Workshop (ISW)

Pasca ICOSBE 2026, Kolaborasi Binus Business School Berlanjut Dengan IAI Rawa Aopa

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo — Momentum usainya perhelatan International Conference on Sustainable Business and Entrepreneurship (ICOSBE) 2026 tidak lantas menyurutkan langkah sinergi antarperguruan tinggi. Binus Business School resmi melanjutkan kolaborasi strategisnya dengan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan melalui gelaran Workshop Penerbitan Publikasi Pasca-Konferensi pada Senin (20/7/2026) yang dilaksanakan daring.

Kegiatan akademis yang berfokus pada pendampingan konversi makalah ilmiah menjadi bab buku berstandar internasional (book chapter) tersebut dipandu langsung oleh Ismail Suardi Wekke, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, yang bertindak sebagai moderator.

Ismail Suardi Wekke menyampaikan bahwa forum ilmiah ini merupakan wujud komitmen berkelanjutan dalam memperkuat tradisi riset di lingkungan perguruan tinggi swasta dan keagamaan.

“Kami ingin memastikan bahwa karya ilmiah yang dipresentasikan dalam ICOSBE 2026 tidak berhenti sebagai dokumen konferensi saja, melainkan berlanjut hingga menjadi karya kolektif berupa book chapter yang terindeks dan dapat diakses oleh publik global,” tegas Ismail usai kegiatan.

Dalam kesempatan tersebut, Ismail turut menegaskan pentingnya membangun ekosistem kolaborasi lintas kampus untuk mendongkrak reputasi akademis nasional.

“Kemitraan antara Binus Business School dan IAI Rawa Aopa adalah bukti konkret bahwa batas geografis dan bentuk kelembagaan bukan penghalang untuk melahirkan karya riset bereputasi,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa luaran dari pelatihan ini dirancang khusus untuk memberi dampak langsung pada peningkatan rekam jejak publikasi para dosen dan peneliti.

“Melalui pendampingan terstruktur ini, kami menargetkan luaran berupa naskah berkualitas tinggi yang siap dipublikasikan oleh penerbit bereputasi internasional dalam kurun waktu dekat,” tambahnya.

Selain memberikan pernyataan secara langsung, Ismail Suardi Wekke juga menjelaskan gambaran teknis serta arah kebijakan dari kemitraan strategis ini. Ia mengungkapkan bahwa workshop konversi makalah ini dirancang untuk membantu para peneliti dalam menyusun argumentasi ilmiah yang lebih mendalam dan sesuai dengan standar penerbitan buku akademik global.

Lebih lanjut, Wakil Rektor IAI Rawa Aopa tersebut menyebutkan bahwa kolaborasi pasca-ICOSBE 2026 ini akan dijadikan sebagai pilar utama dalam memperkuat program riset kolaboratif antara IAI Rawa Aopa dan mitra jejaring nasional maupun internasional. Ismail menggarisbawahi bahwa sinergi seperti ini penting untuk terus dirawat agar akademisi dari daerah memiliki ruang dan kesempatan yang sejajar di panggung karya ilmiah global.

Workshop yang berlangsung interaktif ini diisi dengan pemaparan strategi penyuntingan naskah, penyesuaian gaya selingkung penerbit internasional, hingga tips menembus penerbit berpenghargaan global. Sinergi ini diharapkan menjadi model kerja sama berkelanjutan dalam pengembangan kapasitas publikasi ilmiah di Indonesia.

IMG-20260704-WA0017

BINUS University dan Kemenpar Bersama 27+ PT Perkuat Kolaborasi, AI Jadi Andalan Transformasi Pariwisata Indonesia

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Penguatan sumber daya manusia (SDM), pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta pengembangan pariwisata berkelanjutan menjadi fokus utama dalam audiensi antara BINUS University dan Kementerian Pariwisata yang berlangsung di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Pertemuan yang digelar oleh Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Aparatur dan Pendidikan Vokasi itu berlangsung di Ruang Rapat Lantai 11 Gedung Sapta Pesona. Audiensi dihadiri Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Prof. Dr. John Connell dari Sydney University, Australia, bersama tim BINUS University.

Pertemuan tersebut membahas strategi memperkuat promosi pariwisata Indonesia di tengah keterbatasan anggaran pemasaran pada tahun ini. Salah satu solusi yang didorong adalah optimalisasi teknologi digital berbasis perangkat seluler untuk menjangkau wisatawan secara lebih efektif.

Dalam kesempatan itu, turut diperkenalkan inovasi MaiA, asisten virtual berbasis kecerdasan buatan yang dirancang membantu wisatawan merencanakan perjalanan ke Indonesia secara lebih personal. Teknologi tersebut mampu memberikan rekomendasi berdasarkan durasi kunjungan, destinasi yang diminati, hingga aktivitas wisata yang sesuai dengan preferensi pengguna.

Selain membahas transformasi digital, forum juga menyoroti pentingnya pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui penguatan desa wisata berbasis komunitas. Evaluasi penyelenggaraan berbagai event pariwisata juga menjadi perhatian agar mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi sektor perhotelan, restoran, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Para peserta juga mengidentifikasi masih adanya kesenjangan antara kebutuhan industri pariwisata yang berkembang sangat cepat dengan kesiapan SDM. Karena itu, penyesuaian kurikulum pendidikan tinggi dan vokasi dinilai menjadi langkah strategis untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Wakil Rektor I Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menilai pertemuan tersebut menunjukkan arah baru pembangunan pariwisata nasional yang semakin menempatkan inovasi dan kolaborasi sebagai fondasi utama.

“Pariwisata Indonesia tidak lagi cukup mengandalkan keindahan alam semata. Diperlukan transformasi SDM yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan artificial intelligence, agar mampu menjawab tantangan industri yang terus berubah,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan sekaligus kompetitif di tingkat global.

“Kampus memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan pengetahuan, riset, dan inovasi. Karena itu, sinergi dengan pemerintah dan pelaku industri harus diterjemahkan dalam program-program konkret yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, seluruh peserta membahas tiga langkah tindak lanjut. Pertama, menjadikan transformasi SDM, penyelenggaraan event, safety tourism, dan teknologi AI sebagai pilar utama menjawab tantangan industri menuju Indonesia Emas 2045. Kedua, mendorong pendekatan yang lebih terukur, tepat sasaran, dan berbasis kebutuhan lapangan. Ketiga, mengimplementasikan kolaborasi melalui program percontohan (pilot project) yang dikoordinasikan melalui satu pintu agar lebih efektif dan terarah.

Menutup pandangannya, Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa implementasi nyata dari hasil audiensi akan menjadi kunci keberhasilan transformasi sektor pariwisata nasional.

“Bagian yang paling penting bukan hanya menghasilkan gagasan, tetapi memastikan setiap kesepakatan diwujudkan dalam aksi nyata. Kolaborasi yang berkelanjutan akan menjadi modal utama untuk membangun pariwisata Indonesia yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing global,” tutup Ismail Suardi Wekke.

IMG-20260703-WA0017

FDCHT Binus University Sukses Gelar Rangkaian Kegiatan Bersama Sydney University, Turut Berpartisipasi 27 Perguruan Tinggi

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Faculty of Digital Communication and Hotel & Tourism (FDCHT) Binus University terus memperkuat jejaring globalnya melalui kolaborasi internasional yang inovatif. Bertempat di Kampus Anggrek Binus University, Kamis (2/7/2026), digelar rangkaian kegiatan akademik satu hari penuh yang bekerja sama dengan Sydney University, Australia.

Acara yang memadukan ujian praktik dan diskusi ilmiah ini turut menggandeng lebih dari 27 perguruan tinggi di Indonesia sebagai co-host, salah satunya adalah Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan. Rangkaian acara diawali pada pagi hari dengan pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) yang unik, yakni dalam bentuk coffee making exam.

Sebelum itu, acara dibuka Dekan FDCHT Binus University, Dr. Yanti Tong. Dalam sambutan itu, Dr. Yanti menekankan terima kasih kepada semua pihak yang telah mempersiapkan acara. Begitu pula Dr Yanti berharap bahwa kolaborasi ke depan dapat diteruskan.

Setelah itu, agenda berlanjut ke sesi utama berupa seminar bersama faculty member yang berlangsung secara hibrida (hybrid) di Lantai 8 Kampus Anggrek. Seminar ini menjadi ruang diskursus yang dinamis karena mempertemukan para akademisi lintas negara dan lintas institusi guna membahas perkembangan terbaru di sektor komunikasi digital, perhotelan, dan pariwisata.

Mengenai inisiatif strategis ini, Head of Internationalization & Partnership Program (HIPP) FDCHT Binus University, Dr. R.A. Aryanti Wardaya Puspokusumo, B.Sc, M.B.M., memberikan penjelasan yang komprehensif.

“Kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi antarperguruan tinggi yang bergerak dalam kerangka NUNI (Nationwide University Network in Indonesia) dan juga diperkuat dengan dukungan penuh dari Sydney University, Australia, khususnya melalui kehadiran Prof. John Connell,” ujar Aryanti di sela-sela acara.

Aryanti menambahkan bahwa sinergi seperti ini sangat penting untuk membangun ekosistem akademik yang inklusif di Indonesia. Melalui jaringan NUNI, Binus University berkomitmen untuk tidak hanya maju secara mandiri, melainkan juga bertumbuh bersama dengan puluhan perguruan tinggi mitra di berbagai daerah.

Keterlibatan pembicara internasional kelas dunia seperti Prof. John Connell pun diharapkan mampu memberikan perspektif global yang segar bagi para dosen dan mahasiswa yang hadir, baik secara luring maupun daring. Apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan kolaborasi internasional ini juga datang dari salah satu perguruan tinggi mitra yang bertindak sebagai co-host.

Unsur pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyampaikan pandangannya mengenai nilai penting dari platform akademik ini bagi institusi di luar Pulau Jawa.

“Kami melihat kegiatan ini sebagai langkah transformatif bagi tata kelola akademik dan sangat mengapresiasi Binus University yang telah memberikan kesempatan luar biasa bagi IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dan perguruan tinggi di Tanah Papua untuk bergabung sebagai co-host,” ungkap Ismail Suardi Wekke.

Ismail juga menekankan bahwa keterlibatan perguruan tinggi daerah dalam forum berskala internasional seperti ini merupakan momentum berharga untuk mempercepat peningkatan mutu dan eksposur institusi. Kerja sama ini membuktikan bahwa batas geografis bukan lagi halangan untuk mengakses diseminasi keilmuan tingkat global.

Pihaknya berharap kolaborasi berbasis jejaring NUNI ini dapat terus berlanjut ke dalam program-program konkret lainnya di masa depan. “Terima kasih Binus University dan terima kasih NUNI atas kesempatan ini. Sebuah kehormatan bagi kita, bisa menjadi bagian dari acara,” pungkas Ismail Suardi Wekke.

IMG-20260618-WA0063

Pertahankan Kerjasama dengan Binus University, Pimpinan IAI Rawa Aopa Hadiri Pengukuhan Guru Besar

Rawaaopakonsel.ac.id, Tangerang – Pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menghadiri pengukuhan Guru Besar Tetap Binus University yang digelar di Kampus Alam Sutera, Tangerang, Kamis (18/6/2026). Prosesi sakral ini mengukuhkan Prof. Retno Dewanti, S.Si., M.M., Ph.D., sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Digital Marketing.

Acara ini menjadi momentum penting yang mempertemukan para akademisi dari berbagai belahan dunia. Selain dihadiri oleh jajaran civitas akademika Binus University, tampak hadir pula sejumlah guru besar tamu dari pelbagai perguruan tinggi lintas wilayah Indonesia, serta delegasi internasional termasuk dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi yang mendalam atas pencapaian ilmiah ini. Menurutnya, kepakaran Prof. Retno di bidang pemasaran digital sangat relevan dengan kebutuhan industri dan dunia pendidikan modern saat ini.

“Kehadiran kami di selain memenuhi undangan, juga dalam kaitan untuk mempertahankan sinergi strategis antarinstitusi dalam menghadapi era disrupsi digital yang kian masif,” ujar Ismail Suardi Wekke saat ditemui di sela-sela acara.

Lebih lanjut, Ismail menegaskan bahwa IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk terus menyerap praktik-praktik terbaik dari perguruan tinggi terkemuka seperti Binus University guna meningkatkan mutu tata kelola lembaga mereka di daerah. Ia menyampaikan bahwa kolaborasi lintas kampus, baik dalam skala nasional maupun internasional, kini menjadi sebuah keharusan demi mendongkrak kualitas lulusan yang berdaya saing global.
Ismail juga menambahkan bahwa keterlibatan guru besar tamu dari luar negeri, seperti Universiti Sains Islam Malaysia, membuktikan bahwa ekosistem akademik Indonesia semakin diakui dan terintegrasi di kancah internasional.

“Kami berharap gagasan-gagasan segar Prof. Retno Dewanti dalam orasi ilmiahnya hari ini dapat diadopsi, tidak hanya di kota besar, melainkan juga menyentuh pengembangan literasi digital di kawasan Indonesia Timur,” tutur Ismail menutup pernyataannya.

Binus (ISW)

Rintisan Kerjasama dengan BINUS University, Memenuhi Undangan Diskusi Terpumpun Penerbitan Buku

Rawaaopakonsel.ac.id, Bombana — Kolaborasi antar-perguruan tinggi kini tidak lagi sekadar dokumen formal di atas kertas, melainkan langkah taktis untuk mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan. Menyadari urgensi tersebut, rintisan kerja sama strategis mulai dijajaki bersama Universitas Bina Nusantara (BINUS University). Langkah awal ini diwujudkan dengan menghadiri undangan Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion) yang berfokus pada pengembangan dan penerbitan buku ilmiah di Makassar.

Pertemuan ini menjadi jembatan penting untuk menyatukan visi akademik kedua institusi, khususnya dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi literatur yang berdaya saing global.

Membuka Kran Publikasi Lewat Diskusi Terpumpun

Diskusi terpumpun ini, juga sebuah ikhtiar ilmiah untuk memetakan potensi penulisan buku yang berbasis pada hasil riset terkini. Konsep kolaborasi yang digagas mengedepankan integrasi kepakaran. BINUS University, dengan reputasi global dan ekosistem digitalnya yang mapan, menjadi mitra strategis yang sangat potensial dalam mendorong hilirisasi riset menjadi bahan bacaan berkualitas.

Sinergi Akademik: penerbitan hasil riset menjadi buku populer-ilmiah adalah kunci agar hasil penelitian tidak mandek di perpustakaan, melainkan mampu mengedukasi masyarakat luas dan menjadi rujukan industri.

Dalam diskusi tersebut, dibahas berbagai peluang kerja sama, mulai dari joint writing (penulisan bersama), pendampingan sitasi, hingga pemanfaatan platform penerbitan yang memiliki jangkauan indeksasi luas. Fokus utama diarahkan pada penerbitan buku-buku interdisipliner yang mampu menjawab tantangan zaman, seperti tata kelola digital, literasi keuangan, dan inovasi sosial berbasis masyarakat.

Dampak Strategis Kemitraan

Dari perspektif ilmiah populer, kerja sama ini membawa dampak multi-dimensi bagi penguatan institusi:

Dimensi Kerja Sama Target Capaian Manfaat Nyata
Penerbitan Buku Monograf dan Buku Ajar Interdisipliner Meningkatkan angka publikasi bermutu dan memperkaya khazanah literasi.
Transfer Teknologi Pemanfaatan Ekosistem Digital Mempercepat adaptasi tata kelola knowledge management berbasis teknologi cloud.
Visibilitas Global Diseminasi Riset Bersama Menaikkan reputasi akademik institusi di kancah nasional maupun internasional.

Melalui rintisan kemitraan ini, proses transfer pengetahuan (knowledge transfer) diharapkan dapat berjalan lebih cepat. Buku yang dihasilkan nantinya tidak hanya ditujukan untuk konsumsi mahasiswa di ruang kelas, tetapi juga dirancang agar mudah dicerna oleh para praktisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum selaku penerima manfaat inovasi.

Langkah awal yang diinisiasi lewat diskusi terpumpun ini menjadi fondasi kokoh bagi penandatanganan komitmen formal di masa depan. Semangatnya jelas: bergerak bersama, menulis bersama, dan mencerahkan bangsa melalui literasi yang kuat.

IMG-20260507-WA0014

Binus University dan IAI Rawa Aopa Perkuat Kolaborasi Akademik Lewat Workshop Penulisan Ilmiah

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan –  Binus University menggelar workshop penulisan bab buku terindeks secara daring pada Kamis (7/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi Ismail Suardi Wekke sebagai pemateri utama.

Workshop ini diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai kalangan akademisi dan peneliti dengan target menghasilkan bab buku terindeks sebagai bagian dari penguatan budaya publikasi ilmiah.

Dalam pemaparannya, Ismail Suardi Wekke menegaskan pentingnya kemampuan menulis akademik yang terstruktur dan berkualitas untuk mendukung pengembangan keilmuan di lingkungan perguruan tinggi.

“Penulisan bab buku terindeks bukan hanya soal publikasi, tetapi juga upaya membangun tradisi akademik yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Ismail dalam kegiatan tersebut, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, workshop ini merupakan bagian dari tindak lanjut kerja sama antara Binus University dan Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan yang sebelumnya telah menandatangani Letter of Intent (LoI) pada awal April 2026 lalu.

Menurutnya, kolaborasi antarperguruan tinggi menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas riset dan publikasi ilmiah di Indonesia.

“Kerja sama ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, terutama dalam pengembangan riset dan publikasi akademik,” katanya.

Selain membahas teknik penulisan, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai strategi memilih tema yang relevan dan memiliki peluang untuk dipublikasikan dalam buku terindeks. Materi tersebut dinilai penting agar hasil karya akademik tidak hanya memenuhi standar ilmiah, tetapi juga memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Suasana workshop berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta terkait proses penyusunan naskah hingga tahapan penerbitan. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang berbagi pengalaman antara akademisi dan penulis dalam menghadapi tantangan publikasi ilmiah di era digital.

Selama workshop berlangsung, peserta mendapatkan pembekalan terkait teknik penyusunan bab buku ilmiah, strategi publikasi, hingga tata kelola penulisan yang sesuai standar penerbitan terindeks.

Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan sesi tanya jawab selama kegiatan daring berlangsung. Para peserta berharap pelatihan semacam ini dapat terus dilaksanakan guna meningkatkan kapasitas akademik dan produktivitas publikasi ilmiah.

“Ini bagian dari kerja sama antara Binus University dengan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan yang sudah menandatangani LoI pada awal April lalu,” tutup Ismail Suardi Wekke.

IMG-20260116-WA0038

Rintisan Kerjasama dengan BINUS University, Memenuhi Undangan Diskusi Terpumpun Penerbitan Buku

Rawaaopakonsel.ac.id, Bombana – Dalam upaya memperkuat ekosistem literasi dan publikasi ilmiah di tingkat nasional, sebuah langkah teknis diambil melalui inisiasi kerjasama dengan BINUS University. Langkah awal ini diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam undangan Diskusi Kelompok Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) mengenai strategi penerbitan buku yang berlangsung daring, Kamis (15/1/2025).

Pertemuan ini akan dijadikan sebagai wadah bagi para akademisi dan praktisi penerbitan untuk memetakan tantangan serta peluang dalam menghasilkan karya tulis yang berkualitas, inovatif, dan memiliki daya jangkau luas. Fokus utama diskusi mencakup integrasi teknologi digital dalam distribusi buku serta standarisasi mutu konten akademik.

Hadir dalam kesempatan tersebut, akademisi dan yang juga Wakil Rektor Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke yang turut dalam memberikan pandangannya mengenai teknis persiapan dalam penerbitan buku. Ismail menyampaikan terima kasih atas kesediaan FDCHT Bina Nusantara University (Indonesia) yang menjadi tuan rumah diskusi.

“Kerjasama dengan BINUS University ini merupakan langkah awal dalam mempertautkan potensi akademik dengan keahlian manajerial penerbitan yang modern. Kita tidak hanya bicara soal mencetak kertas, tetapi bagaimana gagasan-gagasan segar dari ruang kelas dan laboratorium dapat dikonversi menjadi literatur yang aksesibel dan diakui secara global,” ujar Ismail Suardi Wekke usai diskusi.

Beliau juga menambahkan bahwa melalui diskusi terpumpun ini, diharapkan lahir skema penerbitan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama dalam mendukung program hilirisasi riset di Indonesia. Pada kesempatan yang sama Ismail memberikan uraian bahwa dengan penerbitan buku ini, bukan sekadar mendokumentasikan pemikiran, melainkan jembatan peradaban.

“Kita punya kesempatan untuk membawa catatan kita, tidak saja dari penelitian, tetapi juga dharma perguruan tinggi dari aspek pembelajaran dan pengabdian masyarakat,” ungkap Ismail Suardi Wekke yang baru saja menerima pelantikan sebagai Research Fellow di INTI International University (Malaysia).

Diskusi ini juga menyoroti peran penting penerbit universitas (university press) dalam menaikkan indeks literasi nasional. BINUS University, dengan reputasi globalnya, dinilai sebagai mitra strategis yang tepat untuk mengembangkan model penerbitan buku yang mampu bersaing di kancah internasional.

Rintisan kerjasama ini direncanakan akan berlanjut pada kegiatan teknis yang mencakup kolaborasi penulisan, penyuntingan bersama, hingga distribusi karya ilmiah populer bagi masyarakat luas. Begitu pula, direncanakan satu kegiatan bersama ASEAN Symposium on Higher Education. Sebuah perhelatan perguruan tinggi Asia Tenggara yang akan dilaksanakan Maret sampai awal April 2026 di Jakarta dengan metode hybrid.