IMG-20260127-WA0031

Kick Off Meeting dan FGD antara IAI Rawa Aopa dengan NITRO dalam Pelaksanaan ICON 2026

Rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa menjalin sinergi strategis dengan Institut Bisnis dan Keuangan NITRO melalui agenda ICON 2026. Telah terlaksana daring kegiatan Kick Off Meeting dan Focus Group Discussion (FGD), Senin (26/1/2026).

Pertemuan ini dilaksanakan dalam rangka mematangkan persiapan perhelatan internasional International Conference on NITRO (ICON) 2026 yang dijadwalkan menjadi agenda akademik penting kedua institusi di bulan April mendatang.

Dalam suasana diskusi yang produktif tersebut, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menekankan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar seremoni akademik saja.

Ia menyatakan bahwa pertemuan ini menjadi fondasi awal untuk menyatukan visi besar dalam mengangkat kearifan lokal ke panggung global melalui riset-riset yang berkualitas.

Menurutnya, sinergi antara IAI Rawa Aopa dan NITRO akan memberikan warna baru bagi penyelenggaraan ICON 2026, khususnya dalam mengintegrasikan nilai-nilai luhur kemanusiaan dengan perkembangan bisnis dan keuangan modern. Lebih lanjut, Ismail Suardi Wekke secara tegas memberikan instruksi dan harapan besar terhadap tim teknis kedua belah pihak agar bekerja secara profesional.

“Kita harus memastikan bahwa seluruh instrumen pelaksanaan ICON 2026 telah siap secara matang, mulai dari manajemen tata kelola konferensi hingga output publikasi ilmiah yang akan dihasilkan nantinya,” ujar Ismail saat memberikan pengantar mengawali kegiatan tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa prakarsa dan kesediaan NITRO merupakan langkah untuk memperkuat jaringan nasional dan juga perluasan kerjasama internasional melalui konferensi.

“KIta akan berusaha semaksimal mungkin, sehingga kegiatan ini insya Allah sukses,” papar Ismail Suardi Wekke yang merupakan Co-Chair ICON 2026.

“Kerja sama ini adalah bukti komitmen kami untuk membawa IAI Rawa Aopa bertransformasi menjadi institusi yang inklusif dan progresif di mata dunia,” tegasnya dengan penuh optimisme.

Menutup pernyataannya, Ismail mengingatkan pentingnya konsistensi dalam menjaga kualitas akademik selama proses persiapan berlangsung.

“Saya berharap dengan Kick Off ini melahirkan kerangka kerja yang solid sehingga ICON 2026 tidak hanya menjadi ajang pertemuan para pakar, tetapi juga memberikan solusi konkret bagi permasalahan masyarakat di era digital,” pungkas Ismail Suardi Wekke.

Ismail turut menjelaskan bahwa keberhasilan agenda internasional ini akan sangat bergantung pada bagaimana kedua institusi mampu mengelola sumber daya manusia dan dukungan finansial secara transparan dan akuntabel.

Melalui FGD ini, IAI Rawa Aopa dan NITRO berkomitmen untuk terus mengawal setiap tahapan persiapan demi memastikan standar kualitas internasional tetap terjaga hingga hari pelaksanaan nanti.

IMG-20260127-WA0018

Turun ke Boepinang, IAI Rawa Aopa Kawal Program Wajib Belajar 13 Tahun dengan Akses Pendidikan Bagi Guru

Rawaaopakonsel.ac.id, Boepinang – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menyelenggarakan kegiatan perkuliahan lapangan yang terintegrasi dengan program pengabdian masyarakat di Boepinang, Sabtu (24/1/2026).

Kegiatan bertajuk “Diskusi Akhir Semester bersama Mahasiswa dan Guru PAUD” ini salah satu fokus pembahasan pada upaya mendukung akselerasi program Wajib Belajar 13 Tahun di wilayah tersebut.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, bersama dosen, mahasiswa, puluhan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Boepinang (Bombana).

Sinergi antara akademisi dan praktisi pendidikan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif bagi anak usia dini di Bombana.

“Kita mengajak guru-guru PAUD bahwa dalam 4 tahun ke depan, semua guru yang masih lulusan sekolah menengah, sudah menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana,” papar Ismail di awal acara diskusi.

Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa agenda ini selain sebagai kegiatan akademik, melainkan langkah nyata dalam menjalankan kesepakatan yang telah dibangun dengan pemerintah daerah.

“Kegiatan ini merupakan bagian integral dalam implementasi nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Bombana dengan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dalam memajukan sektor pendidikan,” ujar Ismail saat membuka diskusi.

Lebih lanjut, Ismail menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kualitas pendidikan dari akar rumput, termasuk pada level PAUD. Ia menjelaskan bahwa melalui diskusi akhir semester yang melibatkan praktisi di lapangan, pihaknya ingin memastikan bahwa kurikulum yang diajarkan kepada mahasiswa selaras dengan tantangan nyata yang dihadapi para guru di Boepinang.

Menurutnya, keterlibatan dosen dan mahasiswa di tengah masyarakat merupakan manifestasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus terus dihidupkan.

“Dulu dalam satu masa, perguruan tinggi dipandang sebagai menara gading. Kini, kita perlu beranjak ke paradigma Menara Air,” komentar Ismail terkait dengan posisi perguruan tinggi kontemporer.

Dalam pemaparannya di hadapan para peserta, Ismail memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para pendidik di wilayah pesisir. “Kami berkomitmen untuk terus mendampingi para guru PAUD di Boepinang agar memiliki kompetensi yang mumpuni dalam menyambut program wajib belajar 13 tahun,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi ini akan terus berlanjut dalam bentuk pendampingan teknis dan pengembangan metode pembelajaran yang inovatif. Di sisi lain, Ismail turut menyoroti pentingnya peran strategis mahasiswa dalam mendorong perubahan sosial melalui pendidikan.

Ia menyatakan bahwa mahasiswa harus mampu menjadi jembatan informasi antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat di pelosok. Baginya, pengalaman lapangan ini menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sumber daya manusia di Kabupaten Bombana.

Pertemuan tersebut ditutup dengan sesi dialog interaktif antara dosen dan guru PAUD mengenai kendala administratif dan pedagogis di lapangan. Ismail kembali menekankan bahwa integrasi pengabdian masyarakat ini menjadi bukti bahwa IAI Rawa Aopa hadir secara fisik dan pemikiran untuk kemajuan daerah.

“Kehadiran kami di sini adalah untuk memastikan bahwa tidak ada anak di Boepinang yang tertinggal dalam mendapatkan hak pendidikan dasarnya,” pungkas Ismail menutup pernyataannya.

IMG-20260127-WA0015

Perkuat Instrumen Inovasi Bersama CIDES-BRIN, IAI Rawa Siap Bergerak dalam Skala Lokal

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Center for Information and Development Studies (CIDES) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) melakukan kunjungan silaturahmi ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna membahas penguatan ekosistem dan pengembangan budaya riset di Indonesia. Pertemuan ini menjadi momentum krusial dalam menyelaraskan visi antara lembaga pemikir (think tank) dengan otoritas riset tertinggi di tanah air, Senin (26/1/2026).

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Kerjasama CIDES ICMI yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Ismail menyatakan bahwa sinergi antara BRIN dan CIDES ICMI merupakan langkah strategis dalam memastikan setiap kebijakan pembangunan berbasis pada data dan kajian yang mendalam. Ia menilai bahwa riset tidak boleh berhenti di laboratorium, melainkan harus menyentuh sendi-sendi kebijakan publik demi kemaslahatan masyarakat luas.

Ismail Suardi Wekke mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi peneliti yang besar, namun tantangan utamanya terletak pada integrasi dan keberlanjutan budaya riset di tingkat institusi. Ia menyampaikan secara langsung bahwa kolaborasi ini menjadi jembatan bagi para cendekiawan untuk berkontribusi lebih konkret dalam memberikan solusi bagi permasalahan bangsa melalui pendekatan saintifik.

“Kita memerlukan keterhubungan yang kuat antara kebijakan nasional dan aktivitas intelektual di daerah agar inovasi dapat tumbuh secara merata di seluruh pelosok negeri,” tegas Ismail saat memberikan pernyataan usai pertemuan dengan BRIDA Konawe Selatan di Andoolo pada hari yang sama.

Lebih lanjut, Ismail menegaskan bahwa penguatan institusi pendidikan tinggi, khususnya di daerah, sangat bergantung pada dukungan infrastruktur riset yang disediakan oleh pemerintah pusat.

Ia secara lugas menyatakan, “IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk menjadi bagian dari ekosistem riset ini, sehingga perencanaan pembangunan di wilayah seperti Konawe Selatan dapat didasarkan pada nalar akademik yang kuat.”

Menurutnya, budaya riset harus dimulai dari keterbukaan dalam berkolaborasi dan kesiapan sumber daya manusia dalam beradaptasi dengan teknologi terbaru.

“Silaturahmi dengan Kepala BRIN ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah awal dari berbagai program aksi yang akan kita jalankan bersama ke depan,” tambah Ismail Suardi Wekke yang mengusulkan bagaimana keberadaan Akademi Tunas Cendekia yang dapat menjadi platform budaya riset di tingkatan sekolah dasar dan menengah.

Di sisi lain, Ismail juga menekankan bahwa CIDES ICMI terus mendorong agar hasil-hasil riset dapat diakses dan dimanfaatkan oleh para pengambil kebijakan secara inklusif. Ia meyakini bahwa dengan semangat kebersamaan, Indonesia dapat membangun kemandirian teknologi dan kedaulatan ilmu pengetahuan yang kompetitif di tingkat global.

Dalam rangkaian kegiatan di kesempatan yang berbeda, Ismail Suardi Wekke juga melakukan kunjungan ke Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Konawe Selatan. Pertemuan tersebut difokuskan pada diskusi mengenai peluang kolaborasi konkret antara IAI Rawa Aopa dengan BRIDA Konsel dalam pengembangan budaya riset lokal.

Kunjungan ini merupakan implementasi nyata dari semangat desentralisasi inovasi, di mana riset diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam menggali dan memaksimalkan potensi daerah demi kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Tenggara.