Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menunjukkan komitmen nyatanya dalam mendukung pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi keagamaan. Hal ini dibuktikan dengan partisipasi aktif pimpinan kampus dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Kegiatan tingkat nasional yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Jumat (26/6/2026) tersebut dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Kehadiran Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan bersama jajaran pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia dalam forum ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan arah pendidikan tinggi keagamaan Islam dengan prioritas pembangunan nasional yang tengah dijalankan pemerintah.
Keterlibatan perguruan tinggi Islam dinilai sangat krusial dalam merumuskan arah pembangunan bangsa, terutama dalam aspek penguatan SDM yang unggul, berkarakter, dan inovatif.
“Kami hadir dengan komitmen tinggi untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi keagamaan dengan agenda prioritas pemerintah. Melalui forum ini, kita memperoleh arahan langsung dari Presiden RI mengenai peran strategis ilmuwan dan akademisi dalam mendukung ketahanan pangan, energi, hingga hilirisasi industri,” ujar Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke.
Menurut beliau, berbagai isu strategis yang dibahas mulai dari sektor pertanian, ekonomi dan keuangan syariah, hingga ketahanan pangan akan menjadi referensi penting bagi IAI Rawa Aopa dalam memperkuat riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat yang relevan dengan kebutuhan riil di daerah Konawe Selatan dan Indonesia pada umumnya.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, dalam laporan pembukaannya menyampaikan bahwa Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 kali ini berhasil menghimpun lebih dari 2.600 peserta dari berbagai unsur akademisi dan praktisi. Di antaranya tercatat kehadiran 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi vokasi, serta 1.596 dosen dan peneliti dari seluruh penjuru Indonesia.
Mengusung tema besar “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia”, konvensi yang diisiasi langsung oleh Presiden Prabowo sejak tahun lalu ini dirancang untuk menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama kebijakan negara. Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta intensif membedah sektor-sektor krusial seperti pertanian, energi, ekonomi, ketahanan pangan, kelautan, perikanan, hingga hilirisasi industri. Seluruh gagasan dari para rektor dan ilmuwan ini nantinya akan dirumuskan secara konkret menjadi rekomendasi kebijakan pemerintah berbasis sains.
Dalam pengarahannya yang disambut antusias oleh para peserta, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kebangkitan sebuah negara sangat bergantung pada optimalisasi potensi riset dan pemikiran yang ada di lingkungan kampus.
“Kalau negara mau bangkit, negara mau maju, memang harus dimanfaatkan dan digerakkan potensi serta kemampuan dari kampus-kampus,” tegas Presiden Prabowo di hadapan para pimpinan perguruan tinggi.
Acara berskala nasional ini juga dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, jajaran Menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI, Kapolri, serta jajaran mitra industri se-Indonesia.
