Expo Desa (ISW)

Expo Desa Hasil KKA di Seminar Indonesia-Filipina

Kkabuletin.rawaaopakonsel.ac.id, Dumagete — Semarak kolaborasi lintas negara mewarnai gedung Dumagete pada Selasa Sore sampai malam (25 Agustus 2026). Dalam forum Seminar Internasional Indonesia-Filipina, gelaran Expo Desa Hasil Kuliah Kerja Akademik (KKA) mencuri perhatian para delegasi akademisi, praktisi pembangunan, serta pejabat kedua negara.

Pameran yang menampilkan ragam inovasi dan produk unggulan hasil pemberdayaan masyarakat desa ini menjadi etalase nyata bagaimana sentuhan akademis mampu menggerakkan roda ekonomi akar rumput. Berbagai produk lokal, mulai dari olahan pangan bernilai tambah hingga kerajinan tangan ramah lingkungan, dipajang apik di bilik-bilik stan pameran.

Ketua Panitia Seminar menyebutkan bahwa kehaidran KKA bukan sebagai agenda strategis akademik, juga laboratorium sosial di mana mahasiswa dan warga desa merajut solusi atas persoalan nyata. “Desa bukan lagi objek, melainkan subjek utama pembangunan. Melalui KKA, potensi terpendam di perdesaan digali dan diangkat ke panggung global,” ujarnya di sela-sela peninjauan stan.

Sejumlah delegasi asal Filipina tampak antusias mendiskusikan model pemberdayaan yang diterapkan di desa-desa binaan Indonesia. Mereka menilai pendekatan partisipatif yang diusung dalam KKA memiliki kemiripan tantangan dengan wilayah perdesaan di Filipina, sehingga membuka peluang besar untuk pertukaran pengetahuan (knowledge sharing) di masa mendatang.

Expo (ISW)

Expo Desa Sulawesi Tenggara dalam Seminar Indonesia-Filipina

Rawaaopakonsel.ac.id, Manila – Expo Desa Sulawesi Tenggara hadir sebagai etalase strategis dalam rangkaian Seminar Internasional Indonesia-Filipina. Ajang ini dirancang khusus untuk memamerkan inovasi, kekayaan komoditas unggulan, dan kearifan lokal perdesaan dari jazirah tenggara Sulawesi. Melalui integrasi acara akademik dan pameran aplikatif, kegiatan ini menjadi wadah konkret dalam menjembatani potensi akar rumput dengan jejaring regional Asia Tenggara.

Beragam stan pameran menampilkan produk olahan pertanian, perkebunan, perikanan, serta kerajinan tangan khas komunitas desa. Para pelaku usaha desa dan inovator lokal memperlihatkan kemampuan adaptasi teknologi sederhana guna meningkatkan nilai tambah produk. Kehadiran komoditas unggulan seperti mete, kakao, rempah, dan tenun tradisional menegaskan bahwa ekonomi perdesaan Sulawesi Tenggara memiliki daya saing tinggi untuk memenuhi standar pasar yang lebih luas.

Bagi delegasi Filipina, expo ini menyajikan ruang dialog langsung mengenai praktik baik pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sumber daya berbasis komunitas. Kesamaan karakteristik geografis, agroklimat, dan tantangan perdesaan kepulauan antara Indonesia Timur dan Filipina Selatan menjadikan pertukaran gagasan di area pameran berlangsung dinamis. Diskusi informal di setiap stan membuka wawasan mengenai kemiripan pola produksi dan potensi kolaborasi lintas batas.

Lebih dari sekadar pameran produk, expo ini juga mempertemukan para akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi pembangunan daerah. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian memanfaatkan momentum ini untuk mengkaji model hilirisasi riset desa serta pengabdian masyarakat. Sinergi antara temuan ilmiah di ruang seminar dan bukti empiris di lantai pameran memperkuat komitmen bersama dalam mendorong pembangunan perdesaan yang inklusif dan berkelanjutan.

Penyelenggaraan Expo Desa Sulawesi Tenggara pada forum bilateral ini menandai langkah penting menuju kemitraan transnasional yang lebih produktif. Melalui inisiatif ini, desa tidak lagi diposisikan sebagai objek pasif, melainkan sebagai pusat inovasi dan ketahanan ekonomi yang mandiri. Kegiatan ini meletakkan fondasi kokoh bagi kerja sama masa depan antara Indonesia dan Filipina dalam bidang transfer pengetahuan, pengembangan ekonomi lokal, dan jejaring mobilitas masyarakat.