Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo — Geliat akademik kembali perlahan bergerak melalui sudut-sudut Kampus Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa. Setelah jeda libur panjang yang mengosongkan ruang-ruang diskusi, ritme kehidupan kampus di jantung Andoolo, Konawe Selatan, itu kembali berdetak kencang pada Sabtu, 19 September 2026. Penandanya bukan sekadar dering bel kelas pertama, melainkan sebuah perhelatan mimbar akademik bergengsi: kuliah umum penyambutan semester ganjil tahun akademik 2026/2027.
Pihak kampus tampaknya tak ingin seremoni awal semester ini berlalu layaknya rutinitas kalender tahunan belaka. Untuk memantik adrenalin intelektual para mahasiswa dan dosen, mereka memboyong sosok strategis. Tak tanggung-tanggung, Sekretaris Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) Wilayah VIII, AG Dr. KH Nur Taufiq Sanusi, M.Ag., didaulat untuk naik ke mimbar utama Kampus Andoolo.
Menakhodai wilayah kerja yang membentang luas meliputi seluruh jazirah Sulawesi, kepulauan Maluku, hingga bentang alam Papua, kehadiran Kiai Nur Taufiq jelas membawa bobot tersendiri bagi perguruan tinggi di ufuk tenggara Sulawesi ini.
Duduk sebagai pembicara tunggal, AG Nur Taufiq tak sekadar melempar petuah normatif soal rajin belajar. Di hadapan ratusan pasang mata civitas academica yang memadati balai pertemuan, ia membedah urat nadi tantangan pendidikan tinggi Islam di era kiwari. Isu sentral yang dibawanya berkutat pada bagaimana perguruan tinggi Islam swasta harus lincah beradaptasi menghadapi disrupsi zaman, tanpa harus tercerabut dari akar tradisi keislaman.
Lebih dari itu, mimbar tersebut menjadi ruang bagi Kopertais untuk menitipkan amanat besar: menjadikan kampus seperti IAI Rawa Aopa sebagai benteng moderasi beragama di kawasan timur Indonesia. Mahasiswa tidak boleh lagi sekadar menjadi penonton atau konsumen pengetahuan, melainkan didorong untuk tampil sebagai episentrum pemikiran yang progresif namun tetap berpijak pada etika moral yang kukuh.
Langkah IAI Rawa Aopa mendatangkan petinggi Kopertais VIII ini sesungguhnya bisa dibaca sebagai sinyalemen unjuk gigi institusi. Kampus yang berakar di Andoolo ini tengah merajut ambisi besar untuk terus mengerek akreditasi, mutu lulusan, dan tata kelola lembaganya. Menghadirkan regulator dan pengawas dari Kopertais secara langsung ibarat membuka etalase transparansi dan kesiapan kampus dalam menjalankan standar penjaminan mutu pendidikan tinggi nasional.
Suasana di ruang kuliah umum itu pun menghangat oleh dialektika. Deretan kursi yang disiapkan panitia tampak tak menyisakan celah kosong. Mulai dari mahasiswa baru yang masih diliputi euforia peralihan status, hingga mahasiswa tingkat akhir dan jajaran dosen, semuanya tampak khusyuk menyimak peta jalan pendidikan yang dipaparkan sang pembicara. Interaksi yang terbangun menunjukkan betapa ruang-ruang kampus di daerah pun haus akan sentuhan diskursus dari pusat kebijakan.
Ketika jarum jam bergeser merampungkan acara pada Sabtu siang itu, sebuah pijakan baru telah tertanam. Kuliah perdana ini bukan semata gong penanda usainya masa liburan. Bagi IAI Rawa Aopa, ini adalah titik tolak untuk memacu pedal gas lebih dalam, mengarungi bahtera semester ganjil 2026/2027 dengan kompas akademik yang baru saja dikalibrasi ulang oleh sang petinggi Kopertais.
