IMG-20260127-WA0018

Turun ke Boepinang, IAI Rawa Aopa Kawal Program Wajib Belajar 13 Tahun dengan Akses Pendidikan Bagi Guru

Rawaaopakonsel.ac.id, Boepinang – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menyelenggarakan kegiatan perkuliahan lapangan yang terintegrasi dengan program pengabdian masyarakat di Boepinang, Sabtu (24/1/2026).

Kegiatan bertajuk “Diskusi Akhir Semester bersama Mahasiswa dan Guru PAUD” ini salah satu fokus pembahasan pada upaya mendukung akselerasi program Wajib Belajar 13 Tahun di wilayah tersebut.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, bersama dosen, mahasiswa, puluhan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Boepinang (Bombana).

Sinergi antara akademisi dan praktisi pendidikan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif bagi anak usia dini di Bombana.

“Kita mengajak guru-guru PAUD bahwa dalam 4 tahun ke depan, semua guru yang masih lulusan sekolah menengah, sudah menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana,” papar Ismail di awal acara diskusi.

Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa agenda ini selain sebagai kegiatan akademik, melainkan langkah nyata dalam menjalankan kesepakatan yang telah dibangun dengan pemerintah daerah.

“Kegiatan ini merupakan bagian integral dalam implementasi nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Bombana dengan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dalam memajukan sektor pendidikan,” ujar Ismail saat membuka diskusi.

Lebih lanjut, Ismail menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kualitas pendidikan dari akar rumput, termasuk pada level PAUD. Ia menjelaskan bahwa melalui diskusi akhir semester yang melibatkan praktisi di lapangan, pihaknya ingin memastikan bahwa kurikulum yang diajarkan kepada mahasiswa selaras dengan tantangan nyata yang dihadapi para guru di Boepinang.

Menurutnya, keterlibatan dosen dan mahasiswa di tengah masyarakat merupakan manifestasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus terus dihidupkan.

“Dulu dalam satu masa, perguruan tinggi dipandang sebagai menara gading. Kini, kita perlu beranjak ke paradigma Menara Air,” komentar Ismail terkait dengan posisi perguruan tinggi kontemporer.

Dalam pemaparannya di hadapan para peserta, Ismail memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para pendidik di wilayah pesisir. “Kami berkomitmen untuk terus mendampingi para guru PAUD di Boepinang agar memiliki kompetensi yang mumpuni dalam menyambut program wajib belajar 13 tahun,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi ini akan terus berlanjut dalam bentuk pendampingan teknis dan pengembangan metode pembelajaran yang inovatif. Di sisi lain, Ismail turut menyoroti pentingnya peran strategis mahasiswa dalam mendorong perubahan sosial melalui pendidikan.

Ia menyatakan bahwa mahasiswa harus mampu menjadi jembatan informasi antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat di pelosok. Baginya, pengalaman lapangan ini menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sumber daya manusia di Kabupaten Bombana.

Pertemuan tersebut ditutup dengan sesi dialog interaktif antara dosen dan guru PAUD mengenai kendala administratif dan pedagogis di lapangan. Ismail kembali menekankan bahwa integrasi pengabdian masyarakat ini menjadi bukti bahwa IAI Rawa Aopa hadir secara fisik dan pemikiran untuk kemajuan daerah.

“Kehadiran kami di sini adalah untuk memastikan bahwa tidak ada anak di Boepinang yang tertinggal dalam mendapatkan hak pendidikan dasarnya,” pungkas Ismail menutup pernyataannya.

IMG-20260127-WA0015

Perkuat Instrumen Inovasi Bersama CIDES-BRIN, IAI Rawa Siap Bergerak dalam Skala Lokal

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Center for Information and Development Studies (CIDES) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) melakukan kunjungan silaturahmi ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna membahas penguatan ekosistem dan pengembangan budaya riset di Indonesia. Pertemuan ini menjadi momentum krusial dalam menyelaraskan visi antara lembaga pemikir (think tank) dengan otoritas riset tertinggi di tanah air, Senin (26/1/2026).

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Kerjasama CIDES ICMI yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Ismail menyatakan bahwa sinergi antara BRIN dan CIDES ICMI merupakan langkah strategis dalam memastikan setiap kebijakan pembangunan berbasis pada data dan kajian yang mendalam. Ia menilai bahwa riset tidak boleh berhenti di laboratorium, melainkan harus menyentuh sendi-sendi kebijakan publik demi kemaslahatan masyarakat luas.

Ismail Suardi Wekke mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi peneliti yang besar, namun tantangan utamanya terletak pada integrasi dan keberlanjutan budaya riset di tingkat institusi. Ia menyampaikan secara langsung bahwa kolaborasi ini menjadi jembatan bagi para cendekiawan untuk berkontribusi lebih konkret dalam memberikan solusi bagi permasalahan bangsa melalui pendekatan saintifik.

“Kita memerlukan keterhubungan yang kuat antara kebijakan nasional dan aktivitas intelektual di daerah agar inovasi dapat tumbuh secara merata di seluruh pelosok negeri,” tegas Ismail saat memberikan pernyataan usai pertemuan dengan BRIDA Konawe Selatan di Andoolo pada hari yang sama.

Lebih lanjut, Ismail menegaskan bahwa penguatan institusi pendidikan tinggi, khususnya di daerah, sangat bergantung pada dukungan infrastruktur riset yang disediakan oleh pemerintah pusat.

Ia secara lugas menyatakan, “IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk menjadi bagian dari ekosistem riset ini, sehingga perencanaan pembangunan di wilayah seperti Konawe Selatan dapat didasarkan pada nalar akademik yang kuat.”

Menurutnya, budaya riset harus dimulai dari keterbukaan dalam berkolaborasi dan kesiapan sumber daya manusia dalam beradaptasi dengan teknologi terbaru.

“Silaturahmi dengan Kepala BRIN ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah awal dari berbagai program aksi yang akan kita jalankan bersama ke depan,” tambah Ismail Suardi Wekke yang mengusulkan bagaimana keberadaan Akademi Tunas Cendekia yang dapat menjadi platform budaya riset di tingkatan sekolah dasar dan menengah.

Di sisi lain, Ismail juga menekankan bahwa CIDES ICMI terus mendorong agar hasil-hasil riset dapat diakses dan dimanfaatkan oleh para pengambil kebijakan secara inklusif. Ia meyakini bahwa dengan semangat kebersamaan, Indonesia dapat membangun kemandirian teknologi dan kedaulatan ilmu pengetahuan yang kompetitif di tingkat global.

Dalam rangkaian kegiatan di kesempatan yang berbeda, Ismail Suardi Wekke juga melakukan kunjungan ke Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Konawe Selatan. Pertemuan tersebut difokuskan pada diskusi mengenai peluang kolaborasi konkret antara IAI Rawa Aopa dengan BRIDA Konsel dalam pengembangan budaya riset lokal.

Kunjungan ini merupakan implementasi nyata dari semangat desentralisasi inovasi, di mana riset diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam menggali dan memaksimalkan potensi daerah demi kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Tenggara.

IMG-20260126-WA0030

Silaturahmi ke BRIDA Konsel, IAI Rawa Aopa Siap Berpartisipasi Dalam Pembangunan Daerah

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Upaya memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah terus digalakkan di Kabupaten Konawe Selatan. Jajaran pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa melakukan kunjungan resmi ke Kantor Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Konawe Selatan guna mendiskusikan berbagai potensi kolaborasi strategis dalam pengembangan daerah berbasis data dan riset, Senin, 26/1/2026).

Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut menjadi momentum penting bagi kedua lembaga untuk menyelaraskan visi. IAI Rawa Aopa sebagai institusi pendidikan tinggi di Konawe Selatan memandang bahwa riset tidak boleh hanya berhenti di perpustakaan kampus, melainkan harus bertransformasi menjadi solusi nyata bagi kebijakan publik.

Delegasi IAI Rawa Aopa dipimpin Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan komitmen kampus dalam mendukung pembangunan daerah melalui pendekatan ilmiah. Beliau menyampaikan bahwa kehadiran IAI Rawa Aopa bertujuan untuk memastikan setiap kebijakan di Konawe Selatan didukung oleh kajian akademik yang kuat.

“Turut bersama-sama dalam delegasi IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Dekan Fakultas Syariah, dan juga Ketua Program (prodi) Studi PAI dan prodi PGMI,” tutur Ismail Suardi Wekke mengawali pertemuan yang berlangsung di auditorium BRIDA Konawe Selatan.

“Kami datang dengan semangat bahwa kampus dapat menjadi mitra strategis bagi pemerintah daerah, khususnya dalam pengembangan budaya riset,” ujar Ismail Suardi Wekke di sela-sela diskusi.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa kolaborasi ini diharapkan mampu menyelaraskan visi dan misi kedua lembaga sehingga bisa berjalan seiring. Menurutnya, potensi Konawe Selatan sangat besar, namun memerlukan sentuhan riset yang tepat agar pengembangannya lebih terukur dan berkelanjutan.

“Sinergi antara IAI Rawa Aopa dan BRIDA akan menjadi jembatan bagi para akademisi untuk dapat memperkaya keilmuan mereka dalam bentuk belajar pada program yang dijalankan BRIDA,” tegasnya kembali.

Dalam kesempatan yang sama, Ismail juga menyoroti kemungkinan keterlibatan mahasiswa yang menerima bantuan dalam program SETARA Konawe Selatan dalam program-program riset daerah. Beliau mengatakan bahwa penguatan sumber daya manusia di tingkat lokal menjadi kunci utama agar inovasi daerah tidak stagnan dan terus berkembang mengikuti zaman.

“Fokus kami bukan sekadar kerja sama di atas kertas, melainkan aksi nyata di mana hasil penelitian dosen dan mahasiswa kami benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pemerintah dalam mengambil keputusan,” pungkas Ismail.

Sementara itu, pihak BRIDA Konawe Selatan menyambut positif inisiatif ini dan berencana menindaklanjuti pertemuan tersebut dengan penyusunan nota kesepahaman yang lebih teknis. Kepala BRIDA Konawe Selatan beserta jajaran Kepala Bidang, Sekretaris, dan juga staf, bersama-sama dalam diskusi tersebut.

Kolaborasi ini diproyeksikan untuk menjadi instrumen motor penggerak bagi ekosistem riset dan inovasi di wilayah Konawe Selatan ke depan.

“Terima kasih kepada Bapak Kepala BRIDA Konawe Selatan dan seluruh tim kerja yang telah bersedia menerima kami,” pungkas Ismail Suardi Wekke usai kegiatan yang diakhiri dengan photo bersama.

Anti Korupsi (ISW)

IAI Rawa Aopa Rintis Integrasi Pembelajaran Anti Korupsi, Didukung oleh Pegiat Anti Korupsi Melalui IMprove Foundation

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Setelah pelaksanaan kegiatan pengembangan kapasitas kelembagaan dan juga penguatan kapasitas dosen, Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan memulai langkah dalam memperkuat integritas akademik melalui rintisan integrasi pembelajaran anti korupsi. Program inovatif ini mendapat dukungan penuh dari para pegiat anti korupsi yang tergabung dalam IMprove Foundation, sebagai upaya nyata menciptakan ekosistem pendidikan yang bersih dan transparan di Sulawesi Tenggara.

Diskusi antara pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dengan IMprove Foundation telah dilaksanakan dalam satu kesempatan FGD, dan juga satu kali dalam partisipasi IMprove Foundation pada seminar internasional. Ahad malam, dilaksanakan kembali FGD (daring) untuk mematangkan persiapan kegiatan (Andoolo, 25 Januari 2026).

Langkah ini diambil sebagai bentuk respons institusi terhadap pentingnya penanaman nilai-nilai kejujuran sejak dini di lingkungan perguruan tinggi. Melalui kolaborasi ini, kurikulum pembelajaran di IAI Rawa Aopa akan diperkaya dengan muatan edukasi anti korupsi yang disusun bersama para pakar dan praktisi dari IMprove Foundation.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa langkah ini sebagai bagian program untuk penyiapan rencana reakreditasi. Dalam penjelasannya, Ismail Suardi Wekke menyatakan bahwa integrasi ini merupakan komitmen institusi untuk memastikan bahwa setiap lulusan tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memegang teguh integritas moral yang tinggi. 

Beliau juga menambahkan bahwa kerja sama dengan IMprove Foundation akan memberikan dimensi praktis bagi mahasiswa dalam memahami risiko dan dampak destruktif korupsi bagi pembangunan bangsa. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penguatan tata kelola keuangan dan kepegawaian di internal kampus juga menjadi prioritas utama seiring dengan peluncuran program pembelajaran ini.

Komitmen tersebut dipertegas oleh Ismail Suardi Wekke melalui pernyataan langsungnya di sela-sela diskusi program. “Kami ingin menjadikan IAI Rawa Aopa sebagai bagian dalam melahirkan generasi yang memiliki imunitas kuat terhadap perilaku koruptif di Sulawesi Tenggara,” tegas Ismail. 

Ia juga menambahkan mengenai teknis pelaksanaan program tersebut dengan menyatakan bahwa pembelajaran ini tidak akan berdiri sebagai mata kuliah tunggal yang kaku, melainkan diintegrasikan ke dalam berbagai rumpun ilmu agar nilai-nilai kejujuran menjadi ruh dalam setiap nafas pendidikan. 

Menutup keterangannya, Ismail menekankan pentingnya sinergi eksternal dengan mengatakan bahwa kehadiran IMprove Foundation sangat vital untuk menjaga standar objektivitas dan kualitas materi anti korupsi yang disampaikan kepada para mahasiswa.

Kerja sama ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi perguruan tinggi lain di wilayah tersebut untuk mengadopsi langkah serupa. Dengan adanya dukungan dari pegiat anti korupsi, IAI Rawa Aopa optimis dapat menciptakan lingkungan kampus yang akuntabel serta menghasilkan kader bangsa yang berintegritas tinggi dalam mengabdi kepada masyarakat.

dari Gontor ke Rawa Aopa (ISW)

Dari Gontor ke Rawa Aopa: Mengadaptasi Arsitektur Kelembagaan Gontor untuk Akselerasi Menara Pendidikan Islam

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Ini merupakan catatan, dalam kaitan untuk eksplorasi kerjasama antara Universitas Darussalam Gontor dan Gontor Kampus 6 (Pudahoa, Konawe Selatan) dengan Institut Agama Islam Rawa Konawe Selatan.

Dalam peta pendidikan Islam di Indonesia, Pondok Modern Darussalam Gontor beserta Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor telah bertransformasi menjadi “Menara Pendidikan”. Keberhasilannya dalam menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan modernitas menjadi role model bagi institusi baru. 

Bagi IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, menyerap energi dan metodologi dari Gontor bukan sekadar kerja sama biasa, melainkan langkah strategis untuk melakukan lompatan kualitas (quantum leap) dalam penguatan kapasitas internal. Berikut adalah pilar-pilar penguatan yang dapat diadaptasi melalui kolaborasi strategis tersebut:

Pertama: Standarisasi Manajemen Tata Kelola (Total Quality Management)

Gontor memiliki sistem tata kelola yang mandiri, disiplin, dan berkelanjutan. IAI Rawa Aopa dapat belajar mengenai sistem administrasi dan manajemen organisasi yang berbasis pada nilai keikhlasan namun dijalankan dengan profesionalisme tinggi. Pendampingan dari UNIDA Gontor dalam hal penjaminan mutu internal akan membantu IAI Rawa Aopa membangun sistem kelembagaan yang kokoh, transparan, dan akuntabel sejak dini.

Kedua: Pengembangan Kapasitas SDM melalui “Kaderisasi” Akademik

Salah satu kekuatan utama Gontor adalah sistem kaderisasinya yang tak pernah putus. Melalui kolaborasi ini, dosen dan staf IAI Rawa Aopa dapat mengikuti program short course atau magang manajerial di UNIDA Gontor. Tujuannya adalah untuk mentransfer etos kerja, kedisiplinan, dan pola pikir pengabdian yang menjadi ciri khas tenaga pendidik di Gontor, sehingga tercipta SDM yang memiliki loyalitas tinggi terhadap visi institusi.

Ketiga: Internalisasi “Panca Jiwa” dalam Budaya Kampus

Pendidikan Islam bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter. IAI Rawa Aopa dapat mengadopsi nilai-nilai “Panca Jiwa” (Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan) ke dalam budaya kampus. Dengan belajar dari Gontor, IAI Rawa Aopa dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengejar gelar akademik, tetapi juga membentuk integritas moral mahasiswa di Konawe Selatan.

Keempat: Pendampingan Akreditasi dan Publikasi Ilmiah

Sebagai institusi yang telah mapan, UNIDA Gontor memiliki pengalaman luas dalam menavigasi regulasi pendidikan tinggi dan standar akreditasi nasional maupun internasional. Gontor dapat memberikan asistensi teknis bagi IAI Rawa Aopa dalam memetakan borang akreditasi, pengelolaan jurnal ilmiah, hingga strategi peningkatan jabatan fungsional dosen, sehingga proses penguatan status kelembagaan dapat berjalan lebih cepat dan terukur.

Kelima: Pemanfaatan Jaringan Global Gontor untuk Aksesibilitas

Gontor memiliki jejaring alumni dan kemitraan internasional yang sangat luas di Timur Tengah maupun Barat. Dengan bernaung di bawah bimbingan “Menara” ini, IAI Rawa Aopa mendapatkan akses untuk terhubung dengan mitra-mitra internasional tersebut. Hal ini membuka peluang bagi IAI Rawa Aopa untuk terlibat dalam forum-forum ilmiah dunia, program beasiswa, dan kolaborasi global yang sebelumnya sulit dijangkau secara mandiri.

Penutup

Belajar dari Gontor berarti belajar tentang ketahanan dan visi jangka panjang. Dengan memposisikan Gontor sebagai mentor kelembagaan, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan tidak perlu memulai semuanya dari nol. 

Melalui bimbingan dari UNIDA Gontor dan dukungan kewilayahan dari Gontor Kampus 6, IAI Rawa Aopa siap bertransformasi menjadi pusat keunggulan pendidikan Islam di Sulawesi Tenggara yang berakar kuat pada tradisi dan menjulang tinggi dalam prestasi.

 

Kick Off Meeting (ISW)

Kick Off Meeting dan FGD untuk Pelaksanaan International Conference of NITRO, bersama IBK NITRO yang Direncanakan April

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Institut Bisnis dan Keuangan (IBK) NITRO Makassar bersama mitra, diantaranya Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan resmi memulai rangkaian persiapan konferensi internasional melalui agenda Kick Off Meeting dan Focus Group Discussion (FGD). Pertemuan yang berlangsung daring ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan institut, para dekan, serta panitia pelaksana guna mematangkan teknis pelaksanaan International Conference of NITRO yang dijadwalkan akan berlangsung pada April mendatang (Senin, 26 Januari 2026).

Dalam kesempatan tersebut, selaku moderator Ismail Suardi Wekke, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, yang juga didapuk sebagai Co-Chair International Conference (ICON) 2026. Kehadirannya mempertegas rintisan sinergi antarperguruan tinggi dalam skala global. “Ini kesempatan bagi IAI Rawa Aopa dalam kaitan mempersiapan prodi Ekonomi Syariah yang dalam proses menunggu SK dari Kementerian Agama RI,” papar Ismail Suardi Wekke yang juga Distinguished Professor di North Bangkok University (Thailand).

Ismail Suardi Wekke memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi ini. Ia menyatakan bahwa kemitraan ini merupakan langkah besar bagi kedua institusi. “Kami menyampaikan apresiasi dan sangat menghargai kesediaan IBK NITRO untuk menjadikan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan sebagai mitra utama dalam penyelenggaraan konferensi internasional ini,” ujar Ismail Suardi Wekke usai diskusi. 

Menurutnya, kolaborasi lintas institusi seperti ini akan memperkuat posisi akademik kedua kampus di tingkat internasional. Selain itu, Ismail menekankan pentingnya persiapan yang matang agar luaran dari konferensi ini dapat memberikan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan. 

Ia menegaskan bahwa forum internasional ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan jembatan untuk inovasi yang berkelanjutan. “Melalui Kick Off Meeting ini, kita sedang meletakkan fondasi kuat untuk sebuah forum yang akan mempertemukan berbagai pemikiran brilian dari berbagai negara pada April nanti,” tambahnya dengan optimis.

Ismail juga menyoroti relevansi tema yang diangkat oleh NITRO dengan kebutuhan industri dan akademik saat ini. Ia menilai bahwa sinergi ini akan membuka peluang riset yang lebih luas bagi dosen dan mahasiswa. “Sinergi ini harus menjadi energi baru bagi kita untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dan memperluas jaringan riset di kancah global,” tegas Ismail yang dua pekan lalu mendapatkan pelantikan sebagai Research Fellow INTI International University (Malaysia).

Lebih lanjut, dalam pemaparannya, Ismail menyampaikan bahwa kerja sama ini menjadi komitmen IAI Rawa Aopa untuk terus aktif dalam kegiatan akademik internasional meskipun berada di wilayah kabupaten. Ia menjelaskan pula bahwa keterlibatan pihaknya sebagai mitra strategis akan membawa perspektif baru dalam pengelolaan konferensi tersebut. 

Terakhir, ia menuturkan bahwa agenda FGD ini sangat krusial untuk memetakan tantangan teknis serta memastikan seluruh pimpinan dan panitia memiliki visi yang selaras menuju pelaksanaan di bulan April. Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut diakhiri dengan komitmen bersama antara pihak IBK NITRO dan panitia pelaksana untuk segera menindaklanjuti poin-poin teknis hasil FGD.

Gontor (ISW)

Berkunjung ke Pesantren Gontor Kampus 6 Pudahoa, Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Identifikasi Potensi Kolaborasi

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Upaya memperkuat jejaring pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia terus dipacu oleh Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan. Terbaru, jajaran pimpinan kampus melakukan kunjungan strategis ke Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 6 yang berlokasi di Pudahoa, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan, guna mengidentifikasi berbagai peluang kolaborasi akademik dan pemberdayaan masyarakat (Ahad, 25 Januari 2026).

Kunjungan ini menjadi momentum untuk menyelaraskan visi dalam mencetak generasi unggul di Sulawesi Tenggara. Dalam diskusi yang berlangsung hangat, dibahas berbagai potensi kerja sama mulai dari penguatan ekosistem keilmuan hingga pengembangan talenta muda Indonesia yang memiliki daya saing global namun tetap berpijak pada nilai-nilai pesantren.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret dalam membangun daya dukung ekosistem intelektual di daerah. Ia menyatakan secara langsung bahwa kehadiran Gontor di Konawe Selatan adalah aset berharga yang harus disinergikan dengan perguruan tinggi untuk menciptakan akselerasi kualitas pendidikan. 

“Kami melihat peluang untuk melakukan integrasi program, terutama dalam hal pengembangan bahasa dan kedisiplinan yang menjadi ciri khas Gontor, untuk kemudian diadaptasi dalam penguatan kapasitas mahasiswa kami,” ujar Ismail Suardi Wekke. 

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa sinergi ini akan difokuskan pada pembentukan talenta muda Indonesia melalui pola inkubasi yang lebih modern namun tetap berbasis pada nilai-nilai keislaman yang moderat. Selanjutnya, Ismail Suardi Wekke juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan institusi pendidikan dalam mendorong kesejahteraan masyarakat lokal. 

Ia memaparkan bahwa pimpinan IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk menjadikan kolaborasi ini sebagai jembatan bagi program pengabdian masyarakat yang lebih terukur dan berdampak luas. Menurutnya, kerja sama ini tidak hanya terbatas pada level administratif, melainkan harus menyentuh aspek fundamental dalam riset kolaboratif yang mampu menjawab tantangan zaman di era digital.

Ismail juga menyampaikan bahwa pihak kampus saat ini sedang mengidentifikasi kerangka kerja sama yang akan mencakup. Ia menegaskan bahwa IAI Rawa Aopa ingin memastikan untuk mendapatkan dukungan Gontor, terutama dalam meningkatkan akreditasi dan reputasi akademik di tingkat nasional melalui jaringan Gontor. 

Penekanan pada ekosistem keilmuan ini diharapkan mampu menjadikan Konawe Selatan sebagai salah satu pusat pertumbuhan intelektual di Indonesia Timur. “Terima kasih kepada wakil pengasuh Gontor Pudahoa telah menerima silaturahmi kami. Sekalipun ini adalah yang pertama, insya Allah kita akan teruskan dengan pelbagai platfrom kerjasama terutama dukungan dari Gontor untuk IAI Rawa Aopa Konawe Selatan,” pungkas Ismail Suardi Wekke yang juga alumni Pesantren IMMIM.

FGD Anti Korupsi (ISW)

Mengawali Pembelajaran Anti Korupsi di Perguruan Tinggi, IAI Rawa Aopa Laksanakan FGD Bersama Pegiat Anti Korupsi

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan resmi mengawali langkah strategis dalam penguatan integritas akademik dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Integrasi Pembelajaran Anti Korupsi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini menghadirkan sejumlah pegiat anti korupsi untuk merumuskan kurikulum dan metode internalisasi nilai-nilai integritas bagi civitas akademika IAI Rawa Aopa Konawe Selatan (Ahad, 25 Januari 2026).

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk tanggung jawab moral kampus dalam mencetak generasi masa depan yang bersih. Beliau menyampaikan bahwa pendidikan anti korupsi bukan sekadar materi tambahan, melainkan pondasi utama dalam membangun karakter mahasiswa di lingkungan IAI Rawa Aopa.

Dalam sesi diskusi tersebut, Ismail Suardi Wekke memberikan penekanan khusus mengenai urgensi integrasi nilai tersebut ke dalam sistem pendidikan tinggi. “Kita harus menyadari bahwa kampus adalah laboratorium peradaban, sehingga penyemaian nilai anti korupsi harus dimulai dari sini secara sistematis dan berkelanjutan,” ujar Ismail Suardi Wekke. 

Beliau juga menambahkan bahwa keterlibatan pegiat anti korupsi dalam diskusi ini sangat krusial untuk memberikan perspektif praktis bagi akademisi. “Kolaborasi dengan para pegiat di lapangan akan memperkaya khazanah pemahaman mahasiswa, sehingga mereka tidak hanya paham teori tetapi juga memiliki imunitas terhadap perilaku koruptif,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ismail menekankan pentingnya komitmen kelembagaan dalam mendukung program ini. Beliau menyatakan, “IAI Rawa Aopa berkomitmen penuh untuk menjadikan transparansi dan akuntabilitas sebagai urat nadi dalam setiap aktivitas perencanaan dan keuangan di lingkup internal kami.” 

Melalui langkah ini, pihak rektorat berharap IAI Rawa Aopa dapat menjadi bagian dalam gerakan moral di Sulawesi Tenggara, khususnya di wilayah Konawe Selatan. “Kita juga tidak dalam kaitan memenuhi kriteria akreditasi saja, tetapi menjadikan anti korupsi sebagai bagian gerakan bersama,” lanjut Ismail Suardi Wekke.

Ismail Suardi Wekke juga menguraikan bahwa hasil dari FGD ini nantinya akan ditindaklanjuti dengan penyusunan modul pembelajaran yang adaptif terhadap dinamika sosial saat ini. Beliau menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya universitas untuk memastikan bahwa setiap lulusan memiliki integritas yang teruji sebelum terjun ke masyarakat. 

Selain itu, Ismail menyampaikan harapannya agar sinergi antara perguruan tinggi dan pegiat anti korupsi tidak berhenti pada kegiatan seremoni saja, melainkan berlanjut dalam pengawasan dan edukasi publik yang lebih luas. Pertemuan ini menandai babak baru bagi IAI Rawa Aopa dalam memperkuat tata kelola kampus yang bersih. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, institusi ini optimistis dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga bermartabat secara moral.

Padang Lawas (ISW)

Implementasi MoU dan MoA dengan STIT Padang Lawas Gunung Tua Sumatera Utara, IAI Rawa Aopa Laksanakan Seminar Nasional Kolaboratif

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa terus mempertahankan jejaring akademik di tingkat nasional. Langkah konkret ini diwujudkan melalui implementasi kerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Padang Lawas Gunung Tua, Sumatera Utara. Kedua lembaga sepakat menggelar Seminar Nasional Kolaboratif sebagai tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) yang telah disepakati sebelumnya (Sabtu, 24 Januari 2026).

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kedua institusi dalam meningkatkan kualitas tridharma perguruan tinggi. Seminar tersebut menghadirkan berbagai narasumber kompeten untuk membahas tantangan pendidikan Islam di era transformasi digital. Sinergi antara perguruan tinggi dari Sulawesi Tenggara dan Sumatera Utara ini diharapkan mampu melahirkan inovasi baru dalam pengembangan kurikulum.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi ini. Ia menegaskan bahwa pertemuan akademik lintas pulau adalah kunci kemajuan institusi. 

“Kegiatan ini merupakan bukti nyata bahwa jarak geografis bukan lagi penghalang untuk membangun kekuatan intelektual bersama,” ujar Ismail Suardi Wekke yang turut menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional tersebut.

Ismail Suardi Wekke juga menjelaskan bahwa fokus utama dari kerja sama ini adalah akselerasi kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, dosen dan mahasiswa harus memiliki wawasan yang luas melampaui batas daerah masing-masing. Ia menyebutkan bahwa seminar nasional ini menjadi wadah pertukaran ide yang segar bagi para akademisi dari kedua kampus yang terlibat.

Pihak rektorat IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk memastikan setiap butir kesepahaman tidak berhenti di atas kertas saja. Ismail menekankan pentingnya keberlanjutan program pasca-seminar agar dampak positifnya terasa bagi masyarakat luas. 

“Kami ingin memastikan bahwa setiap MoA yang ditandatangani segera dikonversi menjadi aksi nyata yang produktif bagi sivitas akademika,” tegas lulusan Universiti Kebangsaan Malaysia tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Ismail menguraikan bahwa penguatan tata kelola kelembagaan menjadi salah satu prioritas dalam kemitraan ini. Ia berharap adanya transfer pengetahuan mengenai manajemen perguruan tinggi antara IAI Rawa Aopa dan STIT Padang Lawas. Upaya ini dipandang strategis untuk mendorong percepatan akreditasi program studi menuju predikat unggul di masa mendatang.

Lebih lanjut, Ismail menyampaikan pesan optimistis mengenai masa depan pendidikan Islam di Indonesia melalui kolaborasi yang inklusif. Ia berpendapat bahwa kemandirian kampus dapat dicapai dengan cara saling mendukung antarlembaga pendidikan. “Sinergi ini adalah langkah awal dari rangkaian panjang riset bersama dan publikasi ilmiah yang akan kita garap di tahun ini,” tambahnya dengan penuh semangat.

Seminar nasional ini ditutup dengan penyusunan rencana aksi bersama untuk program pertukaran dosen tamu dan penelitian kolaboratif. Keberhasilan acara ini menandai babak baru bagi IAI Rawa Aopa dalam memperluas pengaruh akademisnya hingga ke wilayah Sumatera. Kerja sama ini diharapkan menjadi role model bagi institusi lain dalam membangun konektivitas pendidikan di tingkat nasional.

Boepinang (ISW)

Implementasi MoU Dengan Pemkab Bombana, Pimpinan dan Dosen IAI Rawa Aopa Laksanakan Pendampingan Mahasiswa di Boepinang

Rawaaopakonsel.ac.id, Boepinang – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan merealisasikan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bombana. Langkah nyata ini diwujudkan melalui kegiatan pendampingan mahasiswa yang dilaksanakan oleh jajaran pimpinan dan dosen di Boepinang, Kabupaten Bombana (Sabtu, 24 Januari 2026). 

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Nota Kesepahaman (MoU) yang telah disepakati kedua belah pihak sebelumnya dalam kaitan memberi bantuan pembiayaan untuk mahasiswa asal Bombana. “Namun, bukan soal biaya saja, kita juga memastikan mahasiswa selesai tepat waktu,” kata Ismail Suardi Wekke.

Kehadiran pimpinan dan IAI Rawa Aopa di wilayah tersebut bertujuan untuk memastikan kegiatan mahasiswa terkait dengan program pengabdian masyarakat berjalan optimal. Dosen pendamping lapangan memberikan arahan langsung kepada mahasiswa agar program yang dijalankan relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Bombana.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, turut hadir memantau langsung proses pendampingan tersebut. Beliau menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar soal biaya kuliah. Menurutnya, aksi nyata di lapangan adalah kunci dari keberhasilan sebuah kemitraan institusi pendidikan dengan pemerintah daerah.

“Kehadiran kami di Boepinang merupakan bukti komitmen kampus dalam mengawal setiap butir kesepakatan dengan Pemkab Bombana agar berdaya guna,” ujar Ismail Suardi Wekke saat ditemui di sela kegiatan. 

Ismail menjelaskan bahwa keterlibatan dosen secara aktif diharapkan mampu mentransfer pengetahuan praktis kepada mahasiswa dan warga sekitar. Ia juga menekankan bahwa melalui pendampingan ini, mahasiswa dapat belajar memecahkan masalah sosial secara lebih sistematis dan terukur.

Dalam kesempatan tersebut, Ismail Suardi Wekke menyampaikan bahwa pihaknya ingin memastikan seluruh sumber daya kampus dikerahkan untuk mendukung program prioritas daerah di wilayah Bombana. Beliau juga mengungkapkan harapannya agar sinergi ini melahirkan inovasi baru yang muncul dari hasil interaksi antara akademisi dan realitas sosial di lapangan. 

Selain itu, Ismail menambahkan bahwa penguatan kapasitas mahasiswa di Boepinang akan menjadi pilot project bagi implementasi MoU di wilayah-wilayah lainnya. Sekolah setempat menyambut baik kehadiran tim dari IAI Rawa Aopa yang turun langsung ke masyarakat. 

Kolaborasi ini dinilai strategis dalam ikhtiar mempercepat pembangunan di sektor pendidikan dan sosial keagamaan. Mahasiswa yang sedang bertugas merasa terbantu dengan adanya arahan teknis dari para pimpinan dan dosen yang hadir.

Kegiatan pendampingan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pemberdayaan ekonomi umat hingga penguatan literasi pendidikan. Dosen yang terlibat tidak hanya memantau, tetapi juga ikut serta dalam diskusi-diskusi bersama tokoh masyarakat setempat. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa program yang dijalankan memiliki keberlanjutan jangka panjang bagi warga Boepinang.

Implementasi MoU ini diharapkan terus berkembang ke berbagai sektor pembangunan lainnya di masa depan. IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mencetak generasi unggul. Penutupan kegiatan pendampingan hari ini menandai babak baru kolaborasi aktif antara dunia akademik dan birokrasi di Sulawesi Tenggara.