IMG_20260520_105040

IAI Rawa Aopa dan SEAAM Mempertahankan Kolaborasi Asia Tenggara

Rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Dinamika politik di kawasan Asia Tenggara kembali menghangat menyusul ancaman Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, untuk membubarkan parlemen demi mengatasi keretakan koalisi pemerintahannya. Menanggapi situasi regional yang dinamis ini, Komite Saintifik Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM), Ismail Suardi Wekke, memberikan pandangan strategisnya langsung dari Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ismail menegaskan bahwa ketidakpastian politik di tingkat negara justru menjadi momentum bagi SEAAM untuk hadir sebagai jangkar stabilitas melalui jalur keilmuan. Saat ini, SEAAM tengah bersiap mengambil langkah besar dengan mentransformasikan diri menjadi badan hukum resmi berbentuk perkumpulan. Langkah ini diambil untuk memberikan payung hukum yang lebih solid, profesional, dan berkelanjutan bagi seluruh anggotanya.

Dalam pernyataan resminya di Jakarta, Ismail Suardi Wekke menggarisbawahi bahwa keterlibatan dalam komunitas internasional seperti SEAAM bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keperluan mutlak bagi institusi pendidikan tinggi. Terutama dalam upaya program studi (prodi) dan universitas untuk meraih serta mempertahankan akreditasi dengan status Unggul.

“Status ‘Unggul’ bagi sebuah program studi maupun perguruan tinggi tidak akan bisa dicapai tanpa adanya rekognisi dan jejaring internasional yang aktif. Komunitas internasional seperti SEAAM menyediakan ekosistem pendukung melalui riset kolaboratif, publikasi bersama, hingga mobilitas dosen dan mahasiswa lintas negara. Dengan wadah legal perkumpulan yang sedang kita siapkan, akselerasi menuju status unggul ini akan semakin memiliki fondasi yang kuat,” ujar Ismail Suardi Wekke di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Pernyataan ini mencuat di tengah perhatian publik terhadap situasi politik Malaysia. Ancaman pembubaran parlemen oleh PM Anwar Ibrahim dipicu oleh ketegangan internal, di mana Barisan Nasional (BN) Johor memutuskan bertanding secara independen pada pemilu negara bagian mendatang. Selain itu, penarikan dukungan dari anggota dewan UMNO di Negeri Sembilan terhadap Menteri Besar Datuk Seri Aminuddin Harun kian memperkeruh suasana.

Tantangan bagi PM Anwar bertambah berat menyusul mundurnya dua mantan menteri, Rafizi Ramli dan Nik Nazmi Nik Ahmad, dari kursi parlemen dan partai PKR untuk mengambil alih kepengurusan partai baru. Spekulasi mengenai pemilu dini di Malaysia pun kini merebak luas.

Menghadapi situasi di atas, Komite Saintifik SEAAM merumuskan langkah taktis agar jaringan akademik tetap solid sekaligus mampu mendongkrak mutu perguruan tinggi mitranya:

Institusionalisasi Wadah (Legalitas): Mengubah bentuk gerakan mobilitas menjadi perkumpulan berbadan hukum resmi untuk mempermudah kemitraan formal dan pengakuan internasional yang diperlukan dalam borang akreditasi kampus.

Fasilitator Rekognisi Internasional: Menjadi jembatan bagi dosen-dosen lokal untuk bertindak sebagai visiting professor, reviewer jurnal internasional, atau pembicara kunci (keynote speaker) di tingkat regional.

Independensi dan Ketahanan Akademik: Memastikan fokus riset dan kerja sama tetap berjalan secara objektif dan netral dari intervensi politik praktis di kawasan ASEAN.

Melalui wadah hukum yang baru, SEAAM berkomitmen tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya para peneliti, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi perguruan tinggi di Asia Tenggara dalam mencetak generasi emas melalui prodi-prodi berstatus Unggul.

Celebes Summit (ISW)

Pengumuman Kegiatan di Oktober yang Akan Datang, Celebes Summit on Education and Culture

Rawaaopakonsel,ac.id, Jakarta – SEAAM (Southeast Asia Academic Mobility), Universitas Muhammadiyah Barru, dan Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan dengan dukungan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dengan syukur mengumumkan penyelenggaraan Celebes Summit on Education and Culture yang akan datang. Acara kolaboratif ini dijadwalkan berlangsung pertengahan bulan Oktober untuk merayakan kekayaan budaya dan kemajuan akademis di pulau Sulawesi.

Pertemuan hybrid ini dirancang sebagai wadah strategis untuk mempertemukan para akademisi, praktisi budaya, dan pembuat kebijakan dari berbagai daerah. Melalui sinergi ini, diharapkan lahir inovasi baru yang dapat memajukan mutu pendidikan berbasis kearifan lokal di era digital.

Rangkaian kegiatan akan diisi dengan seminar internasional yang menghadirkan pembicara berkompeten di bidang edukasi global. Selain itu, para peserta juga dapat mengikuti lokakarya interaktif yang berfokus pada pelestarian tradisi dan seni khas Celebes.

Festival budaya mutakhir juga siap digelar guna menampilkan mahakarya seni, musik tradisional, dan pameran literasi bagi masyarakat umum. Kehadiran ruang ekspresi ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga sekaligus mengenalkan identitas kultural Sulawesi kepada generasi muda.

Pendaftaran bagi peserta dan delegasi resmi kini telah dibuka melalui situs panitia pelaksana. Jangan lewatkan kesempatan berharga ini untuk menjadi bagian dari agen perubahan dalam masa depan pendidikan dan kebudayaan Indonesia. Untuk sementara pendaftaran dan kesediaan berkolaborasi dapat disampaikan ke STIT Al Chaeriyah Mamuju (mitra perguruan tinggi di Sulawesi Barat). 

Fostering Colaboration (ISW)

IPRC 2026, Fostering Collaboration with 4 Countries

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – The 2026 International Postgraduate Research Conference (IPRC 2026) is set to be a landmark event for interdisciplinary academic exchange. Hosted by Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) on April 27-28, 2026, the conference theme is “Advancing Innovation through Interdisciplinary Collaboration: Transparency, Policy, and Political Discourse.”

Indeed, closely related series — the 2026 IPRC — is being co-organized by Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan and Institut Bisnis dan Keuangan Nitro (Makassar).

These platforms are specifically designed to bridge the gap between young researchers and established scholars across Asia and Eurasia, with a heavy emphasis on regional synergy between Japan, Thailand, Turkiye, and Malaysia.

Country Contributions & Collaborative Highlights

The following table outlines how these key nations are contributing to the 2026 research landscape and their specific collaborative links within the IPRC framework:

Country Key Research Contributions Collaborative Focus for 2026
Japan Interdisciplinary studies, language education, disaster mitigation, and human security Human Capital Exchange: Through programs like Wartec, Japan is funding the exchange of researchers.
Thailand Behavioral Sciences: Specialized in the intersection of indigenous wisdom and modern technology to enhance human well-being. Co-Hosting & Tradition: As a strategic partner of the IPRC colloquium series, Thailand (ALPS) provides the historical and structural backbone for the event.
Turkiye Public Policy & Governance: Focus on political discourse, transparency, and the socioeconomic impact of interdisciplinary research. Eurasian Bridge: Turkiye acts as a key contributor to the 2026 theme of “Policy and Political Discourse,” bringing Mediterranean and European academic perspectives to the Asian forum.
Malaysia Multidisciplinary Innovation: Strong focus on digital transformation, STEM, and sustainable “Green Technology” research. Regional Hub: Hosting major pitch events (e.g., Malaysia-Japan Fast Track Pitch) that align with IPRC goals to turn postgraduate research into industry solutions.

Key Thematic Pillars for 2026

The collaboration between these four nations at IPRC 2026 centers on three primary pillars:

  1. Interdisciplinary Innovation: Moving beyond “siloed” research. For example, combining Japan’s AI expertise with Thailand’s behavioral research to create more human-centric technology.
  2. Sustainability & Policy: Turkiye and Malaysia are leading discussions on how academic transparency can influence government policy, particularly in “Green Tech” and environmental governance.
  3. Digital Inclusion: Ensuring that the rapid advancement of technology in Japan and Malaysia does not leave behind the cultural and social values emphasized by researchers in Thailand and Turkiye.

Note for Researchers: Full paper submissions for the main IPRC 2026 conference open from January 2, 2026 to March 26, 2026, with a deadline of April 15, 2026.

SEA-UK Symposium on Area Studies: Roundtable Discussion and Closing Session

Rawaaopakonsel.ac.id, Andoolo – The SEA-UK Symposium on Area Studies will run a session namely “Roundtable Discussion and Closing Session”, bringing together a diverse group of scholars, policymakers, and practitioners from Southeast Asia and the United Kingdom ( 3 July 2025: 12.30 London). The symposium conducted through collaboration SEAAM, Universitas LIA, University of South Wales, and Dublin City University, with a partnership with Universitas Muhammadiyah Barru, and Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan.

This final segment of the symposium served as a critical platform for synthesizing the insights gleaned from earlier sessions, fostering cross-regional dialogue, and charting future directions for Area Studies.

Participants engaged in a robust exchange of ideas, reflecting on the evolving landscape of academic inquiry into Southeast Asia and the UK, and exploring the interconnections between these regions in a globalized world.

The Roundtable Discussion explores key themes that emerged throughout the symposium, including the challenges and opportunities in interdisciplinary research, the role of Area Studies in addressing contemporary global issues such as climate change and geopolitical shifts, and the importance of fostering collaborative research networks.

Experts shared their perspectives on methodologies, ethical considerations, and the practical applications of Area Studies knowledge. The discussion highlighted the necessity of moving beyond traditional disciplinary silos to embrace more integrated approaches that can provide nuanced understandings of complex regional dynamics.

The Closing Session provided an opportunity to summarize the symposium’s achievements and outline actionable recommendations for future collaboration. Speakers emphasized the value of sustained partnerships between academic institutions in Southeast Asia and the UK, advocating for joint research projects, student and faculty exchanges, and the co-creation of knowledge.

The session concluded with a shared commitment to strengthening Area Studies as a vital field for promoting mutual understanding, informing policy, and contributing to sustainable development in both regions and beyond.