadi wadah kolaborasi berkelanjutan antara sektor perguruan tinggi dan jajaran pemerintahan dalam mengawal program-program strategis nasional. Melalui forum ini, kontribusi pemikiran berbasis riset dari kampus diharapkan dapat langsung mengakar pada implementasi kebijakan publik.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh lagi menara gading yang berjarak dari realitas pembangunan. Menurutnya, Simposium Asta Cita 2026 didesain untuk menjembatani kepakaran para akademisi dengan kebutuhan taktis pemerintah dalam mengeksekusi visi pembangunan jangka panjang. 

Ismail juga menyampaikan bahwa sinkronisasi yang dilakukan bersama Kemensetneg dan Kementerian Agama menjadi modal penting untuk memastikan output dari simposium ini memiliki dampak kedinasan dan kenegaraan yang konkret. Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa IAI Rawa Aopa berkomitmen penuh untuk memfasilitasi dialog yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. 

Langkah koordinasi ke pusat pemerintahan ini, tambahnya, merupakan bukti keseriusan institusi dalam membangun ekosistem akademik yang responsif terhadap tantangan zaman serta mampu menyuplai rekomendasi kebijakan yang berbasis data ilmiah.

“Simposium ini merupakan manifesto dari tanggung jawab moral perguruan tinggi untuk mengawal agenda besar nasional secara saintifik dan aplikatif,” ujar Ismail Suardi Wekke saat memberikan keterangan di sela-sela kunjungannya di Jakarta.

Ismail juga menambahkan bahwa keterlibatan lintas kementerian menjadi kunci utama keberhasilan forum ini. “Kami mengapresiasi sambutan hangat dari pihak Kemensetneg dan Ditjen Pendis Kemenag, karena sinergi ini akan memastikan setiap pemikiran dari kampus mendarat tepat pada kebutuhan regulasi pemerintah,” tegasnya.

Di akhir keterangannya, Ismail optimis forum ini akan melahirkan peta jalan kolaborasi yang kokoh. “Kami ingin memastikan bahwa Simposium Asta Cita 2026 menjadi titik balik penguatan kemitraan strategis yang nyata, di mana riset akademis bertransformasi menjadi solusi konkret bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

Pertemuan koordinasi ini diharapkan dapat memperkuat struktur kepanitiaan bersama dan mematangkan substansi materi yang akan dibahas, sehingga pelaksanaan Simposium Asta Cita 2026 mendatang mampu menghasilkan naskah akademik dan rekomendasi strategis yang aplikatif demi kemajuan bangsa.