IMG-20260213-WA0005

Sains dan Keadilan: Menilik Visi IAI Rawa Aopa dalam Forum Kepemimpinan Pemuda di UKM

Rawaaopakonsel.ac.id, Bangi – Forum Youth Leadership Dialogue 2026 yang diselenggarakan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada Rabu (11/2/2026), menjadi panggung bagi diskusi kepemimpinan pemuda strategis masa depan.

Dalam kegiatan bertajuk AI Future Readiness: Empowering Malaysia’s Next Generation for an AI-Driven Economy tersebut, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menekankan pentingnya integrasi sains dan nilai agama dalam merumuskan kebijakan publik.

Di hadapan para mahasiswa dan calon pemimpin dari Neo G5 (UKM-GSB) serta MINDA-UKM, Ismail memaparkan gagasan inovatif mengenai pendekatan harm reduction atau pengurangan bahaya sebagai jalan tengah strategis bagi negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Menurutnya, kebijakan kesehatan tidak boleh hanya kaku pada angka medis, tetapi harus berpijak pada nilai Maslahah untuk kebaikan bersama dan Hifz al-Nafs demi perlindungan jiwa.

Pendekatan ini dinilai sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki ketergantungan kuat pada industri tembakau dan cengkeh. Ismail menegaskan bahwa transisi menuju kesehatan publik yang lebih baik harus dilakukan secara adil tanpa mengabaikan kesejahteraan jutaan petani.

Penggunaan inovasi teknologi, seperti produk tembakau yang dipanaskan (HTP), disebut sebagai solusi nyata karena secara ilmiah mampu mengurangi paparan zat berbahaya hingga 90-95 persen dibandingkan rokok konvensional.

Dalam kesempatan tersebut, Ismail Suardi Wekke menyampaikan pandangannya secara lugas mengenai arah kepemimpinan masa depan.

“Kita memerlukan kebijakan berbasis bukti yang berani menyatukan antara kemajuan sains dengan kearifan lokal agar perlindungan jiwa dan keadilan ekonomi dapat berjalan beriringan,” ujar Ismail saat menanggapi pemaparan materi.

Ia juga menambahkan bahwa pendekatan moderat ini merupakan manifestasi dari nilai Islam dalam menjawab tantangan zaman. “Inovasi produk tembakau yang dipanaskan adalah bukti nyata bahwa tantangan kesehatan global dapat dimitigasi melalui teknologi tanpa harus menghancurkan struktur ekonomi kerakyatan,” tegasnya.

Ismail juga menekankan bahwa transisi kebijakan yang drastis melalui pelarangan total sering kali mengabaikan akar budaya dan dampak ekonomi yang luas. Beliau menyatakan bahwa prinsip-prinsip fundamental Islam harus menjadi kerangka filosofis dalam merumuskan regulasi yang seimbang.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi mutakhir merupakan kunci utama dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat secara efektif di abad ke-21. Ismail turut menyoroti bahwa di era ekonomi digital dan kecerdasan buatan, kepemimpinan tidak lagi bisa bersifat linear.

Ia berpendapat bahwa pemimpin masa kini dituntut untuk memiliki ketangkasan dalam menyeimbangkan antara regulasi yang ketat dan ruang inovasi yang inklusif. Menurutnya, kegagalan dalam mengadopsi teknologi yang lebih aman bukan hanya kerugian dari sisi kesehatan, melainkan juga kegagalan dalam menjalankan amanah kepemimpinan yang progresif dan berorientasi pada kemanusiaan.

Lebih dalam lagi, paparan ini menyentuh aspek diplomasi internasional di mana Indonesia dan Malaysia memiliki posisi strategis sebagai negara Muslim yang sedang bertransformasi secara ekonomi.

Ismail meyakini bahwa keberanian untuk mengambil posisi sebagai pionir dalam kebijakan pengurangan bahaya akan memperkuat tawar-menawar kedua negara di forum global.

Hal ini menunjukkan bahwa bangsa serumpun mampu merumuskan standar kesehatan modern yang tetap menghormati kedaulatan ekonomi dan tradisi lokal secara harmoni.
Forum ini tidak sekadar menjadi ruang diskusi, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk memberdayakan pemimpin muda dengan wawasan yang dapat segera diimplementasikan.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan para peserta mampu membangun jejaring lintas disiplin dan menumbuhkan warisan keunggulan serta tanggung jawab sosial.

Dengan menajamkan sisi kepemimpinan di tengah ekonomi yang didorong oleh kecerdasan buatan, generasi muda diajak untuk mendefinisikan kembali arti kepemimpinan yang transformatif dan responsif terhadap inovasi global demi kemaslahatan umat manusia secara luas.

Terakhir, ia menyampaikan kepada peserta, “Pemuda sebagai intelektual masa depan harus mampu memimpin dengan diplomasi kebijakan yang berbasis data di panggung internasional”.

IMG-20260208-WA0040

Pertahankan Kerja Sama Global, Pimpinan IAI Rawa Aopa Hadiri Youth Leadership Dialogue UKM 

Rawaaopakonsel.ac.id, Kuala Lumpur – Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dijadwalkan menggelar forum internasional bertajuk Youth Leadership Dialogue pada Rabu, 11 Februari 2026 mendatang.

 

Perhelatan yang akan berlangsung di Kampus UKM, Bangi, ini secara khusus mengundang jajaran pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan untuk berpartisipasi aktif dalam mendiskusikan masa depan kepemimpinan pemuda di kawasan Asia Tenggara.

 

Pihak IAI Rawa Aopa telah mengonfirmasi kehadiran mereka dalam agenda strategis tersebut. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menyatakan kesiapannya untuk bertolak menuju Malaysia guna memenuhi undangan dari salah satu universitas riset terbaik di Negeri Jiran tersebut.

 

Saat dikonfirmasi mengenai kepastian keberangkatan tim, Ismail Suardi Wekke memberikan pernyataan singkat namun tegas bahwa rombongan pimpinan dipastikan akan turut serta dalam dialog tersebut.

 

“Insya Allah hadir,” ungkap Ismail saat ditemui di sela-sela aktivitas dalam workshop publikasi pasca konferensi di Jakarta, Ahad (8/2/2026).

 

Ismail Suardi Wekke menambahkan bahwa keterlibatan IAI Rawa Aopa dalam forum ini merupakan bagian dari komitmen kampus untuk memperluas jejaring internasional, terutama di tingkat regional Asia Tenggara. Ia menekankan bahwa dialog di UKM ini sangat penting karena kepemimpinan pemuda adalah kunci dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

 

Selain itu, Ismail menyampaikan bahwa melalui forum ini, IAI Rawa Aopa ingin menunjukkan kontribusi aktif perguruan tinggi dari daerah dalam kancah akademik internasional. Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Universiti Kebangsaan Malaysia akan memberikan perspektif baru bagi pengembangan kemahasiswaan di IAI Rawa Aopa.

 

“Kami memandang undangan ini sebagai peluang emas untuk mendiskusikan model kepemimpinan yang relevan dengan nilai-nilai lokal namun tetap memiliki daya saing global,” tutur Ismail yang juga alumni pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia.

 

Dalam keterangannya pada kesempatan yang sama, Ismail Suardi Wekke menggarisbawahi pentingnya pertukaran ide antar-pimpinan perguruan tinggi dalam acara tersebut. “Kunjungan ini bukan sekadar menghadiri dialog, tetapi juga merupakan langkah konkret untuk menjajaki kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat antara IAI Rawa Aopa dan UKM di masa depan,” tegasnya.

 

IAI Rawa Aopa yang berlokasi di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, senantiasa melaksanakan langkah-langkah akselerasi dalam pengembangan sumber daya manusia. Sebagai kampus yang sedang berkembang di kawasan penyangga Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, partisipasi dalam Youth Leadership Dialogue di Bangi diharapkan mampu mempertahankan reputasi institusi sekaligus memberikan pengalaman internasional bagi jajaran pimpinan dan civitas akademika.