Gontor (ISW)

Berkunjung ke Pesantren Gontor Kampus 6 Pudahoa, Pimpinan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan Identifikasi Potensi Kolaborasi

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Upaya memperkuat jejaring pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia terus dipacu oleh Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan. Terbaru, jajaran pimpinan kampus melakukan kunjungan strategis ke Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 6 yang berlokasi di Pudahoa, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan, guna mengidentifikasi berbagai peluang kolaborasi akademik dan pemberdayaan masyarakat (Ahad, 25 Januari 2026).

Kunjungan ini menjadi momentum untuk menyelaraskan visi dalam mencetak generasi unggul di Sulawesi Tenggara. Dalam diskusi yang berlangsung hangat, dibahas berbagai potensi kerja sama mulai dari penguatan ekosistem keilmuan hingga pengembangan talenta muda Indonesia yang memiliki daya saing global namun tetap berpijak pada nilai-nilai pesantren.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret dalam membangun daya dukung ekosistem intelektual di daerah. Ia menyatakan secara langsung bahwa kehadiran Gontor di Konawe Selatan adalah aset berharga yang harus disinergikan dengan perguruan tinggi untuk menciptakan akselerasi kualitas pendidikan. 

“Kami melihat peluang untuk melakukan integrasi program, terutama dalam hal pengembangan bahasa dan kedisiplinan yang menjadi ciri khas Gontor, untuk kemudian diadaptasi dalam penguatan kapasitas mahasiswa kami,” ujar Ismail Suardi Wekke. 

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa sinergi ini akan difokuskan pada pembentukan talenta muda Indonesia melalui pola inkubasi yang lebih modern namun tetap berbasis pada nilai-nilai keislaman yang moderat. Selanjutnya, Ismail Suardi Wekke juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan institusi pendidikan dalam mendorong kesejahteraan masyarakat lokal. 

Ia memaparkan bahwa pimpinan IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk menjadikan kolaborasi ini sebagai jembatan bagi program pengabdian masyarakat yang lebih terukur dan berdampak luas. Menurutnya, kerja sama ini tidak hanya terbatas pada level administratif, melainkan harus menyentuh aspek fundamental dalam riset kolaboratif yang mampu menjawab tantangan zaman di era digital.

Ismail juga menyampaikan bahwa pihak kampus saat ini sedang mengidentifikasi kerangka kerja sama yang akan mencakup. Ia menegaskan bahwa IAI Rawa Aopa ingin memastikan untuk mendapatkan dukungan Gontor, terutama dalam meningkatkan akreditasi dan reputasi akademik di tingkat nasional melalui jaringan Gontor. 

Penekanan pada ekosistem keilmuan ini diharapkan mampu menjadikan Konawe Selatan sebagai salah satu pusat pertumbuhan intelektual di Indonesia Timur. “Terima kasih kepada wakil pengasuh Gontor Pudahoa telah menerima silaturahmi kami. Sekalipun ini adalah yang pertama, insya Allah kita akan teruskan dengan pelbagai platfrom kerjasama terutama dukungan dari Gontor untuk IAI Rawa Aopa Konawe Selatan,” pungkas Ismail Suardi Wekke yang juga alumni Pesantren IMMIM.

FGD Anti Korupsi (ISW)

Mengawali Pembelajaran Anti Korupsi di Perguruan Tinggi, IAI Rawa Aopa Laksanakan FGD Bersama Pegiat Anti Korupsi

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan resmi mengawali langkah strategis dalam penguatan integritas akademik dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Integrasi Pembelajaran Anti Korupsi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini menghadirkan sejumlah pegiat anti korupsi untuk merumuskan kurikulum dan metode internalisasi nilai-nilai integritas bagi civitas akademika IAI Rawa Aopa Konawe Selatan (Ahad, 25 Januari 2026).

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk tanggung jawab moral kampus dalam mencetak generasi masa depan yang bersih. Beliau menyampaikan bahwa pendidikan anti korupsi bukan sekadar materi tambahan, melainkan pondasi utama dalam membangun karakter mahasiswa di lingkungan IAI Rawa Aopa.

Dalam sesi diskusi tersebut, Ismail Suardi Wekke memberikan penekanan khusus mengenai urgensi integrasi nilai tersebut ke dalam sistem pendidikan tinggi. “Kita harus menyadari bahwa kampus adalah laboratorium peradaban, sehingga penyemaian nilai anti korupsi harus dimulai dari sini secara sistematis dan berkelanjutan,” ujar Ismail Suardi Wekke. 

Beliau juga menambahkan bahwa keterlibatan pegiat anti korupsi dalam diskusi ini sangat krusial untuk memberikan perspektif praktis bagi akademisi. “Kolaborasi dengan para pegiat di lapangan akan memperkaya khazanah pemahaman mahasiswa, sehingga mereka tidak hanya paham teori tetapi juga memiliki imunitas terhadap perilaku koruptif,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ismail menekankan pentingnya komitmen kelembagaan dalam mendukung program ini. Beliau menyatakan, “IAI Rawa Aopa berkomitmen penuh untuk menjadikan transparansi dan akuntabilitas sebagai urat nadi dalam setiap aktivitas perencanaan dan keuangan di lingkup internal kami.” 

Melalui langkah ini, pihak rektorat berharap IAI Rawa Aopa dapat menjadi bagian dalam gerakan moral di Sulawesi Tenggara, khususnya di wilayah Konawe Selatan. “Kita juga tidak dalam kaitan memenuhi kriteria akreditasi saja, tetapi menjadikan anti korupsi sebagai bagian gerakan bersama,” lanjut Ismail Suardi Wekke.

Ismail Suardi Wekke juga menguraikan bahwa hasil dari FGD ini nantinya akan ditindaklanjuti dengan penyusunan modul pembelajaran yang adaptif terhadap dinamika sosial saat ini. Beliau menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya universitas untuk memastikan bahwa setiap lulusan memiliki integritas yang teruji sebelum terjun ke masyarakat. 

Selain itu, Ismail menyampaikan harapannya agar sinergi antara perguruan tinggi dan pegiat anti korupsi tidak berhenti pada kegiatan seremoni saja, melainkan berlanjut dalam pengawasan dan edukasi publik yang lebih luas. Pertemuan ini menandai babak baru bagi IAI Rawa Aopa dalam memperkuat tata kelola kampus yang bersih. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, institusi ini optimistis dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga bermartabat secara moral.