IMG-20260704-WA0017

BINUS University dan Kemenpar Bersama 27+ PT Perkuat Kolaborasi, AI Jadi Andalan Transformasi Pariwisata Indonesia

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Penguatan sumber daya manusia (SDM), pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta pengembangan pariwisata berkelanjutan menjadi fokus utama dalam audiensi antara BINUS University dan Kementerian Pariwisata yang berlangsung di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Pertemuan yang digelar oleh Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Aparatur dan Pendidikan Vokasi itu berlangsung di Ruang Rapat Lantai 11 Gedung Sapta Pesona. Audiensi dihadiri Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Prof. Dr. John Connell dari Sydney University, Australia, bersama tim BINUS University.

Pertemuan tersebut membahas strategi memperkuat promosi pariwisata Indonesia di tengah keterbatasan anggaran pemasaran pada tahun ini. Salah satu solusi yang didorong adalah optimalisasi teknologi digital berbasis perangkat seluler untuk menjangkau wisatawan secara lebih efektif.

Dalam kesempatan itu, turut diperkenalkan inovasi MaiA, asisten virtual berbasis kecerdasan buatan yang dirancang membantu wisatawan merencanakan perjalanan ke Indonesia secara lebih personal. Teknologi tersebut mampu memberikan rekomendasi berdasarkan durasi kunjungan, destinasi yang diminati, hingga aktivitas wisata yang sesuai dengan preferensi pengguna.

Selain membahas transformasi digital, forum juga menyoroti pentingnya pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui penguatan desa wisata berbasis komunitas. Evaluasi penyelenggaraan berbagai event pariwisata juga menjadi perhatian agar mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi sektor perhotelan, restoran, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Para peserta juga mengidentifikasi masih adanya kesenjangan antara kebutuhan industri pariwisata yang berkembang sangat cepat dengan kesiapan SDM. Karena itu, penyesuaian kurikulum pendidikan tinggi dan vokasi dinilai menjadi langkah strategis untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Wakil Rektor I Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menilai pertemuan tersebut menunjukkan arah baru pembangunan pariwisata nasional yang semakin menempatkan inovasi dan kolaborasi sebagai fondasi utama.

“Pariwisata Indonesia tidak lagi cukup mengandalkan keindahan alam semata. Diperlukan transformasi SDM yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan artificial intelligence, agar mampu menjawab tantangan industri yang terus berubah,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan sekaligus kompetitif di tingkat global.

“Kampus memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan pengetahuan, riset, dan inovasi. Karena itu, sinergi dengan pemerintah dan pelaku industri harus diterjemahkan dalam program-program konkret yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, seluruh peserta membahas tiga langkah tindak lanjut. Pertama, menjadikan transformasi SDM, penyelenggaraan event, safety tourism, dan teknologi AI sebagai pilar utama menjawab tantangan industri menuju Indonesia Emas 2045. Kedua, mendorong pendekatan yang lebih terukur, tepat sasaran, dan berbasis kebutuhan lapangan. Ketiga, mengimplementasikan kolaborasi melalui program percontohan (pilot project) yang dikoordinasikan melalui satu pintu agar lebih efektif dan terarah.

Menutup pandangannya, Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa implementasi nyata dari hasil audiensi akan menjadi kunci keberhasilan transformasi sektor pariwisata nasional.

“Bagian yang paling penting bukan hanya menghasilkan gagasan, tetapi memastikan setiap kesepakatan diwujudkan dalam aksi nyata. Kolaborasi yang berkelanjutan akan menjadi modal utama untuk membangun pariwisata Indonesia yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing global,” tutup Ismail Suardi Wekke.

IMG-20260704-WA0014

Kemenpar Menerima 27+ Perguruan Tinggi, Siapkan Kolaborasi Strategis Desa Wisata dan Sumber Daya Wisata

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengawali langkah kolaborasi strategis bersama lebih dari 27 perguruan tinggi di Indonesia melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD). Pertemuan yang fokus pada pengembangan Desa Wisata dan Sumber Daya Wisata ini digelar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, pada Kamis (2/7/2026).

FGD ini diinisiasi sebagai bentuk akselerasi pembangunan pariwisata berbasis masyarakat dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata, khususnya di tingkat pedesaan yang menjadi pilar baru ekonomi kreatif nasional.

Co-Chair kegiatan tersebut, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa keterlibatan institusi pendidikan tinggi sangat vital dalam memberikan landasan ilmiah serta pendampingan praktis bagi pertumbuhan desa wisata.

“Kolaborasi ini bukan sekadar pertemuan formal di atas kertas, melainkan sebuah langkah awal yang konkret untuk memetakan, mendampingi, dan mengawal desa-desa wisata di Indonesia agar mampu mandiri serta memiliki daya saing yang tinggi,” ujar Ismail saat memberikan pemaparannya di Gedung Sapta Pesona.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki instrumen Tri Dharma pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang sangat cocok untuk diterapkan langsung dalam mendiversifikasi sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya wisata yang ada di daerah.

Komitmen serupa juga datang dari sektor akademisi swasta. Dr. R.A. Aryanti Wardaya Puspokusumo, yang menjabat sebagai Head of Internationalisation and Partnership FDCHT Binus University, menyambut positif langkah proaktif yang diambil oleh Kementerian Pariwisata.

Ia menyatakan bahwa Binus University siap mendukung penuh program ini dengan membawa jejaring kemitraan dan perspektif global ke dalam pengembangan ekosistem pariwisata lokal.

“Kami di FDCHT Binus University berkomitmen untuk membawa perspektif internasional dan standar kemitraan yang kuat demi mendukung program Desa Wisata ini. Potensi lokal yang kita miliki sebenarnya sangat luar biasa, dan dengan pendampingan yang tepat dari akademisi, desa-desa ini akan siap bersaing di kancah internasional,” tutur Dr. Aryanti.

Melalui FGD ini, Kementerian Pariwisata bersama seluruh perwakilan perguruan tinggi yang hadir sepakat untuk menyusun peta jalan (roadmap) aksi nyata. Langkah terdekat mencakup sinkronisasi program magang mahasiswa, riset terapan untuk solusi pariwisata daerah, serta pelatihan manajemen tata kelola destinasi bagi kelompok sadar wisata (pokdarwis) di berbagai wilayah Indonesia.