Pendidikan slam (ISW)

Menyongsong 67 Tahun AGH Prof Dr KH Nasaruddin Umar, Undangan Menulis Terkait Pendidikan Islam

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Menjelang capaian usia 67 tahun AGH Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A., dunia pendidikan Islam di Indonesia seakan diingatkan kembali pada sosok yang mampu menjembatani kedalaman tradisi pesantren dengan ketajaman analisis akademis modern. Beliau bukan sekadar tokoh agama, melainkan arsitek pemikiran yang gigih memperjuangkan moderasi dan inklusivitas. Melalui undangan menulis ini, kita diajak untuk merefleksikan bagaimana gagasan-gagasan beliau telah mewarnai kurikulum kehidupan, di mana nilai-nilai spiritualitas tidak pernah dipisahkan dari semangat kemajuan intelektual.

Pendidikan Islam dalam kacamata Prof. Nasaruddin Umar selalu menitikberatkan pada aspek humanisasi dan spiritualitas yang mendalam. Beliau sering menekankan bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga transformasi karakter (transformation of character). Di bawah kepemimpinan dan pengaruh pemikirannya, institusi pendidikan Islam didorong untuk melahirkan generasi yang tidak hanya mahir dalam ilmu tekstual keagamaan, tetapi juga peka terhadap realitas sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer.

Salah satu kontribusi monumental beliau yang patut diulas dalam tema pendidikan adalah pengarusutamaan kesetaraan gender dalam bingkai teologi Islam. Melalui karya-karya akademisnya, beliau membuktikan bahwa pendidikan Islam yang autentik adalah pendidikan yang membebaskan dan menghargai martabat setiap insan tanpa sekat gender. Bagi beliau, akses pendidikan yang merata adalah kunci untuk membangun peradaban Islam yang kuat, di mana perempuan dan laki-laki berdiri sejajar sebagai subjek pembangunan intelektual yang beradab.

Lebih lanjut, kiprah beliau di Masjid Istiqlal sebagai Imam Besar telah mengubah wajah rumah ibadah menjadi pusat pendidikan peradaban. Program-program pendidikan kader ulama yang beliau inisiasi mencerminkan visi tentang pentingnya mencetak pemimpin agama yang berwawasan global namun tetap mengakar pada tradisi luhur Nusantara. Di tangan beliau, pendidikan Islam tampil sebagai instrumen perdamaian, yang mampu menjawab tantangan radikalisme dengan pendekatan tasawuf yang menyejukkan dan dialog antarumat beragama yang konstruktif.

Menginjak usia 67 tahun, dedikasi AGH Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar tetap menjadi obor bagi para pendidik dan pencari ilmu di tanah air. Undangan menulis ini merupakan momentum bagi kita semua untuk mendokumentasikan jejak pemikiran beliau, sekaligus membedah relevansi metodologi pendidikan yang beliau tawarkan di era disrupsi digital ini. Semoga melalui refleksi karya ini, kita dapat terus merawat warisan intelektual beliau demi masa depan pendidikan Islam yang lebih mencerahkan, moderat, dan berdampak bagi kemanusiaan universal.

Editor
Muhammad AKbar
Ismail Suardi Wekke