Rawaaopakonsel.ac.id, Toronipa — Deru ombak dan embusan angin pesisir Pantai Toronipa menjadi latar perbincangan serius jajaran Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa, Ahad, 20 September 2026. Alih-alih berkumpul di balik dinding ruang rapat formal yang kaku, para pengurus yayasan dan pimpinan sivitas akademika kampus asal Konawe Selatan itu memilih duduk di tepi pantai, membedah arah masa depan institusi.
Agenda hari itu berpusat pada satu misi: merancang peta jalan transformasi menuju Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) yang berdaya saing dan unggul. Diskusi strategis ini dipandu langsung oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan, Al Asri, yang bertindak sebagai moderator sembari menjaga ritme perbincangan tetap fokus di tengah semilir angin laut.
Di hadapan jajaran pimpinan institut dan pengurus yayasan, Anregurutta (AG) Dr. KH. Nur Taufiq Sanusi memaparkan langkah-langkah krusial pengembangan kelembagaan. Sekretaris Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah VIII yang juga akademisi UIN Alauddin Makassar tersebut membedah ragam tantangan mendasar yang dihadapi perguruan tinggi Islam swasta di kawasan Indonesia timur.
Menarik analogi dari alam terbuka tempat mereka berdiskusi, KH. Nur Taufiq mengingatkan konsekuensi dari sebuah pertumbuhan institusi.
Karena itu, ia menegaskan bahwa ambisi membesarkan institusi harus berbanding lurus dengan kematangan tata kelola dan ketangguhan kepemimpinan. Transformasi menuju kampus unggul menuntut kesiapan menyeluruh—mulai dari legalitas kelembagaan, kepatuhan terhadap standar akreditasi, hingga produktivitas riset dosen yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Ibarat peribahasa, semakin tinggi pohon, maka semakin kencang pula hembusan angin yang menerpa. Begitu pula dalam konteks perguruan tinggi: semakin besar kampus ini bertumbuh, semakin kompleks dan besar pula masalah yang harus dihadapi,” tutur KH. Nur Taufiq.
