PKBM (ISW)

Fasilitasi ATS, IAI Rawa Aopa Siap Jalin Kerjasama Dengan PKBM

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus mempertahankan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Konawe Selatan. Sebagai langkah taktis, kampus ini bersiap menjalin sinergi strategis dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) guna memfasilitasi penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui jalur pendidikan nonformal.

“Kita siap menjalin kerjasama dengan PKBM,” kata Ismail Suardi Wekke jelang pelaksanaan Rapat Kerja IAI Rawa Aopa Konawe Selatan (Ahad, 1 Februari 2026). Ismail yang sementara ini berada di Jakarta menyampaikan bahwa salah satu langkah yang dapat dilakukan dengan mendapatkan dukungan PKBM. “Sehingga anak-anak kita yang tidak memiliki ijazah, dapat menempuh pendidikan melalui jalur paket,” tutur Ismail yang juga pakar pendidikan.

Langkah ini dipicu oleh temuan lapangan saat Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, turun langsung ke desa-desa untuk melakukan sosialisasi program SETARA. Program SETARA sendiri merupakan inisiatif unggulan yang telah berjalan secara konsisten di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Konawe Selatan. 

Namun, dalam kesempatan tersebut, Ismail menemukan fakta bahwa masih terdapat anak-anak yang belum tersentuh layanan pendidikan formal, sehingga diperlukan solusi cepat dan tepat sasaran. Ismail Suardi Wekke menjelaskan bahwa kehadiran IAI Rawa Aopa di tengah masyarakat bertujuan untuk memastikan program pemerintah daerah dapat dirasakan oleh seluruh lapisan warga tanpa terkecuali. 

Ia menyebutkan bahwa kolaborasi dengan PKBM menjadi salah satu aktivitas karena institusi tersebut memiliki otoritas dalam mengelola program Paket A, Paket B, dan Paket C. Melalui kerja sama ini, anak-anak yang selama ini putus sekolah diharapkan memiliki jalan kembali untuk meraih ijazah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Terkait upaya penuntasan masalah pendidikan ini, Ismail Suardi Wekke memberikan penegasan mengenai urgensi kemitraan tersebut. “Kami melihat PKBM memiliki peran vital sebagai jembatan bagi anak-anak kita yang kehilangan akses pendidikan formal untuk mendapatkan kesetaraan melalui Paket A, B, dan C,” ujar Ismail saat ditemui di sela kegiatannya. 

Ia juga menambahkan bahwa IAI Rawa Aopa tidak ingin sekadar menjadi menara gading, melainkan harus hadir memberikan solusi nyata. “Kerja sama ini adalah ikhtiar kolektif agar tidak ada lagi anak di Konawe Selatan yang tertinggal dalam hal literasi dan pendidikan dasar,” tegasnya. 

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dengan menyatakan bahwa pemenuhan hak pendidikan bagi Anak Tidak Sekolah adalah tanggung jawab moral yang harus segera dieksekusi melalui aksi nyata bersama PKBM.

Selain pernyataan langsung tersebut, Ismail juga menyampaikan beberapa poin penting secara mendalam mengenai visi institusi ke depan. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyusun skema pendampingan bagi PKBM agar mutu lulusan pendidikan kesetaraan tetap terjaga dan kompetitif di dunia kerja maupun akademik. 

Selain itu, ia menjelaskan bahwa IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk mengawal proses identifikasi ATS di tingkat desa agar mereka mendapatkan pembinaan yang berkelanjutan hingga tuntas. Ismail pun menekankan bahwa optimalisasi program SETARA akan jauh lebih efektif jika didukung oleh jaringan pendidikan nonformal yang kuat dan terorganisir dengan baik.

Dengan adanya inisiasi kerja sama ini, IAI Rawa Aopa berharap angka putus sekolah di Konawe Selatan dapat ditekan secara signifikan. Sinergi antara akademisi dan pengelola kegiatan belajar masyarakat ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, sehingga visi besar pembangunan manusia yang dicanangkan oleh pemerintah daerah dapat terwujud secara merata hingga ke pelosok desa.

IMG-20260201-WA0002

Pimpinan IAI Rawa Aopa Berbagi Gagasan Solutif Masalah Pemuda di Pascasarjana UGM

Rawaaopakonsel.ac.id, Yogyakarta – Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi tempat kegiatan diskusi pada Jumat (30/1/2026) saat ratusan pemuda berkumpul dalam Seminar Nasional bertajuk “Peran Strategis Pemuda dalam Kebijakan Sosial dan Pembangunan Daerah Menuju Indonesia Emas 2045”.

Kegiatan yang diprakarsai oleh Ruang Kolaborasi Pemuda (RKP) ini bekerja sama dengan Keluarga Alumni Pascasarjana UGM (KAPASGAMA) serta Sekolah Pascasarjana UGM untuk merumuskan langkah nyata pemuda dalam pembangunan nasional.

“Ruang Kolaborasi Pemuda adalah platform mempertemukan lintas profesi, sehingga inilah yang menjadi salah satu makna Yogyakarta sebagai kota pendidikan,” ujar Ismail Suardi
Wekke sebelum acara dimulai. Sebagaimana diketahui, Ismail Suardi Wekke, selain sebagai Komite Saintifik Asian Youth Forum (AYF) juga adalah Wakil Rektor di Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan.

Ketua Umum RKP DIY, M. Asruri Faishal Alam, dalam keterangannya menyoroti fenomena memprihatinkan yang tengah melanda generasi muda. Ia mengungkapkan bahwa saat ini remaja kian rentan terjebak dalam masalah sosial seperti kejahatan jalanan yang meresahkan, tindak kekerasan, hingga jeratan judi online.
Faishal menjelaskan bahwa seminar nasional yang digelar di UGM tersebut bertujuan untuk membangun ruang dialog konstruktif guna memperkuat peran pemuda sebagai agen perubahan dalam pembangunan sosial dan infrastruktur.

Selain itu, pengaruh buruk lingkungan dan media sosial turut memicu maraknya penyalahgunaan narkoba serta minuman keras yang menjauhkan pemuda dari harapan menjadi penerus bangsa. Menanggapi tantangan tersebut, Faishal menegaskan bahwa problematika ini merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.

Ketua Umum RKP DIY, M. Asruri Faishal Alam, berpendapat bahwa berbagai problematika yang menimpa remaja saat ini merupakan tanggung jawab bersama bagi seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mengatasinya.

Seminar ini dirancang sebagai ruang dialog konstruktif guna memperkuat posisi pemuda sebagai agen perubahan. Dengan mendorong keterlibatan aktif dalam sektor sosial, ekonomi, hingga infrastruktur, diharapkan generasi muda dapat mengalihkan energi mereka ke arah positif dan berkontribusi langsung bagi pembangunan daerah.

Diskusi ini diperkuat oleh kehadiran narasumber lintas sektor, mulai dari Ahmad Syauqi Suratno selaku Anggota DPD RI Dapil DIY, Ismail Suardi Wekke dari Scientific Committee Asian Youth Forum, Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko, hingga GM Bandara Internasional Yogyakarta Ruly Artha.

Ismail Suardi Wekke menekankan bahwa salah satu instrumen utama kemajuan adalah pemeliharaan semangat gotong royong dalam setiap aktivitas kepemudaan sebagai warisan nilai luhur bangsa.

Ismail Suardi Wekke mengemukakan bahwa gotong royong merupakan salah satu instrumen penting bagi kemajuan bangsa yang harus terus diteruskan dalam berbagai aktivitas pemuda.

“Keberagaman latar belakang pembicara dalam paneli telah menjadi perspektif diskusi yang kaya,” kata Ismail Suardi Wekke saat ditemui awak media.

“Dalam kapasitas pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, kami menyampaikan terima kasih atas undangan ini. Ruang Kolaborasi Pemuda, sebagaimana namanya, juga telah menjadi ruang ekspresi bagi kami perguruan tinggi di timur Indonesia,” papar Ismail Suardi Wekke di sela-sela acara saat menyapa panitia dan menyampaikan apresiasi.

Acara yang diikuti oleh sekitar 300 peserta dari kalangan mahasiswa, pelajar, dan organisasi kepemudaan ini dibuka dengan sambutan dari Dekan Sekolah Pascasarjana UGM Prof. Ir. Siti Malkhamah serta Ketua KAPASGAMA Dr. H. Khamim Zarkasih Putro.

Keberagaman latar belakang peserta ini diharapkan mampu menciptakan perspektif diskusi yang lebih kaya, sehingga tercipta kolaborasi inklusif untuk mengawal arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

M. Asruri Faishal Alam menegaskan, “Mari bersama-sama seluruh elemen masyarakat, kita bangun dan rawat generasi muda dalam kerangka pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.”

Empat Kota (ISW)

Proyeksi Perencanaan Bermitra dengan 9 Kampus di 3 Kota Taiwan

Rawaaopakonsel.ac.id, Yogyakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus mempertahankan langkah strategis dalam memperluas jejaring internasional. Dalam proyeksi perencanaan terbaru, kampus ini membidik kerja sama komprehensif dengan sembilan perguruan tinggi yang tersebar di tiga kota besar di Taiwan. 

Langkah ini diambil sebagai upaya mempercepat transformasi akademik dan peningkatan mutu sumber daya manusia melalui kolaborasi lintas negara. “Kita mulai merintis kerjasama dengan Taiwan,” kata Ismail Suardi Wekke usai menghadiri acara diskusi (daring) dengan konsultan pendidikan Taiwan (Jumat, 30 Januari 2025) yang saat itu berada di Yogyakarta.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa inisiatif ini sebagai rencana awal, juga kebutuhan mendesak untuk menjawab tantangan global. Beliau menyatakan bahwa kolaborasi dengan sembilan kampus di Taiwan ini merupakan langkah konkret untuk membawa atmosfer akademik internasional langsung ke jantung Sulawesi Tenggara. 

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa pihaknya telah memetakan potensi sinergi di tiga kota utama yang memiliki keunggulan riset dan teknologi, sehingga implementasi program nantinya akan lebih terukur dan tepat sasaran. Ia juga meyakini bahwa kemitraan ini akan menjadi katalisator bagi dosen dan mahasiswa dalam mengeksplorasi inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri di masa depan.

9 Kampus (ISW)
9 Kampus (ISW)

Dalam sebuah kesempatan usai diskusi tersebut, Ismail Suardi Wekke secara gamblang memaparkan target di balik program internasionalisasi ini. “Kami menargetkan sembilan kampus di Taiwan sebagai mitra strategis karena reputasi mereka dalam integrasi teknologi dan pendidikan sangat selaras dengan visi pengembangan IAI Rawa Aopa,” ujar Ismail menegaskan rencana institusinya.

“Sekalipun dalam perjalanan di kereta api, situasinya tetap aman dan nyaman sehingga memungkinkan untuk mengikuti acara diskusi. Ini sebuah peluang emas,” papar Ismail Suardi Wekke yang baru saja menghadiri acara diskusi di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia juga menyoroti pentingnya mobilitas akademik bagi civitas akademika dalam waktu dekat. “Proyeksi ini mencakup pertukaran dosen dan mahasiswa, di mana kami ingin memastikan bahwa pengalaman belajar di tiga kota di Taiwan tersebut memberikan dampak transformatif bagi kurikulum kita,” tambahnya. 

Selain itu, Ismail memberikan penekanan pada keberlanjutan program melalui dukungan manajerial yang kuat dengan mengatakan bahwa perencanaan anggaran dan kepegawaian telah disesuaikan untuk mendukung penuh mobilitas internasional ini guna menjamin efektivitas kemitraan jangka panjang. Strategi yang diusung IAI Rawa Aopa ini diharapkan mampu memperkuat posisi institusi dalam kerjasama global serta membuka peluang beasiswa dan riset kolaboratif. 

Dengan integrasi perencanaan yang matang, kemitraan dengan kampus-kampus di Taiwan tersebut diproyeksikan mulai berjalan pada tahun akademik mendatang, menandai babak baru bagi pendidikan tinggi di Konawe Selatan. “Terima kasih kepada GROW Consulting yang telah memberikan peluang ini,” papar Ismail Suardi Wekke.

Pembukaan Rakernas (ISW)

Hadir dalam Pembukaan Rakernas PPMPI di Yogyakarta, Sampaikan Kesediaan untuk Berkolaborasi

Rawaaopakonsel.ac.id, Yogyakarta – Perkumpulan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (PPMPI) melaksanakan pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) tahun ini di Yogyakarta (Rabu, 28 Januari 2026). Agenda strategis ini dihadiri oleh anggota dari seluruh penjuru Indonesia. Sementara itu, pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan turut hadir dalam acara tersebut.

Kehadiran para pimpinan program studi dari pelbagai perguruan tinggi dalam forum ini menegaskan komitmen kolektif untuk meningkatkan mutu di lingkungan pendidikan Islam. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, turut hadir langsung dalam seremoni pembukaan tersebut yang berlangsung di University Hotel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan pentingnya sinergi antarlembaga untuk menjawab tantangan global dalam kaitan pengelolaan program studi. Ismail menyatakan bahwa kolaborasi merupakan kunci utama agar program studi pendidikan Islam dapat bersaing secara internasional dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

Dalam keterangannya di sela-sela acara, Ismail Suardi Wekke menyampaikan komitmen institusinya secara lugas. “Kami di IAI Rawa Aopa Konawe Selatan memandang Rakernas ini sebagai momentum emas untuk menyelaraskan visi pengembangan kampus kami,” ujarnya.

Beliau juga menambahkan bahwa kesediaan untuk berkolaborasi, juga sebagai langkah konkret untuk berbagi sumber daya dan pengetahuan. “Saya menyatakan bahwa institusi kami sangat terbuka untuk menjalin kemitraan strategis dengan anggota PPMPI lainnya demi kemajuan bersama,” tegas Ismail.

Selain pernyataan langsung tersebut, Ismail juga memaparkan visi manajerialnya terkait pengembangan sumber daya manusia sesuai dengan tekad PPMPI. Ia menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tengah menyiapkan skema dukungan finansial dan kebijakan untuk pembukaan prodi di kampusnya.

Lebih lanjut, Ismail menyampaikan harapannya agar Rakernas di Yogyakarta ini mampu merumuskan program kerja yang dapat diimplementasikan oleh perguruan tinggi di daerah, termasuk di Konawe Selatan. Ia pun menggarisbawahi bahwa keberhasilan sebuah program studi tidak hanya bergantung pada kualitas dosen, tetapi juga pada soliditas jaringan kerja sama antar-prodi yang tergabung dalam PPMPI.

Rakernas ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi seluruh pengelola prodi manajemen pendidikan Islam. Dengan adanya dukungan dari jajaran pimpinan rektorat seperti yang ditunjukkan oleh IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, akselerasi akreditasi di lingkungan perguruan tinggi Islam optimis dapat tercapai dalam waktu dekat.

UGM (ISW)

Dinamika Persoalan Kalangan Pemuda dan Remaja di Pascasarjana UGM, Pimpinan IAI Rawa Aopa Didaulat Menjadi Panelis

Rawaaopakonsel.ac.id, Yogyakarta – Seminar Nasional dengan tema Peran Strategis Pemuda dalam Kebijakan Sosial dan Pembangunan Daerah Menuju Indonesia Emas 2045 digelar Auditorium Sekolah Pascasarjana UGM, Jumat (30 Januari 2026). Kegiatan yang diprakarsai Ruang Kolaborasi Pemuda bersama-sama dengan KAPASGAMA dan Sekolah Pascasarjana UGM.

Forum yang mempertemukan tokoh nasional, legislator, akademisi, dan praktisi ini untuk membahas peran nyata pemuda dalam arah kebijakan dan pembangunan Indonesia. “Ruang Kolaborasi Pemuda adalah platform mempertemukan lintas profesi. Sehingga inilah yang menjadi salah satu makna Yogyakarta sebagai kota pendidikan,” awal Ismail Suardi Wekke sebelum acara dimulai.

Tampil sebagai narasumber Ahmad Syauqi Suratno Anggota DPD RI Dapil DIY, Ismail Suardi Wekke, Ph.D. Scientific Committee Asian Youth Forum, Ambar Purwoko, Wakil Bupati Kulon Progo, Ruly Artha GM Bandara Internasional Yogyakarta.

Sedang sambutan disampaikan Muhamad Asruri Faishal Alam Ketua Ruang Kolaborasi Pemuda, Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si Ketua KAPASGAMA UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D Dekan Sekolah Pascasarjana UGM.

Dinamika persoalan dikalangan pemuda dan remaja saat ini kian memprihatinkan, mulai dari kejahatan jalanan, tindak kekerasan, judi online dan kenakalan remaja lainnya. Kasus yang kerap kali muncul di media sosial adalah kejahatan jalanan semakin meresahkan masyarakat.

Seyogyanya generasi muda yang menjadi generasi penerus bangsa dalam menyongsong Indonesia Emas, namun realita yang terjadi saat justru jauh dari harapan. M. Asruri Faishal Alam selaku Ketua Umum Ruang Kolaborasi Pemuda (RKP) DIY berpendapat bahwa problematika yang terjadi tersebut merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat dan stakeholder dalam mengatasinya.

Asruri Faishal Alam atau yang akrab disapa Faishal saat ditemui awak media disela acara Seminar Nasional,) siang menyatakan siap untuk berkolaborasi bersama semua pihak untuk bergerak berdampak agar generasi muda saat ini dapat memberikan kontribusi postif dalam sosial masyarakat dan juga dalam membangun bangsa ini.

Bahwa Seminar yang digelar di Auditorium Sekolah Pascasarjana UGM bertajuk “Peran Strategis Pemuda dalam Kebijakan Sosial dan Pembangunan Daerah Menuju Indonesia Emas 2045” bertujuan terbangunnya ruang dialog yang konstruktif untuk memperkuat peran pemuda sebagai agen perubahan, wadah pertukaran gagasan guna mendorong keterlibatan aktif pemuda dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan infrastruktur, sehingga terhindar dari perilaku-perilaku negatif ataupun menyimpang,” jelas Faishal.

Dalam kegiatan yang berkolaborasi dengan Kapasgama (Keluarga Alumni Pascasarjana Universitas Gajah Mada) tersebut menghadirkan narasumber Ahmad Syauqi Soeratno(Anggota DPD RI), Ismail Suardi Wekke, Ph.D. (Scientific Committee Asian Youth Forum), Ruly Artha (GM Bandara YIA), Ambar Purwoko (Wakil Bupati Kulon Progo).

Acara ini dihadiri Dr. Khamim Zarkasih Putro (Ketua Kapasgama) dan diikuti oleh sekitar 300 orang dari kalangan mahasiswa, remaja / pelajar, komunitas, organisasi kepemudaan, dan relawan sosial. “Keberagaman latar belakang peserta diharapkan dapat memperkaya perspektif diskusi serta mendorong terciptanya dialog dan kolaborasi pemuda yang konstruktif dalam merespons arah pembangunan wilayah secara inklusif dan berkelanjutan”, ujar faishal.

Lebih lanjut Faishal menyampaikan bahwa pengaruh negatif lingkungan dan media sosial merupakan faktor yang mempengaruhi timbulnya permasalahan dikalangan generasi muda seperti kenakalan remaja, tindak kekerasan, kejahatan jalanan, miras, narkoba, judol dll. Oleh sebab itu melalui momentum kegiatan seminar ini dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkegiatan positif, begerak dan berdampak.

“Mari bersama-sama seluruh elemen masyarakat, kita bangun dan rawat generasi muda dalam kerangka pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045”, pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ismail Suardi Wekke, Ph.D. yang didaulat sebagai panelis dalam acara tersebut mengemukakan bahwa salah satu instrument kemajuan adalah dengan gotong royong. “Kita perlu meneruskan semangat dan tradisi gotong royong dalam pelbagai aktivitas,” tutur Ismail yang juga Wakil Rektor Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan.

Selanjutnya, Ismail Suardi Wekke menuturkan bahwa sebuah kehormatan bisa turut memberikan pandangan dan gagasan dalam kegiatan ini. “Terima kasih kepada Ruang Kolaborasi Pemuda yang telah mengundang kami,” tutup Ismail Suardi Wekke.

(Bahan Berita diambil dari Harian Merapi)

India-Indonesia (ISW)

Mulai Jalin Kerjasama dengan NGO India, IAI Rawa Aopa Awali Dengan Diskusi

Rawaaopakonsel.ac.id, Yogyakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan memulai langkah strategis internasional dengan menjalin kerja sama bersama Speaking Online Mental Health Consulting Foundation, sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) asal India. Inisiasi kolaborasi ini diawali melalui diskusi mendalam dalam pertemuan daring yang fokus pada penguatan kerangka pengetahuan antara kedua negara (Rabu, 28 Januari 2026).

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan fondasi bagi institusi dalam memperluas jejaring global. “Kerja sama ini sebagai sebuah keperluan, juga menjadi langkah konkret kami untuk mengawali kolaborasi akademik yang melintasi batas negara, dimulai dengan diskusi intensif mengenai isu-isu kesehatan mental dan pendidikan,” ujar Ismail dalam keterangannya usai diskusi yang saat ini berada di Yogyakarta.

Dalam diskusi tersebut, kedua belah pihak menyepakati sejumlah agenda tindak lanjut yang mencakup bidang penelitian dan publikasi. Ismail menekankan pentingnya sinergi ini dengan menyebutkan bahwa kolaborasi riset mengenai kerangka pengetahuan India-Indonesia akan menjadi salah satu prioritas utama. Beliau menegaskan bahwa IAI Rawa Aopa berkomitmen penuh untuk menghadirkan perspektif lokal Sulawesi Tenggara dalam kancah internasional melalui kemitraan strategis ini.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa diskusi ini juga mematangkan persiapan untuk presentasi dalam konferensi internasional yang akan datang. Menurutnya, keterlibatan aktif dosen dan peneliti dalam forum bersama NGO India tersebut akan melampaui standar nasional pendidikan dalam bidang akademik serta eksposur institusi di tingkat global. Beliau berharap hasil dari diskusi awal ini dapat segera diimplementasikan dalam bentuk kegiatan nyata yang bermanfaat bagi kedua lembaga.

Selain rencana presentasi konferensi, agenda kerja sama ini mencakup program publikasi bersama, baik dalam jurnal ilmiah maupun penerbitan buku. Ismail Suardi Wekke menyatakan bahwa integrasi pemikiran antara akademisi Indonesia dan praktisi dari India akan memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Beliau juga menambahkan bahwa ke depannya, kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan karya-karya akademik yang bereputasi dan memberikan solusi atas tantangan sosial di kedua negara.

Pertemuan yang berlangsung secara virtual tersebut menjadi bukti pemanfaatan teknologi dalam menembus sekat geografis demi kemajuan pendidikan tinggi. Melalui tautan rekam medis pertemuan yang telah didokumentasikan, seluruh sivitas akademika dapat memantau progres kolaborasi ini. Dengan adanya kesepakatan awal ini, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan semakin memantapkan posisinya sebagai perguruan tinggi yang progresif dalam membangun kemitraan internasional.

IMG-20260127-WA0031

Kick Off Meeting dan FGD antara IAI Rawa Aopa dengan NITRO dalam Pelaksanaan ICON 2026

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa menjalin sinergi strategis dengan Institut Bisnis dan Keuangan NITRO melalui agenda ICON 2026. Telah terlaksana daring kegiatan Kick Off Meeting dan Focus Group Discussion (FGD), Senin (26/1/2026).

Pertemuan ini dilaksanakan dalam rangka mematangkan persiapan perhelatan internasional International Conference on NITRO (ICON) 2026 yang dijadwalkan menjadi agenda akademik penting kedua institusi di bulan April mendatang.

Dalam suasana diskusi yang produktif tersebut, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menekankan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar seremoni akademik saja.

Ia menyatakan bahwa pertemuan ini menjadi fondasi awal untuk menyatukan visi besar dalam mengangkat kearifan lokal ke panggung global melalui riset-riset yang berkualitas.

Menurutnya, sinergi antara IAI Rawa Aopa dan NITRO akan memberikan warna baru bagi penyelenggaraan ICON 2026, khususnya dalam mengintegrasikan nilai-nilai luhur kemanusiaan dengan perkembangan bisnis dan keuangan modern. Lebih lanjut, Ismail Suardi Wekke secara tegas memberikan instruksi dan harapan besar terhadap tim teknis kedua belah pihak agar bekerja secara profesional.

“Kita harus memastikan bahwa seluruh instrumen pelaksanaan ICON 2026 telah siap secara matang, mulai dari manajemen tata kelola konferensi hingga output publikasi ilmiah yang akan dihasilkan nantinya,” ujar Ismail saat memberikan pengantar mengawali kegiatan tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa prakarsa dan kesediaan NITRO merupakan langkah untuk memperkuat jaringan nasional dan juga perluasan kerjasama internasional melalui konferensi.

“KIta akan berusaha semaksimal mungkin, sehingga kegiatan ini insya Allah sukses,” papar Ismail Suardi Wekke yang merupakan Co-Chair ICON 2026.

“Kerja sama ini adalah bukti komitmen kami untuk membawa IAI Rawa Aopa bertransformasi menjadi institusi yang inklusif dan progresif di mata dunia,” tegasnya dengan penuh optimisme.

Menutup pernyataannya, Ismail mengingatkan pentingnya konsistensi dalam menjaga kualitas akademik selama proses persiapan berlangsung.

“Saya berharap dengan Kick Off ini melahirkan kerangka kerja yang solid sehingga ICON 2026 tidak hanya menjadi ajang pertemuan para pakar, tetapi juga memberikan solusi konkret bagi permasalahan masyarakat di era digital,” pungkas Ismail Suardi Wekke.

Ismail turut menjelaskan bahwa keberhasilan agenda internasional ini akan sangat bergantung pada bagaimana kedua institusi mampu mengelola sumber daya manusia dan dukungan finansial secara transparan dan akuntabel.

Melalui FGD ini, IAI Rawa Aopa dan NITRO berkomitmen untuk terus mengawal setiap tahapan persiapan demi memastikan standar kualitas internasional tetap terjaga hingga hari pelaksanaan nanti.

IMG-20260127-WA0018

Turun ke Boepinang, IAI Rawa Aopa Kawal Program Wajib Belajar 13 Tahun dengan Akses Pendidikan Bagi Guru

Rawaaopakonsel.ac.id, Boepinang – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menyelenggarakan kegiatan perkuliahan lapangan yang terintegrasi dengan program pengabdian masyarakat di Boepinang, Sabtu (24/1/2026).

Kegiatan bertajuk “Diskusi Akhir Semester bersama Mahasiswa dan Guru PAUD” ini salah satu fokus pembahasan pada upaya mendukung akselerasi program Wajib Belajar 13 Tahun di wilayah tersebut.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, bersama dosen, mahasiswa, puluhan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Boepinang (Bombana).

Sinergi antara akademisi dan praktisi pendidikan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif bagi anak usia dini di Bombana.

“Kita mengajak guru-guru PAUD bahwa dalam 4 tahun ke depan, semua guru yang masih lulusan sekolah menengah, sudah menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana,” papar Ismail di awal acara diskusi.

Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa agenda ini selain sebagai kegiatan akademik, melainkan langkah nyata dalam menjalankan kesepakatan yang telah dibangun dengan pemerintah daerah.

“Kegiatan ini merupakan bagian integral dalam implementasi nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Bombana dengan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dalam memajukan sektor pendidikan,” ujar Ismail saat membuka diskusi.

Lebih lanjut, Ismail menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kualitas pendidikan dari akar rumput, termasuk pada level PAUD. Ia menjelaskan bahwa melalui diskusi akhir semester yang melibatkan praktisi di lapangan, pihaknya ingin memastikan bahwa kurikulum yang diajarkan kepada mahasiswa selaras dengan tantangan nyata yang dihadapi para guru di Boepinang.

Menurutnya, keterlibatan dosen dan mahasiswa di tengah masyarakat merupakan manifestasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus terus dihidupkan.

“Dulu dalam satu masa, perguruan tinggi dipandang sebagai menara gading. Kini, kita perlu beranjak ke paradigma Menara Air,” komentar Ismail terkait dengan posisi perguruan tinggi kontemporer.

Dalam pemaparannya di hadapan para peserta, Ismail memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para pendidik di wilayah pesisir. “Kami berkomitmen untuk terus mendampingi para guru PAUD di Boepinang agar memiliki kompetensi yang mumpuni dalam menyambut program wajib belajar 13 tahun,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi ini akan terus berlanjut dalam bentuk pendampingan teknis dan pengembangan metode pembelajaran yang inovatif. Di sisi lain, Ismail turut menyoroti pentingnya peran strategis mahasiswa dalam mendorong perubahan sosial melalui pendidikan.

Ia menyatakan bahwa mahasiswa harus mampu menjadi jembatan informasi antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat di pelosok. Baginya, pengalaman lapangan ini menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sumber daya manusia di Kabupaten Bombana.

Pertemuan tersebut ditutup dengan sesi dialog interaktif antara dosen dan guru PAUD mengenai kendala administratif dan pedagogis di lapangan. Ismail kembali menekankan bahwa integrasi pengabdian masyarakat ini menjadi bukti bahwa IAI Rawa Aopa hadir secara fisik dan pemikiran untuk kemajuan daerah.

“Kehadiran kami di sini adalah untuk memastikan bahwa tidak ada anak di Boepinang yang tertinggal dalam mendapatkan hak pendidikan dasarnya,” pungkas Ismail menutup pernyataannya.

IMG-20260127-WA0015

Perkuat Instrumen Inovasi Bersama CIDES-BRIN, IAI Rawa Siap Bergerak dalam Skala Lokal

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Center for Information and Development Studies (CIDES) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) melakukan kunjungan silaturahmi ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna membahas penguatan ekosistem dan pengembangan budaya riset di Indonesia. Pertemuan ini menjadi momentum krusial dalam menyelaraskan visi antara lembaga pemikir (think tank) dengan otoritas riset tertinggi di tanah air, Senin (26/1/2026).

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Kerjasama CIDES ICMI yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Ismail menyatakan bahwa sinergi antara BRIN dan CIDES ICMI merupakan langkah strategis dalam memastikan setiap kebijakan pembangunan berbasis pada data dan kajian yang mendalam. Ia menilai bahwa riset tidak boleh berhenti di laboratorium, melainkan harus menyentuh sendi-sendi kebijakan publik demi kemaslahatan masyarakat luas.

Ismail Suardi Wekke mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi peneliti yang besar, namun tantangan utamanya terletak pada integrasi dan keberlanjutan budaya riset di tingkat institusi. Ia menyampaikan secara langsung bahwa kolaborasi ini menjadi jembatan bagi para cendekiawan untuk berkontribusi lebih konkret dalam memberikan solusi bagi permasalahan bangsa melalui pendekatan saintifik.

“Kita memerlukan keterhubungan yang kuat antara kebijakan nasional dan aktivitas intelektual di daerah agar inovasi dapat tumbuh secara merata di seluruh pelosok negeri,” tegas Ismail saat memberikan pernyataan usai pertemuan dengan BRIDA Konawe Selatan di Andoolo pada hari yang sama.

Lebih lanjut, Ismail menegaskan bahwa penguatan institusi pendidikan tinggi, khususnya di daerah, sangat bergantung pada dukungan infrastruktur riset yang disediakan oleh pemerintah pusat.

Ia secara lugas menyatakan, “IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk menjadi bagian dari ekosistem riset ini, sehingga perencanaan pembangunan di wilayah seperti Konawe Selatan dapat didasarkan pada nalar akademik yang kuat.”

Menurutnya, budaya riset harus dimulai dari keterbukaan dalam berkolaborasi dan kesiapan sumber daya manusia dalam beradaptasi dengan teknologi terbaru.

“Silaturahmi dengan Kepala BRIN ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah awal dari berbagai program aksi yang akan kita jalankan bersama ke depan,” tambah Ismail Suardi Wekke yang mengusulkan bagaimana keberadaan Akademi Tunas Cendekia yang dapat menjadi platform budaya riset di tingkatan sekolah dasar dan menengah.

Di sisi lain, Ismail juga menekankan bahwa CIDES ICMI terus mendorong agar hasil-hasil riset dapat diakses dan dimanfaatkan oleh para pengambil kebijakan secara inklusif. Ia meyakini bahwa dengan semangat kebersamaan, Indonesia dapat membangun kemandirian teknologi dan kedaulatan ilmu pengetahuan yang kompetitif di tingkat global.

Dalam rangkaian kegiatan di kesempatan yang berbeda, Ismail Suardi Wekke juga melakukan kunjungan ke Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Konawe Selatan. Pertemuan tersebut difokuskan pada diskusi mengenai peluang kolaborasi konkret antara IAI Rawa Aopa dengan BRIDA Konsel dalam pengembangan budaya riset lokal.

Kunjungan ini merupakan implementasi nyata dari semangat desentralisasi inovasi, di mana riset diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam menggali dan memaksimalkan potensi daerah demi kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Tenggara.

IMG-20260126-WA0030

Silaturahmi ke BRIDA Konsel, IAI Rawa Aopa Siap Berpartisipasi Dalam Pembangunan Daerah

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Upaya memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah terus digalakkan di Kabupaten Konawe Selatan. Jajaran pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa melakukan kunjungan resmi ke Kantor Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Konawe Selatan guna mendiskusikan berbagai potensi kolaborasi strategis dalam pengembangan daerah berbasis data dan riset, Senin, 26/1/2026).

Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut menjadi momentum penting bagi kedua lembaga untuk menyelaraskan visi. IAI Rawa Aopa sebagai institusi pendidikan tinggi di Konawe Selatan memandang bahwa riset tidak boleh hanya berhenti di perpustakaan kampus, melainkan harus bertransformasi menjadi solusi nyata bagi kebijakan publik.

Delegasi IAI Rawa Aopa dipimpin Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan komitmen kampus dalam mendukung pembangunan daerah melalui pendekatan ilmiah. Beliau menyampaikan bahwa kehadiran IAI Rawa Aopa bertujuan untuk memastikan setiap kebijakan di Konawe Selatan didukung oleh kajian akademik yang kuat.

“Turut bersama-sama dalam delegasi IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Dekan Fakultas Syariah, dan juga Ketua Program (prodi) Studi PAI dan prodi PGMI,” tutur Ismail Suardi Wekke mengawali pertemuan yang berlangsung di auditorium BRIDA Konawe Selatan.

“Kami datang dengan semangat bahwa kampus dapat menjadi mitra strategis bagi pemerintah daerah, khususnya dalam pengembangan budaya riset,” ujar Ismail Suardi Wekke di sela-sela diskusi.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa kolaborasi ini diharapkan mampu menyelaraskan visi dan misi kedua lembaga sehingga bisa berjalan seiring. Menurutnya, potensi Konawe Selatan sangat besar, namun memerlukan sentuhan riset yang tepat agar pengembangannya lebih terukur dan berkelanjutan.

“Sinergi antara IAI Rawa Aopa dan BRIDA akan menjadi jembatan bagi para akademisi untuk dapat memperkaya keilmuan mereka dalam bentuk belajar pada program yang dijalankan BRIDA,” tegasnya kembali.

Dalam kesempatan yang sama, Ismail juga menyoroti kemungkinan keterlibatan mahasiswa yang menerima bantuan dalam program SETARA Konawe Selatan dalam program-program riset daerah. Beliau mengatakan bahwa penguatan sumber daya manusia di tingkat lokal menjadi kunci utama agar inovasi daerah tidak stagnan dan terus berkembang mengikuti zaman.

“Fokus kami bukan sekadar kerja sama di atas kertas, melainkan aksi nyata di mana hasil penelitian dosen dan mahasiswa kami benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pemerintah dalam mengambil keputusan,” pungkas Ismail.

Sementara itu, pihak BRIDA Konawe Selatan menyambut positif inisiatif ini dan berencana menindaklanjuti pertemuan tersebut dengan penyusunan nota kesepahaman yang lebih teknis. Kepala BRIDA Konawe Selatan beserta jajaran Kepala Bidang, Sekretaris, dan juga staf, bersama-sama dalam diskusi tersebut.

Kolaborasi ini diproyeksikan untuk menjadi instrumen motor penggerak bagi ekosistem riset dan inovasi di wilayah Konawe Selatan ke depan.

“Terima kasih kepada Bapak Kepala BRIDA Konawe Selatan dan seluruh tim kerja yang telah bersedia menerima kami,” pungkas Ismail Suardi Wekke usai kegiatan yang diakhiri dengan photo bersama.