Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta –
Kegiatan Pesantren Jurnalistik menjadi kegiatan dalam mengisi agenda Amaliah Ramadhan, mengubah rutinitas ibadah menjadi lebih produktif dan kreatif. Alih-alih hanya berfokus pada hafalan teks keagamaan secara konvensional, para santri diajak untuk mengeksplorasi makna spiritualitas melalui untaian kata.
Diprakarsai bersama Kreasi Communication dan Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan, didukung oleh pelbagai media nasional, dilaksanakan kegiatan Pesantren Jurnalistik (daring). Insya Allah dilaksanakan, Ahad, 15 Maret 2026, Pukul 14.00 WIB (Jakarta).

Program ini mempertemukan kedalaman nilai-nilai Islam dengan keterampilan literasi modern, sehingga Ramadhan tidak hanya menjadi momen transformasi batin, tetapi juga ajang pengembangan kapasitas intelektual. Dalam kegiatan ini, para peserta dibekali dengan teknik dasar penulisan, mulai dari cara menentukan sudut pandang berita hingga seni merangkai opini yang berbobot.
Belajar menulis di bulan puasa menuntut konsentrasi yang unik; di tengah rasa lapar dan dahaga, para santri dilatih untuk tetap tajam dalam berpikir dan jernih dalam menuangkan gagasan. Proses kreatif ini menjadi bentuk “tadabbur” masa kini, di mana setiap fenomena Ramadhan yang mereka lihat di sekitar dipotret ke dalam tulisan yang inspiratif dan informatif.
Selain teknik penulisan berita, Pesantren Jurnalistik juga menekankan pentingnya etika komunikasi atau adabul lisan dalam bentuk teks. Di era informasi yang serba cepat ini, santri diajarkan untuk menjadi penyaring berita bohong (hoaks) dan penebar narasi positif yang menyejukkan. Melalui bimbingan mentor, mereka memahami bahwa setiap huruf yang diketik adalah tanggung jawab moral yang harus dipertanggungjawabkan, selaras dengan semangat kejujuran yang diajarkan dalam ibadah shaum.
Hasil dari proses belajar ini biasanya dituangkan dalam bentuk karya nyata, seperti buletin Ramadhan, majalah dinding masjid, hingga konten kreatif di media sosial. Hal ini memberikan kebanggaan tersendiri bagi para santri saat melihat gagasan mereka dapat dinikmati dan bermanfaat bagi orang lain.
Dengan menulis, pesan-pesan kebaikan yang mereka pelajari selama bulan suci tidak akan menguap begitu saja setelah Idul Fitri tiba, melainkan terdokumentasi secara abadi dan dapat menjangkau audiens yang lebih luas. Pada akhirnya, Pesantren Jurnalistik dalam rangkaian Amaliah Ramadhan ini berhasil menciptakan generasi muda yang melek media dan religius secara bersamaan.
Menulis menjadi sarana dakwah kontemporer yang sangat efektif di tangan para santri yang terampil. Dengan berakhirnya program ini, diharapkan kegemaran membaca dan menulis terus berlanjut sebagai gaya hidup, menjadikan literasi sebagai salah satu pilar utama dalam membangun peradaban Islam yang lebih maju.
