Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus melakukan akselerasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui aksi nyata di tengah masyarakat. Kali ini, institusi akademik tersebut meluncurkan program inovatif bertajuk “Masjid Ramah Musafir” yang mengintegrasikan riset aplikatif dan pengabdian masyarakat melalui kolaborasi erat dengan pengurus rumah ibadah.
Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa gagasan ini lahir dari kesadaran mendalam mengenai posisi geografis Konawe Selatan yang strategis sebagai wilayah perlintasan antar-daerah. Menurutnya, perguruan tinggi Islam memikul tanggung jawab moral untuk mendesain ruang-ruang ibadah yang tidak hanya nyaman untuk ritual formal, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan logistik serta ketenteraman para musafir.
Oleh karena itu, program ini dirancang sebagai wadah pengabdian masyarakat yang berbasis pada data dan karakteristik wilayah. Sinergi ini sekaligus menjadi pembuktian nyata bahwa institusi akademik dan lembaga keagamaan mampu berjalan beriringan demi melahirkan kemaslahatan yang luas bagi masyarakat.
“Program Masjid Ramah Musafir ini selain pemenuhan fasilitas fisik, juga sebuah gerakan kultural sekaligus bentuk nyata pengabdian masyarakat untuk mengembalikan esensi masjid sebagai perlindungan aman bagi mereka yang sedang dalam perjalanan,” tutur Ismail dalam keterangannya terkait penguatan Tri Dharma kampus, Jumat (12/6/2026).
Lebih lanjut, Ismail memaparkan bahwa sinergi antara akademisi dan pengurus rumah ibadah nantinya akan diwujudkan dalam beberapa langkah strategis, mulai dari pendampingan manajemen, pelatihan tata kelola pelayanan berbasis syariah, hingga standardisasi fasilitas pendukung. Seluruh intervensi pengabdian ini didasarkan pada hasil kajian mendalam agar program kolaboratif tersebut mampu tumbuh menjadi cetak biru (blueprint) bagi tata kelola masjid yang inklusif, yang diawali dari rumah ibadah terdekat dengan kampus.
Pihak kampus berkomitmen penuh untuk menjadikan kolaborasi ini sebagai laboratorium sosial bagi dosen dan mahasiswa. Ismail menegaskan bahwa melalui integrasi penelitian dan pengabdian, ia ingin memastikan setiap musafir yang singgah di Konawe Selatan mendapatkan pelayanan terbaik, mulai dari tempat istirahat yang layak hingga pemenuhan kebutuhan dasar mereka.
“Akselerasi melalui jalur penelitian dan pengabdian ini menjadi momentum krusial bagi sivitas akademika untuk tidak sekadar berteori di dalam kelas. Saya berharap seluruh dosen dan mahasiswa dapat menjadi pelopor dalam menghidupkan ekosistem masjid yang ramah, terbuka, dan humanis, sekaligus menjadikannya objek kajian ilmiah yang kaya akan nilai-nilai transformasi sosial,” pungkas Ismail penuh optimisme.
Pada akhir penjelasannya, Ismail menyampaikan harapan besar agar akselerasi Tri Dharma ini dapat memperkuat nilai-nilai moderasi beragama dan solidaritas sosial. Baginya, luaran dari penelitian dan pengabdian harus memberikan dampak sosial yang konkret serta berkelanjutan.
