Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus melakukan langkah progresif dalam meningkatkan kualitas lulusan melalui penguatan kerja sama internasional. Salah satu program unggulan yang kini tengah digalakkan adalah fasilitasi magang mahasiswa ke Jepang. Program ini tidak hanya sekadar praktik kerja, namun dirancang secara sistematis sebagai bagian integral dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk memperpendek jarak antara dunia akademik dan kebutuhan industri global. “Kami berkomitmen untuk menyediakan jembatan bagi mahasiswa agar mereka bisa mencicipi atmosfer kerja di negara maju seperti Jepang,” ungkap Ismail Suardi Wekke sebagai pernyataan pertamanya.
Implementasi program ini dipastikan akan mempermudah mahasiswa dalam penyelesaian studi karena sistem konversi nilai yang jelas. Ismail Suardi Wekke menegaskan dalam pernyataan kedua bahwa melalui skema MBKM, pengalaman praktis yang didapatkan mahasiswa di luar negeri akan diakui sepenuhnya sebagai pemenuhan beban SKS, sehingga mahasiswa tidak perlu khawatir akan keterlambatan kelulusan selama menjalani magang.
Terkait teknis pelaksanaan, Ismail Suardi Wekke menyampaikan bahwa pihak kampus sedang menyusun regulasi pendukung agar sinkronisasi antara kurikulum prodi dengan aktivitas di lokasi magang dapat berjalan tanpa hambatan teknis. Beliau optimis bahwa rekognisi pengalaman internasional ini akan menjadi nilai tambah yang signifikan bagi portofolio akademik mahasiswa saat mereka menyelesaikan pendidikan nanti.
Lebih lanjut, program ini menitikberatkan pada pengembangan karakter dan etos kerja yang menjadi ciri khas industri di Negeri Sakura. “Magang ini merupakan laboratorium kehidupan bagi mahasiswa untuk mengadopsi kedisiplinan dan budaya kerja profesional yang sangat ketat,” ujar Ismail Suardi Wekke.
Ia berharap sekembalinya dari Jepang, mahasiswa membawa pola pikir baru yang dapat memicu inovasi di daerah asal mereka. “Kita punya kesempatan belajar ke negara lain,” lanjut Ismail Suardi Wekke yang juga beberapa kali menerima undangan menyajikan makalah di Jepang melalui Tohoku University.
Sebagai penutup, Ismail Suardi Wekke dalam pernyataan menekankan pentingnya jejaring internasional dalam membangun karier di masa depan. “Di era disrupsi ini, memiliki ijazah saja tidak cukup; mahasiswa membutuhkan koneksi dan pemahaman lintas budaya untuk dapat bersaing di tingkat global,” lanjutnya.
Dengan adanya program ini, IAI Rawa Aopa memposisikan diri sebagai institusi yang tanggap terhadap dinamika global demi masa depan generasi muda Sulawesi Tenggara. “Awalnya Oxford, Cambdridge, dan lokasi-lokasi kampus masyhur hari ini berawal dari kampung juga. Maka, dengan aktifasi kegiatan ini, menjadikan Andoolo juga masyhur di pentas global,” pungkas Ismail.
