Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus mempertahankan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Konawe Selatan. Sebagai langkah taktis, kampus ini bersiap menjalin sinergi strategis dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) guna memfasilitasi penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui jalur pendidikan nonformal.
“Kita siap menjalin kerjasama dengan PKBM,” kata Ismail Suardi Wekke jelang pelaksanaan Rapat Kerja IAI Rawa Aopa Konawe Selatan (Ahad, 1 Februari 2026). Ismail yang sementara ini berada di Jakarta menyampaikan bahwa salah satu langkah yang dapat dilakukan dengan mendapatkan dukungan PKBM. “Sehingga anak-anak kita yang tidak memiliki ijazah, dapat menempuh pendidikan melalui jalur paket,” tutur Ismail yang juga pakar pendidikan.
Langkah ini dipicu oleh temuan lapangan saat Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, turun langsung ke desa-desa untuk melakukan sosialisasi program SETARA. Program SETARA sendiri merupakan inisiatif unggulan yang telah berjalan secara konsisten di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Konawe Selatan.
Namun, dalam kesempatan tersebut, Ismail menemukan fakta bahwa masih terdapat anak-anak yang belum tersentuh layanan pendidikan formal, sehingga diperlukan solusi cepat dan tepat sasaran. Ismail Suardi Wekke menjelaskan bahwa kehadiran IAI Rawa Aopa di tengah masyarakat bertujuan untuk memastikan program pemerintah daerah dapat dirasakan oleh seluruh lapisan warga tanpa terkecuali.
Ia menyebutkan bahwa kolaborasi dengan PKBM menjadi salah satu aktivitas karena institusi tersebut memiliki otoritas dalam mengelola program Paket A, Paket B, dan Paket C. Melalui kerja sama ini, anak-anak yang selama ini putus sekolah diharapkan memiliki jalan kembali untuk meraih ijazah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Terkait upaya penuntasan masalah pendidikan ini, Ismail Suardi Wekke memberikan penegasan mengenai urgensi kemitraan tersebut. “Kami melihat PKBM memiliki peran vital sebagai jembatan bagi anak-anak kita yang kehilangan akses pendidikan formal untuk mendapatkan kesetaraan melalui Paket A, B, dan C,” ujar Ismail saat ditemui di sela kegiatannya.
Ia juga menambahkan bahwa IAI Rawa Aopa tidak ingin sekadar menjadi menara gading, melainkan harus hadir memberikan solusi nyata. “Kerja sama ini adalah ikhtiar kolektif agar tidak ada lagi anak di Konawe Selatan yang tertinggal dalam hal literasi dan pendidikan dasar,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dengan menyatakan bahwa pemenuhan hak pendidikan bagi Anak Tidak Sekolah adalah tanggung jawab moral yang harus segera dieksekusi melalui aksi nyata bersama PKBM.
Selain pernyataan langsung tersebut, Ismail juga menyampaikan beberapa poin penting secara mendalam mengenai visi institusi ke depan. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyusun skema pendampingan bagi PKBM agar mutu lulusan pendidikan kesetaraan tetap terjaga dan kompetitif di dunia kerja maupun akademik.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk mengawal proses identifikasi ATS di tingkat desa agar mereka mendapatkan pembinaan yang berkelanjutan hingga tuntas. Ismail pun menekankan bahwa optimalisasi program SETARA akan jauh lebih efektif jika didukung oleh jaringan pendidikan nonformal yang kuat dan terorganisir dengan baik.
Dengan adanya inisiasi kerja sama ini, IAI Rawa Aopa berharap angka putus sekolah di Konawe Selatan dapat ditekan secara signifikan. Sinergi antara akademisi dan pengelola kegiatan belajar masyarakat ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, sehingga visi besar pembangunan manusia yang dicanangkan oleh pemerintah daerah dapat terwujud secara merata hingga ke pelosok desa.










