Dirgahayu (ISW)

Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia 2026, Sekali Merdeka Tetap Merdeka

Rawaaopakonsel.ac.id, Kendari – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 menjadi momentum untuk mengontekstualisasikan kembali semboyan historis “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”. Di tengah dinamika globalisasi dan transformasi digital, esensi kemerdekaan menuntut interpretasi baru: dari perjuangan fisik merebut kedaulatan menuju ketahanan epistemik dan sosial.

Wakil Rektor Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa peringatan kemerdekaan bukan sekadar seremoni kalender, melainkan proses evaluasi atas kapasitas bangsa dalam merawat nalar kritis dan kemandirian intelektual.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, kedaulatan sebuah bangsa berakar pada kekuatan institusi lokal dalam memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan. Kemerdekaan sejati di era modern diukur dari seberapa inklusif akses pendidikan menjangkau wilayah rural dan kawasan penyangga.

“Kemerdekaan hari ini adalah bagaimana kita membebaskan generasi muda dari keterbelakangan literasi dan ketergantungan teknologi tanpa batas. Wilayah seperti Konawe Selatan memiliki potensi lokal melimpah yang harus dikelola dengan pendekatan saintifik dan etika keagamaan yang kokoh,” ujar Ismail Suardi Wekke.
Poin-poin strategis yang menjadi sorotan dalam penguatan kemerdekaan berbasis akademik meliputi:
  • Desentralisasi Keilmuan: Mendorong kampus-kampus di daerah untuk menjadi pusat kajian berbasis kearifan lokal (local wisdom) yang berdaya saing nasional.
  • Integrasi Nilai Agama dan Sains: Membangun paradigma keilmuan yang adaptif terhadap sains modern tanpa mereduksi nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
  • Kemandirian Berpikir Generasi Muda: Membekali mahasiswa dengan kecakapan berpikir analitis (critical thinking) guna menyaring disinformasi di era digital.

Slogan “Sekali Merdeka Tetap Merdeka” diposisikan sebagai imperatif moral yang menuntut kontribusi nyata di sektor pendidikan tinggi. Melalui penguatan riset aplikatif, pengabdian masyarakat, dan penguatan karakter, perguruan tinggi di daerah memegang peranan krusial sebagai pilar kedaulatan bangsa.

Peringatan Dirgahayu Kemerdekaan RI 2026 ini menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pusat-pusat metropolitan, tetapi juga oleh denyut inovasi dan dedikasi akademis yang tumbuh dari kawasan seperti Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

HIDI (ISW)

IAI Rawa Aopa Bersiap Melaksanakan KKA, Mendapatkan Dukungan dari HIDI Indonesia

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan bersiap menerjunkan ratusan mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Amaliah (KKA) mendatang. Sebagai kelanjutan dari pelaksanaan sebelumnya, program pengabdian masyarakat terpadu ini mendapatkan amunisi dan dukungan penuh dari Halal Industry Development of Indonesia (HIDI) Indonesia, khususnya dalam akselerasi literasi serta regulasi halal di tingkat masyarakat.

Kepastian sinergi strategis ini dicapai setelah Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menjalin komunikasi intensif dengan Direktur HIDI Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Muhammad Nusran. Langkah ini diambil sebagai bagian dari persiapan menghadapi pemberlakuan ketentuan wajib halal yang ditargetkan mulai berlaku penuh pada Oktober mendatang.

Melalui kerja sama ini, para mahasiswa peserta KKA tidak hanya akan menyerap aspirasi dan mendampingi warga, tetapi juga dibekali peran khusus sebagai agen penyebar informasi mengenai regulasi dan pentingnya kesadaran produk halal di kawasan pedesaan.

Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa KKA tahun ini didesain agar memberikan dampak konkrit, tidak hanya bagi kurikulum akademik mahasiswa, tetapi juga bagi kebutuhan praktis masyarakat dan para pelaku usaha kecil di daerah.

“KKA bukan sekadar rutinitas akademik tahunan, melainkan bentuk nyata integrasi ilmu dan pengabdian. Melalui kolaborasi dengan HIDI Indonesia, mahasiswa IAI Rawa Aopa akan menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat dan mendampingi pelaku usaha lokal agar siap menghadapi kewajiban sertifikasi halal Oktober mendatang,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Sementara itu, pihak HIDI Indonesia menyambut baik langkah proaktif yang diambil oleh manajemen IAI Rawa Aopa. Direktur HIDI Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Muhammad Nusran, menyatakan komitmennya untuk memberikan pendampingan materi hingga pembekalan teknis bagi mahasiswa sebelum diterjunkan ke lapangan.

Nusran menilai perguruan tinggi memiliki peran kunci sebagai jembatan informasi antara regulasi pemerintah — terkait ekosistem halal — dengan realitas para pelaku UMKM di akar rumput.

Dengan adanya sinergi antara IAI Rawa Aopa dan HIDI Indonesia ini, pelaksanaan KKA diharapkan dapat mempercepat terbentuknya ekosistem desa sadar halal, sekaligus memastikan para pelaku usaha lokal siap dan terfasilitasi sebelum regulasi wajib halal diberlakukan secara menyeluruh.