Profile (ISW)

Profile of Ismail Suardi Wekke, Ph.D., Vice Rector Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan, Indonesia

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Ismail Suardi Wekke, Ph.D., serves as a dynamic force in modern academia, driving institutional excellence as the Vice Rector for Planning, Finance, and Personnel at Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan. Through his innovative integration of digital knowledge management and global partnerships, he continuously reshapes higher education to foster both academic autonomy and impactful community development.

Ismail Suardi Wekke, Ph.D.

Vice Rector for Planning, Finance, and Personnel | Director of Postgraduate Program

Ismail Suardi Wekke, Ph.D., is an academic leader, researcher, and consultant specializing in higher education management, regional development, and social innovation. Serving as the Vice Rector for Planning, Finance, and Personnel, as well as the Director of the Postgraduate Program at IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, he has been instrumental in driving institutional modernization and establishing strategic global networks.

Through an approach that bridges digital transformation with community engagement, his work redefines how modern higher education institutions operate and serve society.

Strategic Roles & Institutional Impact

1. Modernizing Higher Education Governance

At IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke champions an operational model that balances centralized operations with decentralized academic autonomy. This structural approach maximizes resource efficiency while giving individual academic departments the freedom to innovate. His governance strategies emphasize:

  • Digital Knowledge Management: Implementing cloud-based ecosystems and website-centric workflows to streamline institutional accreditation and internal operations.
  • Global Visibility: Promoting Open Science initiatives and advocating for the use of digital research identifiers (such as ORCID) to amplify the global footprint of local research.

2. Global Networks and Academic Alliances

Believing that modern universities must operate without borders, he actively fosters international partnerships across Southeast Asia and beyond. His leadership extends through multiple global designations:

  • President of BOLT (Balsamo Outreach for Learning and Teaching).
  • Research Fellow at INTI International University, Malaysia.
  • Distinguished Professor at North Bangkok University, Thailand.

These networks directly translate into tangible institutional collaborations, driving joint international conferences, student forums, and high-impact cross-border research initiatives.

3. Community-Centric Social Innovation

A core pillar of his philosophy is that higher education must serve as an active innovator within society. He frequently pioneers initiatives that transform community spaces into real-world learning laboratories, such as village-based developments and market-centered student learning hubs. By integrating Design Thinking into educational administration, he works to solve complex regional challenges while cultivating inclusive financial literacy through collaborative research partnerships.

Working Philosophy

“Higher education institutions should not exist as isolated ivory towers. True academic excellence is achieved when centralized, modern digital governance enables decentralized scholarly freedom, ultimately driving tangible innovation directly into the communities we serve.”

IMG-20260522-WA0035

Forum Diskusi Nasional, IAI Rawa Aopa Matangkan Simposium Asta Cita 2026 di Jakarta

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus bergerak taktis dalam membuka ruang kolaborasi antara dunia akademik dan pengambil kebijakan. Sebagai langkah nyata, jajaran pimpinan perguruan tinggi tersebut menggelar kunjungan dinas ke Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) serta Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Kunjungan ini dilakukan khusus untuk mematangkan persiapan agenda besar bertajuk Simposium Asta Cita 2026. Forum akbar ini dirancang sebagai jembatan kolaborasi jangka panjang antara sektor pendidikan tinggi dan pemerintah dalam mengawal program-program strategis nasional. Melalui simposium ini, hasil riset dari kampus diharapkan bisa langsung diadopsi menjadi solusi kebijakan publik yang nyata.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kampus tidak boleh lagi menjadi “menara gading” yang asing dari realitas pembangunan masyarakat. Menurutnya, Simposium Asta Cita 2026 akan mempertemukan keahlian para ilmuwan dengan kebutuhan praktis pemerintah dalam mengeksekusi visi pembangunan nasional.

Ismail menyebut koordinasi langsung dengan Kemensetneg dan Kemenag merupakan modal penting agar output simposium ini memiliki dampak kenegaraan yang konkret. Langkah ini sekaligus membuktikan keseriusan IAI Rawa Aopa dalam membangun ekosistem akademik yang responsif terhadap tantangan zaman melalui rekomendasi berbasis data ilmiah.

“Simposium ini adalah manifesto tanggung jawab moral perguruan tinggi untuk mengawal agenda besar nasional secara ilmiah sekaligus aplikatif,” ujar Ismail Suardi Wekke di sela-sela kunjungannya di Jakarta.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan lintas kementerian menjadi kunci sukses jalannya forum ini. Pihaknya sangat mengapresiasi sambutan hangat dari Kemensetneg dan Ditjen Pendis Kemenag. Sinergi ini memastikan setiap pemikiran dari dunia kampus bisa mendarat tepat pada kebutuhan regulasi pemerintah.

Menutup keterangannya, Ismail optimis forum ini akan melahirkan peta jalan kolaborasi yang kokoh bagi kemajuan bangsa. Lewat pertemuan koordinasi di Jakarta ini, struktur kepanitiaan dan materi substansi simposium akan semakin matang, sehingga siap melahirkan naskah akademik serta rekomendasi strategis yang berdampak luas bagi masyarakat.

Asta Cita (ISW)

Pengumuman Simposium Asta Cita 2026, Penta Helix Partisipasi Pembangunan Menuju Indonesia Maju

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Dengan senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan YME, Allah SWT, kami umumkan pelaksanaan Simposium Asta Cita 2026 sebagai forum nasional yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Pertemuan ilmiah berskala besar ini dirancang khusus untuk merumuskan langkah taktis menuju visi Indonesia Maju. Seluruh rangkaian acara akan berfokus pada hilirisasi riset dan penyelarasan kebijakan pembangunan jangka panjang.

Tema utama yang diangkat tahun ini menekankan pentingnya implementasi kolaborasi lintas sektor yang inklusif. Gagasan tersebut dinilai sangat relevan untuk menjawab tantangan dinamika ekonomi global yang kian kompleks. Melalui integrasi pemikiran, simposium ini diharapkan mampu menghasilkan cetak biru transformasi yang adaptif.

Konsep Penta Helix dipilih sebagai roda penggerak utama dalam setiap sesi diskusi panel yang digelar. Sinergi ini menyatukan kekuatan kolektif dari unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media. Kelima pilar tersebut akan saling melengkapi untuk meruntuhkan ego sektoral dalam pembangunan nasional.

Partisipasi aktif dari seluruh elemen tersebut dinilai sangat krusial demi menciptakan inovasi yang berdampak nyata. Melalui ruang dialog yang setara, ide-ide segar dari masyarakat dapat langsung direspons oleh pembuat kebijakan. Pendekatan berbasis data ini diyakini mampu mempercepat pemerataan kesejahteraan di berbagai daerah.

Sejumlah artikel ilmiah populer dan hasil riset terapan mutakhir akan dipresentasikan secara komprehensif. Para pakar lintas disiplin ilmu dijadwalkan membedah peta jalan transformasi digital dan keberlanjutan lingkungan. Selain itu, strategi penguatan sektor pangan dan energi juga menjadi topik bahasan yang intensif.

Panitia pelaksana mengundang para peneliti, birokrat, praktisi industri, serta aktivis komunitas untuk berbagi gagasan solutif. Pendaftaran peserta dan pengumpulan abstrak karya tulis kini telah dibuka secara resmi melalui kanal daring. Proses seleksi akan dilakukan secara ketat oleh dewan penasihat ilmiah yang kompeten di bidangnya.

Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari simposium ini nantinya akan diserahkan langsung kepada pemerintah pusat. Luaran konkret tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah dalam menyusun regulasi yang berpihak pada publik. Dengan demikian, sains tidak hanya berhenti di laboratorium tetapi menjelma menjadi solusi konkret.

Agenda ini dijadwalkan berlangsung mulai dari pertengahan tahun di Juni 2026 secara hibrida untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Forum ini menjadi momentum emas untuk membuktikan bahwa sinergi horizontal mampu mengakselerasi kemajuan bangsa. Kehadiran seluruh elemen bangsa sangat diharapkan demi menyongsong era baru Indonesia yang mandiri.

Asta Cita (ISW)

Akselerasikan Pembangunan Nasional, IAI Rawa Aopa Matangkan Simposium Asta Cita 2026

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus bergerak cepat dalam menginisiasi ruang strategis yang mempertemukan pemikiran akademis dengan kebijakan eksekutif. Sebagai langkah nyata, pimpinan perguruan tinggi tersebut mengadakan kunjungan dinas ke Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) serta Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama di Jakarta, Selasa (19/5/2026). 

Kunjungan ini berfokus pada koordinasi dan pematangan persiapan agenda akbar bertajuk Simposium Asta Cita 2026. Simposium ini dirancang khusus untuk menjadi wadah kolaborasi berkelanjutan antara sektor perguruan tinggi dan jajaran pemerintahan dalam mengawal program-program strategis nasional. Melalui forum ini, kontribusi pemikiran berbasis riset dari kampus diharapkan dapat langsung mengakar pada implementasi kebijakan publik.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh lagi menara gading yang berjarak dari realitas pembangunan. Menurutnya, Simposium Asta Cita 2026 didesain untuk menjembatani kepakaran para akademisi dengan kebutuhan taktis pemerintah dalam mengeksekusi visi pembangunan jangka panjang. 

Ismail juga menyampaikan bahwa sinkronisasi yang dilakukan bersama Kemensetneg dan Kementerian Agama menjadi modal penting untuk memastikan output dari simposium ini memiliki dampak kedinasan dan kenegaraan yang konkret. Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa IAI Rawa Aopa berkomitmen penuh untuk memfasilitasi dialog yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. 

Langkah koordinasi ke pusat pemerintahan ini, tambahnya, merupakan bukti keseriusan institusi dalam membangun ekosistem akademik yang responsif terhadap tantangan zaman serta mampu menyuplai rekomendasi kebijakan yang berbasis data ilmiah.

“Simposium ini merupakan manifesto dari tanggung jawab moral perguruan tinggi untuk mengawal agenda besar nasional secara saintifik dan aplikatif,” ujar Ismail Suardi Wekke saat memberikan keterangan di sela-sela kunjungannya di Jakarta.

Ismail juga menambahkan bahwa keterlibatan lintas kementerian menjadi kunci utama keberhasilan forum ini. “Kami mengapresiasi sambutan hangat dari pihak Kemensetneg dan Ditjen Pendis Kemenag, karena sinergi ini akan memastikan setiap pemikiran dari kampus mendarat tepat pada kebutuhan regulasi pemerintah,” tegasnya.

Di akhir keterangannya, Ismail optimis forum ini akan melahirkan peta jalan kolaborasi yang kokoh. “Kami ingin memastikan bahwa Simposium Asta Cita 2026 menjadi titik balik penguatan kemitraan strategis yang nyata, di mana riset akademis bertransformasi menjadi solusi konkret bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

Pertemuan koordinasi ini diharapkan dapat memperkuat struktur kepanitiaan bersama dan mematangkan substansi materi yang akan dibahas, sehingga pelaksanaan Simposium Asta Cita 2026 mendatang mampu menghasilkan naskah akademik dan rekomendasi strategis yang aplikatif demi kemajuan bangsa.

IMG-20260521-WA0036

Satu Pintu Menuju Scopus, LPPM Untirta dan IAI Rawa Aopa Bedah Strategi Pengelolaan Jurnal Modern

Rawaaopakonsel.ac.id, Serang – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) terus mematangkan langkah strategis dalam mentransformasi ekosistem publikasi ilmiahnya. Melalui kolaborasi lintas institusi, LPPM Untirta menggelar kegiatan “Pengembangan Sistem Pengelolaan Jurnal Satu Pintu Tahun 2026” dengan menggandeng Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan.

Agenda krusial yang dihelat di Ruang Multimedia Convention Hall, Kampus Untirta Sindangsari, Serang, pada Kamis (21/5/2026), ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan universitas. Tampak hadir Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. Rusmana, Ir., MP., Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Prof. Dr.-Ing. Ir. Asep Ridwan, ST., MT., IPU., Kepala LPPM Untirta Prof. Dr. Meutia, S.E., M.P., serta Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Dr. H. Fadlullah, M.Si. Forum ini juga diikuti secara intensif oleh Kepala LPMPP beserta jajaran dosen dan staf pengelola jurnal di lingkungan Untirta.

Untuk membedah tantangan tata kelola jurnal modern, panitia pelaksana yang dikomandoi oleh R. Ahmad Zaky El Islami, Ph.D., selaku Kepala Pusat Pengelola Hibah Eksternal, Internal, dan Publikasi Ilmiah LPPM Untirta, menghadirkan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Ismail Suardi Wekke, Ph.D. menyampaikan apresiasi yang mendalam atas undangan dan inisiatif progresif yang diusung oleh Untirta. Ia menilai forum silaturahmi akademik ini merupakan momentum penting untuk saling menguatkan jejaring riset nasional.

“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pimpinan universitas dan khususnya jajaran LPPM Untirta atas kesempatan silaturahmi yang berharga ini. Forum ini bukan sekadar ruang berbagi teknis, melainkan jembatan kolaborasi untuk membangun ekosistem publikasi yang kuat. Transformasi tata kelola jurnal yang dilakukan Untirta melalui sistem satu pintu merupakan langkah strategis yang sangat tepat dalam menjawab tantangan globalisasi akademik,” ujar pakar manajemen perguruan tinggi tersebut.

Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Moderator, R. Ahmad Zaky El Islami, Ph.D., dalam sambutan pembukanya menggarisbawahi bahwa pengelola jurnal saat ini dituntut memiliki wawasan global. Zaky membeberkan rekam jejak pengelolaan jurnal di Untirta yang sempat menghadapi berbagai kendala teknis serius, seperti serangan siber pada sistem Open Journal Systems (OJS), hilangnya berkas PDF artikel, hingga karut-marutnya situs web jurnal yang ganda.

Namun, berkat komitmen bersama, Untirta berhasil melakukan pembenahan besar-besaran lewat penyatuan situs web, pengelolaan DOI yang tertib, hingga penguatan akreditasi. Upaya tersebut membuahkan hasil signifikan dengan melonjaknya jumlah jurnal terakreditasi di Untirta, dari yang semula hanya 33 jurnal pada tahun 2023 menjadi 59 jurnal pada tahun berikutnya.

Langkah akselerasi ini didukung penuh oleh Ketua LPPM Untirta, Prof. Dr. Meutia, S.E., M.P. Ia menjelaskan bahwa lompatan performa jurnal Untirta sejak 2023 tidak hanya terlihat dari kenaikan peringkat Sinta, melainkan juga keberhasilan melahirkan dua jurnal internasional bereputasi. Untuk mempercepat internasionalisasi, Prof. Meutia mendorong pemanfaatan skema *book chapter* terindeks Scopus yang dinilai lebih adaptif untuk mengonversi karya ilmiah mahasiswa, seperti skripsi, tesis, dan disertasi di tingkat fakultas.

Dari sisi akuntabilitas tata kelola finansial, Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum, Prof. Dr.-Ing. Ir. Asep Ridwan, mengingatkan bahwa reputasi kampus sangat dipengaruhi oleh transparansi manajerialnya. Oleh karena itu, keuangan pengelolaan jurnal kini diwajibkan menggunakan sistem satu pintu melalui virtual account khusus. Mekanisme ini memastikan seluruh pendapatan jurnal tercatat rapi sebagai bagian dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) universitas. Prof. Asep juga mengingatkan agar sistem pengupahan pengelola disesuaikan dengan regulasi remunerasi yang berlaku demi tertib administrasi.

Menutup rangkaian arahan, Wakil Rektor Bidang Akademik Untirta, Dr. Rusmana, Ir., MP., menegaskan bahwa standardisasi adalah kunci utama dalam mengelola 77 jurnal yang ada di bawah naungan Untirta. Guna memastikan program ini berjalan berkelanjutan, pihak rektorat mendorong pembentukan pusat koordinasi jurnal yang komprehensif.

Pusat koordinasi tersebut nantinya akan bertanggung jawab penuh dalam memberikan pelatihan berkala, monitoring, pendampingan akreditasi, serta menyediakan tim dukungan profesional yang terdiri atas managing editor, copy editor, proofreader, hingga IT support. Dr.

Rusmana meminta seluruh pengelola jurnal menyeragamkan platform operasional mereka, mulai dari penggunaan template artikel, kebijakan plagiarisme, hingga ketepatan jadwal terbit. Evaluasi berkala akan dipantau langsung melalui dashboard monitoring* guna memastikan seluruh jurnal Untirta sukses menembus indeksasi internasional bereputasi seperti Scopus dan Web of Science (WoS).

IMG-20260520-WA0020

Sinergi Nasional: IAI Rawa Aopa Penuhi Undangan Kemitraan dengan Untirta Banten

Rawaaopakonsel.ac.id, Serang – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus melebarkan sayap kemitraan akademiknya di tingkat nasional. Memenuhi undangan resmi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), jajaran pimpinan IAI Rawa Aopa menyambangi kampus Untirta di Banten untuk merintis kolaborasi strategis dalam bidang tri dharma perguruan tinggi, Rabu (20/5/2026).

Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi kedua institusi untuk menyatukan visi dalam pengembangan riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat yang berdampak luas. Langkah taktis ini diambil sebagai bagian dari komitmen IAI Rawa Aopa untuk mempercepat peningkatan mutu kelembagaan dan daya saing dosen. Penjajakan kerja sama dengan Untirta, yang dikenal memiliki rekam jejak kuat dalam publikasi ilmiah dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal, diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam tata kelola riset di Konawe Selatan.

Kehadiran pimpinan IAI Rawa Aopa disambut hangat oleh jajaran pengelola LPPM Untirta, yang juga menyatakan keterbukaannya untuk saling berbagi praktik baik (best practices) interdisipliner. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan peletakan batu pertama bagi rangkaian program kerja bersama yang konkret.

Beliau menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas undangan kerja sama ini dan melihat potensi besar yang bisa digarap bersama. “Kehadiran kami di Untirta Banten hari ini adalah langkah nyata untuk membuka ruang-ruang bertumbuh bagi dosen dan peneliti dari kedua belah pihak melalui sinergi yang inklusif,” ujar Ismail saat memberikan sambutan dalam pertemuan tersebut.

Lebih lanjut, Ismail Suardi Wekke menjelaskan bahwa dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi masa kini, universitas tidak lagi bisa bergerak secara terisolasi. Kolaborasi antarwilayah menjadi kunci utama untuk melahirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Beliau menyatakan secara tidak langsung bahwa integrasi keilmuan berbasis riset komparatif antara wilayah barat dan timur Indonesia akan memberikan pemahaman yang lebih kaya mengenai penyelesaian masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan di tingkat regional.

Dalam sesi diskusi yang berlangsung dinamis, Ismail juga menyoroti pentingnya akselerasi tata kelola riset institusi yang berbasis pada penguatan ekosistem digital dan peningkatan visibilitas global peneliti. Upaya ini dinilai sangat krusial agar hasil-hasil penelitian dari daerah, seperti Konawe Selatan, dapat diakses dan diakui di panggung internasional. “Kami berkomitmen untuk langsung menindaklanjuti pertemuan ini ke dalam draf nota kesepahaman formal, sehingga kolaborasi riset interdisipliner dan publikasi bersama bisa segera kita eksekusi dalam waktu dekat,” tegas Ismail di hadapan para forum ilmiah tersebut.

Terkait dengan pengembangan sumber daya manusia, Ismail Suardi Wekke juga menggarisbawahi bahwa kemitraan strategis dengan institusi mapan seperti Untirta akan mempercepat peningkatan kapasitas manajerial institusi serta mutu akademik secara berkelanjutan. Beliau menambahkan bahwa skema pertukaran pemikiran, pendampingan jurnal, serta kolaborasi pengabdian masyarakat akan menjadi program prioritas yang segera dirumuskan.

Melalui kerja sama ini, diharapkan dosen-dosen dari IAI Rawa Aopa dapat berkolaborasi langsung dengan para peneliti Untirta untuk melahirkan kajian-kajian yang aplikatif. Pertemuan diakhiri dengan komitmen bersama untuk segera membentuk tim kecil guna menyusun dokumen Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA).

Ismail Suardi Wekke menutup pernyataannya dengan menekankan optimisme tinggi bahwa kolaborasi lintas pulau ini akan memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan bangsa lewat jalur pendidikan. “Sinergi ini adalah jembatan akademik yang akan menghubungkan potensi lokal Konawe Selatan dengan keahlian riset Untirta, demi melahirkan inovasi pengabdian yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkas Ismail.

IMG_20260520_105040

IAI Rawa Aopa dan SEAAM Mempertahankan Kolaborasi Asia Tenggara

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Dinamika politik di kawasan Asia Tenggara kembali menghangat menyusul ancaman Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, untuk membubarkan parlemen demi mengatasi keretakan koalisi pemerintahannya. Menanggapi situasi regional yang dinamis ini, Komite Saintifik Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM), Ismail Suardi Wekke, memberikan pandangan strategisnya langsung dari Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ismail menegaskan bahwa ketidakpastian politik di tingkat negara justru menjadi momentum bagi SEAAM untuk hadir sebagai jangkar stabilitas melalui jalur keilmuan. Saat ini, SEAAM tengah bersiap mengambil langkah besar dengan mentransformasikan diri menjadi badan hukum resmi berbentuk perkumpulan. Langkah ini diambil untuk memberikan payung hukum yang lebih solid, profesional, dan berkelanjutan bagi seluruh anggotanya.

Dalam pernyataan resminya di Jakarta, Ismail Suardi Wekke menggarisbawahi bahwa keterlibatan dalam komunitas internasional seperti SEAAM bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keperluan mutlak bagi institusi pendidikan tinggi. Terutama dalam upaya program studi (prodi) dan universitas untuk meraih serta mempertahankan akreditasi dengan status Unggul.

“Status ‘Unggul’ bagi sebuah program studi maupun perguruan tinggi tidak akan bisa dicapai tanpa adanya rekognisi dan jejaring internasional yang aktif. Komunitas internasional seperti SEAAM menyediakan ekosistem pendukung melalui riset kolaboratif, publikasi bersama, hingga mobilitas dosen dan mahasiswa lintas negara. Dengan wadah legal perkumpulan yang sedang kita siapkan, akselerasi menuju status unggul ini akan semakin memiliki fondasi yang kuat,” ujar Ismail Suardi Wekke di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Pernyataan ini mencuat di tengah perhatian publik terhadap situasi politik Malaysia. Ancaman pembubaran parlemen oleh PM Anwar Ibrahim dipicu oleh ketegangan internal, di mana Barisan Nasional (BN) Johor memutuskan bertanding secara independen pada pemilu negara bagian mendatang. Selain itu, penarikan dukungan dari anggota dewan UMNO di Negeri Sembilan terhadap Menteri Besar Datuk Seri Aminuddin Harun kian memperkeruh suasana.

Tantangan bagi PM Anwar bertambah berat menyusul mundurnya dua mantan menteri, Rafizi Ramli dan Nik Nazmi Nik Ahmad, dari kursi parlemen dan partai PKR untuk mengambil alih kepengurusan partai baru. Spekulasi mengenai pemilu dini di Malaysia pun kini merebak luas.

Menghadapi situasi di atas, Komite Saintifik SEAAM merumuskan langkah taktis agar jaringan akademik tetap solid sekaligus mampu mendongkrak mutu perguruan tinggi mitranya:

Institusionalisasi Wadah (Legalitas): Mengubah bentuk gerakan mobilitas menjadi perkumpulan berbadan hukum resmi untuk mempermudah kemitraan formal dan pengakuan internasional yang diperlukan dalam borang akreditasi kampus.

Fasilitator Rekognisi Internasional: Menjadi jembatan bagi dosen-dosen lokal untuk bertindak sebagai visiting professor, reviewer jurnal internasional, atau pembicara kunci (keynote speaker) di tingkat regional.

Independensi dan Ketahanan Akademik: Memastikan fokus riset dan kerja sama tetap berjalan secara objektif dan netral dari intervensi politik praktis di kawasan ASEAN.

Melalui wadah hukum yang baru, SEAAM berkomitmen tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya para peneliti, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi perguruan tinggi di Asia Tenggara dalam mencetak generasi emas melalui prodi-prodi berstatus Unggul.

Screenshot_2026_0518_231509

Akselerasi Mutu Akademik, IAI Rawa Aopa Gelar International Young Scholar Symposium

Rawaaopakonsel.ac.id, Kendari – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus melebarkan sayap akademiknya di kancah internasional. Kali ini, perguruan tinggi tersebut resmi menjalin kerja sama strategis dengan SATU University, yang merupakan bagian dari jaringan BINUS Higher Education, untuk menyelenggarakan perhelatan ilmiah bertajuk International Young Scholar Symposium on Accountancy, Management, and Business (IYSSAMB).

Kolaborasi ini dirancang untuk menjadi wadah bagi para peneliti muda, akademisi, dan praktisi dalam mendiseminasikan inovasi serta gagasan mutakhir di bidang akuntansi, manajemen, dan bisnis. “Terima kasih kepada SATU University atas kesediaan menjalin kolaborasi,” kata Ismail Suardi Wekke di Jakarta, Senin (18/5/2026), usai mengikuti kegiatan Workshop Tri Dharma yang dilaksanakan Sakinah Finance.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan bahwa kemitraan ini merupakan langkah nyata institusi dalam membangun ekosistem akademik yang tangguh dan adaptif terhadap perkembangan global. Melalui simposium ini, kedua institusi berkomitmen untuk mendorong kualitas riset yang berdampak langsung pada masyarakat sekaligus memperkuat posisi tawar mahasiswa serta dosen di tingkat internasional.

Informasi resmi mengenai rekam jejak dan program-program institusi juga dapat diakses lebih lanjut melalui laman resmi kampus. Dalam keterangannya, Ismail Suardi Wekke menyampaikan pandangan mendalam mengenai urgensi dan arah dari pelaksanaan agenda internasional ini.

“Simposium ini selain sebagai sebuah forum akademik biasa, juga sebuah jembatan emas bagi para sarjana muda untuk menguji gagasan mereka di hadapan komunitas global,” ujar Ismail saat memberikan keterangan pers terkait persiapan acara.

Lebih lanjut, beliau juga menggarisbawahi pentingnya aliansi strategis dengan institusi mapan. Ismail menyatakan bahwa kerja sama dengan SATU University sebagai bagian dari BINUS Higher Education adalah momentum krusial untuk mengadopsi tata kelola serta standar akademik yang berorientasi mutu tinggi.

Di akhir penjelasannya, beliau menekankan dampak jangka panjang dari kegiatan ini terhadap institusi. “Kami ingin memastikan bahwa setiap kolaborasi yang dijalin IAI Rawa Aopa senantiasa bermuara pada peningkatan kapasitas SDM dan pencapaian akreditasi yang unggul,” tegas Ismail.

Di samping itu, Ismail Suardi Wekke secara tidak langsung memaparkan bahwa sinergi ini merefleksikan keseriusan kampus dalam mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang bisnis dan manajemen modern. Beliau juga menambahkan bahwa keterlibatan aktif para peneliti muda dalam simposium internasional akan membuka peluang kolaborasi riset lintas negara yang lebih luas di masa depan.

Menurutnya, akselerasi reputasi institusi hanya bisa dicapai melalui konsistensi dalam menyelenggarakan forum-forum ilmiah bermutu yang melibatkan jejaring perguruan tinggi terkemuka. Kehadiran SATU University dalam kemitraan ini membawa angin segar bagi penguatan atmosfer akademik di Sulawesi Tenggara.

Dengan reputasi besar yang dimiliki BINUS Higher Education, simposium ini diharapkan mampu menarik minat ratusan peserta dari berbagai negara. Fokus utama kegiatan akan diarahkan pada transformasi digital dalam bisnis, tantangan manajemen keberlanjutan, serta adaptasi ilmu akuntansi di era kecerdasan buatan, yang semuanya akan dibahas secara komprehensif dalam sesi paralel simposium.

SATU University (ISW)

Annoucement International Young Scholar Symposium on Accountancy, Management, and Business, Bandung-Andoolo; (3-5 June) 2026

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – We are pleased to announce the International Young Scholar Symposium on Accountancy, Management, and Business. This prestigious global event brings together bright minds to share innovative research and insights.

Introduction

The International Young Scholar Symposium on Accountancy, Management, and Business is officially open for registration. This prestigious event brings together bright minds to share innovative research and insights.

A Premier Platform for Young Scholar

This symposium serves as an inspiring arena for university students and young scientists to showcase their brilliant ideas. It offers a dedicated space for the next generation of researchers to present their latest findings.

Event Details

The symposium will be hosted concurrently across two distinct locations. Sessions will take place in the vibrant cities of Bandung and Andoolo.

Conclusion: The Position of the Symposium

First and foremost, this symposium functions as a catalyst for knowledge dissemination and intellectual growth. It allows participants to exchange critical feedback and refine their research methodologies.

Additionally, the event acts as a powerful networking bridge connecting global peers and experienced mentors. These interactions help bridge the gap between academic theory and real-world business practices.

Ultimately, the symposium serves to inspire sustainable solutions for future global economic challenges. It empowers young leaders to drive meaningful change through evidence-based research.

Screenshot_2026_0518_195543

Integrasikan Riset dan Pengabdian, IAI Rawa Aopa dan Mitra Inisiasi Forum ICLASH 2026

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Gelaran akademik berskala internasional siap dihelat pada akhir tahun ini. International Conference on Law, Accountability, Sustainability, and Halal (ICLASH) secara resmi diumumkan akan berlangsung pada 14 hingga 16 October 2026. Konferensi ini bakal diselenggarakan di dua kota sekaligus, yakni Turikale yang merupakan ibu kota Kabupaten Maros, dan Andoolo sebagai ibu kota Kabupaten Konawe Selatan.

Sebagai teknis kegiatan, penyelenggaraan forum ilmiah ini bukan sebatas pada ruang diskusi akademik, juga diintegrasikan secara langsung dengan berbagai program pengabdian kepada masyarakat demi memberikan dampak nyata bagi penduduk lokal. Tahun ini, ICLASH mengusung tema besar “Synergizing Law, Accountability, and Sustainable Innovation for a Resilient Global Halal Ecosystem.”

Fokus utama dari perhelatan ini adalah membangun fondasi industri halal yang lebih kuat di kancah global. Seluruh peserta yang hadir akan membedah bagaimana kerangka hukum dapat menyokong pertumbuhan yang berkelanjutan, sekaligus mengeksplorasi ragam inovasi baru di bidang akuntabilitas. Melalui setiap sesi yang dijadwalkan, konferensi ini ditargetkan mampu melahirkan solusi-solusi praktis dalam menjawab tantangan global saat ini.

Keberhasilan proyek akademik ini merupakan buah dari kolaborasi erat antara empat institusi besar. ICLASH 2026 diprakarsai secara bersama oleh Institut Agama Islam Darul Dakwah Wal Irsyad (IAI DDI) Maros dan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan. Perhelatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Dewan Pendidikan Kabupaten Maros serta Universitas Muhammadiyah Barru yang bertindak sebagai mitra penyelenggara.

Guna menjangkau partisipasi yang lebih luas, panitia menerapkan format hibrida (hybrid). Sistem ini memungkinkan para presenter dan peserta untuk bergabung secara daring, sehingga jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi peminat dari luar Maros dan Andoolo. Format ini menawarkan platform jejaring global yang aman untuk berbagi riset terbaru, menghadiri pidato utama, serta terlibat dalam diskusi interaktif dari mana saja.

Pihak panitia kini telah resmi membuka pendaftaran bagi para presenter maupun peserta umum. Menariknya, agenda tahun ini juga menghadirkan sesi khusus bertajuk Young Scholar Symposium on Law, Accountability, Sustainability, and Halal. Sesi ini dirancang khusus untuk memberikan panggung internasional bagi para ilmuwan dan peneliti muda guna mempresentasikan gagasan-gagasan segar mereka.

Co-chair ICLASH 2026, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa integrasi pengabdian masyarakat dalam konferensi ini menjadi pembeda utama dari gelaran serupa lainnya. Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan ini menegaskan komitmen institusinya dalam mendorong hilirisasi riset ke tengah masyarakat.

“Kami ingin memastikan bahwa ICLASH 2026 menjadi menara air dan bukan lagid engan gaya menara gading, tetapi menjadi katalisator perubahan yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat di Maros dan Konawe Selatan,” ujar Ismail Suardi Wekke saat memberikan keterangan terkait dengan persiapan kegiatan.

“Kami sampaikan terima kasih kepada mitra-mitra yang pada inisiasi awal telah bergabung dan menjadi pemrakarsa bersama kegiatan ini. IAI DDI Maros dan Universitas Islam Ahmad Dahlan Sinjai, sehingga sampai sekarang tetap dapat berlangsung,” ungkap Ismail terkait dengan gagasan pelaksanaan kegiatan.

Lebih lanjut, Ismail Suardi Wekke menjelaskan bahwa pemilihan format hibrida didasari oleh keinginan untuk menyatukan pemikiran global demi penguatan ekosistem halal lokal. Beliau menyampaikan bahwa kombinasi kehadiran fisik di daerah dan akses digital internasional akan memperkaya perspektif solusi yang dihasilkan selama tiga hari perhelatan.

“Format hibrida sengaja kami pilih untuk meruntuhkan batasan geografis, sehingga pakar dunia bisa berdiskusi langsung dengan praktisi lokal mengenai masa depan industri halal kita,” tutur Ismail Suardi Wekke.

Terkait dengan pelibatan peneliti muda, Ismail Suardi Wekke menekankan pentingnya regenerasi akademisi di bidang hukum dan ekosistem halal. Beliau menuturkan bahwa simposium khusus pemuda sengaja disiapkan agar pemikiran-pemikiran inovatif dari generasi baru mendapat panggung yang layak di level internasional.

“Melalui Young Scholar Symposium, kami membuka pintu lebar-lebar bagi peneliti muda untuk menunjukkan taji dan menyumbang ide segar demi ketahanan ekosistem halal global,” tegas Ismail Suardi Wekke.