Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Menjelang pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan membekali para mahasiswanya dengan keterampilan menulis berita melalui Pelatihan Jurnalistik yang digelar secara daring (Selasa, 28 Juli 2026). Kegiatan pelatihan ini sekaligus menjadi “bekal” mahasiswa peserta KKN.
Kegiatan ini juga ini dirancang untuk memastikan setiap program pengabdian masyarakat dapat terpublikasi secara luas dan efektif di media massa. Pelatihan yang dipandu oleh akademisi IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, tersebut tidak hanya diikuti oleh mahasiswa KKN internal.
Peserta KKN lintas kampus, seperti mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang bertugas di wilayah Kabupaten Sidrap, Barru, Bone, dan Bulukumba, serta sejumlah jurnalis dan pengelola media lokal turut bergabung dalam forum interaktif tersebut. Hadir sebagai narasumber utama, Pemimpin Redaksi Katasulsel.com, Edy Basri, S.H., membedah secara langsung rahasia penulisan berita yang layak siar.
Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan berbagai kekeliruan teknis yang paling sering dilakukan penulis pemula, hingga membuat naskah kiriman mereka berakhir di folder sampah redaksi. Edy menegaskan bahwa kunci utama dari berita yang langsung lolos seleksi redaksi terletak pada kejelasan struktur dan kepiawaian menyajikan fakta.
Menurutnya, banyak kegiatan pengabdian mahasiswa yang sebenarnya bernilai tinggi dan berdampak besar, tetapi gagal dipublikasikan akibat gaya penulisan yang berbelit-belit dan tidak menarik minat pembaca. Untuk mengatasi hal tersebut, para peserta dibekali dengan formula dasar penulisan jurnalistik, mulai dari penerapan prinsip 5W+1H hingga penyusunan naskah menggunakan pola piramida terbalik.
Edy menggarisbawahi pentingnya pembuatan paragraf pembuka (lead) yang lugas serta penulisan judul yang kuat sebagai pintu utama untuk menarik perhatian publik di era digital. Selain aspek tekstual, perhatian peserta juga diarahkan pada pentingnya estetika foto jurnalistik. Dokumentasi kegiatan KKN diimbau untuk meninggalkan gaya foto seremonial yang kaku, dan mulai beralih pada foto dinamis yang memiliki nilai cerita (visual storytelling) guna memperkuat isi naskah.
Menanggapi maraknya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Wartawan Utama Dewan Pers ini mengingatkan agar perkembangan teknologi tidak mengikis etika dan integritas. Meski AI dapat membantu merapikan struktur bahasa, proses pencarian fakta, wawancara, dan verifikasi di lapangan tetap menjadi ranah mutlak yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN diharapkan tidak hanya berperan sebagai pelaksana program pengabdian di desa-desa penempatan, melainkan juga mampu bertindak sebagai agen informasi. Dengan kemampuan mendokumentasikan setiap aksi nyata ke dalam karya jurnalistik yang berkualitas, rekam jejak manfaat kegiatan pengabdian mereka dipastikan dapat terarsip dan menginspirasi masyarakat luas dalam jangka panjang.
