STABN Sriwijaya (ISW)

IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dan STABN Sriwijaya, Inisiasi The Indonesian Centre for Muslim-Buddhist Understanding

Rawaaopakonsel.ac.id, Tangerang — Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan bersama Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya merintis langkah transformatif dalam penguatan moderasi beragama dan kajian lintas iman di Indonesia. Kedua lembaga perguruan tinggi keagamaan tersebut menginisiasi pembentukan The Indonesian Centre for Muslim-Buddhist Understanding sebagai wadah kolaborasi akademis dan penelitian keberagamaan.

Buddha (ISW)
STABN Sriwijaya (ISW)

Gagasan strategis ini mengemuka saat Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, melakukan kunjungan resmi ke kampus STABN Sriwijaya pada Kamis, 16 Juli 2026. Kunjungan tersebut menjadi pemicu awal dalam merumuskan agenda bersama yang mengintegrasikan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan pendekatan riset interdisipliner.

Dalam kesempatan tersebut, Ismail Suardi Wekke menyampaikan bahwa keberadaan pusat studi ini sangat krusial untuk membangun pemahaman yang lebih komprehensif antara komunitas Muslim dan Buddha di Indonesia melalui pendekatan ilmiah yang terstruktur.

“Inisiasi The Indonesian Centre for Muslim-Buddhist Understanding ini bukan sekadar wadah akademis biasa, melainkan jembatan dialog ilmiah yang menempatkan riset interdisipliner sebagai fondasi utama dalam merawat kerukunan bangsa,” ujar Ismail.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa kerja sama ini dirancang untuk mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang lebih inklusif dan berdampak nyata bagi pengembangan perguruan tinggi keagamaan (PTK) di Indonesia. Menurutnya, sinergi antar-PTK berbasis keragaman keagamaan akan memperkaya khazanah keilmuan sekaligus memperkuat tata kelola akademik yang adaptif terhadap dinamika zaman.

“Perguruan tinggi keagamaan memiliki tanggung jawab moral dan akademis untuk memberikan kontribusi nyata bagi peradaban. Melalui kolaborasi antara IAI Rawa Aopa dan STABN Sriwijaya, kita ingin menunjukkan bahwa perbedaan fokus keagamaan justru menjadi kekuatan untuk saling melengkapi,” tegas Ismail.

Ismail juga menegaskan komitmen kedua belah pihak untuk segera menindaklanjuti inisiasi ini ke dalam program-program konkret, seperti penelitian bersama (joint research), publikasi ilmiah terpadu, hingga pengabdian masyarakat berbasis kebhinekaan. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem akademik yang mampu menjawab tantangan keberagaman global melalui tradisi intelektual yang kuat.

“Kami optimistis bahwa sinergi ini akan menjadi model pembelajaran dan pengembangan riset interdisipliner bagi perguruan tinggi keagamaan lainnya di Indonesia,” pungkasnya.

Pertemuan FGD (ISW)
Pertemuan FGD (ISW)

Inisiasi pembentukan pusat studi ini diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama (MoA) formal, guna mempercepat implementasi program-program strategis yang telah direncanakan kedua institusi.