Rawa Aopa (ISW)

Rawa Aopa: Dari Ekosistem Ekologis Menjadi Instrumen Keilmuan Global

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) merupakan hamparan lahan basah di Sulawesi Tenggara; ia adalah laboratorium alam raksasa yang menyimpan keanekaragaman hayati tak ternilai. Terletak di lima wilayah administratif, termasuk Kabupaten Konawe Selatan, taman nasional ini menjadi ikon geografis dan ekologis yang mendefinisikan karakter wilayah tersebut. 

Nama “Rawa Aopa” sendiri kini telah melampaui batas-batas biofisik, bertransformasi menjadi identitas bagi Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan sebagai simbol integrasi antara nilai spiritual dan kelestarian alam. Sehingga nama Rawa Aopa bukan saja terpatri dalam nama sebuah taman nasional, tetapi juga merupakan nama institusi keilmuan.

Secara ekologis, Rawa Aopa merupakan rawa air tawar terluas di daratan Sulawesi yang memiliki fungsi hidrologis vital bagi kehidupan masyarakat sekitarnya. Rawa ini berperan sebagai penyimpan cadangan air dan pengendali banjir alami yang menjaga keseimbangan ekosistem semenanjung tenggara Sulawesi. 

Dengan karakteristik gambut dan vegetasi khas seperti teratai serta hutan bakau pedalaman, kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai spesies endemik yang tidak ditemukan di belahan dunia lain. Diantaranya, ada dua yang khas yaitu anoa dan rusa. 

Keanekaragaman fauna di TNRAW menjadi penyanggah yang memberikan nilai ilmiah tinggi. Kawasan ini merupakan habitat penting bagi burung migran serta satwa ikonik seperti Anoa (Bubalus sp.) dan Babirusa. 

Selain itu, burung Maleo yang legendaris juga kerap ditemukan bersarang di area ini. Kehadiran spesies-spesies ini menandakan bahwa Rawa Aopa adalah “jantung” bagi biodiversitas Wallacea yang harus dijaga keberlangsungannya demi ilmu pengetahuan masa depan.

Penggunaan nama “Rawa Aopa” oleh Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan memiliki filosofi yang mendalam. Dalam perspektif akademis, pengambilan nama dari entitas lokal bertujuan untuk membumikan institusi pendidikan pada realitas lingkungannya. Sebagaimana rawa yang memberi kehidupan bagi ribuan spesies, perguruan tinggi ini diharapkan mampu menjadi sumber “mata air” ilmu pengetahuan dan kearifan bagi masyarakat di jazirah Sulawesi. 

Namun, cita-citanya, tidak hanya sampai di pulau Sulawesi, yang kadang dilekatkan pula celebes. Peran dan partisipasi global menjadi bagian dalam gerak langkah setiap saat. Jejaring kerjasama dan juga keikutsertaan dalam skala internasional, merupakan bagian dari wawasan akademik.

Integrasi nama ini juga mencerminkan konsep Eco-Theology atau ekoteologi dalam pendidikan Islam. IAI Rawa Aopa memikul tanggung jawab moral untuk menanamkan kesadaran lingkungan kepada para mahasiswanya. 

Dengan menyandang nama taman nasional tersebut, institusi ini secara implisit berkomitmen untuk menyelaraskan ajaran agama dengan aksi pelestarian alam, memandang bahwa menjaga Rawa Aopa adalah bagian dari manifestasi ketaatan kepada Sang Pencipta.

Dari sisi sosiologis, kehadiran IAI Rawa Aopa memperkuat kebanggaan identitas lokal masyarakat Konawe Selatan. Nama “Rawa Aopa” yang sudah dikenal secara internasional di kalangan peneliti lingkungan kini memiliki dimensi intelektual baru. 

Hal ini menciptakan sinergi antara konservasi alam dan pembangunan sumber daya manusia, di mana masyarakat tidak hanya melihat rawa sebagai sumber ekonomi fisik, tetapi juga sebagai simbol kemajuan pendidikan dan peradaban.

Tantangan ke depan bagi institusi ini adalah bagaimana mewujudkan nama besar “Rawa Aopa” dalam bentuk kontribusi nyata terhadap kelestarian taman nasional tersebut. Melalui riset-riset pengabdian masyarakat, IAI Rawa Aopa dapat menjadi jembatan antara kebijakan konservasi pemerintah dengan kearifan lokal penduduk setempat. Pendidikan agama yang inklusif terhadap isu lingkungan akan menjadi modal utama dalam mencegah degradasi lahan dan perburuan liar di kawasan tersebut.

Sebagai penutup, Rawa Aopa adalah warisan alam yang kini berkelindan dengan warisan intelektual. Nama tersebut mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak boleh melepaskan diri dari akar alamiahnya. 

Melalui IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, semangat pelestarian Rawa Aopa diharapkan terus menyala, menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara spiritual dan intelektual, tetapi juga peduli pada keberlanjutan bumi pertiwi. Dengan adanya IAI Rawa Aopa, maka keberagamaan dan keberislaman yang sudah dipegang erat, dipertahankan melalui instrumen ilmu pengetahuan.

Kampus (ISW)

Program Studi

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan mengelola empat program studi, yaitu:

  1. Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), dengan gelar lulusan S.Pd.
  2. Program Studi Pendidikan Islam Usia Dini (PIAUD), dengan gelar lulusan S.Pd.
  3. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dengan gelar lulusan S.Pd.
  4. Program Studi Hukum Tata Negara (HTN), dengan gelar lulusan S.H.

Saat ini, sementara menunggu Surat Keputusan (SK) persetujuan Kementerian Agama RI, untuk program studi Ekonomi Syariah dengan gelar lulusan S.E.

Kampus (ISW)

Alamat Kampus

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Kampus Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, sebanyak 3 lokasi.

Pertama, di Kampus Induk, Kampus Lamooso, terletak di Kecamatan Lamooso, Kab. Konawe Selatan.

Kedua, di Kampus Ibukota Kabupaten, Kampus Andoolo, di Kelurahan Potoro, Kecamatan Andoolo, Kab. Konawe Selatan.

Ketiga, di Kampus Penghubung Kota Kendari, di Jalan THR, Kota Kendari.

Diskusi Panel (ISW)

Diskusi Panel terkait Situasi Hukum Internasional Kontemporer, Bersama Universitas Hasanuddin

Andoolo – Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar diskusi panel strategis guna membedah dinamika dan tantangan hukum internasional di era kontemporer. Forum akademik ini menghadirkan sejumlah pakar dan praktisi hukum untuk mendiskusikan posisi Indonesia di tengah pergeseran geopolitik global serta penegakan norma-norma internasional.

Diskusi yang akan berlangsung hari ini (Jumat, 16 Januari 2026) menyoroti berbagai isu krusial, mulai dari sengketa wilayah, hukum humaniter, hingga kerja sama ekonomi lintas negara yang memerlukan landasan hukum kuat dan adaptif.

Akan turut hadir dalam kesempatan tersebut, mahasiswa dan dosen Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan. Dr. Ismail Suardi Wekke, Wakil Rektor Bidang Administrasi Keuangan dan Kerjasama, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan. Dalam pandangannya, Ismail menekankan pentingnya sinergi antar-institusi pendidikan dalam merespons cepatnya perubahan regulasi di tingkat global.

“Diskusi ini bukan sekadar pertukaran ide akademis, melainkan langkah krusial dalam memetakan posisi hukum kita di kancah internasional. Kita perlu memastikan bahwa sumber daya manusia di perguruan tinggi memiliki literasi hukum yang memadai agar mampu berkontribusi dalam diplomasi dan kerja sama luar negeri yang menguntungkan bangsa,” ujar Ismail Suardi Wekke di sela-sela kegiatan Seminar Proposal di Poleang Timur, Bombana yang merupakan Tri Dharma Terpadu.

Kehadiran IAI Rawa Aopa dalam forum ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat eksistensi Program Studi Hukum Tata Negara yang dikelola institusi tersebut. Sebagai prodi yang fokus pada penguatan pilar konstitusi dan tata kelola pemerintahan, keterlibatan dalam diskusi internasional ini diharapkan dapat memperkaya kurikulum dan wawasan mahasiswa di Konawe Selatan, sehingga lulusannya mampu mengontekstualisasikan hukum nasional dengan standar dan dinamika hukum internasional yang sedang berkembang.

Ismail juga menambahkan bahwa IAI Rawa Aopa terus berkomitmen untuk memperluas jejaring kerja sama, termasuk dengan Universitas Hasanuddin, guna memperkuat kajian-kajian hukum yang relevan dengan kebutuhan daerah maupun nasional. “Ini boleh menjadi rintisan kerjasama dengan Universitas Hasanuddin melalui departemen hukum internasional,” kata Ismail yang juga Research Fellow University of South Wales, Britannia Raya.

Acara ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi pemikiran yang konstruktif bagi para pemangku kebijakan. Dekan Fakultas Hukum Unhas dalam sambutannya menegaskan bahwa kolaborasi lintas kampus seperti ini menjadi kunci dalam menghadapi kompleksitas hukum internasional yang semakin dinamis.

Melalui diskusi panel ini, Universitas Hasanuddin kembali mempertegas perannya sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dalam pengembangan ilmu hukum di Indonesia Timur, sekaligus menjadi jembatan kolaborasi bagi perguruan tinggi lainnya di pelbagai wilayah Indonesia, termasuk di Sulawesi Tenggara.

Seminar Proposal (ISW)

Sebelum Semester Ganjil Berakhir, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Laksanakan Seminar Proposal Skripsi Terintegrasi

BOMBANA – Menjelang penghujung semester ganjil tahun akademik ini, Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan sukses menyelenggarakan Seminar Proposal Skripsi Terintegrasi. Berbeda dari format akademik konvensional, kegiatan ini dilaksanakan secara langsung di lokasi pengabdian masyarakat di Kecamatan Poleang Timur, Kabupaten Bombana (Kamis, 15 Januari 2026).

Langkah inovatif ini diambil untuk mendekatkan dunia akademik dengan realitas sosial di lapangan. Melalui integrasi ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memaparkan rencana penelitian secara teoretis, tetapi juga mampu memotret permasalahan nyata yang ada di tengah masyarakat Poleang Timur.

Seminar ini diikuti oleh jajaran dosen penguji dan mahasiswa tingkat akhir yang tengah mempersiapkan tugas akhir mereka. Integrasi antara seminar proposal dan pengabdian masyarakat bertujuan agar hasil penelitian mahasiswa nantinya memiliki relevansi tinggi dan memberikan solusi konkret bagi daerah setempat.

Wakil Rektor Administrasi Keuangan dan Kerjasama IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan pentingnya model integrasi ini dalam mencetak lulusan yang peka terhadap kondisi sosial.

“Pelaksanaan seminar proposal di lokasi pengabdian ini merupakan wujud nyata dari komitmen kampus untuk menyatukan pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kami ingin memastikan bahwa riset yang dilakukan mahasiswa tidak hanya berhenti sebagai tumpukan kertas di perpustakaan, tetapi diawali dengan sentuhan langsung pada kemaslahatan umat di Poleang Timur,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Penyelesaian seminar proposal sebelum berakhirnya semester ganjil ini merupakan strategi institusi untuk mempercepat masa studi mahasiswa. Dengan tuntasnya tahapan ini, mahasiswa diharapkan dapat segera memulai penelitian lapangan pada semester genap mendatang tanpa kendala administratif yang menumpuk.

Masyarakat dan tokoh setempat di Poleang Timur menyambut baik kehadiran para akademisi ini. Mereka berharap hasil penelitian mahasiswa IAI Rawa Aopa dapat membantu pengembangan potensi desa, baik dari sisi keagamaan, pendidikan, maupun sosial ekonomi.

Papua Baik Sorong (ISW)

Akselerasi Pengembangan SDM di Tanah Papua, Yayasan SMILE Tanah Papua Bersinergi dengan IAI Rawa Aopa

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah Timur Indonesia terus mendapat perhatian serius. Sebagai langkah nyata, Yayasan SMILE Tanah Papua mulai menjalin sinergi strategis dengan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa, Sulawesi Tenggara. Kerjasama ini difokuskan pada program akselerasi pendidikan, pengabdian masyarakat, dan penguatan literasi bagi generasi muda Papua.

Sinergi ini lahir dari kesadaran bersama bahwa tantangan geografis dan aksesibilitas pendidikan di Tanah Papua memerlukan kolaborasi lintas lembaga dan lintas wilayah. Dengan menggandeng institusi akademis seperti IAI Rawa Aopa, diharapkan terjadi pertukaran gagasan serta implementasi program yang lebih terukur.

Beberapa poin utama dalam kerjasama ini meliputi diantaranya pemberian beasiswa: skema bantuan pendidikan bagi putra-putri Papua untuk menempuh studi lanjut. Bergitu pula, Peningkatan Kompetensi Guru: Pelatihan metode pengajaran inovatif bagi tenaga pendidik di daerah terpencil. Terakhir, Literasi Digital: Pendampingan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk ekonomi kreatif.

Akademisi sekaligus praktisi pendidikan yang mengawal inisiatif ini, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kolaborasi ini sebagai langkah awal, juga akan menjadi langkah konkret untuk menjemput masa depan Papua yang lebih cerah.

“Pengembangan SDM di Tanah Papua tidak bisa dilakukan secara parsial. Kita memerlukan ekosistem yang saling mendukung. Sinergi antara Yayasan SMILE dan IAI Rawa Aopa adalah jembatan ilmu pengetahuan yang menghubungkan potensi lokal dengan standar akademik yang mumpuni. Kita ingin memastikan bahwa setiap anak Papua memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas demi kemajuan bangsa,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Sementara itu, Yayasan SMILE Tanah Papua yang baru saja didirikan pada desember yang lalu menyampaikan bahwa kerjasama ini dapat menjadi pemantik bagi lembaga lain untuk bersama-sama turut berkontribusi. Dengan SDM yang unggul, pengelolaan potensi alam Papua diharapkan dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan yang memberdayakan masyarakat Papua.

Implementasi program perdana dari sinergi ini dimulai pada awal semester ini, dengan fokus awal pada pemetaan kebutuhan pendidikan di wilayah pesisir dan pegunungan. Kemudian menawarkan bagi alumnus sekolah menengah untuk menempuh pendidikan sarjana dengan metode belajar hybrid pada program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan juga Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) pada Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan.

Kelas Pemikir (ISW)

Kader Pemikir Islam Indonesia Angkatan 5, Dibuka Pendaftaran

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta, Paramadina Center for Religion and Philosophy (PCRP) Universitas Paramadina akan mengadakan kegiatan Kader Pemikir Islam Indonesia Angkatan 5. Salah satu pendukung KPII Angkatan 5 – 2026, Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan, menyampaikan ke internal civitas akademika IAI Rawa Aopa untuk mulai mendaftar.

Kegiatan KPII ini sebagai bagian dari pengayaan wawasan materi yang telah ada sebelumya dalam ruang-ruang perkuliahan. Baik yang terlaksana dalam bentuk pertemuan tatap muka, maupun kegiatan daring.

Untuk kegiatan KPII akan berlangsung setiap Jumat, pukul 19.00-21.00 WIB | 20.00- 22.00 WITA (Andoolo), dengan pelaksanaan 23 Januari s.d. 27 Februari 2026 yang akan berlansgung selama 6 kali pertemuan (daring).

Pendaftaran dapat melalui tautan berikut ini:🔖LINK PENDAFTARAN: https://bit.ly/DAFTAR-KPII5.

Sinopsis Kelas

Kajian ini mengeksplorasi krisis ekologis sebagai persoalan teologis, etis, dan struktural melalui perspektif Islam yang dialogis dengan tradisi agama lain dan ilmu-ilmu kontemporer. Anda akan diajak bergerak dari refleksi teologis ke kritik struktural sampai praksis lintas iman.

Di atas dalam flyer, rancangan 6 tema kursus Ekoteologi Islam yang antar-disiplin dan antar-agama, sehingga cocok untuk dialog lintas iman dan konteks global–lokal.

Keenam pertemuan ini akan menggali ekoteologi Islam sebagai proyek teologis, etis, dan praksis yang utuh, yang mengintegrasikan: Diagnosis krisis spiritual, Kritik antroposentrisme, Visi tauhid kosmik, Norma syariah dan keadilan, Kritik ekonomi struktural, dan Spiritualitas dan aksi lintas iman. Ekoteologi Islam menegaskan satu pesan kunci: merawat bumi adalah bagian tak terpisahkan dari penghambaan kepada Tuhan Yang Esa.

Sesi FGD bersama Mitra Perguruan Tinggi (ISW)

Tindak Lanjut MoU dan MoA dengan STIT Padang Lawas Gunung Tua, Sumatera Utara, Mempersiapkan Seminar Kolaboratif

Andoolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menunjukkan komitmen serius dalam memperkuat jejaring akademik lintas pulau. Sebagai langkah konkret pasca diskusi untuk persiapan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Padang Lawas, Gunung Tua, Sumatera Utara (Selasa, 13 Januari 2026). Kedua institusi kini tengah mematangkan persiapan penyelenggaraan seminar bersama (joint seminar) yang akan berlangsung sabtu pekan mendatang.

Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam pengembangan riset dan publikasi ilmiah bagi dosen serta mahasiswa di kedua belah pihak. Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar seremonial di atas kertas. Menurutnya, pertemuan dan koordinasi intensif terus dilakukan untuk memastikan poin-poin kesepakatan segera terwujud dalam aksi nyata.

Dalam pernyataannya, Ismail Suardi Wekke menyampaikan bahwa kerja sama dengan STIT Padang Lawas merupakan langkah bagi IAI Rawa Aopa dalam memperluas cakrawala akademik. Ismail juga menyatakan bahwa pihak IAI Rawa Aopa Konawe Selatan tidak ingin MoU ini hanya berhenti di penandatanganan saja. 

“Seminar bersama yang sedang kami siapkan adalah bukti bahwa ada semangat berbagi pengetahuan (knowledge sharing) antara Sulawesi Tenggara dan Sumatera Utara. Ini adalah upaya kami untuk terus berinovasi dan meningkatkan rekognisi institusi di level nasional,” ujar Ismail Suardi Wekke, Wakil Rektor Bidang Administrasi Keuangan dan Kerjasama.

Seminar yang direncanakan akan mengangkat isu-isu kontemporer di bidang pendidikan Islam dan tantangan lokalitas di era digital. Selain seminar, MoA ini juga diproyeksikan mencakup: pertukaran naskah jurnal: Mendorong dosen kedua institusi untuk saling berkontribusi dalam jurnal ilmiah masing-masing.

Berikutnya, kolaborasi riset: Melakukan penelitian bersama yang membandingkan fenomena sosial keagamaan di wilayah Sumatera dan Sulawesi. Termasuk juga pengabdian masyarakat: Program kolaborasi yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat di sekitar kampus.

Dengan adanya tindak lanjut yang cepat ini, diharapkan hubungan antara IAI Rawa Aopa dan STIT Padang Lawas dapat menjadi model kolaborasi yang produktif bagi perguruan tinggi keagamaan Islam swasta di Indonesia.

Sesi Diskusi (ISW)

Pemkab Konawe Salurkan Beasiswa Konawe Cerdas, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Salah Satu Mitra Perguruan Tinggi

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Konawe menyalurkan bantuan pendidikan melalui program Beasiswa Konawe Cerdas (Jumat, 9 Januari 2026). Agenda ini dilaksanakan sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan studi putra-putri daerah. Sebanyak 60 mahasiswa yang terdaftar di IAI Rawa Aopa Konawe Selatan yang merupakan warga Kabupaten Konawe hadir langsung untuk menerima hak mereka.

Sesi Dokumentasi (ISW)
Sesi Dokumentasi (Dok: Ipri Yanti)

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kasubag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kabupaten Konawe, Fitriani Sunggu, S.IP., mewakili pihak pemerintah daerah. Beliau memastikan bahwa seluruh proses verifikasi hingga penyaluran telah mengikuti prosedur yang ditetapkan. Penyaluran ini diharapkan dapat meringankan beban finansial mahasiswa dalam menempuh pendidikan tinggi di tengah tantangan ekonomi saat ini.

Pihak IAI Rawa Aopa juga turut mengawal jalannya acara melalui kehadiran Wakil Rektor III, Sardin, S.Pd.I, M.Pd. Beliau hadir dalam kapasitasnya sebagai pengelola, dosen, sekaligus mendukung aktif dalam Beasiswa Konawe Cerdas. Didampingi oleh dosen pengelola, Ipri Yanti, M.Pd., Sinergi antara birokrasi dan akademisi ini bertujuan agar program beasiswa tepat sasaran dan memberikan dampak akademik yang signifikan.

Dalam kesempatan tersebut, Warek III IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Sardin, memberikan motivasi mendalam kepada para mahasiswa penerima manfaat. Ia menyampaikan bahwa pemberian bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) ini adalah bentuk kepedulian besar Pemda Konawe terhadap pembangunan SDM. Beliau menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan adalah jalan satu-satunya bagi daerah untuk keluar dari belenggu ketertinggalan di berbagai sektor.

Sejalan dengan hal itu, pihak Kesra Kabupaten Konawe menekankan bahwa komitmen Pemda terhadap sektor pendidikan tidak akan luntur. Kabid Kesra yang hadir mewakili Pemda menyatakan bahwa pelayanan pendidikan akan selalu menjadi prioritas utama dalam masa pemerintahan saat ini. Pemerintah daerah meyakini bahwa pondasi kemajuan sebuah daerah terletak pada seberapa baik kualitas intelektual masyarakatnya.

Lebih lanjut, Kabid Kesra menyampaikan bahwa pembangunan daerah yang sesungguhnya bukanlah sekadar pembangunan infrastruktur fisik semata. Ia menjelaskan bahwa indikator keberhasilan pembangunan yang paling hakiki adalah terjadinya peningkatan kualitas sumber daya manusia secara merata. Oleh karena itu, anggaran beasiswa terus dialokasikan guna memastikan setiap mahasiswa berbakat memiliki kesempatan yang sama untuk sarjana.

Para penerima beasiswa Konawe Cerdas tampak mengikuti arahan dengan saksama sepanjang pertemuan berlangsung. Program ini tidak hanya memberikan bantuan dana, tetapi juga menuntut tanggung jawab moral bagi para mahasiswa untuk berprestasi. Pihak pengelola beasiswa akan terus memantau perkembangan akademik setiap penerima agar bantuan ini benar-benar memberikan output yang produktif bagi daerah.

Acara yang berlangsung lancar ini ditutup dengan koordinasi teknis mengenai administrasi lanjutan untuk periode semester berjalan. Penyaluran Beasiswa Konawe Cerdas ini menjadi bukti nyata hadirnya negara dalam mendukung cita-cita anak muda di Kabupaten Konawe. Semua pihak berharap agar para penerima manfaat dapat segera merampungkan studi dan kembali untuk membangun tanah kelahiran mereka.

Guangzhou (ISW)

Memajukan Kolaborasi Akademik Global di Asia: Pimpinan IAI Rawa Aopa Kunjungi Guangzhou

Rawaaopakonsel.ac.id, Guangzhou – Dalam misi untuk memperluas jangkauan internasional akademisi Asia, Ismail Suardi Wekke baru saja menyelesaikan serangkaian kegiatan di Guangzhou, Tiongkok. Kunjungan ini merupakan upaya eksplorasi terhadap institusi akademik transformatif, yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengadopsi model fasilitasi yang dapat meningkatkan visibilitas global serta dampak penelitian universitas-universitas di tingkat regional (Selasa, 23 Desember 2025).

“Sudah saatnya kita mulai memperluas kerja sama regional dari Asia Tenggara ke Asia secara luas,” ujar Wekke setelah menyelesaikan kunjungannya ke Guangzhou di kantor AiScholar. Kunjungan Wekke ke Guangzhou merupakan kelanjutan dari dedikasinya terhadap integrasi regional. Ismail Suardi Wekke, saat ini juga menjabat sebagai wakil rektor Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan.

Sebagai tokoh ilmiah kunci dan pendiri Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) yang didirikan pada tahun 2016, beliau telah menghabiskan hampir satu dekade membangun jembatan antar institusi di kawasan Asia Tenggara, mulai dari Indonesia, Malaysia, Thailand, hingga Singapura. SEAAM lahir dari visi untuk mendobrak sekat-sekat akademik tradisional, memfasilitasi pertukaran mahasiswa dan dosen yang bersifat swadaya dan didorong oleh komunitas. 

Di bawah jejaring SEAAM, persahabatan ini telah bertransformasi dari jaringan sarjana menjadi platform kokoh untuk kolokium internasional dan penelitian bersama. Misinya ke Tiongkok kali ini memperluas filosofi “mobilitas” tersebut ke panggung global, menghubungkan koridor akademik Asia Tenggara dengan pusat pendidikan Asia Timur yang berkembang pesat.

Sementara itu, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan yang dalam bulan November 2025 lalu, memeringati Dies Natali IX (2025) menjadikan itu sebagai tonggak dalam menapaki perjalanan dari STAI ke IAI. “Insya Allah dalam kurun waktu di bawah 5 tahun, semoga kita mendapatkan pertolongan Allah untuk menuju universitas Islam,” papar Ismail Suardi Wekke yang juga Research Fellow di INTI International University (Malaysia).

Salah satu agenda utama Dr. Wekke adalah observasi langsung terhadap institusi transformatif di Guangzhou, seperti KEO. Pusat ini berada di garda terdepan dalam menggabungkan pedagogi teknologi tinggi dengan kerangka penelitian internasional. Ismail Suardi Wekke menekankan bahwa institusi-institusi ini tidak hanya fokus pada mobilitas keluar, tetapi unggul dalam “Internationalization at Home” (Internasionalisasi di Dalam Negeri).

Konsep ini melibatkan integrasi standar global, kurikulum berbasis kecerdasan buatan (AI), dan repositori digital lintas batas langsung ke dalam budaya kampus. Hal ini memastikan setiap mahasiswa mendapatkan manfaat dari pendidikan global tanpa harus terkendala kemampuan untuk bepergian ke luar negeri.

Misi ini disusun berdasarkan pendekatan berlapis untuk pertumbuhan institusional: antara lain pertama, Peningkatan Visibilitas: Prof. Wekke mengeksplorasi penggunaan arsip digital global agar kontribusi akademik lokal mendapatkan audiens dunia dan meningkatkan dampak sitasi.

 

Selanjutnya, Fasilitasi Institusional: Mempelajari bagaimana universitas di Guangzhou mengelola kompleksitas finansial dan budaya dalam membangun kemitraan internasional berkelas dunia sebagai model bagi perguruan tinggi di Asia Tenggara.

Ketiga, Revolusi AI dan Masyarakat Pendidikan Tinggi: Diskusi mengenai model di mana AI bertindak sebagai katalis bagi literasi sains maupun agama, menghasilkan lulusan yang mahir secara teknis namun tetap memiliki landasan etika yang kuat.

Melalui diskusi meja bundar dengan administrator akademik Tiongkok, Dr. Wekke mempertegas pentingnya “lintas wilayah akademik.” Model Guangzhou menunjukkan bahwa ketika sebuah institusi berfungsi sebagai simpul dalam jaringan global, hal itu secara alami akan menarik talenta internasional, prestise, dan pendanaan yang lebih besar.

Kunjungan ini telah meletakkan dasar bagi potensi Nota Kesepahaman (MoU) dan proyek penelitian bersama yang berfokus pada Pendidikan Interdisipliner. Dengan mengadopsi filosofi “Double First-Class” yang diterapkan dalam kebijakan pendidikan tinggi Tiongkok, Prof. Wekke berniat menerapkan kerangka kerja yang memungkinkan institusi Asia Tenggara bersaing dan berkolaborasi secara setara dengan mitra global.

Strategi transformatif ini rencananya akan diintegrasikan ke dalam program fellowship pengembangan akademik SEAAM dan kolokium penelitian internasional sepanjang tahun 2026. Peta jalan ini bukan sekadar tentang pertumbuhan institusi, melainkan komitmen untuk memastikan masa depan di mana pendidikan interdisipliner dan pembangunan berkelanjutan menjadi pilar keamanan manusia dan keunggulan akademik.