Jepang (ISW)

Fasilitasi Magang ke Jepang, IAI Rawa Aopa Tawarkan Bagian dari Merdeka Belajar

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus melakukan langkah progresif dalam meningkatkan kualitas lulusan melalui penguatan kerja sama internasional. Salah satu program unggulan yang kini tengah digalakkan adalah fasilitasi magang mahasiswa ke Jepang. Program ini tidak hanya sekadar praktik kerja, namun dirancang secara sistematis sebagai bagian integral dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk memperpendek jarak antara dunia akademik dan kebutuhan industri global. “Kami berkomitmen untuk menyediakan jembatan bagi mahasiswa agar mereka bisa mencicipi atmosfer kerja di negara maju seperti Jepang,” ungkap Ismail Suardi Wekke sebagai pernyataan pertamanya.

Implementasi program ini dipastikan akan mempermudah mahasiswa dalam penyelesaian studi karena sistem konversi nilai yang jelas. Ismail Suardi Wekke menegaskan dalam pernyataan kedua bahwa melalui skema MBKM, pengalaman praktis yang didapatkan mahasiswa di luar negeri akan diakui sepenuhnya sebagai pemenuhan beban SKS, sehingga mahasiswa tidak perlu khawatir akan keterlambatan kelulusan selama menjalani magang.

Terkait teknis pelaksanaan, Ismail Suardi Wekke menyampaikan bahwa pihak kampus sedang menyusun regulasi pendukung agar sinkronisasi antara kurikulum prodi dengan aktivitas di lokasi magang dapat berjalan tanpa hambatan teknis. Beliau optimis bahwa rekognisi pengalaman internasional ini akan menjadi nilai tambah yang signifikan bagi portofolio akademik mahasiswa saat mereka menyelesaikan pendidikan nanti.

Lebih lanjut, program ini menitikberatkan pada pengembangan karakter dan etos kerja yang menjadi ciri khas industri di Negeri Sakura. “Magang ini merupakan laboratorium kehidupan bagi mahasiswa untuk mengadopsi kedisiplinan dan budaya kerja profesional yang sangat ketat,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Ia berharap sekembalinya dari Jepang, mahasiswa membawa pola pikir baru yang dapat memicu inovasi di daerah asal mereka. “Kita punya kesempatan belajar ke negara lain,” lanjut Ismail Suardi Wekke yang juga beberapa kali menerima undangan menyajikan makalah di Jepang melalui Tohoku University.

Sebagai penutup, Ismail Suardi Wekke dalam pernyataan menekankan pentingnya jejaring internasional dalam membangun karier di masa depan. “Di era disrupsi ini, memiliki ijazah saja tidak cukup; mahasiswa membutuhkan koneksi dan pemahaman lintas budaya untuk dapat bersaing di tingkat global,” lanjutnya.

Dengan adanya program ini, IAI Rawa Aopa memposisikan diri sebagai institusi yang tanggap terhadap dinamika global demi masa depan generasi muda Sulawesi Tenggara. “Awalnya Oxford, Cambdridge, dan lokasi-lokasi kampus masyhur hari ini berawal dari kampung juga. Maka, dengan aktifasi kegiatan ini, menjadikan Andoolo juga masyhur di pentas global,” pungkas Ismail.

Pelantikan Rektor (ISW)

Transformasi IAI Rawa Aopa: Perkuat Struktur Kelembagaan Melalui Pelantikan Rektor dan Direktorat Pascasarjana

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa tengah memasuki babak baru dalam sejarah perkembangannya. Seiring dengan pelantikan rektor (periode 2026-2030), institusi ini secara progresif menetapkan langkah strategis dengan mempersiapkan pembentukan Direktorat Pascasarjana (Sabtu, 17 Januari 2026) bersama dengan pelantikan rektor di aula kampus Andoolo. 

Langkah besar ini merupakan respon konkret terhadap meningkatnya permintaan akan akses pendidikan tinggi pada level magister. Sekaligus menjadi upaya institusi dalam memperkuat posisi tawarnya sebagai pusat keunggulan akademik di wilayah Sulawesi Tenggara.

Fokus utama dari pembentukan direktorat ini adalah melakukan akselerasi pada sistem penjaminan mutu dan standarisasi akreditasi. Melalui manajemen yang terintegrasi, Direktorat Pascasarjana bertugas untuk menyiapkan instrumen pembukaan program studi baru yang ketat secara kualifikasi, sehingga nantinya program-program magister yang dilahirkan mampu menjawab tantangan industri dan kebutuhan sosial-keagamaan masyarakat. 

Upaya ini dilakukan dengan memastikan seluruh kelengkapan administratif dan akademik memenuhi standar nasional pendidikan tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah. “Kita menyiapkan pendidikan magister, dan segera mengajukan permohonan izin ke direktur pendidikan tinggi Islam di Kementerian Agama,” ujar Ismail Suardi Wekke, usai pelantikan.

Selain penguatan internal, direktorat ini dirancang untuk menjadi motor penggerak dalam membangun jejaring kolaborasi internasional. Di bawah kepemimpinan yang baru, IAI Rawa Aopa memproyeksikan transformasi menjadi universitas Islam. 

Begitu pula, perluasan kemitraan strategis dengan berbagai universitas ternama di luar negeri. Kolaborasi ini tidak hanya mencakup pertukaran mahasiswa atau dosen, tetapi juga difokuskan pada program riset bersama (joint research) yang mampu memberikan kontribusi pada pemecahan masalah global. Transformasi ini diharapkan dapat membawa atmosfer akademik internasional ke lingkungan kampus Rawa Aopa secara lebih intensif.

Aspek literasi ilmiah juga menjadi prioritas yang ditekankan dalam pengembangan struktur baru ini. Direktorat Pascasarjana berkomitmen untuk menciptakan ekosistem riset yang produktif dengan mendorong para dosen dan mahasiswa untuk aktif menghasilkan karya ilmiah yang kompetitif. Fokusnya adalah memastikan hasil-hasil penelitian dari IAI Rawa Aopa dapat menembus jurnal-jurnal bereputasi internasional. 

Dengan meningkatnya output publikasi ilmiah, institusi ini optimistis dapat mempercepat proses transformasi kelembagaan serta memberikan dampak nyata melalui inovasi pemikiran yang dihasilkan dari rahim akademis IAI Rawa Aopa. “Penambahan jumlah mahasiswa yang tetap stabil dan signifikan, menjadi pondasi yang kuat untuk menuju universitas,” kata Ismail Suardi Wekke.

Dalam momentum yang bersejarah ini, IAI Rawa Aopa secara resmi menunjuk Ismail Suardi Wekke, S.Ag., M.A., Ph.D. untuk menakhodai Direktorat Pascasarjana tersebut. Penunjukan beliau dinilai sebagai langkah yang sangat tepat mengingat latar belakang akademisnya yang mumpuni sebagai alumnus Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). 

Dengan pengalaman panjang dalam tata kelola pendidikan tinggi dan jaringan luas di tingkat regional Asia Tenggara, Ismail diharapkan mampu mentransfer nilai-nilai profesionalisme dan standar internasional ke dalam struktur pascasarjana yang sedang dirintis. Kehadiran beliau dipandang sebagai katalisator yang akan mempercepat visi IAI Rawa Aopa untuk tumbuh menjadi institusi yang berdaya saing global.

Pelantikan Rektor (ISW)

Pelantikan Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Periode 2026-2030

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan resmi memulai babak baru kepemimpinan. Tokoh pendidik sekaligus budayawan Tolaki, Dr. Basrin Melamba, S.Pd., M.A., dijadwalkan melangsungkan prosesi pelantikan sebagai Rektor pada hari ini, Sabtu (17 Januari 2026).

Acara sakral tersebut digelar pukul 09.00 WITA bertempat di Kampus Andoolo IAI Rawa Aopa, Jalan Poros Andoolo-Kendari, Kelurahan Potoro, Kecamatan Andoolo, Kabupaten Konawe Selatan. Seebelum acara dimulai, Dr. Basrin Melamba mengonfirmasi kesiapannya untuk mengemban amanah tersebut. Ia juga menyampaikan permohonan dukungan dan terima kasih bagi kerabat serta pihak-pihak terkait yang telah hadir menyaksikan momen penting ini.

“Alhamdulillah, pelantikan saya sebagai Rektor Institut Agama Islam Rawa Aopa berjalan lancar. Dalam kesempatan ini, kami sangat mengharapkan dukungan dan tegur sapa rekan-rekan sekalian,” ujar Dr. Basrin.

Terpilihnya Dr. Basrin bukan tanpa alasan. Beliau dikenal luas sebagai akademisi yang memiliki rekam jejak panjang di berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara. Selain dedikasinya di dunia pendidikan, ia merupakan salah satu tokoh sentral dalam pelestarian budaya Suku Tolaki. “Kita telah melaksanakan pemilihan melalui senat, dan senat merekomendasikan Dr. Basrin Melamba sebagai figur yang tepat,” kata ketua yayasan, Mardan, S.KM., M.Si.

Masyarakat Sulawesi Tenggara menyambut positif penunjukan ini. Kehadiran Dr. Basrin diharapkan mampu mempertahankan kondisi pembangunan sumber daya manusia. “Sekaligus merupakan kesempatan untuk mengupayakan peningkatan kualitas literasi budaya dan pendidikan agama di Sulawesi Tenggara,” demikian harapan Ketua Dewan Pembina yayasan yang juga pendiri, Al Asri, S.Pd.I, M.Si..

Dalam sambutannya, Dr. Basrin menekankan pentingnya sinergi kolektif untuk membangun IAI Rawa Aopa ke depan. Ia berkomitmen menjadikan institusi ini sebagai pusat keunggulan (center of excellence) yang berkontribusi nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap IAI Rawa Aopa dapat menjadi lembaga pendidikan tinggi yang unggul dan berperan aktif dalam pengembangan masyarakat Sulawesi Tenggara,” tegasnya.

Sebagai institusi yang berfokus pada integrasi ilmu agama Islam dan kearifan lokal, pelantikan ini diharapkan memperkuat posisi IAI Rawa Aopa di kancah global dalam partisipasi intelektual namun tetap berakar pada nilai-nilai kebudayaan daerah. “Selamat dan sukses, melalui pelantikan ini, akan menjadi kesempatan untuk mempertahankan posisi Rawa Aopa saat ini. Sementara itu, ada peluang untuk berinovasi dan membawa Sulawesi Tenggara sebagai bagian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkas Ismail Suardi Wekke Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kuangan, dan Kepegawaian, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan yang turut dilantik pada kesempatan tersebut..

Rawa Aopa (ISW)

Rawa Aopa: Dari Ekosistem Ekologis Menjadi Instrumen Keilmuan Global

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) merupakan hamparan lahan basah di Sulawesi Tenggara; ia adalah laboratorium alam raksasa yang menyimpan keanekaragaman hayati tak ternilai. Terletak di lima wilayah administratif, termasuk Kabupaten Konawe Selatan, taman nasional ini menjadi ikon geografis dan ekologis yang mendefinisikan karakter wilayah tersebut. 

Nama “Rawa Aopa” sendiri kini telah melampaui batas-batas biofisik, bertransformasi menjadi identitas bagi Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan sebagai simbol integrasi antara nilai spiritual dan kelestarian alam. Sehingga nama Rawa Aopa bukan saja terpatri dalam nama sebuah taman nasional, tetapi juga merupakan nama institusi keilmuan.

Secara ekologis, Rawa Aopa merupakan rawa air tawar terluas di daratan Sulawesi yang memiliki fungsi hidrologis vital bagi kehidupan masyarakat sekitarnya. Rawa ini berperan sebagai penyimpan cadangan air dan pengendali banjir alami yang menjaga keseimbangan ekosistem semenanjung tenggara Sulawesi. 

Dengan karakteristik gambut dan vegetasi khas seperti teratai serta hutan bakau pedalaman, kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai spesies endemik yang tidak ditemukan di belahan dunia lain. Diantaranya, ada dua yang khas yaitu anoa dan rusa. 

Keanekaragaman fauna di TNRAW menjadi penyanggah yang memberikan nilai ilmiah tinggi. Kawasan ini merupakan habitat penting bagi burung migran serta satwa ikonik seperti Anoa (Bubalus sp.) dan Babirusa. 

Selain itu, burung Maleo yang legendaris juga kerap ditemukan bersarang di area ini. Kehadiran spesies-spesies ini menandakan bahwa Rawa Aopa adalah “jantung” bagi biodiversitas Wallacea yang harus dijaga keberlangsungannya demi ilmu pengetahuan masa depan.

Penggunaan nama “Rawa Aopa” oleh Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan memiliki filosofi yang mendalam. Dalam perspektif akademis, pengambilan nama dari entitas lokal bertujuan untuk membumikan institusi pendidikan pada realitas lingkungannya. Sebagaimana rawa yang memberi kehidupan bagi ribuan spesies, perguruan tinggi ini diharapkan mampu menjadi sumber “mata air” ilmu pengetahuan dan kearifan bagi masyarakat di jazirah Sulawesi. 

Namun, cita-citanya, tidak hanya sampai di pulau Sulawesi, yang kadang dilekatkan pula celebes. Peran dan partisipasi global menjadi bagian dalam gerak langkah setiap saat. Jejaring kerjasama dan juga keikutsertaan dalam skala internasional, merupakan bagian dari wawasan akademik.

Integrasi nama ini juga mencerminkan konsep Eco-Theology atau ekoteologi dalam pendidikan Islam. IAI Rawa Aopa memikul tanggung jawab moral untuk menanamkan kesadaran lingkungan kepada para mahasiswanya. 

Dengan menyandang nama taman nasional tersebut, institusi ini secara implisit berkomitmen untuk menyelaraskan ajaran agama dengan aksi pelestarian alam, memandang bahwa menjaga Rawa Aopa adalah bagian dari manifestasi ketaatan kepada Sang Pencipta.

Dari sisi sosiologis, kehadiran IAI Rawa Aopa memperkuat kebanggaan identitas lokal masyarakat Konawe Selatan. Nama “Rawa Aopa” yang sudah dikenal secara internasional di kalangan peneliti lingkungan kini memiliki dimensi intelektual baru. 

Hal ini menciptakan sinergi antara konservasi alam dan pembangunan sumber daya manusia, di mana masyarakat tidak hanya melihat rawa sebagai sumber ekonomi fisik, tetapi juga sebagai simbol kemajuan pendidikan dan peradaban.

Tantangan ke depan bagi institusi ini adalah bagaimana mewujudkan nama besar “Rawa Aopa” dalam bentuk kontribusi nyata terhadap kelestarian taman nasional tersebut. Melalui riset-riset pengabdian masyarakat, IAI Rawa Aopa dapat menjadi jembatan antara kebijakan konservasi pemerintah dengan kearifan lokal penduduk setempat. Pendidikan agama yang inklusif terhadap isu lingkungan akan menjadi modal utama dalam mencegah degradasi lahan dan perburuan liar di kawasan tersebut.

Sebagai penutup, Rawa Aopa adalah warisan alam yang kini berkelindan dengan warisan intelektual. Nama tersebut mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak boleh melepaskan diri dari akar alamiahnya. 

Melalui IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, semangat pelestarian Rawa Aopa diharapkan terus menyala, menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara spiritual dan intelektual, tetapi juga peduli pada keberlanjutan bumi pertiwi. Dengan adanya IAI Rawa Aopa, maka keberagamaan dan keberislaman yang sudah dipegang erat, dipertahankan melalui instrumen ilmu pengetahuan.

Kampus (ISW)

Program Studi

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan mengelola empat program studi, yaitu:

  1. Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), dengan gelar lulusan S.Pd.
  2. Program Studi Pendidikan Islam Usia Dini (PIAUD), dengan gelar lulusan S.Pd.
  3. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dengan gelar lulusan S.Pd.
  4. Program Studi Hukum Tata Negara (HTN), dengan gelar lulusan S.H.

Saat ini, sementara menunggu Surat Keputusan (SK) persetujuan Kementerian Agama RI, untuk program studi Ekonomi Syariah dengan gelar lulusan S.E.

IMG-20260116-WA0038

Rintisan Kerjasama dengan BINUS University, Memenuhi Undangan Diskusi Terpumpun Penerbitan Buku

Rawaaopakonsel.ac.id, Bombana – Dalam upaya memperkuat ekosistem literasi dan publikasi ilmiah di tingkat nasional, sebuah langkah teknis diambil melalui inisiasi kerjasama dengan BINUS University. Langkah awal ini diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam undangan Diskusi Kelompok Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) mengenai strategi penerbitan buku yang berlangsung daring, Kamis (15/1/2025).

Pertemuan ini akan dijadikan sebagai wadah bagi para akademisi dan praktisi penerbitan untuk memetakan tantangan serta peluang dalam menghasilkan karya tulis yang berkualitas, inovatif, dan memiliki daya jangkau luas. Fokus utama diskusi mencakup integrasi teknologi digital dalam distribusi buku serta standarisasi mutu konten akademik.

Hadir dalam kesempatan tersebut, akademisi dan yang juga Wakil Rektor Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke yang turut dalam memberikan pandangannya mengenai teknis persiapan dalam penerbitan buku. Ismail menyampaikan terima kasih atas kesediaan FDCHT Bina Nusantara University (Indonesia) yang menjadi tuan rumah diskusi.

“Kerjasama dengan BINUS University ini merupakan langkah awal dalam mempertautkan potensi akademik dengan keahlian manajerial penerbitan yang modern. Kita tidak hanya bicara soal mencetak kertas, tetapi bagaimana gagasan-gagasan segar dari ruang kelas dan laboratorium dapat dikonversi menjadi literatur yang aksesibel dan diakui secara global,” ujar Ismail Suardi Wekke usai diskusi.

Beliau juga menambahkan bahwa melalui diskusi terpumpun ini, diharapkan lahir skema penerbitan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama dalam mendukung program hilirisasi riset di Indonesia. Pada kesempatan yang sama Ismail memberikan uraian bahwa dengan penerbitan buku ini, bukan sekadar mendokumentasikan pemikiran, melainkan jembatan peradaban.

“Kita punya kesempatan untuk membawa catatan kita, tidak saja dari penelitian, tetapi juga dharma perguruan tinggi dari aspek pembelajaran dan pengabdian masyarakat,” ungkap Ismail Suardi Wekke yang baru saja menerima pelantikan sebagai Research Fellow di INTI International University (Malaysia).

Diskusi ini juga menyoroti peran penting penerbit universitas (university press) dalam menaikkan indeks literasi nasional. BINUS University, dengan reputasi globalnya, dinilai sebagai mitra strategis yang tepat untuk mengembangkan model penerbitan buku yang mampu bersaing di kancah internasional.

Rintisan kerjasama ini direncanakan akan berlanjut pada kegiatan teknis yang mencakup kolaborasi penulisan, penyuntingan bersama, hingga distribusi karya ilmiah populer bagi masyarakat luas. Begitu pula, direncanakan satu kegiatan bersama ASEAN Symposium on Higher Education. Sebuah perhelatan perguruan tinggi Asia Tenggara yang akan dilaksanakan Maret sampai awal April 2026 di Jakarta dengan metode hybrid.

Seminar Proposal (ISW)

Sebelum Semester Ganjil Berakhir, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Laksanakan Seminar Proposal Skripsi Terintegrasi

BOMBANA – Menjelang penghujung semester ganjil tahun akademik ini, Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan sukses menyelenggarakan Seminar Proposal Skripsi Terintegrasi. Berbeda dari format akademik konvensional, kegiatan ini dilaksanakan secara langsung di lokasi pengabdian masyarakat di Kecamatan Poleang Timur, Kabupaten Bombana (Kamis, 15 Januari 2026).

Langkah inovatif ini diambil untuk mendekatkan dunia akademik dengan realitas sosial di lapangan. Melalui integrasi ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memaparkan rencana penelitian secara teoretis, tetapi juga mampu memotret permasalahan nyata yang ada di tengah masyarakat Poleang Timur.

Seminar ini diikuti oleh jajaran dosen penguji dan mahasiswa tingkat akhir yang tengah mempersiapkan tugas akhir mereka. Integrasi antara seminar proposal dan pengabdian masyarakat bertujuan agar hasil penelitian mahasiswa nantinya memiliki relevansi tinggi dan memberikan solusi konkret bagi daerah setempat.

Wakil Rektor Administrasi Keuangan dan Kerjasama IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan pentingnya model integrasi ini dalam mencetak lulusan yang peka terhadap kondisi sosial.

“Pelaksanaan seminar proposal di lokasi pengabdian ini merupakan wujud nyata dari komitmen kampus untuk menyatukan pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kami ingin memastikan bahwa riset yang dilakukan mahasiswa tidak hanya berhenti sebagai tumpukan kertas di perpustakaan, tetapi diawali dengan sentuhan langsung pada kemaslahatan umat di Poleang Timur,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Penyelesaian seminar proposal sebelum berakhirnya semester ganjil ini merupakan strategi institusi untuk mempercepat masa studi mahasiswa. Dengan tuntasnya tahapan ini, mahasiswa diharapkan dapat segera memulai penelitian lapangan pada semester genap mendatang tanpa kendala administratif yang menumpuk.

Masyarakat dan tokoh setempat di Poleang Timur menyambut baik kehadiran para akademisi ini. Mereka berharap hasil penelitian mahasiswa IAI Rawa Aopa dapat membantu pengembangan potensi desa, baik dari sisi keagamaan, pendidikan, maupun sosial ekonomi.

Papua Baik Sorong (ISW)

Akselerasi Pengembangan SDM di Tanah Papua, Yayasan SMILE Tanah Papua Bersinergi dengan IAI Rawa Aopa

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah Timur Indonesia terus mendapat perhatian serius. Sebagai langkah nyata, Yayasan SMILE Tanah Papua mulai menjalin sinergi strategis dengan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa, Sulawesi Tenggara. Kerjasama ini difokuskan pada program akselerasi pendidikan, pengabdian masyarakat, dan penguatan literasi bagi generasi muda Papua.

Sinergi ini lahir dari kesadaran bersama bahwa tantangan geografis dan aksesibilitas pendidikan di Tanah Papua memerlukan kolaborasi lintas lembaga dan lintas wilayah. Dengan menggandeng institusi akademis seperti IAI Rawa Aopa, diharapkan terjadi pertukaran gagasan serta implementasi program yang lebih terukur.

Beberapa poin utama dalam kerjasama ini meliputi diantaranya pemberian beasiswa: skema bantuan pendidikan bagi putra-putri Papua untuk menempuh studi lanjut. Bergitu pula, Peningkatan Kompetensi Guru: Pelatihan metode pengajaran inovatif bagi tenaga pendidik di daerah terpencil. Terakhir, Literasi Digital: Pendampingan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk ekonomi kreatif.

Akademisi sekaligus praktisi pendidikan yang mengawal inisiatif ini, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kolaborasi ini sebagai langkah awal, juga akan menjadi langkah konkret untuk menjemput masa depan Papua yang lebih cerah.

“Pengembangan SDM di Tanah Papua tidak bisa dilakukan secara parsial. Kita memerlukan ekosistem yang saling mendukung. Sinergi antara Yayasan SMILE dan IAI Rawa Aopa adalah jembatan ilmu pengetahuan yang menghubungkan potensi lokal dengan standar akademik yang mumpuni. Kita ingin memastikan bahwa setiap anak Papua memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas demi kemajuan bangsa,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Sementara itu, Yayasan SMILE Tanah Papua yang baru saja didirikan pada desember yang lalu menyampaikan bahwa kerjasama ini dapat menjadi pemantik bagi lembaga lain untuk bersama-sama turut berkontribusi. Dengan SDM yang unggul, pengelolaan potensi alam Papua diharapkan dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan yang memberdayakan masyarakat Papua.

Implementasi program perdana dari sinergi ini dimulai pada awal semester ini, dengan fokus awal pada pemetaan kebutuhan pendidikan di wilayah pesisir dan pegunungan. Kemudian menawarkan bagi alumnus sekolah menengah untuk menempuh pendidikan sarjana dengan metode belajar hybrid pada program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan juga Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) pada Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan.

IMG-20260114-WA0003

IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Rayakan Dies Natalis IX dengan Dialog Publik Internasional

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan memperingati Dies Natalis ke-IX dengan menggelar Dialog Publik Internasional yang menghadirkan akademisi dari dalam dan luar negeri. Kegiatan ini merupakan rangkaian perayaan Dies Natalis sekaligus penegasan komitmen institusi dalam memperluas jejaring dan wawasan keilmuan di tingkat global.

Peringatan Dies Natalis IX berlangsung khidmat di Kampus IAI Rawa Aopa, Andoolo, Senin (11/11/2025), dan dihadiri oleh civitas akademika, perwakilan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta mitra strategis institusi.

Dalam sambutannya, Dewan Pembina IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Al Asri, S.Pd.I., M.Si., menegaskan bahwa usia sembilan tahun merupakan momentum refleksi dan penguatan komitmen institusi dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam.

“Sembilan tahun hanyalah sebuah angka. Ini adalah penanda komitmen kami untuk terus hadir sebagai mercusuar pendidikan tinggi Islam di Konawe Selatan, bahkan di wilayah 3T. Setiap capaian yang kita raih adalah hasil kerja keras dan kolaborasi seluruh pihak,” ujar Al Asri.

Sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis, IAI Rawa Aopa bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Persiapan Konawe Selatan menyelenggarakan Dialog Publik Internasional. Kegiatan ini digelar secara hybrid di Auditorium Al Asri, Hotel Zam Zam, Andoolo, sehingga memungkinkan partisipasi narasumber dan peserta lintas negara.

Dialog publik tersebut menghadirkan sejumlah pembicara kunci dari berbagai institusi nasional dan internasional, termasuk mitra perguruan tinggi luar negeri IAI Rawa Aopa, seperti Fatoni University (Thailand) dan Universiti Sultan Zainal Abidin (Malaysia).

Sejumlah isu strategis menjadi fokus pembahasan, di antaranya integrasi nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal dalam pengembangan teknologi digital, strategi kolaborasi antarperguruan tinggi melalui program pertukaran mahasiswa dan riset bersama, serta penguatan literasi lintas budaya dan moderasi beragama dalam menghadapi tantangan global.

Sekretaris Dewan Pembina Yayasan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, yang bertindak sebagai moderator, menekankan pentingnya kerja sama lintas negara dalam dunia pendidikan tinggi.

“Kolaborasi pendidikan tinggi antar negara adalah kunci untuk menciptakan lulusan yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan budaya yang tinggi. IAI Rawa Aopa telah menunjukkan inisiatif luar biasa dalam membuka ruang diskusi global ini,” kata Ismail.

Menurut Ismail, peringatan Dies Natalis IX ini juga menjadi momentum strategis bagi IAI Rawa Aopa untuk menegaskan visi jangka panjangnya, yakni bertransformasi dari institut menjadi universitas Islam yang berdaya saing global.

“Tidak hanya berkiprah di tingkat lokal, tetapi memiliki daya saing global,” ujarnya.

Komitmen tersebut dinilai sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan dalam pemerataan akses pendidikan berkualitas, khususnya bagi masyarakat di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T). Keberhasilan menyelenggarakan kegiatan berskala internasional dinilai menjadi indikator kesiapan IAI Rawa Aopa berkontribusi dalam kancah akademik global.

Acara Dies Natalis IX dan Dialog Publik Internasional ini secara resmi dibuka oleh Bupati Konawe Selatan yang diwakili Asisten II. Pada kesempatan tersebut, pihak kampus juga memperkenalkan sejumlah program akademik yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia dan penelitian berbasis isu lokal dan global.

Peringatan Dies Natalis IX ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga penegasan posisi IAI Rawa Aopa Konawe Selatan sebagai institusi pendidikan tinggi Islam yang berorientasi pada mutu, kolaborasi, dan kontribusi nyata dalam pembangunan peradaban melalui pendidikan.

Sesi FGD bersama Mitra Perguruan Tinggi (ISW)

Tindak Lanjut MoU dan MoA dengan STIT Padang Lawas Gunung Tua, Sumatera Utara, Mempersiapkan Seminar Kolaboratif

Andoolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menunjukkan komitmen serius dalam memperkuat jejaring akademik lintas pulau. Sebagai langkah konkret pasca diskusi untuk persiapan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Padang Lawas, Gunung Tua, Sumatera Utara (Selasa, 13 Januari 2026). Kedua institusi kini tengah mematangkan persiapan penyelenggaraan seminar bersama (joint seminar) yang akan berlangsung sabtu pekan mendatang.

Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam pengembangan riset dan publikasi ilmiah bagi dosen serta mahasiswa di kedua belah pihak. Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar seremonial di atas kertas. Menurutnya, pertemuan dan koordinasi intensif terus dilakukan untuk memastikan poin-poin kesepakatan segera terwujud dalam aksi nyata.

Dalam pernyataannya, Ismail Suardi Wekke menyampaikan bahwa kerja sama dengan STIT Padang Lawas merupakan langkah bagi IAI Rawa Aopa dalam memperluas cakrawala akademik. Ismail juga menyatakan bahwa pihak IAI Rawa Aopa Konawe Selatan tidak ingin MoU ini hanya berhenti di penandatanganan saja. 

“Seminar bersama yang sedang kami siapkan adalah bukti bahwa ada semangat berbagi pengetahuan (knowledge sharing) antara Sulawesi Tenggara dan Sumatera Utara. Ini adalah upaya kami untuk terus berinovasi dan meningkatkan rekognisi institusi di level nasional,” ujar Ismail Suardi Wekke, Wakil Rektor Bidang Administrasi Keuangan dan Kerjasama.

Seminar yang direncanakan akan mengangkat isu-isu kontemporer di bidang pendidikan Islam dan tantangan lokalitas di era digital. Selain seminar, MoA ini juga diproyeksikan mencakup: pertukaran naskah jurnal: Mendorong dosen kedua institusi untuk saling berkontribusi dalam jurnal ilmiah masing-masing.

Berikutnya, kolaborasi riset: Melakukan penelitian bersama yang membandingkan fenomena sosial keagamaan di wilayah Sumatera dan Sulawesi. Termasuk juga pengabdian masyarakat: Program kolaborasi yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat di sekitar kampus.

Dengan adanya tindak lanjut yang cepat ini, diharapkan hubungan antara IAI Rawa Aopa dan STIT Padang Lawas dapat menjadi model kolaborasi yang produktif bagi perguruan tinggi keagamaan Islam swasta di Indonesia.