IMG-20260603-WA0003

Internasionalisasi Kampus, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Sambut Baik Kemitraan RI-Prancis

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Kunjungan resmi (28/05/2026) Presiden ke Prancis pekan ini menandai babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara, khususnya dalam penguatan sektor pendidikan tinggi. Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Paris tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis yang berfokus pada peningkatan mutu akademik, kolaborasi riset, dan pertukaran talenta.

Langkah ini dipandang sebagai upaya progresif Indonesia dalam mempercepat internasionalisasi institusi pendidikan tinggi agar mampu bersaing di panggung global.
Pemerintah Indonesia dan Prancis berkomitmen untuk memperluas akses beasiswa, memfasilitasi riset bersama pada sektor sains murni dan terapan, serta mendorong implementasi teknologi dalam manajemen kampus.

Implementasi dari kesepakatan ini diharapkan dapat segera dirasakan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di wilayah luar Pulau Jawa. Sinergi ini juga membuka peluang besar bagi dosen dan mahasiswa tanah air untuk menyerap praktik terbaik dari sistem pendidikan modern di Eropa.

Agenda strategis ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan akademisi di dalam negeri, tak terkecuali dari kawasan timur Indonesia. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa momentum kerja sama internasional ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh komponen pendidikan tinggi.

Menurutnya, perluasan jaringan global merupakan kunci utama dalam meningkatkan standardisasi mutu kelembagaan nasional.
“Kerja sama antara Indonesia dan Prancis ini merupakan peluang monumental bagi perguruan tinggi, terutama di daerah, untuk melakukan lompatan kuantum dalam aspek tata kelola dan mutu akademik,” ujar Ismail Suardi Wekke saat memberikan respon dan perencanaan pasca kunjungan Presiden RI ke Prancis, Rabu (3/6/2026).

Lebih lanjut, Ismail Suardi Wekke menggarisbawahi pentingnya adaptasi teknologi dalam mendukung keberhasilan implementasi kemitraan internasional ini. Beliau menekankan bahwa penguatan tata kelola institusi berbasis digital mutlak diperlukan agar kolaborasi riset lintas negara dapat berjalan secara efisien. Kesiapan infrastruktur digital dalam negeri akan menjadi fondasi utama yang menentukan seberapa jauh program kemitraan ini dapat diakselerasi secara produktif.

“Kami di tingkat tata kelola universitas melihat bahwa ekosistem pengetahuan berbasis digital dan pengelolaan manajemen yang transparan adalah fondasi utama agar kolaborasi internasional seperti ini dapat diimplementasikan secara konkret,” tegas Ismail Suardi Wekke secara langsung.

Selain kesiapan teknologi, aspek pengembangan sumber daya manusia juga menjadi sorotan utama dalam menangkap peluang kerja sama bilateral ini. Ismail Suardi Wekke mengingatkan bahwa dosen dan peneliti lokal harus didorong untuk aktif mengambil peran dalam konsorsium riset internasional. Pelibatan aktif ini dinilai akan mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi yang menjadi inti dari kesepakatan kedua negara.

“Transformasi pendidikan tinggi tidak akan terwujud tanpa adanya peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan yang adaptif terhadap standar global,” jelas Ismail Suardi Wekke.

Di sisi lain, Ismail Suardi Wekke juga menyampaikan pandangan mendalamnya melalui terkait arah kebijakan pasca-kesepakatan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa integrasi sistem manajemen pengetahuan di tingkat kampus akan mempermudah penyelarasan kurikulum nasional dengan standar internasional yang diterapkan di Prancis.

Menurutnya, simplifikasi birokrasi akademik dan penguatan kapasitas riset harus berjalan beriringan demi menyukseskan program pertukaran gagasan ini. Dalam kesempatan yang sama, Ismail Suardi Wekke menyatakan pula bahwa institusi pendidikan di daerah seperti IAI Rawa Aopa Konawe Selatan berkomitmen penuh untuk mengadopsi model fasilitasi pembelajaran modern yang diadopsi dari kemitraan global tersebut.

Beliau meyakini bahwa keterbatasan geografis bukan lagi penghalang utama berkat adanya dukungan ekosistem digital yang kuat. Pola kemitraan ini diharapkan mampu memangkas kesenjangan kualitas pendidikan antara pusat dan daerah secara signifikan.

Terakhir, Ismail Suardi Wekke menambahkan bahwa tindak lanjut dari kunjungan kepresidenan ini memerlukan sinergi penta-helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan sektor industri. Beliau mengindikasikan bahwa luaran dari kerja sama riset Indonesia-Prancis ini harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan berkontribusi langsung pada pembangunan daerah. Kemitraan strategis ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen di atas kertas, melainkan menjelma menjadi aksi nyata yang berkelanjutan.

IMG-20260531-WA0027

Selain Pembelajaran Bahasa Prancis, Akademisi Respon dengan Indonesia-France Forum on Higher Education

Rawaaopakonsel.ac.id, Paris – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mendorong penguatan kemitraan strategis antara Indonesia dan Prancis di tengah eskalasi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global. Penegasan tersebut disampaikan dalam pernyataan pers bersama Presiden Prancis, Emmanuel Macron, usai pertemuan bilateral di Istana Élysée, Paris, Kamis (28/5/2026) waktu setempat.

Dalam pertemuan kenegaraan tersebut, kedua pemimpin negara membahas perluasan kerja sama komprehensif, mulai dari stabilitas ekonomi, resolusi konflik geopolitik, hingga penguatan sektor pendidikan.

Presiden Prabowo menggarisbawahi bahwa di tengah situasi dunia yang dipenuhi konflik, kolaborasi antara Jakarta dan Paris dapat memberikan dampak positif bagi perdamaian dunia.

“Melihat perkembangan dunia ke depan, kita yakin di keadaan global yang penuh ketidakpastian, penuh ketegangan, penuh konflik, kedua negara kita bisa memainkan suatu peranan yang positif,” ujar Presiden Prabowo. Ia juga menambahkan bahwa kemajuan sains dan teknologi seharusnya mempererat hubungan antarnegara, karena perang tidak akan membawa kebaikan bagi pihak mana pun.

Selain isu bilateral, kedua kepala negara secara khusus menyoroti stabilitas di Timur Tengah yang berdampak langsung pada rantai pasok global dan ketahanan energi. Presiden Prabowo menyampaikan apresiasinya terhadap sikap Prancis yang konsisten mendukung solusi dua negara (*two-state solution*) demi keadilan dan kemerdekaan Palestina.

Di sektor ekonomi, kunjungan ini memperkuat komitmen implementasi kemitraan strategis komprehensif atau *Comprehensive Strategic Partnership* (CEPA). Presiden Prabowo menyambut baik dukungan Presiden Macron dalam memfasilitasi peningkatan investasi Prancis di Indonesia, yang salah satunya diwujudkan melalui pembentukan *France Indonesia High Level Business Council*.

“Kita akan sangat gembira dengan partisipasi dan kehadiran perusahaan-perusahaan Prancis terus di ekonomi Indonesia. Prancis sebagai pemimpin Eropa akan terus memainkan peranan yang sangat penting di kawasan Asia Tenggara,” imbuh Kepala Negara.

Sinergi bilateral ini tidak hanya menyasar sektor ekonomi dan politik, tetapi juga menyentuh penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui sektor pendidikan tinggi. Saat ini, praktisi dan Akademisi kedua negara tengah mematangkan persiapan penyelenggaraan Indonesia-France Forum on Higher Education  yang dirancang untuk memperluas jejaring akademik, riset bersama, dan mobilitas mahasiswa antar kedua negara.

Pengamat dan akademisi kerja sama internasional, Ismail Suardi Wekke, menilai forum ini menjadi momentum krusial bagi digitalisasi dan internasionalisasi kampus-kampus di Indonesia.

“Persiapan *Indonesia-France Forum on Higher Education* ini merupakan langkah taktis untuk menjembatani standarisasi akademik nasional dengan inovasi global. Prancis memiliki keunggulan riset di bidang sains dan teknologi, sementara Indonesia menawarkan ruang kolaborasi riset yang kaya. Forum ini bukan sekadar seremonial, melainkan peta jalan (roadmap) baru untuk mencetak talenta global yang adaptif,” kata Ismail Suardi Wekke saat dihubungi terpisah.

Menutup rangkaian kunjungan di Istana Élysée, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memandang Prancis dan Eropa sebagai mitra strategis penting untuk menciptakan tatanan dunia multipolar yang seimbang, adil, dan stabil.

IMG-20260529-WA0019

Pasca-Kurban, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Bersiap Gelar Seminar Hukum Internasional di Vietnam

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Momentum Hari Raya Idul Adha tidak menyurutkan langkah Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan dalam memacu pengembangan institusi. Usai menuntaskan agenda sosial keagamaan melalui penyerahan dan penyaluran satu ekor hewan kurban berupa kambing kepada masyarakat, perguruan tinggi ini langsung mengalihkan fokus pada penguatan jejaring akademik internasional, Jumat (29/5/2026).

IAI Rawa Aopa kini tengah mematangkan persiapan matang untuk merealisasikan kolaborasi strategis dengan sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Vietnam.
Kerja sama lintas negara tersebut akan diawali dengan pelaksanaan sebuah agenda besar, yakni seminar hukum internasional yang menyoroti berbagai dinamika regulasi di kawasan Asia Tenggara.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen kampus dalam meningkatkan mutu akademik serta memperluas kontribusi ilmiah di tingkat regional. Pihak kampus menilai bahwa kolaborasi dengan institusi pendidikan di Vietnam akan membuka ruang diplomasi kebudayaan dan intelektual yang lebih luas bagi kedua belah pihak.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa kepedulian sosial yang tecermin dalam ibadah kurban harus berjalan beriringan dengan peningkatan mutu akademik universitas.

“Kami tidak ingin berhenti pada kegiatan sosial keagamaan saja, melainkan langsung bergerak cepat menyongsong program internasionalisasi kampus,” ujar Ismail usai memantau rampungnya kegiatan Bakti Sosial dalam rangka idul adha.

Beliau juga menambahkan bahwa kerja sama dengan pihak Vietnam ini akan berfokus pada kajian hukum kontemporer demi merespons dinamika yang berkembang cepat di kawasan Asia Tenggara. Ismail menegaskan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan rekomendasi kebijakan yang berdampak nyata bagi penguatan regulasi di tingkat regional.

Menurut Ismail, kemitraan lintas negara ini menjadi langkah nyata dalam mentransformasi institusi menuju panggung global yang lebih inklusif. Ia menjelaskan bahwa pemilihan Vietnam sebagai mitra strategis didasarkan pada kesamaan komitmen dalam mengembangkan riset hukum yang adaptif terhadap tantangan zaman.

Ke depan, proyeksi kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada seminar ilmiah, melainkan akan dikembangkan ke arah pertukaran dosen dan publikasi riset bersama. Melalui forum ilmiah ini, manajemen kampus berkomitmen untuk memfasilitasi para peneliti lokal agar mampu berbicara banyak di forum internasional.

“Melalui forum ilmiah ini, kami ingin memastikan bahwa dosen dan mahasiswa kita memiliki cakrawala berpikir yang luas serta berdaya sanding secara internasional,” pungkas Ismail.

Di akhir keterangannya, Ismail menyampaikan harapan besar agar seluruh sivitas akademika IAI Rawa Aopa dapat mengambil peran aktif dalam seminar internasional tersebut guna memperkaya khazanah keilmuan mereka. Dengan persiapan yang mulai berjalan intensif, seminar hukum Asia Tenggara ini diharapkan menjadi batu loncatan penting bagi IAI Rawa Aopa dalam membangun reputasi akademik yang disegani di kawasan Asia Tenggara

FB_IMG_1779980102446

Perlunya Panduan Etika Riset dan Implementasi, Ini Kata Akademisi Ismail Suardi Wekke

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Dugaan pemalsuan riset yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia dalam forum ilmiah internasional di Denmark menuai sorotan tajam dari akademisi Institut Agama Islam (IAI) Rawa Opa, Ismail Suardi Wekke. Ia menilai kasus tersebut bukan sekadar pelanggaran etik, melainkan alarm krisis integritas akademik di Indonesia.

Kasus itu mencuat setelah muncul dugaan manipulasi data penelitian, pemalsuan identitas peserta konferensi, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk merekayasa artikel ilmiah demi memperoleh bantuan perjalanan (travel grant). Praktik tersebut dinilai mencoreng citra akademik Indonesia di tingkat internasional.

Ismail Suardi Wekke menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai ilmu pengetahuan.

“Ketika riset dijadikan tiket jalan-jalan gratis ke luar negeri, maka ilmu pengetahuan telah kehilangan kehormatannya,” kata Ismail, Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, fenomena tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari budaya akademik instan yang lebih berorientasi pada sertifikat internasional, angka publikasi, dan gengsi seminar luar negeri dibanding kualitas riset serta kejujuran ilmiah.

“Kampus jangan berubah menjadi pabrik CV akademik. Hari ini orang berlomba mengoleksi seminar dan publikasi, tetapi lupa bahwa fondasi utama ilmu adalah kejujuran,” ujarnya.

Ia menilai obsesi administratif terhadap publikasi internasional tanpa penguatan etika akademik telah membuka ruang bagi praktik manipulasi ilmiah.

“Kondisi yang sedang kita hadapi bukan sekadar pelaku nakal, tetapi krisis moral akademik yang perlahan dianggap normal,” katanya.

Terkait dugaan penggunaan AI untuk membuat artikel dan data penelitian palsu, Ismail menegaskan bahwa teknologi bukan sumber utama persoalan. Menurut dia, masalah terletak pada penyalahgunaan teknologi tanpa tanggung jawab moral.

“Artificial Intelligence tidak berbahaya. Posisi yang berbahaya adalah manusia malas berpikir tetapi ingin terlihat ilmiah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti maraknya budaya akademik yang lebih menekankan pencitraan intelektual dibanding membangun tradisi riset yang otentik.

“Ada orang ingin terlihat sebagai ilmuwan internasional, padahal yang dibangun hanya panggung pencitraan akademik,” ungkapnya.

Selain itu, Pimpinan IAI Rawa Opa menilai pengawasan terhadap konferensi predator, publikasi abal-abal, serta distribusi travel grant masih lemah dan rentan disalahgunakan.

“Selama ukuran keberhasilan dosen hanya dihitung dari stempel seminar luar negeri dan jumlah publikasi instan, maka industri akademik palsu akan terus hidup dan berkembang,” terangnya.

Melalui institusi perguruan tinggi seperti IAI Rawa Opa mendesak pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi ilmiah, dan lembaga akreditasi untuk melakukan audit integritas akademik secara menyeluruh. Evaluasi juga dinilai perlu dilakukan terhadap mekanisme hibah perjalanan akademik serta penggunaan AI dalam penulisan ilmiah.

“Saatnya kita menginternalisasi nilai integritas akademik. Sekaligus keperluan untuk tidak menjadikan rangking sebagai tolok ukur utama dan tunggal,” urai Ismail Suardi Wekke yang menerima posisi Distinguished Professor di North Bangkok University (Thailand) sejak 2025.

Menurut Ismail, kasus tersebut harus menjadi momentum pembenahan serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, bukan sekadar klarifikasi administratif untuk meredam sorotan publik.

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka adalah keberanian untuk jujur dalam dunia ilmu pengetahuan,” katanya.

Ia mengingatkan, jika praktik semacam itu terus dibiarkan, masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap perguruan tinggi dan dunia akademik nasional.

“Ketika kebohongan diberi panggung akademik, maka generasi muda akan belajar bahwa kepalsuan lebih cepat dihargai daripada proses ilmiah yang jujur,” ujarnya.

Dalam.kapasitas sebagai Wakil Rektor IAI Rawa Opa menegaskan, pemulihan martabat akademik Indonesia hanya dapat dilakukan melalui keberanian membersihkan budaya manipulasi di lingkungan pendidikan tinggi.

“Perlunya mengutamakan riset sederhana dan jujur, menghindari penelitian terlihat canggih tetapi dibangun di atas kebohongan,” tegas Ismail.

IMG-20260528-WA0018

Pimpinan IAI Rawa Aopa Mulai Sosialisasikan Panduan Wisuda 2026 Sekaligus Awal Rangkaian Dies Natalis X

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan bergerak cepat mematangkan persiapan wisuda sarjana tahun 2026. Momentum pengukuhan kelulusan tersebut dijadwalkan berlangsung setelah perayaan Idul Adha 1447 Hijriah.

Sebagai langkah awal, pihak rektorat kini mulai menggencarkan sosialisasi panduan akademik dan teknis. Panduan ini perlu dibaca dan dilaksanakan oleh seluruh calon wisudawan dan wisudawati.

Selain agenda pengukuhan, manajemen kampus juga tengah merancang sebuah simposium strategis untuk menyemarakkan rangkaian perhelatan akbar tersebut dengan rangkaian awal sebagai pelaksanaan Dies Natalis X 2026.

Demi memastikan kelancaran acara berskala besar ini, delegasi kampus telah mengadakam kunjungan resmi ke Kopertais. Begitu pula, mereka akan mendatangi Kementerian Sekretariat Negara untuk mendapatkan arahan serta panduan keprotokolan.

Konsultasi ini dinilai sangat penting karena simposium yang dirancang melibatkan aspek tata kelola tingkat nasional. Manajemen lembaga ingin memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai standar baku pemerintahan.

Langkah proaktif ini diambil untuk menjaga reputasi institusi di tingkat nasional. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa sosialisasi panduan ini sangat krusial.

Menurutnya, pemahaman yang baik dari para lulusan akan membuat seluruh prosesi berjalan dengan khidmat dan tertib. Momentum kelulusan tahun ini memang sengaja dirangkaikan dengan forum ilmiah berskala besar.

Hal tersebut bertujuan agar atmosfer akademik kampus tetap kuat dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pihak otoritas kampus berharap kegiatan ini menjadi tolok ukur baru bagi kemajuan institusi.

Dalam penjelasannya, Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa persiapan yang matang sejak dini akan meminimalkan kendala teknis pada hari pelaksanaan nanti. Beliau juga menjelaskan bahwa konsultasi ke Kementerian Sekretariat Negara menjadi langkah strategis untuk menyelaraskan tata laksana kegiatan.

Manajemen lembaga berkomitmen penuh untuk memfasilitasi kebutuhan para alumni baru dalam menyongsong fase transisi ke dunia kerja. Sinergi antara bagian keuangan, perencanaan, dan kepegawaian terus dipacu demi menyukseskan agenda besar ini. Seluruh panitia kini bekerja ekstra untuk merampungkan modul panduan tersebut.

“Kami ingin memastikan bahwa seluruh rangkaian acara, mulai dari prosesi sakral wisuda hingga diskusi dalam simposium nanti, berjalan dengan tata kelola yang profesional,” ujar Ismail Suardi Wekke usai menyapa alumni dan mahasiswa melalui ruang digital (Kamis, 28 Mei 2026).

Beliau menekankan pentingnya disiplin dan koordinasi yang kuat di antara seluruh panitia pelaksana. “Wisuda bukan sekadar momentum perayaan, tetapi juga etalase kesiapan institusi dalam melahirkan SDM yang siap berkontribusi bagi daerah,” tegasnya menambahkan.

Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan mutu pelayanan administrasi kepada para alumni. “Persiapan yang dilakukan secara terukur ini akan menjadi standar baru bagi pelaksanaan kegiatan protokoler di lingkungan kampus kami pada masa mendatang,” pungkasnya menutup penjelasan.

IMG-20260528-WA0012

Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara IAI Rawa Aopa, Mendaftarkan Kepengurusan di Kesbangpol Konawe Selatan

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara (HMJ-HTN) secara resmi mendaftarkan kepengurusan organisasi ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Konawe Selatan, Kamis (21/05/2026).

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk upaya memperkenalkan keberadaan Institut Agama Islam Rawa Aopa maupun organisasi HMJ-HTN kepada publik, masyarakat luas dan pemerintah daerah, meskipun secara aturan organisasi mahasiswa tidak diwajibkan untuk melakukan pendaftaran tersebut.

Organisasi kemahasiswaan pada dasarnya berada dalam naungan struktur dan statuta perguruan tinggi, dan secara administratif cukup memiliki Surat Keputusan (SK) dari pihak kampus,yaitu Rektor/Dekan yang membidangi kemahasiswaan.

Ketua Umum HMJ-HTN, Hendarwan Sepriyadi, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan inisiatif strategis untuk membangun sinergi dengan pemerintah daerah.

“Selaku Ketua Umum, saya menegaskan bahwa organisasi mahasiswa tidak wajib mendaftarkan keberadaannya, termasuk HMJ-HTN. Namun demikian, akan lebih baik jika keberadaan pengurus HMJ-HTN diketahui oleh pemerintah daerah Konawe Selatan, sehingga eksistensi Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara di bawah naungan Institut Agama Islam Rawa Aopa dapat diakui secara luas,” ujar Hendarwan.

Ia juga menambahkan bahwa pendaftaran ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi antara HMJ-HTN dengan pemerintah daerah, khususnya dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan edukasi hukum, penguatan demokrasi, dan partisipasi publik di Konawe Selatan.

Dengan terdaftarnya kepengurusan HMJ-HTN di Kesbangpol, organisasi ini menegaskan komitmennya untuk berkontribusi aktif dalam mendukung pembangunan daerah melalui peran mahasiswa sebagai agen perubahan.

Lebih lanjut Ketua Umum menyampaikan, dengan terdaftarnya organisasi mahasiswa jurusan hukum tata negara di Kesbangpol merupakan sejarah baru sejak berdirinya kabupaten Konawe Selatan.

Ditempat yang sama Sekretaris Umum HMJ-HTN. Yusdar menyampaikan bahwa, organisasi kemahasiswaan secara resmi sudah diketahui oleh pemerintah daerah kabupaten Konawe Selatan Melalui Kesbangpol tentang keberadaan organisasi kemahasiswaan. Sehingga peran mahasiswa dalam mendukung Program-program maupun kebijakan pemerintah daerah wajib diberi dukungan dan siap berkolaborasi, ujarnya

Untuk itu sebagai Sekretaris Umum, menegaskan kepada seluruh pengurus HMJ-HTN agar taat dengan Aturan Dasar dan Aturan Rumah Tangga (Ad/Art) organisasi, tutupnya.

IMG-20260527-WA0044

Tebar Semangat Berbagi, HMJ-HTN IAI Rawa Aopa Salurkan Kambing Kurban kepada Masyarakat

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selan  – Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara (HMJ-HTN) Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa menunjukkan kepedulian sosialnya dengan menyerahkan satu ekor kambing kepada masyarakat Kelurahan Potoro dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H.

Penyerahan hewan kurban tersebut merupakan bagian dari program sosial kemahasiswaan yang bertujuan untuk mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat, sekaligus menumbuhkan nilai-nilai kepedulian dan kebersamaan.

Ketua Umum HMJ-HTN, Hendarwan Sepriyadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi teman-teman mahasiswa kepada masyarakat.

“Momentum Idul Adha merupakan waktu yang tepat untuk saling berbagi dan memperkuat rasa solidaritas antar sesama. Kami berharap apa yang kami berikan ini dapat bermanfaat dan membawa kebahagiaan bagi masyarakat Kelurahan Potoro,” ujarnya kepada media ini, Rabu (27/05/26).

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Umum HMJ-HTN, Yusdar. Ia menuturkan bahwa Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan semata, tetapi juga sebagai sarana untuk menanamkan nilai keikhlasan, pengorbanan, serta kepedulian sosial di kalangan mahasiswa.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan semangat berbagi dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, khususnya di lingkungan mahasiswa Hukum Tata Negara,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Ketua Program Studi Hukum Tata Negara IAI Rawa Aopa. Suriyansyah, S.Sos.I.,M.H turut memberikan apresiasi atas langkah konkret yang dilakukan oleh mahasiswa.

Ia menilai bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud nyata implementasi nilai-nilai akademik dan sosial yang selama ini dipelajari di bangku perkuliahan.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif mahasiswa HMJ-HTN yang telah menunjukkan aksi nyata di tengah masyarakat. Ini adalah contoh positif yang patut dipertahankan dan ditingkatkan di masa mendatang,” ungkapnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai agenda rutin tahunan, sekaligus menjadi inspirasi bagi organisasi kemahasiswaan lainnya untuk terus berkontribusi bagi masyarakat.

IMG-20260527-WA0036

IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Jadikan Idul Adha Momentum Penguatan Pendidikan dan PMB 2026

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan melanjutkan pembukaan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026. Informasi tersebut disampaikan bertepatan dengan momentum peringatan Idul Adha 1447 Hijriah yang juga menjadi sarana menyampaikan pesan nilai keislaman, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam publikasi yang disampaikan pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail  Suardi Wekke, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian, bahwa sejak 1 Mei, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk bergabung pada sejumlah program studi, di antaranya Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Hukum Tata Negara, serta Ekonomi Syariah.

Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, mengatakan bahwa momentum Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang refleksi untuk memperkuat komitmen terhadap pendidikan.

“Idul Adha mengajarkan nilai pengorbanan, keikhlasan, serta kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan penting dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap memberikan kontribusi bagi masyarakat,” ujarnya, Rabu (27/5/2026).

Penerimaan mahasiswa baru dijadwalkan berlangsung mulai 1 Mei hingga 31 Juli 2026. Pendaftaran dilakukan secara daring melalui laman resmi kampus sehingga memudahkan calon mahasiswa memperoleh informasi terkait proses administrasi maupun persyaratan akademik.

Menurut Ismail, kampus memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.

“Kami ingin menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya,” katanya.

Ia menambahkan, pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang akan menentukan arah masa depan generasi bangsa.

“Pendidikan merupakan jalan untuk membangun peradaban, memperluas wawasan, dan menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat,” tambahnya.

Melalui semangat Idul Adha 1447 H, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan berharap masyarakat dapat semakin memperkuat kesadaran akan pentingnya pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia yang unggul.

“Mari jadikan Idul Adha ini sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat niat menuntut ilmu, dan menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi umat,” tutur smail Suardi Wekke.

Menutup pernyataannya Ismail Suardi Wekke menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang digerakkan melalui HMJ Hukum Tata Negara dalam mempersiapkan penyerahan hewan kurban kepada masyarakat Kelurahan Potoro (Andoolo, Konawe Selatan).

Workshop (ISW)

Sakinah Finance Gelar Workshop Tri Dharma Perguruan Tinggi di Jakarta, Perkuat Sinergi Akademik dan Industri

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Sakinah Finance sukses menyelenggarakan Workshop Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 16–17 Mei 2026, bertempat di Sofyan Hotel Cut Meutia, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Forum strategis ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari jajaran pimpinan perguruan tinggi, perwakilan sekolah, kepala madrasah, pelaku industri, hingga praktisi perbankan syariah dari berbagai daerah di Indonesia.

Pertemuan intensif ini dirancang untuk merumuskan langkah taktis dalam mengintegrasikan dunia akademik dengan dinamika industri modern. Melalui kolaborasi ini, diharapkan implementasi pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan mampu menjawab kebutuhan riil pasar serta tantangan literasi keuangan di tengah masyarakat.

Di sela-sela kegiatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, memberikan pandangan mendalam mengenai urgensi acara ini. Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi perguruan tinggi saat ini tidak bisa lagi diselesaikan dengan cara-cara konvensional yang bersifat eksklusif. Menurutnya, akselerasi mutu institusi hanya dapat dicapai melalui jalinan kemitraan yang kokoh dan berdampak luas dengan dunia usaha serta industri.

Lebih lanjut, Ismail Suardi Wekke menguraikan bahwa skema Tri Dharma Perguruan Tinggi harus bertransformasi menjadi sebuah ekosistem yang bersifat inklusif. Ia menyampaikan pandangannya bahwa keterlibatan aktif dari sektor perbankan dan dunia sekolah akan mempercepat proses transfer pengetahuan sekaligus mempersempit kesenjangan antara teori akademik dan praktik di lapangan.

Pada akhir penyampaiannya, Ismail Suardi Wekke mengingatkan pentingnya menindaklanjuti forum ini dengan langkah-langkah yang konkret dan terukur. Beliau menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan serta pemikiran yang lahir di Jakarta ini akan menjadi fondasi kuat untuk melahirkan inovasi pengabdian masyarakat yang berbasis pada penguatan ekonomi umat di tingkat daerah.

Menutup pandangannya, Ismail Suardi Wekke memberikan penegasan langsung mengenai posisi strategis agenda yang diinisiasi oleh Sakinah Finance ini. “Workshop yang diinisiasi oleh Sakinah Finance ini merupakan momentum krusial bagi lembaga pendidikan tinggi untuk keluar dari menara gading dan mulai membangun jembatan kolaborasi yang riil dengan sektor industri,” ujarnya secara lugas di hadapan media.

Ismail Suardi Wekke juga menambahkan poin penting terkait relevansi kurikulum pendidikan tinggi di masa depan dengan keterlibatan mitra strategis. “Kita tidak bisa lagi menyusun peta jalan riset dan pengabdian masyarakat tanpa melibatkan perspektif perbankan dan madrasah, karena dari sanalah kebutuhan nyata masyarakat bermula,” kata Ismail menekankan pentingnya integrasi tersebut.

Sebagai penegasan komitmen kelembagaan, Ismail Suardi Wekke menyatakan kesiapan institusinya untuk mengawal hasil dari pertemuan dua hari ini agar dapat segera diimplementasikan secara nyata. “Kami di IAI Rawa Aopa berkomitmen penuh untuk mengonversi setiap gagasan dari workshop ini menjadi program kerja nyata yang berdampak langsung pada tata kelola keuangan dan kesejahteraan masyarakat di Konawe Selatan,” pungkasnya optimis.

Workshop yang berlangsung dinamis ini diisi dengan pemaparan materi dari para pakar ekonomi syariah, diskusi panel interaktif, serta sesi penyusunan program bersama. Kehadiran unsur sekolah dan madrasah dalam forum ini juga dinilai menjadi angin segar untuk memulai edukasi perencanaan keuangan syariah sejak usia dini secara terstruktur.

Kita Bisa (ISW)

Tandatangani MoU Dengan Kita Bisa, IAI Rawa Aopa Siapkan Langkah untuk Implementasi

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menjalin kerja sama strategis dengan platform penggalangan dana dan kemaslahatan publik, Kita Bisa. Kerja sama tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang menjadi momentum awal bagi kedua belah pihak untuk bersinergi dalam berbagai program sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. 

Pascapenandatanganan ini, institusi kampus langsung bergerak cepat menyusun langkah-langkah konkret demi memastikan implementasi program dapat berjalan secara efektif dan akuntabel. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar seremonial di atas kertas, melainkan sebuah langkah nyata untuk memperluas akses kebermanfaatan bagi civitas akademika dan masyarakat luas. 

Menurutnya, ekosistem digital yang dimiliki oleh Kita Bisa akan sangat membantu kampus dalam mengelola potensi filantropi Islam modern secara lebih transparan. “Kemitraan dengan Kita Bisa adalah jembatan inovatif untuk mengintegrasikan nilai-nilai akademis dengan aksi kepedulian sosial yang nyata,” ujar Ismail Suardi Wekke saat ditemui seusai acara penandatanganan Hotel Sofyan Betawi; Jakarta, 16 Mei 2026).

Ia juga menambahkan bahwa pihak rektorat dan seluruh jajaran terkait sedang mematangkan peta jalan agar seluruh klausul dalam dokumen kerja sama tersebut segera mewujud dalam program kerja di lapangan.

“Kami tidak ingin menunda waktu, sehingga minggu ini tim kerja khusus langsung dibentuk untuk merumuskan teknis pelaksanaan di sektor beasiswa dan pemberdayaan ekonomi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ismail menyampaikan optimismenya bahwa sinergi ini akan membawa dampak masif bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan finansial dalam menyelesaikan studinya.

“Melalui kolaborasi ini, kita membuka pintu peluang yang lebih luas bagi mahasiswa kurang mampu agar tetap bisa mengakses pendidikan tinggi berkualitas tanpa terkendala biaya,” pungkasnya.

Di sisi lain, Ismail Suardi Wekke juga menjelaskan bahwa penandatanganan MoU ini menjadi momentum penting bagi IAI Rawa Aopa untuk melakukan transformasi dalam tata kelola keuangan sosial institusi. Ia menekankan bahwa kehadiran platform digital seperti Kita Bisa akan memberikan transparansi yang lebih tinggi, sehingga tingkat kepercayaan publik dan akuntabilitas kampus dalam penyaluran bantuan dapat terus meningkat.

Terkait dengan kesiapan sumber daya manusia di internal kampus, Ismail menerangkan bahwa pihak manajemen perguruan tinggi akan segera menggelar lokakarya bagi staf perencanaan dan kemahasiswaan. Langkah ini dinilai sangat krusial agar personel yang ditunjuk memiliki pemahaman yang mendalam mengenai sistem kerja dan mekanisme program bersama yang akan diluncurkan dalam waktu dekat.

Terakhir, Ismail juga menggarisbawahi bahwa program kerja sama ini nantinya akan diintegrasikan dengan kegiatan pengabdian masyarakat. Hal tersebut diharapkan dapat mendorong mahasiswa dan dosen untuk terlibat aktif dalam merancang solusi kreatif atas permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat di sekitar wilayah Konawe Selatan.