Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan bekerja sama dengan Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) memulai rangkaian acara Southeast Asia Academic Forum on Sustainable Integrated Development (SEA-AFSID). Agenda besar berskala internasional ini dijadwalkan berlangsung secara maraton di 17 kota yang tersebar di 8 negara kawasan Asia Tenggara, sebagai upaya memperkuat sinergi akademik dan pembangunan berkelanjutan di wilayah tersebut.
Dimulai pada Kamis, 23 April s.d. Kamis, 7 Mei 2026. Berlangsung hybrid dengan kemitraan perguruan tinggi dari 8 negara. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke yang juga Komite Saintifik SEA-AFSID, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis kampus untuk menembus batas-batas lokal menuju panggung dunia.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan di 17 titik berbeda tersebut bertujuan untuk memotret beragam persoalan pembangunan secara langsung di lapangan serta membangun jejaring peneliti antarnegara yang lebih solid. “Ini merupakan adaptasi dari pasca pandemi, sehingga keikutsertaan bisa lebih luas dan juga mendapatkan kontribusi secara luas,” papar Ismail Suardi Wekke yang menjelaskan bahwa SEA-AFSID telah dilaksanakan sejak 2017 di Jambi.
Lebih lanjut, Ismail menekankan bahwa IAI Rawa Aopa berkomitmen penuh dalam memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat luas melalui forum internasional ini. “Kegiatan ini merupakan ikhtiar kolektif kami untuk memastikan bahwa kampus-kampus di daerah memiliki daya saing global melalui kolaborasi lintas negara yang konkret,” ujar Ismail Suardi Wekke saat ditemui di sela-sela persiapan pembukaan acara.
Ismail juga menambahkan pentingnya integrasi riset dalam setiap sesi yang digelar di berbagai kota tersebut agar hasil pemikiran akademisi dapat diaplikasikan secara praktis. “Kami sengaja memilih 17 kota agar perspektif yang dihasilkan tidak terpusat pada satu wilayah saja, melainkan mencakup keragaman dinamika sosial dan ekonomi di Asia Tenggara dan Asia,” ungkapnya.
Menutup keterangannya, Ismail menegaskan bahwa sinergi dengan SEAAM adalah kunci dalam memperluas jangkauan publikasi dan mobilitas dosen maupun mahasiswa di masa depan. “SEA-AFSID bukan sekadar seremonial, melainkan jembatan bagi IAI Rawa Aopa untuk terlibat aktif dalam merumuskan solusi atas tantangan integrasi pembangunan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Rangkaian SEA-AFSID ini diharapkan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekosistem akademik yang lebih dinamis di Asia Tenggara. Dengan keterlibatan delapan negara, forum ini diproyeksikan akan menghasilkan berbagai kesepakatan strategis dan publikasi ilmiah yang akan menjadi rujukan dalam kebijakan pembangunan terintegrasi di kawasan tersebut.
