IMG-20260401-WA0068

Menatap Masa Depan Sains: Pesan Inspirasi dari Webinar Women in Science IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dan Bank BSN

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan sukses menggelar webinar bertajuk “Women in Science” yang berkolaborasi dengan Bank BSN Cabang Kendari. Kegiatan ini menjadi momentum krusial dalam menyoroti peran strategis perempuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era modern. Dilaksanakan secara hybrid dari kampus IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Senin (16/3/2026).

Rektorat IAI Rawa Aopa menegaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam ranah saintifik bukan sekadar pemenuhan kuota, melainkan kebutuhan esensial bagi kemajuan inovasi daerah. Kolaborasi dengan sektor perbankan seperti Bank BSN juga diharapkan mampu membuka peluang pemberdayaan ekonomi berbasis literasi digital dan sains bagi kaum perempuan.

Ismail Suardi Wekke, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, menyampaikan apresiasi mendalam atas sinergi lintas sektor ini. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa melalui integrasi antara akademisi dan praktisi keuangan, hambatan struktural yang selama ini dihadapi ilmuwan perempuan dapat diminimalisir secara bertahap.

Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan dan sektor perbankan merupakan langkah konkret untuk memastikan keberlanjutan riset yang inklusif. Ia juga menyampaikan bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia sains akan menjadi motor penggerak transformasi sosial di wilayah Konawe Selatan. Selain itu, beliau menambahkan bahwa pihak rektorat berkomitmen penuh untuk mengalokasikan sumber daya guna mendukung ekosistem akademik yang ramah bagi peneliti perempuan.

“Webinar ini adalah jembatan emas bagi para perempuan di Sulawesi Tenggara untuk membuktikan bahwa kontribusi mereka di dunia sains sejajar dengan peran mereka di sektor pembangunan lainnya,” ujar Ismail Suardi Wekke saat membuka sesi diskusi utama.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya dukungan finansial dan pendampingan dalam setiap inovasi yang dihasilkan. “Kami tidak ingin riset perempuan hanya berakhir di perpustakaan; dukungan Bank BSN adalah kunci agar inovasi tersebut memiliki nilai ekonomi dan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Ismail mengajak seluruh peserta untuk melihat sains sebagai instrumen pengabdian. “Sinergi hari ini menunjukkan bahwa Women in Science bukan sekadar tema seremonial, melainkan panggilan bagi kita semua untuk menciptakan keadilan akses dalam penguasaan teknologi,” pungkasnya.

Acara yang berlangsung secara hybrid ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga praktisi perbankan. Diskusi mengalir hangat dengan fokus pada tantangan serta peluang masa depan bagi perempuan dalam meniti karier di bidang sains dan teknologi.

Laos (ISW)

Pengabdian Masyarakat Kolaboratif Internasional di Laos, Bersama IGDA Al Washliyah

Rawaaopakonsel.ac.id, — Presiden Islamic Laos Foundation, Zakir, meminta organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam asal Indonesia, Al Jam’iyatul Washliyah (Al Washliyah), untuk mengirimkan guru-guru bidang keislaman (Islamic studies) ke Laos. Kehadiran para pengajar tersebut diharapkan dapat membina masyarakat muslim setempat sekaligus memperkuat pengembangan dakwah Islam di negara tersebut.

Permintaan itu disampaikan Zakir saat bertemu dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Guru dan Dosen Al Washliyah (PP IGDA), H. Marjuan Ibrahim, Lc., M.A., di Kota Vientiane, Laos, Selasa (17/3/2026). Kunjungan Marjuan merupakan bagian dari kolaborasi pengabdian masyarakat kolaboratif internasional di Laos, termasuk partisipasi Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan.

Zakir menilai praktik dan corak keislaman di Indonesia sangat cocok menjadi role model bagi perkembangan Islam di Laos. Menurutnya, masyarakat muslim Laos lebih akrab dengan tradisi dan amaliyah Mazhab Syafi’i, serupa dengan mayoritas muslim di Indonesia. Hal ini berbeda dengan komunitas muslim keturunan Pakistan dan India di Laos yang umumnya menganut Mazhab Hanafi.

“Walaupun bahasa Siam (Thailand) memiliki kemiripan dengan bahasa Laos, beberapa imam (luar) yang pernah berkunjung ke Masjid Al Ikhlas Vientiane memiliki visi dan amaliyah yang kurang sesuai dengan masyarakat muslim di sini,” ujar Zakir.

Tak hanya meminta tenaga pendidik, Zakir juga membuka pintu bagi warga Al Washliyah yang berminat untuk berimigrasi dan menetap di Laos. Pihaknya siap memfasilitasi pembentukan komunitas muslim baru di wilayah tersebut.

Bahkan, Islamic Laos Foundation telah menyiapkan lahan seluas 20 hektar yang rencananya akan digunakan untuk pembangunan masjid keempat di Vientiane, perumahan komunitas muslim, serta sekolah Islam akhir pekan (Sabtu-Minggu). Langkah strategis ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan demografi dan memperkuat benteng budaya lokal di tengah derasnya arus imigran asing.

Menanggapi permintaan tersebut, Ketua Umum PP IGDA Marjuan Ibrahim menyambut positif dan berharap Al Washliyah dapat menjadi pionir (assabiqunal awwalin) dalam penyebaran syiar Islam serta pembangunan pondasi pendidikan Islam di Laos.

Kehadiran Marjuan Ibrahim di Laos merupakan bagian dari undangan resmi Islamic Laos Foundation. Selain bertugas sebagai Khatib Salat Idulfitri 1447 H di Masjid Al Ikhlas, Distrik Khamsavat, Vientiane, ia juga memberikan pelatihan (training) bagi imam masjid serta meletakkan dasar penguatan kegiatan kemasjidan berbasis model pengelolaan masjid di Indonesia.

Kegiatan bersama IGDA Al Washliyah dengan Ketua Umu, Marjuan dijadwalkan di Laos selama seminggu, mulai Sabtu (14/3/2026) hingga Jumat (20/3/2026).

Sebagai informasi, Masjid Al Ikhlas merupakan tempat ibadah terbaru yang baru aktif menyelenggarakan shalat fardhu lima waktu, shalat Jumat, dan shalat Tarawih pada Ramadan 1447 H. Masjid ini menjadi pusat ibadah ketiga di Vientiane setelah Masjid Al Azhar (yang didirikan komunitas Kamboja pada tahun 1968 sebelum Laos menjadi negara komunis) dan Masjid Jamiah (didirikan komunitas India pada tahun 1970).