Rawaaopakonsel.ac.id, Garut – Hasil pengabdian masyarakat kini tak lagi hanya berhenti di laci akademik. Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa bersiap membawa rekam jejak Kuliah Kerja Amaliah (KKA) para mahasiswanya menembus batas benua. Karya dan temuan dari pedesaan Sulawesi Tenggara itu akan diboyong ke ajang internasional bergengsi: Eurasia Tourism Village Competition 2026.
Langkah ini bermula dari kiprah para mahasiswa saat menjalani program KKA di wilayah Kecamatan Meluhu, Kabupaten Konawe, serta sejumlah titik di Kabupaten Konawe Selatan. Selama turun langsung ke masyarakat, mereka memetakan sekaligus mendorong potensi desa setempat. Hasil dari pemberdayaan itulah yang kelak diramu, bukan sekadar sebagai bahan evaluasi kampus, melainkan materi pameran (expo) dan amunisi utama untuk berlaga di kompetisi global.
Eurasia Tourism Village Competition 2026 sendiri bukanlah sekadar adu gengsi. Ajang ini merupakan forum silang gagasan dan ruang sharing strategis yang mempertemukan delegasi dari kawasan Eropa dan Asia. Fokus utamanya adalah menggali, mengenali, dan mempromosikan model-model pengembangan desa wisata yang berkelanjutan di kedua benua. Di panggung inilah IAI Rawa Aopa melihat peluang untuk meletakkan kearifan lokal Sulawesi Tenggara ke dalam radar pariwisata dunia.
Bagi institusi, keikutsertaan di forum Eurasia membawa misi yang lebih besar dari sekadar trofi. Tokoh akademisi dan perwakilan institusi, Ismail Suardi Wekke, menuturkan bahwa langkah ini merupakan strategi penting bagi dunia akademik lokal.
“Ini adalah bagian dari upaya kami dalam memperluas dokumentasi dan diseminasi,” kata Ismail Suardi Wekke, di sela-sela dalam kegiatan Rakornas Forum Dewan Pendidikan Indonesi, Garut, 14 Oktober 2026.
Melalui pameran dan kompetisi di tingkat Eurasia, inovasi serta potensi desa di Konawe dan Konawe Selatan tidak akan lagi menjadi cerita yang bergaung di lingkup lokal semata. Dokumentasi kearifan desa tersebut akan disebarluaskan, dikaji, dan dipertukarkan dengan praktik-praktik terbaik dari berbagai negara di Eropa maupun Asia.
Langkah IAI Rawa Aopa ini memberi sinyal kuat: dari pinggiran Konawe, potensi desa wisata mampu bersuara di panggung diplomasi kebudayaan dunia. Sebuah pembuktian bahwa aksi nyata di tingkat tapak dapat dikemas menjadi tawaran solusi untuk pengembangan pariwisata pedesaan di level global.