IMG-20260709-WA0020

YASDIC IMMIM Lantik Direktur dan Pimpinan Baru IMMIM Putri Minasatene, IAI Rawa Aopa Sampaikan Selamat Bekerja

Rawaaopakonsel.ac.id, Pangkep – Ketua YASDIC IMMIMt, Dr. Hj. Nur Fadjri Fadeli Luran, S.P., M.Pd., melantik Prof. Dr. Muzdalifah Muhammadong, M.Ag., sebagai Direktur Pondok Pesantren Pendidikan Al-Qur’an (PPA) IMMIM Putri Minasatene, Kabupaten Pangkep, Rabu (8/7/2026). Pada momen yang sama, turut dilantik Wakil Direktur dan Sekretaris Pondok Pesantren sebagai bagian dari penguatan struktur kepemimpinan lembaga untuk masa bakti 20262031.

Pelantikan ini menjadi momentum dalam keberlanjutan dan pengembangan PPA IMMIM Putri Minasatene. Pergantian kepemimpinan tersebut diharapkan dapat semakin memperkuat tata kelola pesantren, sekaligus mendongkrak kualitas penyelenggaraan pendidikan, pembinaan santri, serta pengembangan kelembagaan di bawah naungan YASDIC IMMIM.

Prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri langsung oleh jajaran pengurus YASDIC IMMIM Pusat, YASDIC IMMIM Cabang Pangkep, pimpinan pondok pesantren, serta sejumlah tamu undangan. Beberapa tokoh penting yang hadir di antaranya adalah Ketua YASDIC IMMIM Pusat Dr. Hj. Nur Fadjri Fadeli Luran, S.P., M.Pd., Direktur Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep yang baru dilantik Prof. Dr. Muzdalifah Muhammadong, M.Ag., Wakil Ketua YASDIC IMMIM Pangkep Drs. H.M. Rasyid Usman, Wakil Direktur Ponpes Modern Putri IMMIM H. Najmuddin Beta, Lc., serta Ketua YASDIC IMMIM Cabang Pangkep Hj. Munjiyah Mayangsari Taufik.

Secara legalitas formal, pelantikan ini dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan YASDIC IMMIM Nomor 46/YASDIC-IMMIM/VII/2026 tentang Pengangkatan Direktur Pondok Pesantren Pendidikan Al-Qur’an IMMIM Putri Minasatene Pangkep Masa Bakti 2026–2031. Keputusan tersebut menjadi landasan hukum utama bagi jajaran kepemimpinan baru dalam menjalankan roda organisasi dan manajemen pesantren selama lima tahun ke depan.

Dengan nakhoda baru ini, PPA IMMIM Putri Minasatene diharapkan mampu terus mengintegrasikan sistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa sedikit pun mereduksi nilai-nilai Al-Qur’an dan ajaran Islam. Upaya penguatan mutu akademik, pembinaan karakter, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia akan menjadi prioritas kerja demi mewujudkan pesantren yang unggul, modern, dan berdaya saing tinggi.

Lebih dari sekadar agenda seremonial, pelantikan ini menandai komitmen kuat YASDIC IMMIM dalam memastikan kesinambungan kepemimpinan dan tata kelola kelembagaan yang profesional. Melalui sinergi yang solid antara yayasan, pimpinan pesantren, tenaga pendidik, dan seluruh elemen terkait, PPA IMMIM Putri Minasatene diproyeksikan dapat terus memberikan kontribusi nyata dalam mencetak generasi muslimah yang berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki kapasitas kepemimpinan mumpuni untuk menghadapi tantangan masa depan.

Sehubungan dengan pelantikan itu, Ismail Suardi Wekke, Wakil Rektor Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan menyampaikan selamat. Ismail juga mengemukakan potensi kemitraan diantara kedua institusi.

“Selain menyampaikan selamat disertai doa semoga tetap sehat dalam menjalankan tugas, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan berkomitmen menjadi bagian dalam peningkatan mutu Pendidikan Islam,” Kata Ismail Suardi Wekke yang juga alumni Pesantren IMMIM Putra.

Menutup pernyataannya Ismail menegaskan bahwa IAI Rawa Aopa Konawe Selatan juga menjalankan program Women in Education. “Ini boleh menjadi platform bersama seluruh institusi Pendidikan Islam, termasuk pesantren dan perguruan tinggi,” pungkas Ismail.

IMG-20260708-WA0070

Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Hadiri Promosi Doktor di UIII Guna Perluas Kemitraan

Rawaaopakonsel.ac.id, Depok – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus berkomitmen memperluas jejaring dan memperkuat tata kelola kelembagaan melalui sinergi antar-perguruan tinggi. Langkah strategis ini ditunjukkan langsung oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., yang menghadiri sidang promosi doktor di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Selasa ( 7/7/2026).

Kehadiran ini sekaligus menjadi momentum penting dalam menjajaki perluasan kerja sama dengan UIII. Ismail Suardi Wekke menyampaikan bahwa kehadiran pimpinan IAI Rawa Aopa dalam forum akademik berskala internasional seperti di UIII merupakan bagian dari ikhtiar institusi untuk menyerap energi akademik serta mempererat hubungan kelembagaan dengan berbagai kampus top tanah air, termasuk UIII.

Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin ilmu kini sudah menjadi keharusan bagi kampus berkembang di daerah. “Kehadiran kami di sini bukan sekadar menghadiri seremonial akademik, melainkan sebuah langkah nyata untuk merajut kemitraan yang lebih erat dengan UIII demi penguatan mutu kelembagaan kami di Sulawesi Tenggara,” ujar Ismail di sela-sela acara promosi doktor tersebut.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa salah satu fokus utama dari rencana perluasan kerja sama dengan UIII adalah pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan pemanfaatan teknologi untuk tata kelola kampus. Ia menilai bahwa UIII memiliki keunggulan yang sangat besar dalam inovasi teknologi, yang dapat diadaptasi oleh IAI Rawa Aopa dalam mewujudkan ekosistem kampus berbasis knowledge management.

Ia menambahkan bahwa transformasi kampus era digital memerlukan sentuhan transdisipliner, di mana nilai-nilai keagamaan dan sosial yang menjadi basis IAI Rawa Aopa dapat bersinergi dengan pendekatan sains dan teknologi yang dimiliki oleh ITB. Melalui perluasan kerja sama ini, diharapkan akan ada transfer pengetahuan, joint research, maupun penguatan tata kelola kepegawaian dan keuangan yang lebih modern.

“Kami melihat ruang kolaborasi yang sangat terbuka lebar, terutama dalam hal adaptasi teknologi informasi dan peningkatan kapasitas dosen melalui program-program strategis bersama ITB ke depan,” kata Ismail optimis.

Sidang promosi doktor di UIII ini dihadiri oleh sejumlah tokoh akademisi terkemuka dari berbagai komputer nasional, yang sekaligus menjadi ruang diskusi informal bagi pimpinan antar-perguruan tinggi dalam membaca arah pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.
Menutup pernyataannya, Ismail menegaskan bahwa IAI Rawa Aopa Konawe Selatan tidak boleh berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan global, melainkan harus aktif menjemput bola dengan membangun penta-helix collaboration demi kemajuan daerah.

“Melalui kolaborasi erat bersama UIII dan jaringan siber akademik yang inklusif, kami optimistis IAI Rawa Aopa akan bertransformasi menjadi pusat inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

IMG-20260706-WA0057

Gelar ASEAN Symposium on Higher Education di Jakarta-Bandung, SEAAM Sinergikan Kemlu RI dan Kampus Regional

Agenda.rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – South East Asia Academic Mobility (SEAAM) bersama Binus University mematangkan persiapan penyelenggaraan ASEAN Symposium on Higher Education yang dijadwalkan berlangsung pada 22–28 September 2026 mendatang di Jakarta-Bandung.

Sebagai bagian dari langkah strategis memperkuat muatan kebijakan dalam forum tersebut, SEAAM mulai membangun komunikasi intensif dengan pemangku kebijakan luar negeri.

Komite Saintifik SEAAM, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., melakukan kunjungan ke Kantor Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta pada Senin (6/7/2026). Kedatangan perwakilan SEAAM ini membawa agenda utama untuk mengundang Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kementerian Luar Negeri agar berkenan hadir dan memberikan pandangan strategisnya sebagai pembicara kunci dalam simposium bergengsi tersebut.

Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa kehadiran pengambil kebijakan luar negeri sangat krusial untuk memberikan arah baru bagi masa depan integrasi pendidikan di kawasan ASEAN. Kegiatan ini juga dilaksanakan sebagai implementasi kerjasama perguruan tinggi Indonesia dengan Universiti Kebangsaan Malaysia.

“Kami berharap Kepala BSKLN Kemlu RI dapat memaparkan arah kebijakan strategis regional, sehingga perguruan tinggi di Asia Tenggara mampu merespons tantangan global secara selaras,” ujar Ismail saat ditemui di gedung Kemlu RI, Jakarta, Senin (6/7/2026).

Usai pertemuan tersebut, Ismail juga menjelaskan bahwa simposium ini dirancang untuk tidak sekadar menjadi ajang diskusi akademik konvensional. Forum satu minggu di Bandung nanti akan diarahkan menjadi motor penggerak inovasi tata kelola dan mutu pendidikan tinggi di tingkat regional.

“ASEAN Symposium on Higher Education tahun ini dirancang sebagai platform dinamis yang mempertemukan pemikiran akademis dan praktisi kebijakan demi melahirkan peta jalan pendidikan tinggi yang adaptif,” lanjutnya.

Selain menggandeng Binus University sebagai mitra pelaksana utama di Indonesia, agenda internasional ini dipastikan akan memiliki daya jangkau yang lebih luas dengan keterlibatan aktif dari institusi mancanegara. SEAAM mengonfirmasi telah menjalin kemitraan erat dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) untuk memperkuat basis riset dan jaringan kolaborasi antarnegara selama simposium berlangsung.

Ismail menambahkan bahwa sinergi bilateral antara institusi Indonesia dan Malaysia dalam acara ini mencerminkan komitmen kuat untuk membangun ekosistem akademik yang inklusif di Asia Tenggara.

“Kolaborasi dengan Universiti Kebangsaan Malaysia mempertegas visi kami bahwa transformasi mutu pendidikan tinggi hanya bisa dicapai melalui kerja sama lintas batas yang konkret,” pungkas Ismail.

Melalui persiapan yang matang dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor pemerintahan dan universitas papan atas regional, ASEAN Symposium on Higher Education di Bandung diharapkan dapat melahirkan rekomendasi-rekomendasi taktis bagi perkembangan dunia akademik di kawasan Asia Tenggara.

IMG-20260705-WA0018

Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Hadiri Sidang Promosi Doktor Yusril Ihza Mahendra di Universitas Indonesia

Rawaaopakonsel.ac.id, Depok – Pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menghadiri sidang terbuka promosi doktor pakar hukum tata negara, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. Sidang yang berlangsung khidmat tersebut digelar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Kamis (2/7/2026).

Dalam sidang terbuka tersebut, Yusril Ihza Mahendra yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir tentang Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial”. Melalui karya ilmiah tersebut, ia mengkaji secara mendalam gagasan Mohammad Natsir mengenai konsep teistik demokrasi sebagai jalan tengah antara Islam dan sekulerisme.

Di bawah bimbingan Promotor Prof. Manneke Budiman, Ph.D., dan Co-Promotor Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum., Yusril dinyatakan lulus oleh tim penguji dan resmi menyandang gelar Doktor di bidang Ilmu Filsafat dengan predikat Sangat Memuaskan.

Kehadiran pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dalam forum akademik ini menegaskan komitmen institusi dalam mendukung pengembangan iklim akademik sekaligus memperkuat jaringan kelembagaan di tingkat nasional. Sidang promosi doktor ini turut dihadiri oleh deretan tokoh penting nasional, pejabat negara, serta tokoh lintas sektor. Di kursi undangan VIP tampak hadir sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga tinggi negara, politisi senior, hingga para pakar hukum kenamaan tanah air.

Kehadiran para tokoh ini merefleksikan besarnya atensi publik dan dunia akademik terhadap pemikiran filsafat politik yang diangkat dalam sidang tersebut. Tak hanya dari kalangan pemerintahan, atmosfer akademis di aula FIB UI juga diperkuat oleh kehadiran sejumlah kolega dan juga Keluarga Muhammad Natsir.

Selain pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, terlihat pula perwakilan akademisi dari universitas-universitas di Jakarta dan sekitarnya yang hadir untuk memberikan apresiasi sekaligus menyimak langsung perdebatan ilmiah dalam ruang sidang.

Suasana haru dan syukur menyelimuti ruangan saat keluarga besar Yusril Ihza Mahendra, termasuk kerabat dekat dan kolega setianya di jajaran Partai Bulan Bintang (PBB), turut menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan menyampaikan apresiasi yang mendalam atas pencapaian akademik tertinggi yang diraih oleh tokoh hukum nasional tersebut. Pemikiran dan rekam jejak Yusril dinilai dapat menjadi inspirasi besar bagi civitas akademika di Sulawesi Tenggara.

“Kehadiran kami di sini adalah bentuk penghormatan terhadap tradisi intelektual. Sosok pemikiran hukum dan filsafat politik di Indonesia sangat melekat pada beliau. Capaian ini diharapkan mampu memotivasi dunia pendidikan di daerah, termasuk di IAI Rawa Aopa, untuk terus melahirkan pemikir-pemikir besar,” ujar Pimpinan IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, di sela-sela jalannya acara.

Sebagaimana kita ketahui, Yusril Ihza Mahendra merupakan salah satu pemikir hukum tata negara berpengaruh di Indonesia pasca-Reformasi yang memiliki rekam jejak panjang di pemerintahan. Selain aktif di dunia politik dan pernah menduduki berbagai kursi menteri di beberapa era presiden, ia juga dikenal konsisten merawat karier akademiknya sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia, hingga kini berhasil melengkapi kepakarannya dengan meraih gelar doktor di bidang Ilmu Filsafat.

Selain menghadiri prosesi promosi doktor, momentum ini juga dimanfaatkan oleh pihak IAI Rawa Aopa Konawe Selatan untuk menyapa dan berdiskusi singkat dengan berbagai tokoh pendidikan dan keagamaan yang hadir. Langkah ini diharapkan dapat membuka jalan bagi kolaborasi tridarma perguruan tinggi yang lebih luas, termasuk peluang kuliah umum maupun pengembangan riset hukum dan humaniora di masa depan.

IMG-20260629-WA0032

Perkuat Integritas Akademik, LPPM IAI Rawa Aopa Sukses Gelar Workshop Bersama Turnitin

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan sukses menyelenggarakan workshop akademik berbasis digital, Senin (29/6/2026).

Acara yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting ini terlaksana berkat dukungan penuh dari platform deteksi plagiarisme global, Turnitin.

Agenda strategis ini dihadiri dari berbagai elemen. Tercatat, kegiatan tidak hanya diikuti oleh mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan jajaran pengurus yayasan internal, tetapi juga dihadiri oleh perwakilan civitas akademika lintas kampus. Kehadiran peserta dari berbagai institusi luar ini sekaligus menjadi wujud nyata implementasi kerja sama antar-perguruan tinggi yang diinisiasi oleh LPPM.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa agenda ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan institusi dalam menjaga mutu ilmiah. Beliau menekankan bahwa penanaman nilai kejujuran di lingkungan kampus tidak boleh berhenti pada tataran teori.

“Ini merupakan ikhtiar dalam mendukung integritas. Bagaimanapun integritas perlu diikhtiarkan, diimplementasikan, dan dijadikan sebagai nilai, bahkan tradisi,” tegas Ismail dalam acara tersebut yang bertindak selaku moderator.

Sejalan dengan hal tersebut, Ismail mengemukakan bahwa LPPM IAI Rawa Aopa senantiasa kolaborasi dengan institusi luar merupakan langkah taktis untuk mengakselerasi adaptasi teknologi digital dalam proses penjaminan mutu karya ilmiah.

Ismail di sela-sela acara menambahkan, “Kehadiran teknologi seperti Turnitin bukan untuk membatasi kreativitas, melainkan menjadi panduan agar karya ilmiah yang dilahirkan mahasiswa dan dosen kita benar-benar orisinal serta dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

Menanggapi animo peserta lintas kampus, Ismail menyebutkan bahwa kehadiran partisipan daring ini membuktikan besarnya kebutuhan akan standardisasi antiprosedur plagiat di era digital. Salah satu peserta yang mengikuti jalannya workshop secara penuh menuturkan.

“Kami sangat mengapresiasi partisipasi rekan-rekan dari lintas kampus yang hadir hari ini, karena upaya menjaga muruah akademik ini tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus kolektif,” ungkapnya.

Di sisi lain, materi yang disampaikan memberikan perspektif baru bagi para peserta. Perwakilan peserta dari kampus mitra mengungkapkan bahwa pemaparan dalam workshop ini memberikan pemahaman yang sangat aplikatif mengenai batasan plagiarisme dan teknik sitasi yang benar.

Apresiasi juga datang dari kalangan pengajar. Salah seorang dosen senior mengapresiasi inisiatif LPPM yang menggandeng Turnitin karena menurutnya sistem pelacakan ini sangat membantu proses bimbingan.

“Melalui sistem ini, proses verifikasi tugas akhir mahasiswa menjadi jauh lebih objektif dan transparan,” ujarnya.

Melalui suksesnya workshop virtual ini, LPPM IAI Rawa Aopa Konawe Selatan berharap pemanfaatan Turnitin dapat dioptimalkan secara menyeluruh oleh seluruh civitas akademika, sekaligus menjadi motor penggerak lahirnya generasi peneliti yang menjunjung tinggi etika penulisan ilmiah.

IMG-20260628-WA0003

Jelang ICOSBE 2026, Binus Business School Siap Gelar Pre-Conference Workshop di Kampus Anggrek

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Menjelang perhelatan The 3rd International Conference on Sustainable Business and Entrepreneurship (ICOSBE) 2026, Binus Business School (BBS) bergerak cepat mematangkan persiapan. Sebagai langkah awal, BBS dijadwalkan akan menggelar Pre-Conference Workshop pada 14 Juli 2026 mendatang yang dipusatkan di Kampus Anggrek, Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Forum ilmiah ini diproyeksikan menjadi wadah strategis bagi para akademisi dan peneliti untuk memperdalam metodologi serta strategi publikasi global sebelum konferensi utama dimulai. Research Coordinator Binus Business School, Sambudi Hamali, menegaskan di Jakarta, Sabtu (27/6/2026) bahwa lokakarya ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari ekosistem konferensi tahunan tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini dirancang khusus untuk memberikan fondasi yang kuat bagi para peserta agar artikel ilmiah mereka mampu menembus standar global. “Sebuah rangkaian dengan kegiatan ICOSBE 2026,” kata Sambudi di Jakarta, di sela-sela konsinyering publikasi ICOSBE.

“Kami ingin memastikan bahwa ICOSBE bukan sekadar wadah presentasi, melainkan ruang inkubasi riset yang berdampak luas,” ujar Sambudi saat memberikan keterangan pada media.

Lebih lanjut, Sambudi menjelaskan bahwa pelaksanaan workshop ini merupakan komitmen berkelanjutan dari Binus Business School dalam menjaga mutu dan reputasi akademik ICOSBE yang telah berjalan dari tahun ke tahun. Guna mencapai target tersebut, BBS tidak tanggung-tanggung dalam menghadirkan narasumber utama.

Pada edisi kali ini, lokakarya akan menghadirkan kembali Ismail Suardi Wekke, Ph.D., yang merupakan Managing Editor dari penerbit global, sebuah penerbit internasional bereputasi. Kehadiran pakar publikasi ini diharapkan dapat mengupas tuntas teknik menembus jurnal dan buku ilmiah tingkat dunia.

“Kehadiran Ismail Suardi Wekke sebagai pembicara akan meneruskan diskursus kontemporer mengenai lanskap publikasi global yang dinamis,” kata Sambudi optimis.

Sambudi juga menambahkan bahwa melalui rekam jejak narasumber, para peserta akan mendapatkan panduan praktis dan langsung dari dapur redaksi penerbit internasional. Pihak manajemen BBS pun meyakini, melalui persiapan yang matang di Kampus Anggrek ini, kualitas luaran (output) riset dari para delegasi ICOSBE tahun ini akan meningkat secara signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Di akhir penjelasannya, Sambudi menekankan signifikansi tradisi akademik ini bagi universitas. Ia menyebutkan bahwa pre-conference ini telah bertransformasi menjadi jangkar mutu bagi ICOSBE, memastikan bahwa setiap gagasan yang dipresentasikan memiliki daya saing tinggi.

“Lokakarya pra-konferensi ini telah menjadi agenda tahunan wajib ICOSBE untuk terus mengawal kualitas luaran riset para akademisi kita,” pungkas Sambudi menutup pernyataannya.

IMG-20260626-WA0025

Bahas Peta Jalan Riset Indonesia Timur dalam Simposium Indonesia-Australia di ITB: Pimpinan IAI Rawa Aopa Bergabung Dalam Riset Kolaboratif

Rawaaopakonsel.ac.id, Bandung – Kolaborasi riset antara Indonesia dan Australia kembali diperkuat melalui penyelenggaraan Kick Off Meeting yang dirangkaikan dengan Indonesia-Australia Symposium di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (25/6/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri delegasi dari Murdoch University, Australia, bersama tim peneliti dari Indonesia yang akan menjalankan program penelitian kolaboratif. Riset ini memperoleh dukungan pendanaan dari program KONEKSI, hasil kerja sama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dengan LPDP untuk memperkuat kemitraan riset internasional.

Salah satu anggota tim peneliti, Ismail Suardi Wekke yang juga Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan memaparkan tiga fokus utama yang menjadi perhatian dalam simposium tersebut. Menurutnya, penelitian diarahkan untuk memperkuat pemahaman terhadap dinamika kawasan Indonesia Timur sekaligus menyusun arah pengembangan riset yang lebih kolaboratif.

“Ada tiga hal yang menjadi fokus pembahasan, yakni memahami Indonesia Timur, belajar dari keberhasilan program Keluarga Berencana dan SD Inpres, serta menyusun peta jalan riset dan pengembangan model bersama perguruan tinggi di Indonesia Timur,” ujar Ismail Suardi Wekke dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan, kajian mengenai Indonesia Timur menjadi fondasi penting untuk merumuskan kebijakan dan model pengembangan yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Selain itu, pengalaman keberhasilan program Keluarga Berencana dan pembangunan SD Inpres dinilai dapat menjadi referensi dalam menyusun strategi pembangunan berbasis riset.

Melalui kolaborasi ini, tim peneliti Indonesia dan Australia diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi ilmiah yang mendukung pengembangan pendidikan tinggi, penelitian, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Indonesia Timur.

“Tiga fokus tersebut menjadi pijakan untuk membangun peta jalan riset dan mengembangkan model kolaborasi bersama perguruan tinggi di Indonesia Timur,” tutup Ismail Suardi Wekke.

IMG-20260603-WA0003

Internasionalisasi Kampus, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Sambut Baik Kemitraan RI-Prancis

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Kunjungan resmi (28/05/2026) Presiden ke Prancis pekan ini menandai babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara, khususnya dalam penguatan sektor pendidikan tinggi. Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Paris tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis yang berfokus pada peningkatan mutu akademik, kolaborasi riset, dan pertukaran talenta.

Langkah ini dipandang sebagai upaya progresif Indonesia dalam mempercepat internasionalisasi institusi pendidikan tinggi agar mampu bersaing di panggung global.
Pemerintah Indonesia dan Prancis berkomitmen untuk memperluas akses beasiswa, memfasilitasi riset bersama pada sektor sains murni dan terapan, serta mendorong implementasi teknologi dalam manajemen kampus.

Implementasi dari kesepakatan ini diharapkan dapat segera dirasakan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di wilayah luar Pulau Jawa. Sinergi ini juga membuka peluang besar bagi dosen dan mahasiswa tanah air untuk menyerap praktik terbaik dari sistem pendidikan modern di Eropa.

Agenda strategis ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan akademisi di dalam negeri, tak terkecuali dari kawasan timur Indonesia. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa momentum kerja sama internasional ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh komponen pendidikan tinggi.

Menurutnya, perluasan jaringan global merupakan kunci utama dalam meningkatkan standardisasi mutu kelembagaan nasional.
“Kerja sama antara Indonesia dan Prancis ini merupakan peluang monumental bagi perguruan tinggi, terutama di daerah, untuk melakukan lompatan kuantum dalam aspek tata kelola dan mutu akademik,” ujar Ismail Suardi Wekke saat memberikan respon dan perencanaan pasca kunjungan Presiden RI ke Prancis, Rabu (3/6/2026).

Lebih lanjut, Ismail Suardi Wekke menggarisbawahi pentingnya adaptasi teknologi dalam mendukung keberhasilan implementasi kemitraan internasional ini. Beliau menekankan bahwa penguatan tata kelola institusi berbasis digital mutlak diperlukan agar kolaborasi riset lintas negara dapat berjalan secara efisien. Kesiapan infrastruktur digital dalam negeri akan menjadi fondasi utama yang menentukan seberapa jauh program kemitraan ini dapat diakselerasi secara produktif.

“Kami di tingkat tata kelola universitas melihat bahwa ekosistem pengetahuan berbasis digital dan pengelolaan manajemen yang transparan adalah fondasi utama agar kolaborasi internasional seperti ini dapat diimplementasikan secara konkret,” tegas Ismail Suardi Wekke secara langsung.

Selain kesiapan teknologi, aspek pengembangan sumber daya manusia juga menjadi sorotan utama dalam menangkap peluang kerja sama bilateral ini. Ismail Suardi Wekke mengingatkan bahwa dosen dan peneliti lokal harus didorong untuk aktif mengambil peran dalam konsorsium riset internasional. Pelibatan aktif ini dinilai akan mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi yang menjadi inti dari kesepakatan kedua negara.

“Transformasi pendidikan tinggi tidak akan terwujud tanpa adanya peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan yang adaptif terhadap standar global,” jelas Ismail Suardi Wekke.

Di sisi lain, Ismail Suardi Wekke juga menyampaikan pandangan mendalamnya melalui terkait arah kebijakan pasca-kesepakatan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa integrasi sistem manajemen pengetahuan di tingkat kampus akan mempermudah penyelarasan kurikulum nasional dengan standar internasional yang diterapkan di Prancis.

Menurutnya, simplifikasi birokrasi akademik dan penguatan kapasitas riset harus berjalan beriringan demi menyukseskan program pertukaran gagasan ini. Dalam kesempatan yang sama, Ismail Suardi Wekke menyatakan pula bahwa institusi pendidikan di daerah seperti IAI Rawa Aopa Konawe Selatan berkomitmen penuh untuk mengadopsi model fasilitasi pembelajaran modern yang diadopsi dari kemitraan global tersebut.

Beliau meyakini bahwa keterbatasan geografis bukan lagi penghalang utama berkat adanya dukungan ekosistem digital yang kuat. Pola kemitraan ini diharapkan mampu memangkas kesenjangan kualitas pendidikan antara pusat dan daerah secara signifikan.

Terakhir, Ismail Suardi Wekke menambahkan bahwa tindak lanjut dari kunjungan kepresidenan ini memerlukan sinergi penta-helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan sektor industri. Beliau mengindikasikan bahwa luaran dari kerja sama riset Indonesia-Prancis ini harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan berkontribusi langsung pada pembangunan daerah. Kemitraan strategis ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen di atas kertas, melainkan menjelma menjadi aksi nyata yang berkelanjutan.

FB_IMG_1779980102446

Perlunya Panduan Etika Riset dan Implementasi, Ini Kata Akademisi Ismail Suardi Wekke

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Dugaan pemalsuan riset yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia dalam forum ilmiah internasional di Denmark menuai sorotan tajam dari akademisi Institut Agama Islam (IAI) Rawa Opa, Ismail Suardi Wekke. Ia menilai kasus tersebut bukan sekadar pelanggaran etik, melainkan alarm krisis integritas akademik di Indonesia.

Kasus itu mencuat setelah muncul dugaan manipulasi data penelitian, pemalsuan identitas peserta konferensi, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk merekayasa artikel ilmiah demi memperoleh bantuan perjalanan (travel grant). Praktik tersebut dinilai mencoreng citra akademik Indonesia di tingkat internasional.

Ismail Suardi Wekke menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai ilmu pengetahuan.

“Ketika riset dijadikan tiket jalan-jalan gratis ke luar negeri, maka ilmu pengetahuan telah kehilangan kehormatannya,” kata Ismail, Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, fenomena tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari budaya akademik instan yang lebih berorientasi pada sertifikat internasional, angka publikasi, dan gengsi seminar luar negeri dibanding kualitas riset serta kejujuran ilmiah.

“Kampus jangan berubah menjadi pabrik CV akademik. Hari ini orang berlomba mengoleksi seminar dan publikasi, tetapi lupa bahwa fondasi utama ilmu adalah kejujuran,” ujarnya.

Ia menilai obsesi administratif terhadap publikasi internasional tanpa penguatan etika akademik telah membuka ruang bagi praktik manipulasi ilmiah.

“Kondisi yang sedang kita hadapi bukan sekadar pelaku nakal, tetapi krisis moral akademik yang perlahan dianggap normal,” katanya.

Terkait dugaan penggunaan AI untuk membuat artikel dan data penelitian palsu, Ismail menegaskan bahwa teknologi bukan sumber utama persoalan. Menurut dia, masalah terletak pada penyalahgunaan teknologi tanpa tanggung jawab moral.

“Artificial Intelligence tidak berbahaya. Posisi yang berbahaya adalah manusia malas berpikir tetapi ingin terlihat ilmiah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti maraknya budaya akademik yang lebih menekankan pencitraan intelektual dibanding membangun tradisi riset yang otentik.

“Ada orang ingin terlihat sebagai ilmuwan internasional, padahal yang dibangun hanya panggung pencitraan akademik,” ungkapnya.

Selain itu, Pimpinan IAI Rawa Opa menilai pengawasan terhadap konferensi predator, publikasi abal-abal, serta distribusi travel grant masih lemah dan rentan disalahgunakan.

“Selama ukuran keberhasilan dosen hanya dihitung dari stempel seminar luar negeri dan jumlah publikasi instan, maka industri akademik palsu akan terus hidup dan berkembang,” terangnya.

Melalui institusi perguruan tinggi seperti IAI Rawa Opa mendesak pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi ilmiah, dan lembaga akreditasi untuk melakukan audit integritas akademik secara menyeluruh. Evaluasi juga dinilai perlu dilakukan terhadap mekanisme hibah perjalanan akademik serta penggunaan AI dalam penulisan ilmiah.

“Saatnya kita menginternalisasi nilai integritas akademik. Sekaligus keperluan untuk tidak menjadikan rangking sebagai tolok ukur utama dan tunggal,” urai Ismail Suardi Wekke yang menerima posisi Distinguished Professor di North Bangkok University (Thailand) sejak 2025.

Menurut Ismail, kasus tersebut harus menjadi momentum pembenahan serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, bukan sekadar klarifikasi administratif untuk meredam sorotan publik.

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka adalah keberanian untuk jujur dalam dunia ilmu pengetahuan,” katanya.

Ia mengingatkan, jika praktik semacam itu terus dibiarkan, masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap perguruan tinggi dan dunia akademik nasional.

“Ketika kebohongan diberi panggung akademik, maka generasi muda akan belajar bahwa kepalsuan lebih cepat dihargai daripada proses ilmiah yang jujur,” ujarnya.

Dalam.kapasitas sebagai Wakil Rektor IAI Rawa Opa menegaskan, pemulihan martabat akademik Indonesia hanya dapat dilakukan melalui keberanian membersihkan budaya manipulasi di lingkungan pendidikan tinggi.

“Perlunya mengutamakan riset sederhana dan jujur, menghindari penelitian terlihat canggih tetapi dibangun di atas kebohongan,” tegas Ismail.

Profile (ISW)

Profile of Ismail Suardi Wekke, Ph.D., Vice Rector Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan, Indonesia

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Ismail Suardi Wekke, Ph.D., serves as a dynamic force in modern academia, driving institutional excellence as the Vice Rector for Planning, Finance, and Personnel at Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan. Through his innovative integration of digital knowledge management and global partnerships, he continuously reshapes higher education to foster both academic autonomy and impactful community development.

Ismail Suardi Wekke, Ph.D.

Vice Rector for Planning, Finance, and Personnel | Director of Postgraduate Program

Ismail Suardi Wekke, Ph.D., is an academic leader, researcher, and consultant specializing in higher education management, regional development, and social innovation. Serving as the Vice Rector for Planning, Finance, and Personnel, as well as the Director of the Postgraduate Program at IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, he has been instrumental in driving institutional modernization and establishing strategic global networks.

Through an approach that bridges digital transformation with community engagement, his work redefines how modern higher education institutions operate and serve society.

Strategic Roles & Institutional Impact

1. Modernizing Higher Education Governance

At IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke champions an operational model that balances centralized operations with decentralized academic autonomy. This structural approach maximizes resource efficiency while giving individual academic departments the freedom to innovate. His governance strategies emphasize:

  • Digital Knowledge Management: Implementing cloud-based ecosystems and website-centric workflows to streamline institutional accreditation and internal operations.
  • Global Visibility: Promoting Open Science initiatives and advocating for the use of digital research identifiers (such as ORCID) to amplify the global footprint of local research.

2. Global Networks and Academic Alliances

Believing that modern universities must operate without borders, he actively fosters international partnerships across Southeast Asia and beyond. His leadership extends through multiple global designations:

  • President of BOLT (Balsamo Outreach for Learning and Teaching).
  • Research Fellow at INTI International University, Malaysia.
  • Distinguished Professor at North Bangkok University, Thailand.

These networks directly translate into tangible institutional collaborations, driving joint international conferences, student forums, and high-impact cross-border research initiatives.

3. Community-Centric Social Innovation

A core pillar of his philosophy is that higher education must serve as an active innovator within society. He frequently pioneers initiatives that transform community spaces into real-world learning laboratories, such as village-based developments and market-centered student learning hubs. By integrating Design Thinking into educational administration, he works to solve complex regional challenges while cultivating inclusive financial literacy through collaborative research partnerships.

Working Philosophy

“Higher education institutions should not exist as isolated ivory towers. True academic excellence is achieved when centralized, modern digital governance enables decentralized scholarly freedom, ultimately driving tangible innovation directly into the communities we serve.”