Laos (ISW)

Pengabdian Masyarakat Kolaboratif Internasional di Laos, Bersama IGDA Al Washliyah

Rawaaopakonsel.ac.id, — Presiden Islamic Laos Foundation, Zakir, meminta organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam asal Indonesia, Al Jam’iyatul Washliyah (Al Washliyah), untuk mengirimkan guru-guru bidang keislaman (Islamic studies) ke Laos. Kehadiran para pengajar tersebut diharapkan dapat membina masyarakat muslim setempat sekaligus memperkuat pengembangan dakwah Islam di negara tersebut.

Permintaan itu disampaikan Zakir saat bertemu dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Guru dan Dosen Al Washliyah (PP IGDA), H. Marjuan Ibrahim, Lc., M.A., di Kota Vientiane, Laos, Selasa (17/3/2026). Kunjungan Marjuan merupakan bagian dari kolaborasi pengabdian masyarakat kolaboratif internasional di Laos, termasuk partisipasi Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan.

Zakir menilai praktik dan corak keislaman di Indonesia sangat cocok menjadi role model bagi perkembangan Islam di Laos. Menurutnya, masyarakat muslim Laos lebih akrab dengan tradisi dan amaliyah Mazhab Syafi’i, serupa dengan mayoritas muslim di Indonesia. Hal ini berbeda dengan komunitas muslim keturunan Pakistan dan India di Laos yang umumnya menganut Mazhab Hanafi.

“Walaupun bahasa Siam (Thailand) memiliki kemiripan dengan bahasa Laos, beberapa imam (luar) yang pernah berkunjung ke Masjid Al Ikhlas Vientiane memiliki visi dan amaliyah yang kurang sesuai dengan masyarakat muslim di sini,” ujar Zakir.

Tak hanya meminta tenaga pendidik, Zakir juga membuka pintu bagi warga Al Washliyah yang berminat untuk berimigrasi dan menetap di Laos. Pihaknya siap memfasilitasi pembentukan komunitas muslim baru di wilayah tersebut.

Bahkan, Islamic Laos Foundation telah menyiapkan lahan seluas 20 hektar yang rencananya akan digunakan untuk pembangunan masjid keempat di Vientiane, perumahan komunitas muslim, serta sekolah Islam akhir pekan (Sabtu-Minggu). Langkah strategis ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan demografi dan memperkuat benteng budaya lokal di tengah derasnya arus imigran asing.

Menanggapi permintaan tersebut, Ketua Umum PP IGDA Marjuan Ibrahim menyambut positif dan berharap Al Washliyah dapat menjadi pionir (assabiqunal awwalin) dalam penyebaran syiar Islam serta pembangunan pondasi pendidikan Islam di Laos.

Kehadiran Marjuan Ibrahim di Laos merupakan bagian dari undangan resmi Islamic Laos Foundation. Selain bertugas sebagai Khatib Salat Idulfitri 1447 H di Masjid Al Ikhlas, Distrik Khamsavat, Vientiane, ia juga memberikan pelatihan (training) bagi imam masjid serta meletakkan dasar penguatan kegiatan kemasjidan berbasis model pengelolaan masjid di Indonesia.

Kegiatan bersama IGDA Al Washliyah dengan Ketua Umu, Marjuan dijadwalkan di Laos selama seminggu, mulai Sabtu (14/3/2026) hingga Jumat (20/3/2026).

Sebagai informasi, Masjid Al Ikhlas merupakan tempat ibadah terbaru yang baru aktif menyelenggarakan shalat fardhu lima waktu, shalat Jumat, dan shalat Tarawih pada Ramadan 1447 H. Masjid ini menjadi pusat ibadah ketiga di Vientiane setelah Masjid Al Azhar (yang didirikan komunitas Kamboja pada tahun 1968 sebelum Laos menjadi negara komunis) dan Masjid Jamiah (didirikan komunitas India pada tahun 1970).

Al Washliyah (ISW)

Pimpinan IAI Rawa Aopa Bertemu PW Al Washliyah Sulawesi Tenggara, Gagas Kolaborasi Nasional

Rawaaopakonsel.ac.id, Kendari – Momentum penerimaan mahasiswa baru, Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan memperkuat jejaring strategisnya dalam upaya pengembangan institusi dan pengabdian masyarakat. Di rangkaian buka puasa bersama, pimpinan IAI Rawa Aopa bertemu dalam silaturahmi dengan Pengurus Wilayah (PW) Al Washliyah Sulawesi Tenggara guna menggagas kolaborasi berskala nasional (Kendari, 24 Februari 2026). 

Pertemuan ini yang berlangsung di sekretariat Pengurus Wilayah Al Washliyah menjadi momentum penting bagi kedua belah pihak untuk menyinergikan potensi pendidikan tinggi dengan organisasi kemasyarakatan berbasis Islam.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan silaturahmi. Juga menjadi langkah lanjutan untuk merajut kerja sama yang lebih luas dalam bingkai pengembangan sumber daya manusia di Sulawesi Tenggara. 

Ismail menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan organisasi massa Islam untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. Ia juga menambahkan bahwa IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk membuka pintu bagi setiap inisiatif yang dapat mempercepat akselerasi kualitas pendidikan dan kesejahteraan umat melalui kemitraan strategis ini.

Dalam kesempatan tersebut, Ismail Suardi Wekke secara eksplisit mengutarakan visi kolaboratifnya kepada awak media. “Kami melihat Al Washliyah sebagai mitra strategis yang memiliki akar sejarah kuat dalam pendidikan dan dakwah, sehingga sinergi ini diharapkan mampu melahirkan program-program inovatif yang berdampak nasional,” ujar Ismail. 

Ia juga menegaskan bahwa IAI Rawa Aopa siap memberikan dukungan penuh, khususnya dalam hal peningkatan kapasitas tenaga pendidik dan pengembangan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. “Kolaborasi ini harus menjadi mesin penggerak bagi kemajuan bersama, di mana kampus dan organisasi saling mengisi untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih inklusif,” pungkasnya.

Pertemuan yang berlangsung dalam rangkaian buka puasa ini hangat di Kendari ini diharapkan segera ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk mengukuhkan program kerja nyata di masa mendatang. Rencana penandatanganan MoU akan dilaksanakan di IAI Rawa Aopa Kampus Lamooso pada awal bulan Mei mendatang.